Aroma Kenanga

Aroma Kenanga
Diary Usang di Meja Pojok Perpustakaan Bagian 6


__ADS_3

disunting dan ditulis oleh Salmah Nurhaliza


Pak Azwar sedang mengaduk kopi di dapur, ketika dia mendengar suara seperti benda jatuh. Pria itu celingukan, tapi tak ada apa pun yang berpindah dari tempatnya. Saat dia melangkah menuju kamar, suara itu kembali terdengar. Lagi, dia mengedarkan pandangan ke segala arah, masih tak ada yang aneh.


Begitu sampai di depan kamar, suara itu terdengar lagi, sepertinya dari dalam kamar. Penuh kehati-hatian Pak Azwar memutar handle pintu. Dadanya berdebar. Pelan dia mendorong papan tebal bercat putih itu.


Pintu terbuka sepenuhnya. Tak ada yang aneh. Tak ada benda yang berpindah tempat. Tak ada tanda-tanda apa pun. Pria itu membuang napas lega. Hanya halusinasinya saja. Jam dinding di ruang tamu berdenting sembilan kali. Sudah cukup malam. Pak Azwar menutup pintu kamar. Begitu berbalik, hanya sekitar lima belas sentimeter, sebuah wajah tiba-tiba muncul tepat di depan wajahnya.


“Aaakk!” Pak Azwar berteriak kaget. Cangkir kopi terlepas dari tangannya. Air panas itu mengguyur bagian atas telapak kaki kirinya. Meski pucat dan sebagiannya tertutup rambut panjang dan kusam, dia masih dapat mengenali wajah itu; Nadia. Wajah yang dulu selalu dirindukannya.


Wajah itu terlihat marah dengan mata yang seperti mau lompat. Bau anyir tercium samar. Pak


“Ka-kamu. Kamu ... jangan ganggu aku.” Pak Azwar makin merapatkan tubuh ke pintu, sementara sosok itu terus menatapnya tajam. “Pergi!”


Sosok Nadia menghilang. Belum sempat Pak Azwar bergerak, tiba-tiba sebuah spidol di atas meja kerja melayang menuju ke sisi kanan kepalanya. Benda itu bergerak sendiri dan menuliskan sesuatu di pintu, lalu jatuh ke lantai. Dengan tubuh yang masih bergetar dan keringat tersisa, Pak Azwar mengeja tulisan itu tanpa suara.


JAHAT!


“Maafkan aku, Nadia. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti kamu saat itu,” ucap Pak Azwar dengan nada bergetar sarat ketakutan. “Kamu tau ... semua itu gara-gara Gladys. Kalau dia tidak—”


Belum sempat kalimat itu selesai, radio tape di sudut kamar tiba-tiba hidup dan makin mengagetkannya. Lampu-lampu pada benda itu berkedip-kedip tak keruan, sekaligus memunculkan suara bising dengan pemancar yang terus berganti. Pak Azwar menutup telinga, lalu buru-buru berjalan untuk mematikan radio, sampai langkah pincangnya tersandung kaki sendiri.


Ketika Pak Azwar sampai di depan radio, suara bising itu berhenti mendadak, tapi lampu radio masih menyala. Kemudian terdengarlah suara serak dari radio itu.


“Jahaaat.”


***


“Saya takut, Pak. Arwah Nadia semalam mendatangi saya. Dia kelihatan sangat marah,” cerita Pak Azwar ketakutan. Dia menemui Pak Adrian di kantornya, setelah jam sekolah bubar. Mereka duduk berhadapan, dipisahkan oleh meja kerja. Tadi dia melihat Guntur dan Gina sudah pulang, jadi tidak perlu merasa takut ada yang memata-matai.


“Omong kosong. Mana mungkin orang yang sudah meninggal bisa mengganggu manusia yang masih hidup!” Pak Adrian menyandarkan tubuh ke sandaran kursi.


Tanpa mereka ketahui, ternyata Guntur dan Gina kembali ke sekolah, karena buku paket Biologi Hina tertinggal di kelas, sementara dia harus belajar karena besok ada ulangan. Dua siswa itu berjalan dalam diam. Gina sibuk memainkan ponsel sambil berjalan, sementara Guntur hanya menatap cewek di sebelah kiri yang hanya sebahunya sambil tersenyum. Entah mengapa makin hari dia makin menyukai dan menyayangi cewek itu.


“Kenyataannya dia memang mendatangi saya, Pak!”


Suara yang cukup tinggi itu menghentikan langkah Guntur dan Gina yang pas sekali berada di belakang jendela ruang kepala sekolah. Sayangnya, gorden yang melapisinya terlalu tebal, jadi tidak bisa mengintip sedang ada kejadian apa di dalam.


“Azwar, Nadia itu sudah mati! Dia tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk melukai kita. Kamu jangan berlebihan!”


Itu suara Pak Adrian. Gina menoleh pada Guntur. Cowok itu memberikan isyarat lewat mata. Mereka mengurungkan langkah ke kelas, tapi malah berbelok ke kiri dan mengendap-endap di depan ruang kepala sekolah. Pintunya ternyata tidak tertutup sempurna.


“Ini semua gara-gara Bapak. Kalau saja Bapak tidak melakukannya, kejadiannya tidak akan seperti ini.”


Pak Adrian menggebrak meja. “Ini semua salah Gladys! Dia yang memancing saya!”


“Gladys tidak akan nekat kalau Bapak tidak menyudutkannya!” Pak Azwar berdiri karena emosinya sudah tidak tertahan.


Pak Adrian ikut berdiri. “Lalu kamu menyalahkan saya? Kamu lupa apa yang selanjutnya kamu lakukan pada Nadia? Lupa?!”


“Tapi Bapak yang menghabisinya. Bukan saya!”


“Tapi kamu yang memulai!”


“Saya tidak mau terseret ke dalam masalah ini lagi, Pak. Saya akan mengundurkan diri dari sekolah dan pergi jauh dari kota ini.”


Ucapan Pak Azwar membuat Pak Adrian naik pitam. “Kamu mau melarikan diri? Jangan macam-macam kamu!”

__ADS_1


Suara pintu yang tiba-tiba terbuka menghentikan perdebatan dua pria itu. Ada Guntur di sana. Cowok berusia tujuh belas tahun itu tidak sadar menyandarkan tubuhnya pada pintu, hingga pintu itu terdorong. Persembunyiannya pun ketahuan.


“Guntur! Kamu menguping?!” Pak Azwar yang bertanya. Ada nada marah sekaligus takut.


Sudah kepalang basah, Guntur akhirnya masuk sambil memamerkan ponsel. “Iya, Pak. Bukan cuma menguping, tapi merekam. Saya sudah berhasil merekam pembicaraan kalian. Dan saya akan mengirim rekaman barusan ke keluarga Nadia dan Gladys.”


Guntur mengotak-atik ponselnya sebentar. Sementara Pak Azwar dan Pak Adrian kompak berjalan cepat mendekati Guntur dan berusaha meraih ponselnya. Pak Adrian yang sampai lebih dulu.


“Jangan sok tahu kamu, Anak Kecil! Serahkan ponselnya!” Pak Adrian berusaha merehut ponsel Guntur.


“Selesai. Saya sudah mengirim videonya.”


Pak Azwar pun membantu atasannya untuk menjegal gerakan Guntur yang berontak. Di saat yang bersamaan, Gina muncul dan langsung menendang kaki Pak Azwar hingga pria itu terhuyung. Saat dia mencoba mendekati Gina, cewek itu kembali menendang kaki kiri Pak Azwar yang pincang. Kali ini berhasil membuatnya terjengkang. Lalu memukulnya dengan tas, hingga kancing tas itu terlepas dan beberapa benda terjatuh dari dalamnya.


“Kurang ajar!” maki Pak Azwar.


Di waktu yang bersamaan, Pak Adrian pun lengah. Guntur segera memiting tangan kepala sekolah itu. Ketika mendesak begini, ilmu yang didapatnya dari ekstrakurikuler karate yang diikutinya malas-malasan ternyata berguna juga.


“Lebih baik kalian mengaku, apa yang sudah kalian lakukan pada Nadia dan Gladys!”


“Kamu jangan asal tuduh kamu!”


Guntur makin menguatkan kuncian tangannya, membuat Pak Azwar meringis.


Gina meraih buku diary Galdys yang terjatuh ke lantai. Dia mengacungkannya di depan wajah Pak Adrian. “Di buku ini tertulis kalau Gladys mendapat teror dari Mr. AZ. Dan dari cerita mamanya Nadia, orang yang meneror itu adalah guru Fisika. Mr. AZ itu Bapak, ‘kan?”


“Bukan!”


“Jangan bohong!” Guntur makin mengunci kuat.


“Bukan saya yang meneror! Tapi Nadia sendiri yang meneror Gladys karena dia sakit hati pada Gladys!”


“Maksudnya apa?” tanya Gina.


“Nadia itu pacarnya Azwar!” Pak Adrian menatap tajam pada Pak Azwar yang sedaang berusaha bangkit. “Dia sakit hati pada Gladys karena ternyata diam-diam Gladys menyukai Azwar. Lalu dia memanfaatkan momen saya yang sedang patah hati dan memfitnah saya, seolah saya yang melakukan teror itu.”


“Jangan bohong!”


Pak Adrian menatap Guntur. “Kamu ini masih anak kecil. Belum tahu apa yang bisa dilakukan perempuan kalau sudah sakit hati. Termasuk pada sahabatnya.”


“Saya tidak percaya!” Gina menyelak.


Pak Adrian tertawa dengan nada mengejek. “Gladys dan Nadia bertengkar di perpustakaan. Saya dan Pak Azwar yang mendengar pertengkaran mereka langsung melerai. Ternyata Nadia sedang mencekik Gladys. Saya menyukai Gladys dan tidak akan membiarkan siapa pun melukainya, termasuk Nadia.”


Antara percaya tak percaya, Guntur dan Hina menyimak cerita itu.


“Tapi ternyata Nadia sudah sangat marah, dia terus menyerang Gladys. Sampai Gladys terjatuh. Saya tidak terima dan membantu Gladys mendorong Nadia. Sampai Nadia terbentur tembok dan kepalanya berdarah. Azwar yang hanya diam melihat membuat Nadia marah dan mengancamnya,” lanjut Pak Adrian.


Guntur dan Gina makin kaget mendengar cerita itu.


“Dan Gladys yang tidak terima Azwar dimarahi, makin membabi buta menyerang Nadia sampai Nadia makin lemah dan akhirnya meninggal. Gladys pelakunya. Dia yang membunuh Nadia!”


Seketika angin yang entah berasal dari mana berembus kencang, membuat buku dalam genggaman Gina terjatuh dan terbuka di halaman kosong. Sebuah tulisan perlahan muncul lewat percikan merah serupa darah.


BOHONG!!!


Setelah membaca itu, dua pria itu menunjukkan reaksi serupa: berusaha kabur.

__ADS_1


Guntur lebih cepat menjegal langkah Pak Azwar, sementara Pak Adrian yang hampir mencapai pintu nyaris terpental karena pintu yang tiba-tiba menutup sendiri dengan keras. Sosok Nadia pun muncul di depannya.


“Nadia ....”


Nadia menggerakkan kepalanya dan membuat Pak Adrian terpental ke sebalah Pak Azwar. Sosok itu melayang mendekati kedua pria yang sedang terjengkang di lantai.


“Pembunuh,” ucap Nadia serak.


Gina dan Guntur yang menyaksikan itu ikut merinding dan takut. Mereka mundur beberapa langkah. Tanpa sadar Gina memeluk lengan kiri Guntur dengan erat.


Pak Adrian meraih tempat sampah di dekatnya dan melemparkan ke arah Nadia. Tidak kena. Dia lalu melepas sebelah sepatu dan lagi-lagi berusaha melemparnya ke arah Nadia. Gagal. Sepatu itu justru berbalik dan menghantam keras kepalanya.


Lalu sebuah spidol dari atas meja melayang dan menuliskan sesuatu di white board yang berisi entah laporan statistik apa.


Di mana Gladys?


Pertanyaan itu tertulis di papan. Empat pasang mata di ruangan itu terbelalak. Terutama Guntur dan Gina. Ternyata Gladys benar-benar hilang dan tidak diketahui jejaknya. Bahkan Nadia pun tidak tahu di mana sahabatnya itu.


“Gladys kabur! Dia meninggalkan kamu!” Pak Adrian menjawab takut.


BOHONG!!!


Sebuah tulisan kembali muncul di papan.


Lalu Nadia beralih menatap tajam Pak Azwar. Pria itu sudah banjir keringat dingin.


“Nadia ... bukan aku. Kamu tau, aku ... aku sangat menyayangi kamu. Dan aku juga tidak mungkin menyakiti Gladys. Pak Adrian yang melakukannya!”


Ucapan Pak Azwar mengundang reaksi Pak Adrian. Dia mencekik Pak Azwar yang memang berada di sebelah kirinya. Guntur dan Gina berusaha menolong Pak Azwar. Saat itulah pintu terbuka dan tiga orang polisi beserta Bu Rahmi dan orang tua Gladys muncul di sana. Juga dua laki-laki berpakaian rapi yang entah siapa.


“Jangan bergerak!” Seorang polisi mengarahkan pistolnya ke arah Pak Adrian dan Pak Azwar, sementara dua lainnya meringkus mereka. “Bawa mereka,” lanjutnya.


Bu Rahmi dan orang tua Gladys menghampiri Guntur dan Gina.


“Kalian tidak apa-apa?” tanya Pak Deni.


“Alhamdulillah kami baik-baik saja, Pak,” jawab Gina.


“Guntur, tangan kamu terluka.” Bu Rahmi menunjuk lengan kanan Guntur yang berdarah.


Gina yang juga tidak tahu kalau Guntur terluka langsung mengikuti arah telunjuk Rahmi. Dia langsung panik melihat luka itu. “Astaga, Gun. Ini pasti tadi dicakar Pak Adrian. Sakit, ya?”


Guntur tersenyum. “Nggak apa-apa, Gin. Gue baik-baik aja, Cuma luka kecil. Entar juga sembuh.”


“Tapi ini harus segera diobati, Guntur. Takut infeksi.” Kali ini Bu Lestari yang bersuara.


“Permisi. Bapak, Ibu, dan adik-adik, tolong ikut kami ke kantor untuk memberikan keterangan.” Pak polisi yang tadi menodongkan pistol muncul lagi.


“Baik, Pak,” jawab lima orang itu serempak. Mereka satu per satu meninggalkan ruangan itu. Bu Rahmi yang paling akhir.


Sebelum wanita itu sampai ke ambang pintu, embusan angin pelan menerpanya. Dia mencium aroma parfum Nadia. Dia menoleh ke sumber aroma itu. Didapatinya sosok Nadia sedang berdiri di dekat white board. Anak bungsunya itu tersenyum. Cantik sekali. Kali ini seluruh wajahnya terlihat, tidak ada sehelai rambut pun yang menghalangi.


“Nadia ... anak Mama.” Bu Rahmi mulai menangis, sementara Nadia makin tersenyum manis. Kemudian perlahan sosok itu menghilang dan hanya menyisakan aroma parfumnya.


[Bersambung]


_________

__ADS_1


Wadaaw! Bersambung lagi 🤣🤣🤣🤣 Udah 1700 kata juga ini lho, gaess. Demi kalean semua. Sok femes. 🤪🤣 Padahal gemes.


Tolong, Gina, beliin hansaplast buat Babang Guntur di warung Po Yati. 😆😆😆


__ADS_2