
ditulis dan disunting oleh Amanda Chrysilla
Admin Ul bagian posting aja
Ini bagian ending, ya, Gaess.
______
Ralya berlari seperti orang gila mengelilingi sekolahnya sambil membawa gergaji keesokan harinya. Bahkan Ralya tak perlu repot-repot menunggu jam istirahat. Dia langsung melakukannya sebelum jam pertama pelajaran dimulai. Dia ingin membuat kehebohan. Hal terakhir yang dapat dia lakukan untuk memancing suara semua murid untuk menebang pohon akasia di belakang sekolah mereka.
"Kalian harus menebangnya! Pakai sesajian dulu atau apalah! Pakai semua yang kalian punya!"
Banyak murid dan guru yang telah berkumpul mengerubungi Ralya dan pohon akasia itu.
Tahu-tahu, tubuh Ralya diseret pergi oleh guru yang paling dibencinya saat ini, Pak Adrinan. "Kamu pikir bakal segampang itu?" bisiknya tepat di telinga Ralya.
*
Dua puluh tahun lalu....
Seorang perempuan memanggil namanya tiga kali. Entah apa tujuannya. Mungkin ingin memastikan kebenaran kisah yang telah disebarluaskan Adrinan.
Mawar menatap wajah teduh dan cantik milik perempuan itu.
"Kau mencariku?" Mawar tak sabar untuk segera muncul di hadapannya.
"Kau beneran muncul? Aku kira itu hanya kisah dongeng menakutkan."
"Bolehkah aku meminjam tubuhmu?"
"Untuk apa?"
"Aku kesepian. Aku ingin punya banyak teman. Aku ingin bergaul dengan teman-temanmu."
__ADS_1
"Aku juga kesepian. Sama sepertimu."
"Kalau begitu, dengan kamu meminjamkan tubuhmu, kamu bisa memperoleh banyak teman. Bagaimana?"
"Tentu saja! Aku mau!"
Dan perempuan bernama Emma itu adalah bibi Ralya. Mata Mawar tak sengaja melihat foto-foto yang tergantung di ruang tengah rumah Ralya dan menangkap satu foto tunggal seorang perempuan muda yang sedang tersenyum lebar menatap kamera. Tidak salah lagi, perempuan muda itu adalah Emma.
Tak seperti bibinya, tubuh Ralya tak bisa dia rasuki. Sementara tubuh Emma, tanpa izinnya, bisa saja dia mengambil tubuh itu kapan pun dia mau. Mawar menyukai percakapan kecil yang terjadi di antara dirinya dan Emma sebelum akhirnya dia menggunakan tubuh itu dan menghisap habis energinya. Tubuh Emma yang lemah, hanya bisa dipakainya empat kali untuk bercinta dengan Adrinan. Sementara yang lain, lebih dari sepuluh kali sebelum malaikat maut mencabut nyawa mereka.
Apakah Emma melindungi tubuh keturunannya di akhirat sana?
*
Adrinan bukan pedofil seperti yang dituduhkan Ralya selama ini. Dia benar-benar mencintai Mawar. Sepanjang hidupnya, dia tak pernah menikah karena besarnya rasa cinta dan juga kehilangan yang dia miliki terhadap Mawar. Saat mengetahui Mawar meninggal karena penyakit bawaannya sejak kecil, Adrinan langsung menangis sesenggukan. Bahkan, untuk mendatangi rumah Mawar, mengantarkan tubuhnya hingga ke liang lahat, dia tak punya hak. Di mata orang tua Mawar, Adrinan bukan siapa-siapa bagi Mawar.
Padahal, mereka adalah pasangan kekasih yang saling mencintai.
Pintu kamar rumah sakit tempat Ralya dirawat terbuka. Mata Ralya awas menatap sosok laki-laki tinggi yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Kamu nggak akan pernah menang. Tidak sampai saya mati,” ujar Adrinan tenang.
"Oh, ya? Bapak tidak berhasil, tuh, meniduri saya,” balas Ralya sinis.
"Saya tidak tertarik meniduri perempuan yang suka merokok dan berkata kasar. Saya lebih suka tipe yang lemah lembut dan manis seperti teman sekelas kamu. Kirana."
"APA?!"
"Sampai jumpa." Pak Adrinan balik badan dan melambaikan tangannya.
Ralya cepat mencabut jarum infus di pergelangan tangannya, siap menerjang punggung Adrian.
"Pedofil sialan! Jangan kau ganggu Kirana!!!" Ralya menarik kerah baju kemeja bagian belakang Pak Adrinan dan meninju sekuat tenaga punggung pria paruh baya itu berulang-ulang.
__ADS_1
"Perawat, tolong!"
"Kalian seharusnya menahan laki-laki tua sialan itu pergi!" Ralya jatuh terduduk. Menangis meraung-raung. Setelah ini, semua orang pasti menganggap dirinya gila. Tak ada yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan Kirana-Kirana lainnya.
*
Kirana menyeret kantong plastik hitam berukuran besar itu dengan susah payah. Tempat tujuannya adalah pohon akasia besar di halaman belakang gedung sekolahnya. Sebuah cangkul tampak bersandar nyaman di samping pohon besar itu. Cangkul yang memang sudah disiapkan dan diletakkan Kirana di sana sejak tadi siang saat jam istirahat kedua berlangsung.
Tangan Kirana cekatan menggali tanah yang berada tepat di bawah pohon akasia besar tersebut. Semakin lama Kirana mencangkul, semakin dalam tanah yang digalinya. Sesekali, Kirana mengusap peluh yang mengalir di kedua pipinya dengan punggung tangannya.
Enam tahun lalu, Kirana yang masih kelas 6 SD harus menyaksikan kematian kakak tersayangnya karena kerasukan roh jahat. Semenjak itu, Kirana bertekad untuk bisa bersekolah di SMA yang sama tempat kakaknya mengalami kerasukan, demi menyelidiki kematian sang kakak yang tak wajar di mata Kirana. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Gayung bersambut.
Suatu sore, anak-anak di kelas mereka membicarakan tentang Mawar. Di situ, Kirana mengendus ketidakberesan pada cerita Mawar yang kemungkinan besar berkaitan dengan kematian sang kakak. Esoknya, Kirana yang selama ini dianggap sebagai murid teladan di seluruh penjuru sekolahnya karena mempunyai nilai bagus dan sikap yang selalu santun, memiliki kebiasaan merokok yang sama seperti Ralya.
Tak ada yang tahu karena selama ini Kirana pandai menutupinya. Dia suka sembunyi-sembunyi mencuri waktu yang tepat untuk merokok di toilet atau di tempat-tempat yang jarang didatangi orang, seperti ruangan gudang atau kelas yang dibiarkan kosong sementara karena membutuhkan banyak perbaikan tapi dana perbaikannya tak kunjung cair.
Kirana tak sengaja melihat Ralya berdiri di bawah pohon akasia besar dan mendengar Ralya berkali-kali mengucapkan nama 'Mawar', seolah-olah Mawar itu adalah teman dekat Ralya. Sejak hari itu, Kirana mulai mengamati Ralya secara saksama dari jauh. Kebetulan bulan ini Ralya menjadi teman sebangku Kirana. Semakin terbuka lebarlah kesempatan Kirana mengikuti setiap detailgerak-gerik Ralya di sekolah.
Dia melihat dan mendengar semuanya. Interaksi Ralya dengan kepala sekolah dan Pak Adrinan. Apa yang dibisikkan Pak Adrinan saat menyeret Ralya menjauhi pohon akasia besar itu, Kirana mengetahuinya juga.
Sampai akhirnya Kirana memutuskan untuk berpura-pura dirasuki Mawar di depan Pak Adrinan yang saat itu belum pulang ke rumah dan masih betah berada di meja kerjanya di ruang guru. Benar saja, Pak Adrinan langsung bereaksi. Laki-laki itu memeluk tubuhnya begitu penuh hasrat. Kirana bergidik jijik. Tapi mau tak mau, harus berpura-pura membalas pelukan Pak Adrinan dengan sikap manja. Saat itu, semua guru sudah pulang, kalian sanggup membayangkan apa yang terjadi selanjutnya? Oke, jangan dibayangkan jika tidak ingin dibayangkan.
Di kesempatan ketiga—masih di tempat yang sama, Kirana menusuk perut Pak Adrinan menggunakan pisau dapur yang sudah dibawanya dari rumah. Demi memastikan Pak Adrinan benar-benar telah mati, Kirana kembali menusuk dada Pak Adrinan sebanyak tiga kali.
Itulah harga yang seharusnya diterima oleh lelaki sebejad Adrinan.
Keputusan Kirana untuk membunuh Pak Adrinan semakin menjadi-jadi saat dia mendengarkan percakapan antara Ralya dan laki-laki itu. Dia kini telah berhasil menyingkirkan laki-laki yang telah menghancurkan masa depan kakak perempuan kesayangannya.
Ralya tak mau melakukannya, maka Kirana-lah yang kemudian menggantikan tugas tersebut.
*
Tamat
__ADS_1
_____
Wadaaw! Serem amat, sih. 😆 Siapa yang suka cerpen ini? Masih ada cerita selanjutnya, nih. Yuk, baca. Jangan lupa tinggalkan jempol alias like dan komen. Rating lima antologi ini ya, zheyengs.