
MELODI SENDU (part 2)
By aprilwriters.
Malam Jum'at aku takut postingnya, Gaess. 🤪🤣
_________
Melia duduk di ranjang kamar seraya luruskan sepasang kaki yang dibalut selimut. Dia terlihat melamun antah-berantah setelah kejadian kemarin sore pun sebuah mimpi yang menghampiri lelapnya semalam.
Tirai putih tulang di kamarnya bergerak bebas disapa sang bayu yang sejak pagi hilir-mudik di sekitar rumahnya. Jendela terbuka menjadi pintu masuk bebas bagi sapuan angin ke kamar Melia. Untung saja AC tak dinyalakan karena suhu badan Melia meningkat diserang demam.
Suara ketukan pintu dari arah luar tak mampu mengusik lamunannya. Derit pintu terdengar usai seseorang di depan pintu menyerah meski berulang kali mengetuknya. Wanita empat puluh tahun dengan pakaian sederhana terpaksa masuk ke kamar Melia meski sang pemilik belum mengizinkan. Bi Hana namanya, pembantu di kediaman Melia. Wanita itu menepuk bahu Melia, bangunkan putri majikannya dari lamunan panjang.
"Non," panggil Bi Hana.
Melia menoleh, ia seperti orang linglung. "Eh, ya, kenapa, Bi?"
"Teman-temannya datang, ada di ruang tamu, Non."
"Suruh mereka ke sini aja langsung."
"Baik, Non. Permisi." Wanita itu melenggang pergi, sedangkan Melia tatap tirai yang masih bergerak diterpa sapuan angin.
Sesuatu terlihat berdiri di sana, menyeringai seperti kemarin. Namun, saat Melia berkedip, sosok itu hilang tanpa bekas--terbawa sapuan angin.
Ada Kevan, Selly dan Adinia yang datang menjenguk Melia usai jam pulang sekolah. Selly terlihat membawa sekantung apel dan meletakannya di permukaan nakas dekat pintu kamar. Ketiga teman Melia kini duduk bersila di permadani dekat ranjang. Mereka terbiasa datang. Beberapa kali Selly dan Adinia sempat menginap di rumah Melia karena urusan tugas atau bahkan pesta bantal seperti yang kerap kali dilakukan para remaja.
__ADS_1
"Repot-repot banget sampai bawain buah segala," tutur Melia seraya beranjak dari ranjang, ia dekati teman-temannya.
"Lo nggak usah turun, Mel. Lo di sana aja nggak apa-apa, rebahan biar cepat sembuh," ujar Kevan.
Sayangnya Melia tetap duduk di dekat teman-temannya, lebih tepatnya di sebelah Kevan. Bi Hana masuk ke kamar seraya membawa nampan berisikan tiga gelas orange juice serta segelas susu cokelat hangat khusus untuk Melia, sisanya sepiring brownies serta toples kecil berisi kripik kentang. Bi Hana meletakannya tepat di tengah-tengah mereka.
"Makasih, ya, Bi," ucap Kevan, Selly dan Adinia bersamaan. Setelah itu Bi Hana melenggang keluar kamar, membiarkan urusan Melia dan temannya berlanjut tanpa lupa menutup pintu.
Kevan terlihat meneguk orange juice. Dia tatap satu per satu temannya yang hanya diam. Mereka seperti lupa tujuan utama datang menjenguk Melia. "Kalian kenapa pada diem-dieman gitu kayak manekin di toko baju."
"Iya, nih. Jadi, lupa sama topiknya," sahut Adinia, menatap wajah pucat Melia. "Mel, lo serius ketemu sama—" Dia tak berani melanjutkan, lidahnya seperti kelu sekadar menyebut sebuah nama.
"Lo tahu nggak, Mel. Sebagian peserta tarik balik formulir mereka dari ekskul musik, kita semua beneran pusing, semua gara-gara fakta—"
"Sell, udah," sela Kevan, "bisa kan kita nggak nyalahin dia yang udah nggak ada, biar dia tenang di sana, Sell. Kalau mereka pada mundur, mungkin bukan rezeki kita."
"Gue minta maaf." Di antara mereka semua, Melia-lah yang paling merasa bersalah, ia yang membuat fakta terpendam itu akhirnya didengar para junior, padahal sudah setahun terakhir hal semacam itu terpendam dan tenggelam dari perbincangan murid SMA Cendrawasih. "Gue adalah pelaku utama di balik kacaunya urusan ekskul kita, gue benar-benar minta maaf."
"Nggak gitu, Mel." Adinia beranjak dan menggeser Kevan agar memberi ruang baginya duduk di sisi Melia, mengusap punggung gadis itu. "Kita nggak salahin elo, kok. Ya, kita semua juga yang salah karena terlalu semangat, kita lupa kalau hal semacam itu bisa mengapung lagi ke udara, bisa jadi sebuah wabah bagi junior yang udah daftar."
"Tapi, Mel. Lo serius lihat dia?" Kevan kembali bertanya, menatap intens wajah sendu Melia.
Melia mengangguk, menerawang. "Semalam dia datang ke mimpi gue, dia kelihatan kecewa sama gue. Gue baru inget ada yang salah sama kita, Kev."
"Apa?" sahut teman-teman Melia serempak.
"Kita udah lama nggak jenguk makam dia, kita udah lama nggak doain dia. Kita udah janji dari lama, kan? Gue ngerasa di bagian itu yang kurang, sekalipun gue ngejalanin permintaan terakhir dia, tapi dia juga nggak akan tenang tanpa doa."
__ADS_1
***
Taburan bunga memenuhi gundukan tanah sebuah makam yang tampak terawat. Tak ada rumput liar tumbuh di sana. Pasti keluarga pemilik makam seringkali datang menjenguk. Keempat sahabat itu berkeliling seraya panjatkan doa pada yang lama terkubur karena berakhir oleh sebuah tragedi tragis menjelang kenaikan kelas sebelas setahun silam. Angkatan Melia dan senior tahu betul tragedi berdarah hari itu, tapi semua kenang telah mereka tenggelamkan dalam benak masing-masing.
Nama Jelita Nirmala tertulis pada batu nisan, almarhum adalah teman dekat Melia dan lainnya di ekskul musik. Gadis itu adalah pemain piano yang hebat. Melia pernah berkolaborsi dengan Jelita saat acara pensi kelas sepuluh berlangsung. Mereka unjuk bakat masing-masing ketika baru beberapa bulan masuk sebagai anggota ekskul musik SMA Cendrawasih.
"Amin," ucap Kevan mengakhiri doa yang ia pimpin tadi.
Melia berjongkok di sisi kanan batu nisan berdekatan dengan Kevan, sedangkan Selly dan Adinia berada di seberang mereka. Melia terlihat menaburkan kelopak bunga yang tersisa dari keranjang miliknya, mengusap pelan nisan bertuliskan nama sahabatnya.
"Ta, semoga lo selalu tenang di sana, ya. Gue akan tepati janji buat urus ekskul musik dengan baik, gue akan buat semua orang menyukai musik seperti keinginan elo, Ta. Kita semua sayang sama lo," tutur Melia, bola matanya tampak berkaca.
"Iya, Ta. Kita semua minta maaf karena baru sempat tengokin elo lagi, kita terlalu sibuk sama urusan sekolah, kita minta maaf, ya, Ta," imbuh Adinia.
Angin berulang kali berembus menerpa mereka. Kamboja di sekitar telah menggugurkan daun serta sang bunga, tapi angin yang berembus kali ini membawa aroma khas itu lagi, aroma kenanga. Kepala Melia refleks mengarah pada pohon beringin di sudut area pemakaman. Sesuatu menariknya agar menatap tempat itu.
Melia memang menemukan sesuatu di sana. Sosok gadis berseragam SMA yang berdiri di sisi pohon beringin. Bandana abu-abu menghias kepala. Kali ini sosok itu tersenyum seraya melambai tangan ke arah Melia seolah memberikan sebuah isyarat. Ketika angin kembali berembus, sosok itu ikut menghilang.
Air mata Melia seketika menetes. Dirinya beralih pada nisan milik sang sahabat.
Tenang di sana, Jelita.
SEORANG SISWI SMU DITEMUKAN TEWAS BERSIMBAH DARAH USAI MELOMPAT DARI ATAP SEKOLAH, SEBUAH KERTAS YANG IA TINGGALKAN DI LOKERNYA MENEGASKAN JIKA SISWI BERNAMA JELITA NIRMALA PUTUSKAN BUNUH DIRI USAI PERCERAIAN ORANGTUANYA.
Tamat.
**
__ADS_1