Aroma Kenanga

Aroma Kenanga
Diary Usang di Meja Pojok Perpustakaan Bagian 5


__ADS_3

ditulis dan disunting oleh Salmah Nurhaliza


_________


“Bener nggak ini tempatnya, Gun?”


“Kalau dari alamatnya, sih, bener.”


“Tapi kayaknya sepi banget, ya.”


Guntur dan Gina berada sekitar 20 meter dari seberang rumah sederhana bercat biru laut, yang di depannya ditanami pohon mangga yang sedang berbuah lebat. Keduanya masih di atas motor.


“Masuk nggak, nih?” tanya Gina.


Guntur berpikir sejenak, lalu menyalakan starter. “Ayok. Udah sampai sini, masa mundur lagi.”


Guntur melajukan motor, menyeberang jalan dan masuk ke pekarangan rumah yang memang tidak dipagar. Begitu turun dari motor, mereka berdiskusi sejenak, barulah benar-benar mantap untuk mengetuk pintu.


“Assalamu’alaikum.” Gina yang mengetuk dan mengucapkan salam. Tak ada jawaban. Dia mengulangi salamnya.


“Wa’alaikumussalam.” Sebuah suara terdengar dari dalam. Pintu pun terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya berjilbab cokelat tua. “Mau cari siapa, ya?”


“Maaf, Bu, apa benar ini rumah Nadia Anastasya, mantan siswi SMA Perjuangan?”


Wanita itu jelas terlihat sekali ekspresi kagetnya mendengar pertanyaan Gina. Wajahnya langsung sendu. “I-iya benar. Kalian siapa?” Dia memandangi Guntur dan Gina yang masih memakai seragam sekolah.


“Saya Guntur dan ini Gina. Maaf sebelumnya, kami ada perlu sedikit dengan Ibu. Ini tentang Nadia dan Gladys. Kalau Ibu berkenan, apa kita bisa ngobrol sebentar?”


“Gladys,” gumam wanita itu. “Ada kabar apa tentang mereka? Ada petunjuk?” tanyanya tak sabar.


Reaksi itu makin mengukuhkan dugaan Guntur kalau keterangan di buku tahunan memang benar, kedua cewek itu hilang.


“Mmm ... maaf, Bu, apa bisa kita bicara di dalam?” Gina bertanya hati-hati.


Wanita itu baru sadar kalau dia masih menerima tamunya di depan pintu. “Oh, iya, maaf. Mari, silakan masuk.”


Setelah duduk bersisian dengan Guntur di sofa beledu panjang warna biru tua, Gina mengeluarkan buku diary dari dalam tas. “Saya menemukan ini, Bu.” Dia menyodorkan buku itu pada wanita yang mengaku bernama Ibu Rahmi, mamanya Nadia, yang duduk di seberangnya.

__ADS_1


“Buku apa ini, Dek?”


“Ini buku diary milik Gladys, Bu. Di dalamnya ada foto. Apa benar itu foto Nadia?” Gina menjelaskan.


Bu Rahmi menerima buku itu dan membalik sampul depannya. Matanya melebar saat mendapati foto di halaman paling depan. Dia mengambil foto itu dan diamatinya dengan pandangan yang agak buram karena matanya mulai basah. “Nadia ...,” ucapnya lirih.


“Maaf, Bu, kalau boleh kami tau, apa yang sebenarnya terjadi pada Nadia dan Gladys?”


Bu Rahmi mengusap air matanya dengan ujung jilbab, lalu menarik napas berat dan membuangnya lebih berat lagi.


“Hari itu ... Sabtu, 13 April 2002. Sekitar jam dua siang Nadia menelepon Ibu lewat telepon rumah tetangga, katanya mungkin pulangnya telat karena mau membantu Gladys membereskan perpustakaan.” Bu Rahmi mulai bercerita. “Saat itu Ibu tidak punya firasat apa-apa, hanya sedikit heran, tumben Nadia sampai menelepon ke tetangga, biasanya dia baru akan bilang kenapa pulang telat setelah sampai di rumah.”


Entah mengapa suasana terasa tegang. Gina berdebar-debar menanti kelanjutannya, sementara Guntur masih terlihat tenang. Pembawaan cowok itu kalau sedang serius memang terlihat menenangkan.


“Sampai hampir mahgrib, Nadia belum pulang juga. Ibu masih berpikir positif, mungkin dia masih ada urusan di sekolah. Tapi ternyata sampai jam delapan malam dia belum pulang. Nadia tidak pernah pulang selarut ini. Akhirnya Ibu putuskan untuk ke rumah Gladys Kebetulan rumahnya hanya di RW sebelah.”


Oke, ini sudah masuk ke tahap Gladys, pikir Gina. Dia makin berdebar. Diliriknya Guntur yang mengubah posisi duduk jadi lebih maju, menumpukan kedua siku di atas paha dan menautkan jemarinya di depan kaki yang terbuka. Badannya sedikit membungkuk.


“Ternyata Gladys juga belum pulang,” lanjut Bu Rahmi. “Kemudian mamanya Gladys meminta kakak laki-laki Gladys untuk mengecek ke sekolah, tapi sekolah sepi. Karena memang sudah malam juga. Dan menurut penjaga sekolah, memang sudah tidak ada kegiatan siswa di atas jam lima sore. Yang ekstrakurikuler pun sudah pulang semua. Sejak hari itu, Nadia dan Gladys tidak pernah pulang lagi.”


Guntur meraih buku diary yang tergeletak di meja, dia membalik lembar-lembarnya hingga ke halaman di mana ada cerita yang ditulis Gladys saat di perpustakaan. Ditunjukkannya halaman itu.


“Maaf, Bu, di lembar ini masih ada tulisan Gladys pada hari itu. Di sana Gladys bilang Nadia nggak bisa membantunya. Tapi tulisan itu belum selesai, seperti ada yang terjadi dengan Gladys.”


Bu Rahmi membaca isi tulisan itu, tangisnya makin menjadi. “Lalu ke mana Nadia?”


Guntur dan Gina berpandangan. Tidak mungkin mereka memberi tahu Bu Rahmi kalau dua minggu terakhir arwah Nadia beberapa kali muncul di hadapan mereka.


“Nadia dan Gladys itu sedekat apa, Bu? Apa mereka pernah ada masalah?” tanya Guntur.


“Mereka sangat dekat, sudah bersahabat sejak SD. Tidak pernah ada masalah serius di antara mereka, hanya kadang salah paham biasa yang memang wajar dan sepele. Nadia selalu cerita banyak hal. Termasuk saat Gladys katanya sempat menerima teror dari laki-laki yang menyukainya. Namanya ... siapa, ya? Ibu agak lupa. Seingat Ibu dia guru Fisika.”


Gina dan Guntur serempak melotot. Teror itu juga ditulis Gladys di bukunya. Tahun 2002 itu Pak Azwar masih menjadi siswa, berarti bukan dia. Kemungkinannya adalah Pak Adrian. Mr. AZ ini adalah Adrian Zulfiandi. Mereka makin yakin.


“Oh, ya, sebenarnya ada apa kalian mencari tahu masalah ini?”


Guntur berdeham satu kali. “Sebelumnya kami mohon maaf karena mungkin kedatangan kami harus membuat Ibu membuka luka lama. Dua minggu lalu kami menemukan buku diary itu secara misterius di perpustakaan. Dan kebetulan itu adalah tanggal yang sama dengan hari di mana Nadia dan Gladys menghilang.”

__ADS_1


“Setelah membaca isi diary ini, kami curiga ada sesuatu yang terjadi, yang masih ganjil. Apalagi kata Guntur di buku tahunan ada keterangan kalau Gladys dan Nadia hilang. Dan ... kami juga mencurigai dua orang yang sepertinya ada hubungan dengan hilangnya Gladys dan Nadia. Cuma kami belum berani menuduh karena kita nggak punya bukti apa-apa.” Gina melanjutkan.


Bu Rahmi mengangguk-anggul tanda mengerti.


“Apa Ibu mengizinkan kami untuk menyelidiki masalah ini?”


Wanita bertahi lalat di dagu itu tersenyum kecil. “Tentu saja. Ibu malah akan sangat berterima kasih kalau masalah ini bisa terungkap. Walaupun Ibu sudah ikhlas apa pun kabar yang akan Ibu terima tentang nasib Nadia, tapi setidaknya ada kejelasan apa yang terjadi dengan mereka.”


“Apa saya boleh minta alamat Gladys, Bu? Mungkin kami bisa mendapat petunjuk dari sana.”


Bu Rahmi memberikan arahan dan ancar-ancar lokasi rumah Gladys, karena dia tidak terlalu hafal alamat. Dia hanya hafal lokasi. Setelah berbasa-basi sebentar, Guntur dan Gina pun berpamitan.


***


Di rumah Gladys, informasi yang didapat Guntur dan Gina tidak berbeda jauh dengan yang diceritakan Bu Rahmi. Dua cewek itu memang benar-benar tidak ada kabar lagi setelah hari itu. Mereka bagai ditelan bumi.


“Apa keluarga sudah mencoba melapor ke polisi, Pak, Bu?” tanya Guntur pada Pak Deni dan Bu Lestari, orang tua Gladys.


“Sudah, tapi tidak ada hasil. Sampai akhirnya pencarian dihentikan dan kasus ditutup.” Pak Deni menjawab sedih. Jelas sekali ada luka di nada ucapannya.


“Sebentar, Ibu ada sesuatu yang sejak dulu Ibu simpan.” Bu Lestari masuk, lalu tak berapa lama kembali ke ruang tamu membawa sebuah kotak kardus warna cokelat berukuran sedang. “Ibu menemukan ini hampir setahun setelah kasus ditutup, saat membersihkan lemari Gladys.”


Bu Rahmi membuka kotak berbentuk kubus itu dan mengeluarkan sebuah benda dari dalamnya. Guntur dan Gina terbelalak. Di sana ada foto Pak Azwar yang sedang tersenyum dan sebuah topi berwarna cokelat. Ada sebuah catatan di kertas kecil.


Biar ini menjadi rahasia, sampai saatnya tiba.


“Kalian kenal dengan orang di foto ini?”


Gina dan Guntur mengangguk serempak.


[Bersambung]


____________


Tumben Guntur dan Gina sehati sampe mengangguk serempak wkwk


😱😱😱 Masih bersambung, Gaess. 🤣🤣🤣 Cuss, pantengin terus, yah.

__ADS_1


__ADS_2