Aroma Kenanga

Aroma Kenanga
Diary Usang di Meja Pojok Perpustakaan Bagian 3


__ADS_3

ditulis dan disunting oleh Salmah Nurhaliza.


“Gin, lo dipanggil ke ruang Kepsek.” Nuri memberi tahu begitu mengambil tempat diebelah Gina, setelah kembali dari ruang guru, membantu Pak Bimo membawakan tugas teman-teman sekelasnya.


“Hah? Tumben. Ada apaan, ya?”


Nuri mengangkat bahu. “Udah sana buruan.”


Gina bergegas menuju ruang kepala sekolah dengan kepala dipenuhi tanya. Sejak awal masuk SMA, dia tidak pernah dipanggil ke ruangan itu.


“Jangan-jangan Bu Dara udah ngelaporin gue ke Kepsek, nih. Duh!” gumamnya sebelum berbelok ke kiri, menuju pintu ruang pejabat tertinggi sekolah itu. Namun, dugaannya langsung terpatahkan begitu melihat Guntur sudah duduk di kursi tamu.


“Assalamu'alaikum,” ucap Gina usia mengetuk pintu yang memang sudah terbuka.


“Wa’alaikumussalam. Duduk!” Perintah tegas dari Pak Kepala Sekolah membuat dadanya berdebar dua kali lebih cepat.


Pria tinggi berkumis tipis itu mengambil tempat di kursi yang posisinya membentuk huruf L dengan posisi kursi kedua siswanya, setelah Gina duduk di sebelah Guntur.


“Saya dengar dari Pak Azwar, kalian masuk ke ruang terlarang di perpustakaan. Betul?”


Gina dan Guntur kompak menarik napas. Ooh, soal itu. Isi kepala mereka pun kompak.


“Kami nggak sengaja, Pak.” Guntur yang menjawab sambil melirik nama dada di seragam dinas pria itu, Drs. Adrian Zulfiandi MM.


“Nggak sengaja? Peraturan sekolah, kan, sudah jelas, siapa pun dilarang masuk ke sana kecuali yang berkepentingan.” Pak Adrian berbicara tegas.


Gina menjawab takut-takut, “Maaf, Pak, waktu itu soalnya kami penasaran. Ada suara-suara aneh dari dalam.”


“Kalian jangan mengada-ada. Suara-suara aneh apa?”


“Kami nggak mengada-ada, Pak. Saya dan Gina memang mendengar suara aneh. Saat saya buka pintu ternyata nggak dikunci. Dan di dalam kami lihat meja bergerak sendiri.”


Pak Adrian tampak kaget. “Omong kosong macam apa ini? Kalian terlalu banyak nonton film horor.”


Gina memajukan sedikit posisi duduknya, hingga lututnya yang terbalut rok abu-abu panjang tidak sengaja berimpitan dengan lutut Guntur. Seketika sengatan kecil menjalari pembuluh darah cowok beralis tebal itu.


“Pak, kami nggak bohong. Kami lihat dengan mata kepala sendiri satu-satunya meja di ruangan itu bergerak-gerak sendiri. Bahkan kamu nemuin buku diary milik mantan siswa sekolah ini, namanya Gladys Saphira. Dia—” Ucapan Gina terhenti karena sentuhan ringan Guntur di lututnya. Cowok itu memberikan kode dengan matanya.


Awalnya Gina tidak mengerti, hingga hanya bisa mengerutkan kening. Namun, gerakan bibir Guntur yang mengatup rapat-rapat membuatnya paham, dia harus diam.


Sejak tadi, Guntur mengamati perubahan wajah Pak Adrian. Mulai dari tidak suka, marah, kaget, lalu ... takut? Dua ekspresi terakhir itu tercetak jelas saat Gina menyebut buku diary dan nama Gladys Saphira.


Apa Pak Adrian kenal dengan Gladys Saphira? Atau beliau tahu kisah Gladys? Atau .... Guntur terus bergelut dengan segala kemungkinan yang ada di otaknya.


“Baik, Pak, kami minta maaf karena sudah lancang masuk ke ruangan terlarang itu. Kami janji nggak akan masuk ke sana lagi tanpa izin.”


Sepertinya Pak Adrian tidak fokus dengan ucapan Guntur. Wajahnya masih terlihat syok.


Gina melirik Guntur. Dengan gerakan bibir tanpa suara, dia bertanya, “Terus gimana?”


Guntur menjawab pertanyaan itu dengan isyarat dua tepukan di lutut Gina. Dia sendiri tidak mengerti kenapa tangannya masih berada di sana.


“Kalau begitu kamu permisi dulu, Pak.” Guntur menarik pelan tangan Gina untuk berdiri. “Sekali lagi kami mohon maaf. Assalamu’alaikum.”


“Assalamu’alaikum,” sambung Gina sebelum mereka beranjak, tapi Pak Adrian hanya memberikan anggukan ragu dan menjawab salam dengan suara pelan.


***


Guntur dan Gina duduk di kursi semen taman depan dekat parkiran. Entah kenapa mereka jadi suka janjian bertemu di tempat ini. Guntur menyodorkan sebungkus batagor pada Gina. Dia sengaja ke kantin dulu membeli makanan dan minuman untuk mereka berdua.


Gina menerima sodoran itu ragu-ragu. Dia gengsi ditraktir oleh Guntur. Malangnya, cacing-cacing di perutnya sudah berdemo besar-besaran. Jadi, daripada pingsan dan nanti malah digendong cowok sengklek itu, lebih baik dia terima saja batagor dari Guntur. Lumayan juga.

__ADS_1


Sementara lain yang dirasakan Guntur. Makan bersama hanya berdua di bawah rindangnya pohon akasia dengan pemandangan sekeliling yang dipenuhi pohon dan beberapa jenis bunga yang tertata tapi, rasanya seperti sedang kencan romantis. Untuk sesaat dia terlalu baper, sampai hampir melupakan tujuannya mengajak Gina bertemu di sini di jam istirahat kedua.


“Jadi ada urusan penting apa, nih, lo ngajak ketemuan begini?”


“Biar berasa lagi nge-date sama lo, Gin.”


Gina bangkit. Dia langsung menghadiahkan pelototan dan injakan di kaki Guntur.


“Aw! Sakit, Gin.” Guntur meringis sambil ikut berdiri.


“Sukurin! Bodo amat! Ngeselin, sih, lo!” Gina bersungut-sungut dengan wajah mengerikan. “Udah, ah, gue males sama lo!”


Guntur langsung mengadang langkah Gina. “Gin, gue becanda. Jangan ngambek, dong. Ayo, duduk lagi.”


“Nggak!”


“Ake. Oke. Gua curiga sama Pak Adrian.”


Gina menaikkan alis kiri. “Soal?”


“Gladys.” Guntur memelankan suara.


“Jangan ngaco lo!”


“Serius! Makanya ayo duduk dulu. Kita bahas.”


Mau tak mau Gina akhirnya menurut. Mereka kembali duduk bersebelahan. Mereka meletakkan plastik batagor di tengah, yang tanpa sadar ternyata sejak tadi masih digenggam.


“Lo perhatiin nggak tadi ekspresi Pak Adrian pas lo sebut soal buku diary Gladys?” Gina mengangguk. “Gue yakin beliau pasti tau sesuatu. Atau ....”


“Atau apa?”


Gina menutup mulut dengan telapak tangan. “Bener. Adrian Zulfiandi lebih pas dari Azwar Kurniawan.”


“Kita harus selidikin!” ujar mereka kompak.


***


Melalui media sosial—lagi—akhirhya Guntur bisa mengetahui kalau pada tahun 2002, Pak Adrian Zulfiandi sudah bekerja di SMA Perjuangan. Sayangnya tidak bisa dipastikan saat itu posisinya sebagai apa. Yang pasti, kepala sekolah itu pasti tau perihal Gladys Saphira. Karena itulah mereka berdua kini harus mengawasi diam-diam gerak-gerik Pak Adrian dan mencoba mendapatkan petunjuk sekecil apa pun.


Hari ini Gina lagi-lagi tertidur di kelas. Bedanya, kali ini di jam istirahat pertama. Dia benar-benar lelah. Saat terbangun, dengan kesadaran yang belum seratus persen pulih, dia menggerutu sendiri. Wajahnya yang masih menempel di atas meja langsung ditekuk. Gina kesal, bisa-bisanya Guntur masuk ke mimpinya. Menyebalkan!


Gina mengucek mata. Begitu berhasil terbuka sepenuhnya, sebuah obyek tertangkap dengan begitu jelas. Wajah Gladys—yang hanya terlihat sebagian—juga menempel di atas meja, menghadapnya hanya berjarak sekitar dua puluh sentimeter, tersenyum horor padanya.


“Aaa ...!!!” Gina berteriak spontan sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan.


“Gin, kenapa lo?” Pertanyaan-pertanyaan serupa muncul dari teman-temannya yang berada di kelas dan langsung mengerubung.


Pelan-pelan Gina menurunkan tangan yang menutup wajah, dadanya naik turun. Gladys sudah tidak ada, digantikan wajah-wajah bingung di sekelilingnya.


“Ng ... nggak apa-apa. Gu-gue ... gue mimpi buruk.”


Sorakan sebal langsung menghujaninya. Kerumunan itu langsung membubarkan diri.


“Makanya, lo jangan kebanyakan tidur di kelas. Mimpiin hantu sekolah batu tau rasa lo!” cibir Mawar sebelum meninggalkan meja Gina.


Gina sama tidak berniat membalas ucapan Mawar, dia masih sibuk mengatur napas. Secepat kilat, matanya kembali menangkap sosok Gladys berdiri di pojok kelas, di belakang meja guru, lalu menghilang.


Saat Gina masih sibuk mengatur napas dan rasa kaget, suara notifikasi WhatsApp kembali mengagetkannya. Sebuah pesan dari Guntur.


Bocah Pengganggu:

__ADS_1


Gin, gw dapet info dari Pak Masri, penjaga sekolah. Katanya dulu Pak Adrian itu guru Biologi. Dan dia punya murid kesayangan yg sering ikut lomba, cewek rambut panjang. Cantik. Tp Pak Misri lupa namanya. Cuma sayangnya cewek itu hilang sebelum lulus dan sampe sekarang gak ada yg tau dia di mana. Gw yakin, itu pasti Gladys.


Sebuah embusan angin yang entah berasal dari mana tiba-tiba menerpa wajah Gina.


***


“Kemarin kalian bilang, kalian menemukan sebuah buku atas nama Gladys Saphira. Kalau memang benar, saya mau lihat. Kalian pasti mengarang cerita, ‘kan?”


Siang ini setelah bel pulang, Guntur dan Gina kembali diminta menghadap ke ruang kepala sekolah. Kali ini pintu di depan sana tertutup rapat.


“Nggak ada, Pak. Benar, kami cuma mengarang cerita. Nggak ada apa-apa di ruangan itu.” Guntur menjawab mantap. Dan jawaban itu jelas memancing reaksi Gina.


“Lo apa-apaan, sih?” bisik Gina.


“Kalian jangan mempermainkan saya, ya. Perlihatkan bukunya pada saya!”


“Nggak ada buku apa-apa, Pak. Kemarin Gina cuma asal bicara.”


Gina kembali protes pada Guntur dengan isyarat mata. Dia tidak mengerti apa maksud Guntur. Sementara Guntur sendiri bingung harus memberikan kode apa lagi agar Gina mengerti.


“Gina!” Suara Pak Adrian naik satu oktaf. “Kamu—”


“Iya, Pak, bukunya ada pada saya. Gladys itu murid kesayangan Bapak, ‘kan? Dan ... Mr. AZ itu Bapak?”


Mata Pak Adrian seperti mau lompat. Guntur pun tak kalah frustrasi mendengar ucapan Gina. Ini anak polos atau oneng, sih?


“Saya sudah baca semua isi diary itu. Dan banyak cerita soal Mr. AZ. Benar, kan, Mr. AZ itu Bapak?” Gina hampir melupakan kesopanannya.


“Apa maksud kamu?! Kalian menuduh saya?”


Guntur tidak terima Gina dibentak. Dia pun terpancing. “Menuduh apa, Pak? Gina cuma betanya apa Mr. AZ itu Bapak? Nggak ada tuduhan apa-apa di sana atas perbuatan apa pun. Apa ini artinya ada sesuatu yang terjadi?”


“Kalian jangan sembarangan, ya. Tidak ada kejadian apa-apa. Dan jangan bertanya yang bukan-bukan lagi. Sekarang kalian keluar.”


Guntur dan Gina keluar dengan wajah penuh kecurigaan. Sekolah sudah sepi, tapi mereka tidak benar-benar meninggalkan sekolah. Keduanya bersembunyi di balik rangkaian pohon teh tehan yang berbaris di sepanjang sisi koridor ruang guru, yang memang bersisian dengan kantor kepala sekolah.


Tak lama kemudian, Pak Azwar muncul dan menuju ruang Kepala Sekolah. Gerak-geriknya mencurigakan. Pria itu celingukan seperti mengamati sekitar, sebelum masuk. Cukup lama Pak Azwar di dalam. Guntur dan Gina hampir kering karena panas dan bosan. Saat mereka hamlir menyerah, terdengar suara pintu terbuka. Dua pria yang sedang mereka amati itu keluar bersamaan.


Guntur dan Gina menyembunyikan diri serendah mungkin ketika melihat Pak Adrian dan Pak Azwar melangkah hendak melintas di koridor dekat tempat persembunyian mereka.


“Azwar, kamu awasi kedua anak itu baik-baik. Mereka pasti akan terus mencari tahu soal Gladys. Ingat, kamu sendiri yang akan kena imbasnya kalau masalah ini sampai terbongkar.” Itu suara Pak Adrian.


“Ba-baik, Pak.”


Tak lama, suasana hening. Kedua orang itu sudah meninggalkan area sekolah. Gina dan Guntur keluar dari persembunyiannya.


“Ternyata dua-duanya terlibat, Gin.”


“Iya. Jadi siapa sebenarnya Mr. AZ itu?”


“Udahlah, balik dulu, yuk. Entar kita pikirin di jalan. Lo gue anter, ya.”


“Kesempatan banget lo!”


Guntur tertawa menanggapi ucapan Gina. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang juga mengawasi mereka dari kejauhan, di balik tembok ruang guru, di ujung koridor. Pemilik sepasang mata itu lantas mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang sambil menyeret langkahnya yang agak pincang ke parkiran.


______


TBC.


Sumpah lo, masih TBC aja? Iya, dongs. 🤣🤣🤣 Tim fokus ke Gina-Guntur mana, nih? Atau tim fokus ke misterinya? Admin Ul sih, fokus Gina-Guntur aja. Wkwk

__ADS_1


__ADS_2