
ditulis dan disunting oleh Salmah Nurhaliza
Jarum jam di pergelangan tangan kiri Guntur sudah menunjukkan pukul 21.35, tapi selarut ini dia malah sedang sibuk mendorong motor di jalan. Hal yang lebih memalukan, dia terpaksa membiarkan Gina ikut mendorong di bagian belakang.
“Kalau kayak gini tadi mendingan nggak usah dijemput, deh,” gerutu Gina untuk kesekian kalinya.
Guntur tersenyum kecut. “Sorry, Gin. Di luar dugaan, nih. Padahal tadi sore gue cek baik-baik aja. Malah pas mau jemput lo juga masih oke.”
“Nggak usah ngeles. Jadi sampai kapan, nih, kita doronganya?”
“Sampai ketemu bengkel.” Gina tertawa kikuk.
Gina makin cemberut. Dia sudah lelah dan ngantuk tentunya. Tidak ada kejadian seperti ini saja dia sudah sering ketiduran di kelas, apalagi begini. Malah rumahnya masih jauh. Ditambah lagi motor sport Guntur ini besar dan berat.
Beginilah malam-mala Gina hampir setiap hari. Tiap Senin, Rabu dan Jum’at dia memang mendatangi beberapa rumah di kompleks dekat tempat tinggalnya untuk mengajar les privat anak-anak sekolah dasar. Gina terpaksa mencari pekerjaan agar bisa membantu Mama yang single parent untuk membiayai sekolahnya. Mama hanya seorang penjaga toko kue di jalan raya depan.
Tiba-tiba Guntur berhenti, dia membalik badan menghadap Gina. “Makanya lo nggak usah ikutan dorong, Gin. Sini lo naik aja di motor, biar gue yang dorong sendiri,” katanya lembut sambil menepuk jok motor, lalu tersenyum. “Atau gue cariin ojek, ya. Jadi lo bisa balik duluan.”
Cewek jutek di hadapannya langsung melotot. “Lu pikir gue cewek macam apa? Manja? Nggak tau diri? Enak aja!”
“Kok, lo malah marah, sih, Gin?” Suara Guntur makin lembut.
“Lagian lo ngeselin! Lo, kan, ke sini buat jemput gue, masa gue tinggalin. Ya, gue akan tetap nemenin dan bantuin lo, lah. Walaupun bete!”
Guntur diam-diam mengulum senyum. Meskipun Gina marah-marah, dia senang karena cewek itu tetap peduli. “Ya, udah, ayo, Beb, dorong yang semangat. Ciao!”
“Jangan ngelunjak!”
Guntur terbahak. Bersamaan dengan itu, sebuah motor melintas cepat di sisi mereka dan tiba-tiba melemparkan sebuah kotak makanan begitu saja. Gina terperanjat karena kotak itu mengenai lengannya dan jatuh tepat di ujung kakinya.
“Woiy!”
Guntur kontan teriak. Namun, teriakan Gina lebih keras saat melihat isi kotak yang tumpah dan berserakan di depannya: bangkai tikus yang sudah dimutilasi dan berlumuran darah. Cewek itu menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Guntur langsung berinisiatif mendekati Gina dan membawanya ke sisi motor lain, menjauhi kotak.
Jarak mereka dekat sekali. Satu gerakan lagi Gina pasti sudah ada dalam pelukannya. Namun, Guntur tidak selicik itu. Dia tidak mau mengambil kesempatan di tengah ketakutan Gina. Guntur menyayangi Gina, karena itulah dia menghormatinya. Dia hanya ingin menjaga.
Tiba-tiba sebuah suara keras terdengar dari belakang mereka. Seperti suara motor terjatuh. Saat menoleh, ternyata motor yang tadi melintas dan melemparkan kotak sudah tersungkur di jalan. Guntur langsung berlari mendekati. Ada dua orang di sana, sama-sama berjaket hitam dan memakai penutup wajah.
Guntur menarik satu orang yang masih tergelatak, lantas mencengkeram kerah jaketnya. “Heh, maksud lo apa ngelempar kotak itu?! Siapa kalian?!” Dia merenggut penutup wajah orang yang sedang berontak itu. “Pak Azwar?”
“Guntur, awas!” teriak Gina.
Sedetik kemudian, sebuah tendangan mendarat di sisi kanan tubuh Guntur, hingga dia terjangkang. Gina langsung berlari menghampiri Guntur.
Pak Azwar bangkit dibantu orang yang tadi menendang Guntur. “Kalian tidak usah repot-repot mencari tahu tentang apa yang ada di buku itu. Itu bukan urusan kalian! Atau kalian mau bernasib sama seperti tikus tadi?” ancamnya sambil menuding dengan telunjuk.
Guntur bangkit dibantu Gina. “Ternyata benar, ya, Bapak terlibat. Apa yang udah kalian lakuin ke Gladys?”
“Sudah saya bilang bukan urusan kalian!”
Pak Azwar hendak memukul Guntur, tapi tiba-tiba sebuah embusan angin yang cukup kencang hadir di tengah mereka, menghentikan gerakannya. Kemudian sosok yang dikenali Gina dan Guntur sebagai Gladys muncul di antara mereka. Gina langsung menyembunyikan wajah di dada Guntur.
__ADS_1
“Ka-ka-kamu?” Pak Azwar menggigil melihat sosok itu. Wajahnya pucat dan langsung keluar keringat dingin.
Sebuah kilatan muncul dari ujung mata Gladys, lalu kembali embusan angin kencang menerjang Pak Azwar dan temannya hingga mereka terpental. Setelah berhasil bangkit, dua orang itu mendirikan lagi motornya lalu kabur meninggalkan TKP.
Sosok Gladys menoleh pada Guntur dan Gina—masih dengan wajahnya yang sebagian tertutup rambut—lalu tersenyum dan menghilang tanpa jejak.
***
“Semalam saya benar-benar melihat dia muncul, Pak. Di depan mata saya.” Dengan suara kecil, Pak Azwar berusaha meyakinkan pria di hadapannya.
“Tidak mungkin. Dia sudah meninggal. Tidak mungkin hidup lagi.”
“Tapi itu benar-benar dia, Pak. Arwahnya.”
Gina dan Guntur menguping pembicaraan itu dari balik jendela belakang ruang kepala sekolah. Kondisi sekolah sudah sepi, hanya tinggal beberapa siswa yang sedang mengikuti ekstakurikuler di tempat masing-masing. Suara di dalam samar-samar, tapi masih bisa tertangkap telinga mereka.
“Ayo, Gin.” Guntur mengajak Gina pergi.
“Gun, mungkin nggak, sih, kalau kita cari tau lewat yang namanya Nadia?” usul Gina begitu mereka sudah berada di atas motor yang melaju santai.
Suara Gina yang dekat sekali dengan telinga Guntur membuat cowok itu tidak konsentrasi. Di saat bersamaan, tiba-tiba seekor kucing yang entah datang dari mana, melompat ke motornya dan sempat singgah beberapa detik di atas spidometer, lalu pergi. Guntur oleng dan akhirnya mereka terjatuh ke sisi jalan sebelah kiri, menabrak trotoar.
Begitu kembali fokus, hanya satu yang ada di pikirannya: Gina. Kaki cewek itu tertindih bagian belakang motornya.
“Gina!” Guntur bergegas bangkit dan membantu Gina menarik kaki. Guntur mengangkat sedikit motornya agar ada celah untuk Gina mengeluarkan kakinya. “Lo nggak apa-apa, Gin? Mana yang sakit?”
Gina meringis. Tulang kering sebelah kirinya terasa nyeri. “Sakit, Gun.” Matanya mulai berkaca-kaca. Hey, demi apa Gina menangis karena jatuh dari motor? Di depan Guntur? Dia bahkan tidak pernah menangis di depan mamanya. Kenapa sekarang malah merengek pada Guntur?
“Jangan! Enak aja!”
“Eh, maaf, gue panik.”
Dua kendaraan yang melintas berhenti dan membantu mereka. Pengendara sepeda motor seorang ojek online, pengendara mobil sepasang pria dan wanita. Sepertinya suami istri. Para pria membantu mendirikan motor, sementara yang wanita mengobati luka Gina.
“Terima kasih, ya, Mas, Pak, Bu,” ucap Guntur.
Ketiga orang yang membantunya menjawab serempak, “Sama-sama.”
“Hati-hati naik motornya, Dek.”
“Iya, Bu, terima kasih.” Gina dan Guntur kompak.
Saat Guntur baru akan naik ke motor, notifikasi SMS di ponselnya berbunyi. Dia menyempatkan untuk mengeceknya sebentar.
Kalau tidak ingin yang lebih dari ini, berhenti ikut campur!
“Kurang ajar! Pak Azwar, nih, pasti.”
“Apaan?” Gina merebut ponsel Guntur. “Ck. Apaan coba, nih, orang!”
“Makin mereka bikin ulah, makin keliatan banget mereka ketakutan. Dan itu makin membuktikan kalau mereka emang ada sangkut pautnya sama masalah Gladys.”
__ADS_1
***
Gina tidak sekolah hari ini. Memar di kakinya ternyata cukup parah. Tadi pagi Mama sudah mengantarnya ke puskesmas. Selain luka luar, ada sedikit luka dalam karena tekanan beban motor yang kemarin menimpa kakinya. Beruntung tidak sampai patah. Hari ini Mama izin tidak masuk kerja.
Dia jadi khawatir nasib Guntur. Bagaimana kalau cowok itu dijahati lagi oleh Pak Azwar atau orang suruhannya.
“Ah, Gina ... lo ngapain jadi mikirin Guntur, sih. Dia cowok. Dia kuat. Dia pintar. Nggak akan kenapa-kenapa. Woles.” Gina memukul-mukul pelan keningnya dengan novel yang sedaag dibaca. Sejak pulang dari puskesmas sampai siang begini dia cuma rebahan sambil membaca novel di kamar.
Sayup-sayup terdengar suara Mama berbicara dengan seseorang di depan. Tidak lama Mam muncul di pintu kamar Gina.
“Gin, ada Guntur. Mau jengukin kamu katanya.”
“Iya, Ma. Sebentar.”
“Bisa jalan sendiri?”
Gina tersenyum sambil memamerkan ibu jari. “Amaaan. Tenang, aja, Ma. Gina, nih, kuat.”
Mama tertawa. “Bagus, deh. Mama ke dapur dulu bikin minum.”
Tertatih-tatih Gina menuju ruang tamu. Guntur sudah duduk gelisah di sana. Cowok itu langsung bangkit dan membantu Gina berjalan sampai duduk di sofa, di sebelahnya.
“Gimana kondisi lo, Gin? Nggak sampe parah, ‘kan? Udah ke dokter? Kata dokter gimana? Mana yang masih sakit? Lo—”
“Gun!” Gina melotot. “Itu pertanyaan apa petasan rombongan besan, sih?”
Mama yang muncul sambil membawa nampan berisi dua gelas sirup jeruk dan setoples kacang tertawa mendengar pertanyaan Guntur. Setelah mempersilakan hidangan, Mama kembali ke belakang. Guntur hanya bisa tersenyum malu.
“Ya, kan, gue panik, Gin. Gue khawatir sama lo. Gue takut lo kenapa-napa,” ucap Guntur memelas, sarat kekhawatiran.
Secara memalukan pipi Gina menghangat. Dia langsung memalingkan wajah, takut kalau ada warna merah di pipinya dan ketahuan Guntur. Bisa ge-er sampai ubun-ubun anak itu.
“Oya, Gin, tadi pas kebetulan pelajaran Kimia Pak Endro nggak masuk, cuma nitip tugas. Gue pake kesempatan itu buat ngubek-ngubek lemari buku tahunan siswa di perpustakaan. Akhirnya gue dapet buku tahunan angkatan 2002. Dan lo tau, di bagian kelas 3 IPA 1, ternyata ada keterangan kalau Gladys Saphira dan Nadia Anastasya itu hilang. Dua-duanya hilang, Gin.”
“Jadi Nadia juga ...?”
“Gue belom bisa menerka-nerka, sih, apa yang terjadi. Ada satu hal yang aneh lagi. Foto.”
“Foto?” Gina menggeser posisi duduknya, hingga tanpa sadar makin dekat dengan Guntur.
Guntur mengangguk mantap dua kali. “Foto Nadia di buku tahunan itu, mirip banget sama foto cewek cantik yang ada di diary Gladys. Tapi ... foto Galdys itu beda jauh. Nadia rambutnya lurus, hitam, panjang, dan emang mirip banget sama cewek itu. Kalau Gladys rambutnya ikal, sebahu, mirip rambut lo. Dan dia cantik banget, Gin. Lebih cantik dari Gladys.”
Entah mengapa Gina merasa tidak suka mendengar Guntur memuji cewek lain. Namun, dia segera mengenyahkan pikiran itu. “Jadi ... sosok yang suka nampakin diri itu siapa? Dia mirip foto di diary Gladys. Kalau itu Nadia ... berarti ....”
Kedua remaja itu saling pandang dengan segala macam dugaan memenuhi kepala mereka.
[Bersambung]
______
Nggak ada foto Admin Ul kan ya di buku tahunan itu? 🤣🤣🤣 Syukurlah. Takutnya yang dipuji Guntur itu foto Admin Ul 🤪
__ADS_1
Masih bersambung aja ya, Man-teman. Beda kalo yang nulis Editor mah. wkwkwk Bila kamu menemukan typo, bilang aja. Naskah ini belum diendapkan di hati siapa pun. 🤣🤣🤣