
ditulis dan disunting oleh Sri Marflowers
diteror dan ditagih oleh Admin Ul 🤪
__________
Jika bukan demi nilai di rapor, Flo bersumpah tidak akan pernah mengikuti kegiatan yang menurutnya sangat-sangat buang waktu. Hello! Di zaman semodern ini, untuk apa sok-sok-an belajar morse di saat kode dari wanita saja masih sulit dipecahkan? Megalitikum sudah jauh berlalu, mengapa pula harus repot menggesekkan dua permukaan batu hanya untuk menghasilkan api?
Flo kembali geleng kepala, melihat Mitha kewalahan menurunkan koper kedua dari bus. Koper berukuran jumbo itu tentulah berisi puluhan pakaian. Padahal, mereka hanya akan berkemah dua malam. Anak pramuka sesungguhnya bahkan tidak masalah jika tanpa mandi dan berganti pakaian. Flo ingin menjerit! Haruskah dia berada di tengah-tengah drama ini?
“Teori itu untuk dipraktikan, Mith,” sindirnya kalem, mengangkat satu tas ransel hitam berukuran cukup besar lalu memasangnya di pundak, “lagi pula, tumben banget kamu nggak jadi panitia?”
“Mencoba hal baru.” Mitha semringah. “Tolongin, dong,” pintanya, menunjuk satu koper paling besar.
“Ogah,” tolak Flo enteng.
Mereka berjalan bersisian dengan masing-masing bawaan. Flo masih mencerna fakta yang sekarang dia hadapi. Entah kerasukan apa Bu Tami—wali kelasnya—saat mewajibkan ektrakurikuler pramuka sebagai tambahan nilai. Flo yang selama ini tidak pernah memilih pramuka sebagai ekskul, harus bersyukur karena Bu Tami masih berbaik hati memberikan nilai B untuk mereka yang mau mengikuti kegiatan kemah. Juara 1 yang selalu disandangnya di kelas, tidak akan pernah rela diberikan dengan gampang kepada orang lain, apalagi kepada Benni—si juara 2—yang sok ‘dingin’ saat didekati teman cewek di kelas.
Meski kewalahan dengan dua koper, wajah bahagia dan antusias Mitha tidak pernah luntur dari pertama naik bus yang membawa mereka ke Desa Beringin. Populer karena penampilan yang selalu sempurna, teman akrabnya itu memang dari dulu mencintai pramuka. Jika Chef Renatta tanpak seksi dengan wajan, bagi murid SMAN 07, Mitha cantik kuadrat dengan keringat sehabis melakukan kegiatan pramuka. Bucin sejati!
Jalan setapak yang mereka lalui sunyi. Hanya ada suara kepak sayap burung terbang karena terganggu dengan kedatangan rombongan dari sekolah mereka. Bus terpaksa berhenti di pinggir jalan utama karena tidak bisa masuk.
“Masih jauh, ya?”
“Infonya hanya masuk sekitar dua puluh menit dari pemberhentian bus,” jelas Mitha, menyeka keringat. Napasnya mulai tidak teratur karena lelah dengan bawaan.
“Aku bantu bawa satu, ya, Mith.” Irkham yang berjalan di belakang mereka, menyela percakapan.
__ADS_1
Flo hanya tersenyum samar dengan keteguhan seorang Irkham. Lelaki yang memilih tetap memperjuangkan perasaan sukanya di saat tahu bahwa Mitha tergila-gila hanya kepada Benni. Dewa Amor begitu tidak bijaksana.
“Terima kasih, Irkham. Wanita yang menjadi pacarmu kelak akan beruntung.”
Lihat, kan? Jika ada buaya darat, tentulah ada juga yang berjenis kelamin betina.
Matahari nyaris tumbang saat mereka sampai di tempat tujuan. Flo menghentikan langkah. Di depannya, bangunan sekolah SD terlihat tua dengan cat pudar mengelupas di segala bagian. Pohon trembesi dan tanjung di sisi bangunan sekolah menjulang, menghambat bias senja menerpa halaman. Bangunan sekolah membentuk huruf ‘U’ itu entah mengapa terlihat semakin angker karena pohon beringin yang mengelilingi.
“Mith, bukannya beringin termasuk pohon yang disukai hantu, ya?” Flo berbisik saat mengatakannya. Angin yang berembus pelan menerpa permukaan kulit, membuat bulu kuduknya tiba-tiba merinding.
“Tepat,” jawab Mitha enteng, seolah Flo bertanya perihal satu tambah satu sama dengan dua.
“Ngapain kita ke sarang hantu?” sumpah! Acara kemah saja sudah bikin frustrasi, jangan tambah lagi dengan hal-hal gaib. Flo menarik tangan Mitha yang hendak ikut rombongan lain untuk masuk ke aula yang terpisah dari bangunan sekolah— tepat disebelah kanan, “Pulang aja kita, yuk.”
Di luar dugaan, Mitha malah terbahak. “Aku nggak tahu kalau kamu sepenakut ini,” ledeknya,membuat Flo senewen, “nggak, gitu, Flo. Nama desanya aja Desa Beringin, so, wajar aja, kan, kalau di sini banyak pohon beringin. Yuk masuk aula. Nggak enak sama tuan rumah sudah ditungguin.”
***
Ruangan sekolah yang dipakai khusus untuk panitia atau Kakak Pembina saja penerangannya minim. Barangkali, penduduk di desa ini benar-benar penganut hemat listrik.
Sudah ada 11 tenda terpasang dengan masing-masing regu berjumlah 5 hingga 6 orang. Malam ini, setelah pembagian regu, salat dan makan, mereka tidak memiliki acara. Hanya ketua regu yang diminta berkumpul untuk melaporkan yang entah apa.
Flo mengamati keadaan sekeliling. Sepi. Tenda khusus anak lelaki posisinya di sebelah kiri, juga terlihat lenggang. Mungkin capai karena perjalanan atau memang taat aturan karena diminta langsung istrahat untuk acara esok yang sangat padat.
“Hei!”
Reflek Flo melompat. Kedatangan Mitha dari arah belakang benar-benar mengagetkannya. “Apaan sih, Mith. Untung aku nggak punya riwayat penyakit jantung!”
__ADS_1
Mitha malah nyengir, “temani aku ke WC, yuk.”
Flo belum menyetujui saat pergelangan tangan kanannya ditarik paksa. “Tadi pertemuan ketua regu kenapa kamu nggak langsung ke wc aja, sih?”
“WC murid penuh. Anak-anak antre mandi.”
Flo manggut, mengikuti arah langkah Mitha membawanya. Senyap membuat suara jangkrik terdengar jelas. Bangunan sekolah ini benar-benar butuh renovasi. Alih-alih seperti sekolah, malah lebih terlihat seperti rumah sakit tak berpenghuni. Lorong yang digunakan untuk berjalan dibentuk seperti memasuki gua.
Flo menajamkan pendengaran. Mengapa dia seakan mendengar langkah selain milik mereka? Pelan bejalan di belakang, dan ... “Mith, kamu denger suara anak ayam, nggak?”
“Enggak.”
“Aku dengar, Mith. Langkah kaki yang ...,” Flo menarik napas, “aku ... mencium wangi kenanga sekarang.” Sedetik Flo selesai bicara, angin kencang sukses menerbangkan helai rambutnya.
Mitha menghentikan langkah, memutar tubuh utuh menghadap Flo. “Kamu nggak pernah dengar, ya? Dilarang mengomentari hal-hal ganjil jika berada di tempat asing?”
Flo terdiam kaku. Dua tangan Mitha masih berada di ujung pundaknya, diremas begitu kuat. Tatapam Mitha tajam, menghunus korneanya dengan lancang. Flo tidak pernah melihat Mitha semenakutkan ini. Temannya itu lantas melepaskan cengkeraman, berjalan lebar meninggalkannya.
Khusus toilet Guru
Flo membaca tulisan di papan gantung berwarna cokelat itu dalam hati. Hanya ada tiga WC. Pintu paling akhir terkunci dengan tempelan kertas yang ditulis menggunakan spidol hitam, ‘RUSAK’. Pintu pertama juga terkunci yang diyakini Flo sedang digunakan Mitha, menyiskan satu WC kosong.
Flo memantapkan hati masuk ke WC nomor dua, mengunci pintu. Meski suasa semakin terasa tidak nyaman, dia hanya tidak mau harus kembali ke sini sendirian karena tidak pipis sekarang. Tangannya mengambil gayung, mengisi air penuh lantas menyiram kloset jongkok tersebut pelan-pelan.
Segumpal rambut melekat di gagang gayung. Flo mencoba membuangnya, namun gumpalan rambut tersebut tidak putus sampai gayung dalam pegangan Flo terjatuh. Gulungan rambut itu masih melekat di tangannya bahkan menjuntai sampai mata kaki. Semakin panjang dan banyak.
Napas Flo tersekat. Buru-buru dia memutar gagang pintu, namun nihil, pintunya tetap terkunci rapat. Tubuh Flo mulai gemetar. “Mitha. Kamu ada di samping, kan? Tolong buka pintu WC aku.” Tangannya kini menggedor kuat. “Mitha, plis jangan bercanda.” Flo mulai terisak. Sekuat tenaga dia menendang pintu kayu tersebut, tapi tak membuahkan hasil. Di kanan kirinya tetap sepi. “Tolooong!” Flo menjerit. Tangan dan kakinya sudah terasa kebas.
__ADS_1
Krieeekkk Krieeekkk Krieeekkk
Apa lagi ini? Flo menelan saliva. Suara cakaran itu berasal dari dinding sebelah kiri, di WC yang depan pintunya terdapat tulisan ‘RUSAK’.