Aroma Kenanga

Aroma Kenanga
Tragedi Bale Lantip Bagian 2


__ADS_3

ditulis dan disunting oleh Winda Nurdiana


Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sesuai perjanjian, Andro memasuki ruang Puket 3 untuk bimbingan skripsi. Kebetulan mata kuliah yang diambil semester ini hanya Teknologi Cloud Computing dan satunya hanya skripsi.


Ya, cowok itu terpaksa mengambil mata kuliah itu lagi sebab semester 6 kemarin mata kuliah itu mendapatkan nilai D. Kalau dia tidak mengulangi mata kuliah itu, dia tidak akan bisa ikut yudisium, karena Teknologi Cloud Computing mata kuliah wajib.


Pak Hadi juga sudah berjanji pada Andro akan memberikannya minimal nilai B, agar dia bisa lulus semester itu. Untuk itu dia sangat bersemangat mengerjakan skripsinya semester ini. Andro tidak mau menunda kelulusannya lagi.


“Bu, saya mau bimbingan, “ kata Andro ramah pada Bu Syamsu. Kebetulan dosen pembimbing Andro dan Sandi sama.


Bu Syamsu mengangguk. Segera, Andro menyodorkan naskah skripsinya yang hanya tinggal bab 4 dan 5 saja. Dengan kacamatanya, Bu Syamsu meneliti naskah setiap bagian. Bu Syamsu menghentikan kegiatannya saat Bu Indra masuk ke puket 3.


“Gimana kasus tadi malam, Bu? “ tanyanya.


Bu Syamsu menghela napas panjang. Raut wajahnya mulai berubah antara sedih atau marah.


“Orang saya sudah memperingatkan anak-anak HMJ TI kalau rapat jangan sampai larut malam,” jawab Bu Syamsu. “Mereka tetap ngeyel, Bu. “


“Heran saya, rapat kok sampai jam dua belas malam,” Bu Indra, dosen mata kuliah Sistem Operasi ikut menggeleng.


“Untung tadi malam bapaknya Yana bisa ke sini dan mengobati si Fira, Bu. Tahu sendiri Fira itu anaknya sensitif.”


Obrolan-obrolan ke dua dosen itu menjawab semua keingintahuan Andro. Dia menyimak terus obrolan dosennya itu. Sampai akhirnya, Bu Syamsu mengarahkan pandangan ke cowok itu.


“Kamu mahasiswa saya kemarin, kan, yang ambil Sistem Operasi?”


Andro mengangguk, “ Iya, Bu. “


Setelah berbincang kurang lebih lima belas menit, Bu Indra pamit keluar ruangan.


“Maaf saya tadi tinggal ngobrol sebentar, “ kata Bu Syamsu, kembali mengoreksi naskah skripsi.


Andro menyimak dan mencatat bagian naskahnya yang dirasa kurang tepat menurut dosen pembimbingnya itu.


“Kurang sedikit lagi revisinya. Semangat, kalau sudah ke sini lagi langsung naskahnya saya ACC dan bisa dikumpulkan di pengajaran. “


Andro mengangguk dan berpamitan, lalu keluar dari puket 3.


“Lo ke mana aja? “ Sandi ternyata sudah menunggu di depan puket 3.


“Bimbingan naskah, San. “


Andro teringat kejadian tadi malam saat ada yang mencekiknya. Dia menceritakan kejadian itu pada Sandi. Sandi setengah takut saat mendengar cerita temannya itu. Lehernya terasa tercekat saat Andro memperlihatkan bekas cekikan itu.


“Ngeri, ih.”


“Makanya, San. Gue nggak tahu kenapa dia ganggu gue. “


“Bisa jadi dia mau bilang sesuatu. “


Andro menggeleng. “Mana mungkin ingin bilang sesuatu pakai acara mencekik leher.”

__ADS_1


“Bisa aja, Ndro, “ Sandi menepuk bahu temannya itu.


Sandi dan Andro kemudian menuju ke ruangan Jarkom. Ruangan itu sengaja dibangun untuk mahasiswa dalam mengerjakan skripsi. Tersedia wi-fi juga di sana.


“Eh lo, “ kata Habibi.


“Gimana, Bi? “


“Nggak apa-apa, Ndro.”


Entah apa yang ada di benak Andro, dia akhirnya menceritakan apa yang dialaminya tadi malam. Kata teman satu angkatannya, Habibi mempunyai indra keenam, yang dipercaya bisa melihat makhluk tak kasat mata.


“Cewek itu memang penunggu sini. Ya, ruang jarkom ini, Ndro.”


“Lo serius? Terus kenapa dia cekik gue? “


“Dia memang suka iseng, kok, “ jawab Habibi. “Itu dia baru duduk di sana,” tunjuk Habibi.


Andro dan Sandi saling pandang. Rasa takut dan perasaan menrinding menjadi satu. Cepat-cepat kedua orang itu keluar ruangan itu. Habibi mengangkat bahu, mengikuti langkah kedua temannya itu yang sudah berada di lantai dasar.


“Kalian nggak usah takut gitu. “


Andro menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri dengan jari telunjuk. “Lo gila, Bi? Kalau dia nyelakain kita, gimana? “


“Nggak, kok. Dia cuma suka nganggu aja.”


“Sama aja, Bi, “ Sandi angkat bicara.” Ini kampus udah mahal, banyak setannya lagi. “


Habibi tertawa. “Iya, memang suka gitu. “


“Setan kok kuliah, “ Andro bergidik ngeri.


“Kan setelah gue lulus dari sini kemarin dan kerja di kampus ini, gue udah nyaranin sama dosen buat ngadain doa. Ya, kali aja penunggu sini pada pergi. Tahu sendiri, lah, kampus ini bekas tebu-tebuan. “


“Tanggapan dosen-dosen sendiri, gimana? “ tanya Sandi.


“Katanya hasil rapat kemarin mereka mau, sekalian ngadain Dies Natalis kampus kita yang ke 40 tahun. “


“Bagus, deh, kalau gitu.”


“Kapan? “ Andro menyahut pembicaraan.


“Minggu depan. “


***


Seminggu kemudian, acara Dies Natalis di STIKOM diadakan di depan Bale Lantip. Acara mulai dari sambutan dari rektor, ketua kampus sampai sambutan salah satu alumni. Acara terakhir yaitu pembacaan doa untuk mengusir penunggu yang ada di Bale Lantip. Saat doa itu dibacakan terdengar suara tawaan lalu tangisan. Para alumni, mahasiswa, karyawan, dan dosen mendengar semua itu. Seketika muncul perempuan dengan berwajah hancur di hadapan mereka semua. Andro yang melihat kejadian itu kaget bukan main. Karena sosok itu adalah yang mencekiknya seminggu lalu.


Pak Jalu langsung berdiri dan menghadapi sosok wanita itu. “Apa mau kamu? “


“Saya mau dikuburkan secara layak. “

__ADS_1


Sosok wanita setengah hancur itu lalu menunjuk ke arah tanahdekat pohon beringinyang berada di dekat Bale Lantip. Beberapa orang mengambil peralatan dan menggali tanah itu. Semua terkejut saat melihat mayat seorang wanita masih dalam keadaan utuh terbungkus plastik. Ya, mungkin jasadnya masih awet karena dipakaikan formalin.


“Siapa yang membunuhmu? “ tanya Habibi ikut penasaran.


“Kekasihku sendiri. “.


“Siapa dia? “


“Dia sudah mati! “


“Baiklah, jangan ganggu kami lagi, ya? Tolong ajak teman-temanmu juga untuk pergi dari sini. Kami akan menguburkan jasadmu secara layak. “


Sosok itu mengangguk.


Keesokan harinya perempuan yang entah bernama siapa dikuburkan dengan layak di pemakaman dekat kampus. Suasana sangat khidmat di sana. Habibi, Andro dan Sandi memegang nisan wanita itu.


“Tenang di alam sana ya, Mbak. “


Kemudian mereka kembali ke kampus. Habibi menuju lab untuk kembali bekerja, sedangkan Andro dan Sandi masuk kelas. Ada mata kuliah Teknologi Cloud Computing yang sempat tertunda saat kesurupan seminggu lalu.


“Dosennya belum datang? “ tanya Andro pada salah seorang temannya yang kemarin dia ajak mengobrol saat kuliah pengganti.


“Belum. “


“Makasih, ya, lo udah kasih tahu gue sama Sandi kalau minggu lalu Pak Hadi nggak bisa hadir karena ngurusin yang kesurupan itu.


“Gue nggak ngerti maksud lo, Ndro. “ Tatapannya menjadi bingung sendiri .


“Jangan sok lupa ingatan, deh, “ Sandi angkat bicara. “Kan lo yang ngasih tahu kita waktu itu. “


“Gue beneran. Orang gue minggu lalu aja nggak berangkat.”


“Lo nggak bercanda, kan? “


Dia menggeleng. “Nggak. Buat apa gue bohong.”


Andro dan Sandi beradu pandang. Berarti orang yang seminggu lalu itu adalah penghuni kampus ini.


Tamat


______


Note: PUKET (BUKAN ALPUKAT 🤭🤣) \= Pembantu Ketua Kampus


HMJ TI \= Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika


Bale Lantip \= gedung wisuda, acara job fair dsb


Gimana, gimana? Lebih seram cerita ini atau mantan lewat depan rumah bonceng cewek lain? 🤣🤣🤣


Kita lanjut cerita horor baru, ya. Kali ini karya Teguh Son yang nggak kalah menarik dari cerita-cerita sebelumnya. 😍🤭

__ADS_1


__ADS_2