Aroma Kenanga

Aroma Kenanga
Malam Kemah Bagian 2


__ADS_3

ditulis dan disunting oleh Sri Marflowers


ditagih dan diteror oleh Admin Ul 🤪


__________


Perputaran jam seakan macet lalu terhenti. Waktu seolah mempermainkan Flo yang merasa tempat ini sungguh tidak cocok untuk dirinya. Seandainya dia tahu jalan pulang, kabur adalah solusi terbaik!


Setelah kasus terkunci di WC, tidak ada hal baik selain mendapati Benni membuka gagang terkutuk itu lantas menenangkan Flo dalam dekap. Mitha sudah di dalam tenda saat dia kembali. Hebat! Temannya itu bahkan tidak perlu repot-repot menjelaskan panjang lebar ke mana dia di saat Flo merasa akan menemui ajal? Tenang-tenang saja lantas langsung tertidur tanpa peduli dengan Flo yang masih mengatur napas.


Bersabarlah, Flo, esok pagi kita tinggalkan tempat terkutuk ini.


Di depannya, api unggun menyala, memberi tambahan penerangan. Bulan penuh, bias cahayanya memanggil pungguk untuk menyanyikan kidung rindu.


Berjalan hampir seharian dalam kegiatan menyusuri jejak, membawa efek luar biasa. Tubuh Flo rasanya remuk redam. Setidaknya, dia harus bersyukur karena rute yang dilalui cukup mudah, dan susur sungai dibatalkan sebab arus yang begitu deras.


Mereka mulai bernyanyi di dalam lingkaran, duduk mengelilingi api unggun. Flo bersila tepat di samping Mitha yang sedari tadi terdiam dengan kepala tertunduk. Mana Mitha yang dia kenal selalu semangat apalagi berhubungan dengan kegiatan pramuka? Mungkinkah terjadi sesuatu?


“Mith, kamu nggak apa-apa?”


Mitha tetap diam dalam tunduk. Flo semakin merasa aneh. Anak-anak lain mulai menyanyikan lagu-lagu perpisahan. Api kian membumbung, tapi rasa dingin semakin menyuntik permukaan kulit.


“Mith.” Flo menepuk tangan Mitha yang sedari tadi dilihatnya gemetar, tergenggam erat hingga buku-buku jemarinya menyembul. “Mith!”


Flo membeku. Mitha kini menatapnya tajam, dengan kornea mengalirkan darah, meleleh di kelopak mata. Temannya itu menggeram, lantas melompat, mencengkeram bahu Flo hingga tubuh Flo oleng dan tumbang.


Dalam hitungan detik, semua menjadi kacau. Suasana riuh lantas hening saat Mitha melepas cengkeraman tangannya di bahu Flo kemudian kini mencekik lehernya sendiri. Tubuhnya menggelepar, kakinya menendang siapa saja yang berusaha mendiamkannya.


“Dia harus mati!” Mitha berteriak dengan suara parau yang berat.


Kak Jun—Kakak Pembina—berhasil memegang kaki, dan dua warga asing berjenis adam menyusul mengamankan jemari Mitha yang masih mencekik diri. Lingkaran merah berbekas di leher jenjang sahabatnya tersebut. Flo menangis sejadi-jadinya.


“Siapa yang harus mati?” pria tua dengan jenggot panjang, hadir di antara mereka, mendekat, mengusap rambut Mitha dengan air yang dibawanya di dalam cangkang tempurung.


“Dia!”

__ADS_1


“Yang berusaha kau cekik?”


Suasana semakin sunyi. Anak-anak perempuan berkumpul rapat, saling berbagi rasa kaget. Muka-muka pucat menjadi saksi betapa takutnya mereka sekarang. Api unggun menyala-nyala, suara pungguk semakin terdengar nyaring. Bapak tua itu berkomat-kamit entah membacakan apa.


“Ya. Dia mengotori tempatku.”


“Akan kami bersihkan.”


Mitha kembali berteriak, detik berikutnya terkikik menyerupai kuntilanak. Tubuhnya yang semula baring, memberontak, menendang dan menepis mereka yang memeganginya. Kini dia terduduk dengan kepala menunduk. Rambutnya yang sumula diikat, kini terjuntai utuh ke depan. Dia terkikik lagi, mengangkat kepala. Aliran darah semakin banyak, menetesi baju pramuka yang sekarang dikenakan. Tangannya terangkat, jemarinya menunjuk seseorang.


“Kau juga mati!”


Benni? Flo menyeka air mata, menajamkan penglihatan. Apa yang salah di sini?


Mitha berusaha melepaskan kakinya yang kini diikat. Tangannya dicengkeram erat saat hendak kembali mencekik diri. “Mereka mengotori tempatku.”


“Apa kau yang kau lakukan, Nak?” pria tua itu berdiri, menghampiri Benni. “Kami harus tahu agar bisa mengatasinya.”


Benni tertunduk dalam, meremas jemarinya kuat. “Kami melakukannya. Di WC guru yang rusak. Maafkan kami.”


Mereka lengah saat Mitha lepas dari jangkauan, berlari ke arah Benni, mencekik lelaki yang dicintainya itu membabi buta. Tawanya semikin terdengar tinggi dan tajam. Flo tak sanggup melakukan apa pun selain menutup telinga rapat-rapat. Air matanya tumpah ruah.


“Oke, cukup!” teriakan Kak Jun lantang, membuat dua pria yang mencoba menjauhkan Mitha dari Benni juga ikut menghentikan perjuangannya.


Semua siswa saling pandang, memamerkan wajah bingung saat melihat Mitha melepaskan jemarinya dari leher Benni, kemudian merapikan rambut, menyanggulnya sembarangan. Benni tersenyum tipis di sampingnya, menatap Flo dalam jarak cukup jauh.


“Apa masih ada yang belum mengerti?” Kak Jun memecah kebingungan dengan bertanya, berjalan mendekati api unggun, menjadi pusat perhatian.


“Jadi ... semuanya?” Ikram yang bersuara.


“Ini yang disebut uji nyali, Anak-anak. Tujuannya, melihat bagaimana kalian menghadapi masalah yang muncul dan cara menyelesaikannya.”


“Prank maksudnya, Kak?” Irkham kembali buka suara.


Kak Juna tersenyum tipis. “Bisa dibilang begitu.” Pandangannya beralih ke Mitha dan Benni. “Terima kasih untuk kerjasamanya. Acting kalian sungguh menakjubkan. Terima kasih juga untuk warga yang telah berpartisipasi.”

__ADS_1


Flo hanya bisa mangap. Sungguh, dalam hal ini, dialah yang paling banyak dirugikan! Kenapa Mitha dan Benni yang hanya diberi ucapan terima kasih?


“Maaf ya, Teman-teman. Khusunya untuk sahabatku Flo.” Akhirnya Mitha buka suara.


“Kemarin di WC?” suara Flo masih terdengar bergetar. Otaknya entah mengapa menjadi lamban beradaptasi dengan situasi yang dihadapinya sekarang. Sungguh tidak masuk akal!


“Iya, Flo. Kemarin aku ada di WC guru, segera keluar saat kamu masuk ke WC kedua. Benni juga di WC yang sengaja ditulis rusak. Bukankah terlalu mudah mendapatkan nilai B padahal tidak pernah ikut kegiatan pramuka sama sekali?”


“Darah di matamu.” Flo masih linglung.


“Oh, ini, ya?” Mitha menyeka darah tersebut dengan punggung tangan. Hanya air jingga.”


Suasana kembali heboh, tapi kini oleh tawa anak-anak. Mereka memuji betapa hebatnya acting Mitha. Anak-anak pria bahkan berlari ke arah gadis tersebut, menyalaminya satu persatu.


Semuanya diminta bubar dan beristirahat. Satu-persatu meninggalkan lapangan kemah menuju tenda masing-masing. Flo masih setia di tempat.


“Maaf,” bisik Benni, “kamu nggak apa-apa, kan?”


Aku kenapa-napa! Aku butuh ditenangkan. Kamu nggak mau peluk aku kayak kemarin?


Flo ingin mengatakan hal tersebut, tapi yang terjadi, tangannya ringan saja melayangkan jitakan kuat di dahi Benni, membuat pria tersebut meringis dalam senyum.


Duh, kini Flo punya masalah baru. Bukankah seharusnya dia tidak boleh menyukai lelaki yang juga disukai oleh sahabatnya sendiri?


***


Flo melempar sembarangan tas ransel saat langkahnya mencapai pintu kamar. Dia harus istrahat total. Bukan cuma fisik, tapi juga otak. Lupakan perihal uji nyali yang membuatnya nyaris kehilangan kesempatan menghirup kembali wangi kamar. Tubuhnya terasa nyaman saat baru menyetuh kasur. Namun, mata Flo kembali terjaga saat jemarinya tidak sengaja menyentuh sesuatu.


Flo bangkit, menemukan gulungan rambut di bawah guling. Ini pasti rambutnya sendiri. Tangannya gemetar saat menarik rambut tersebut semakin panjang, bahkan lebih panjang dibandingkan saat dia berdiri. Flo menjerit histeris.


Selesai


___________


😱 Iyyuh banget dah sama Benny. Kalian gimana?

__ADS_1


Masih ada cerita seram selanjutnya, lho. Stay tune, ya. 😍


__ADS_2