
Hari ini hari Minggu dan merupakan Minggu terbaik dalam hidupku. Pertama kali semenjak mengenal Badminton, dan jatuh cinta dengannya, tak sekalipun pernah melihat langsung pertandingan Badminton kelas dunia di Stadion. Hari ini Grandpa, panggilanku untuk sang Kakek, mengajak untuk melihat langsung final Indonesia Open di Stadion.
Hari ini aku bangun lebih awal. Aku takut Grandpa tiba-tiba lupa dan malah pergi mancing dengan teman-temanya. Tas ku sudah penuh dengan berbagai atribut untuk di stadion nanti, dan tentu saja jersey yang kupakai jelas jersey bertuliskan A.S Ginting yang merupakan pemain tunggal favoritku selain Taufik Hidayat yang sebenarnya hanya tau kisahnya dari Grandpa dan video yang beredar di youtube.
Menurut Grandpa Taufik Hidayat adalah seorang legenda sejati, dan kita belum mempunyai lagi seseorang yang seperti dirinya. Anehnya, walaupun aku sama sekali tidak ikut merasakan era keemasan sang legenda, tapi setiap kali Grandpa bercerita, aku selalu merasakan semangat dan atmosfir yang membara dalam dada ini. Aku selalu terhanyut dengan semua cerita Grandpa tentang legenda Bulutangkis. Bahkan Mommy dan Daddy'pun tidak mau ketinggalan ketika Grandpa sudah mulai bercerita. Bagiku Grandpa adalah sosok yang sangat hebat, dia selalu hangat kepada semua orang dan dia tidak pernah marah kecuali terhadap seseorang yang pemalas.
"Reyhannnn!" suara melengking keras menggelegar sampai ke kamarku. Suara langkah kaki tiba-tiba mendekat dan pintu kamar terbuka seketika seperti didorong dengan kekuatan amarah yang baru saja keluar dari kandangnya. "S-U-D-A-HHH Kuubilanggg JAanggaan Pernahh beraniii masuk kamarkuuu ! "
Aku menyeringai dihadapan kakak perempuanku. Tadi malam saat Kakaku menginap di Rumah temannya, aku masuk kamarnya dan mengambil pensil warna dan kertas karton untuk membuat poster yang akan aku bawa ke Stadion. Sebenarnya tidak hanya itu, aku selalu iseng membaca surat-surat cinta yang kakak aku dapatkan dari para lelaki yang memujannya. Konon katanya, kakaku di Sekolah berlaku bak putri yang anggun, dan selalu menjaga sikap tidak pernah marah-marah apalagi mendengus dan teriak-teriak seperti ini. Boleh dibilang Kakaku adalah salah satu perempuan paling terkenal di Sekolahnya.
Aku merasa Kakak tau aku telah membaca surat-surat yang disimpan rapi di laci meja belajarnya yang paling bawah. " Sorry Kak, tadi malam aku cuman minjem pensil warna dan juga ambil selembar kertas karton yang ada di meja!" Aku pura-pura polos dan tidak tau apa-apa.
Kakaku mendengus, matanya berputar-putar kesetiap sudut kamarku. Dahinya mengkerut dan bibirnya menyeringai seolah mencium kebohongan dariku. "Kamu yakin Reyhan sayanggg ! Kamu yakin tidak melihat apapun selain mengambil pensil dan kertas karton ?!"
wajahnya mendekat, matanya mendelik seperti seorang Dementor yang berusaha mencium aroma ketakutan dalam diriku.
"YAaa...tentu saja aku yakin! " ucapku sambil menelan ludah. "A-p-aaa..Kakak merasa kehilangan se-sua-tu ? " tanyaku terbata-bata. Hidungnya kembali mendengus dan tiba-tiba merasa gugup.
"Aa-aa-aa...sudahlah kalau kamu tidak melakukan apapun kecuali mengambil pensil dan Karton. Lain kali jangan coba-coba masuk kamar Kakak tanpa seijin Kakak !" Ucapnya dengan nada tinggi sambil seketika menutup pintu dengan bantingan yang keras.
"Hahhh...!" Aku menghela napas lega seolah terbebas dari mahluk buas yang siap menerkam.
walaupun sikapnya galak dan dingin, Kakaku aslinya adalah seorang penyayang, saat aku dan Kakak dititipkan di Rumah Grandpa dulu, dia sering menjaga dan membelaku ketika aku diganggu teman-teman masa kecil dulu.
Dulu waktu kita masih kecil, Aku dan Kakak dititipkan di Rumah Grandpa. Mommy sakit dan harus bolak-balik Rumah Sakit. Daddy khawatir tidak bisa mengurus dan malah mentelantarkan kita. Terpaksa kita ditipkan di Rumah Grandpa untuk waktu yang cukup lama. Baru setelah Mommy dinyatakan sembuh, kita kembali lagi ke Rumah ini. Saat itu perasaanku campur aduk, antara senang dan juga sedih. Disatu sisi aku senang kembali berkumpul mommy dan Daddy, tapi aku juga sangat sedih meninggalkan Grandpa dan Grandma. Aku ingat saat itu saat sudah kembali ke Rumah ini, aku menangis semalaman dan tidak mau berhenti. Tetangga dekat Rumah berdatangan ke Rumah untuk melihat apa yang terjadi. Mereka menyarakan Daddy untuk memanggil Ustadz, katanya mungkin aku diikuti mahluk halus yang berada di Rumah Grandpa. Aku diberi air doa dan juga air itu dibasuh ke mukaku. Tapi yang terjadi aku malah menangis semakin kencang. Katanya mahluk yang mengikutiku sangat kuat dan aku harus dibawa langsung ke tempat khusus untuk diberi doa. Saat aku akan dibawa dengan maraung-raung dan menangis ketakutan, tiba-tiba Grandpa muncul didepan pintu. Aku loncat dari pangkuan Daddy dan lari secepatnya kepangkuan Grandpa. Aku menangis didekapanya terisak-isak. Tidak butuh waktu yang lama, akhirnya aku tidur dipangkuan Grandpa bahkan sebelum ia melangkahkan kakinya dari pintu depan Rumah kami.
Sungguh perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Reyhaannn !" Teriakan keras dari bawah menyadarkanku dari lamunan. Itu suara Grandpa. Ya, sudah tiga tahun semenjak Grandma meninggal, Grandpa dipaksa untuk tinggal di Rumah ini. Awalnya dia menolak dengan alasan berat meninggalkan rumah dan juga kenangan dengan Grandma, tapi akhirnya aku berhasil membujuknya walau dengan susah payah.
Aku sedikit berlari menuju lantai bawah. ditengah-tengah tangga aroma wangi masakan Mommy sudah tercium harum. Aku bergegas menuju ruang makan tidak sabar untuk melahap masakan Mommy dan tentu saja siap untuk berangkat ke Jakarta untuk melihat langsung Final Badminton.
__ADS_1
Aku sudah duduk di kursi depan mobil tua punya Grandpa. Mommy mebawakan bekal untuku dan Grandpa. Daddy tadinya mau ikut, tapi mendadak teman-temannya dari Kantor menelpon dan ada acara kumpul-kumpul. Aku cukup kecewa Daddy tidak bisa ikut, tapi ini kali pertamaku melihat langsung pertandingan kelas dunia, aku tidak boleh larut dalam kesedihan.
Selama perjalanan dari Bandung - Jakarta, Grandpa mengoceh tanpa henti. Dia terus membicarakan legenda-legenda bukutangkis mulai dari Icuk Sugiarto, Susi Susanti, Rexy/Riki, dan tentu saja Taufik Hidayat. Aku sama sekali tidak bosan. Aku malah sangat antusias dan sangat tidak sabar, karena menurut Grandpa menonton langsung dihadapan pemain itu sama saja dengan sepuluh kali lipat lebih seru dan mendebarkan dibandingkan dengan menonton pertandingan lewat televisi. Terlebih ini adalah babak Final. Aku benar-benar tidak sabar.
Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata. Stadion yang berada dihadapanku sungguh luar biasa besar dan megah. Bahkan sebelum masuk saja aku sudah merasakan atmosfir yang menakjubkan. Baru pertama kali merasakan hal yang seperti ini. Aneh sekali benar-benar sungguh aneh. Tiba-tiba aku merasa sesuatu yang bergemuruh dalam dada, tiba-tiba saja mata inipun berkaca-kaca dengan sendirinya. Entahlah perasaan macam apa ini ! perasaan yang sulit dikenali dan terasa baru dan asing persis ketika berpisah dengan Grandpa dulu "perasaan yang tidak bisa dijelaskan tapi indah".
"Rey ! Apa yang kamu rasakan ?" Aku tertegun mendengar pertanyaan Grandpa. Kamu tau ! Grandpa dulu bermimpi untuk bisa bermain di tempat seperti ini. Tapi, takdir tidak memilih Grandpa. Ini saatnya kamu Rey ! Ini untuk kamuuu !" Grandpa memandangku dengan berkaca-kaca. Aku tau dulu Grandpa hampir saja lolos masuk Platnas, tapi dengan alasan apa Grandpa pada akhirnya tidak lolos dan bahkan memilih untuk berhenti dari Bulutangkis. Grandpa sendiri memilih untuk tidak memberitahu alasannya, dan aku menghormati itu. Tidak sekalipun aku bertanya kenapa Grandpa berhenti bermain Bulutangkis kala itu.
Aku memeluknya dengan erat. Tak terasa air mataku berjatuhan. Kubenamkan wajahku di dada Grandpa sambil sesekali kuseka air mata ini yang keluar terus menerus tanpa henti.
" Aku akan jadi juaraaa..!"
"Aku akan jadi nomor satu di Duniaaa..."
Suaraku bergetar sambil memandang Grandpa.
" Aku janji akan mengejar semua itu Grandpa ! Aku janaji !"
"Grandpa percaya ! Grandpa akan menunggu saat momen itu tiba Rey...!"
Aku tersenyum sambil kuseka kembali air mata yang tak kunjung berhenti ini.
Aku dan Grandpa dalam antrian mau masuk ke dalam Stadion. Tiket Daddy yang tersisa ternyata masih bisa dijual. Banyak sekali penonton yang tidak kebagian tiket. Tadinya aku khawatir Grandpa bisa disangka sebagai calo, tapi untungnya Grandpa benar-benar bisa mengendalikan situasi dan terlihat sangat rapih. Benar-benar seperti seorang ahli.
Aku duduk di baris F kursi ketiga, sedangkan Grandpa duduk di kursi kedua. Dipinggir tepat sebelahku yang seharusnya di tempati Daddy, ternyata sudah diisi oleh seseorang yang aku kenal tadi, seseorang yang membeli tiket dari Grandpa. Sesekali Grandpa dan orang tersebut bertemu pandang dan saling menyapa.
Suasana sudah begitu ramai. Gemuruh orang-orang yang bernyanyi yel-yel begitu membahana. Benar-benar atmosfir yang luar biasa. Kulihat kursi samping Grandpa masih kosong aku mencondongkan badanku untuk menyimpan tas di kursi kosong tersebut. Namun tiba-tiba seseorang datang dan duduk di kursi tersebut. Aku membungkuk meminta maaf karena mengira kursi tersebut benar-benar kosong. Kualihkan pandanganku pada orang tersebut. Ternyata dia seorang wanita dan pada saat yang bersamaan, diapun mengarahkan pandanganya padaku. Aku membungkuk kembali karena merasa malu, namun lagi-lagi ada perasaan kecil yang aneh dan asing yang hinggap padaku.
Partai pertama akan segera dimulai. Kedua pemain ganda campuran antara negara China VS Jepang sudah masuk lapangan. Penonton bergemuruh dan tetap antusias walau dipartai ini Indonesia tidak meloloskan wakilnya. Aku tau kedua pasangan ini adalah yang terkuat. Zheng Siwei pemain muda nan tampan yang sangat diidolakan kaum hawa memang sangat hebat dan bertalenta. Tak salah dia dan pasanganya Huang Yaqiong menjadi pemegang rangking satu Dunia saat ini. Entah gelar keberapa yang sudah mereka dapatkan selama berpasangan. Yang pasti pasangan dari China ini benar-benar konsisten karena sudah masuk Final lima kali berturut-turut di lima turnamen. Sungguh gila !
Dari pasangan Jepang ini tidak kalah hebat. Salah satu pemainnya adalah orang yang sangat aku kagumi. Yuta Watanabe pemain muda bahkan lebih muda dari Zheng Siwei, mungkin umurnya sekarang adalah dua puluh dua tahun, dia dan pasanganya Arisa Higasino menempati ranking empat Dunia saat ini. Namun bukan berarti mereka bisa dianggap remeh. Mereka berdua sama-sama tampil sangat konsisten. Ini kali keempat mereka masuk final ditahun ini. Mereka juga sempat mengalahkan pasangan China di Final.
__ADS_1
Ini akan menjadi pertarungan yang sengit!
"Rey ! bagaimana menurutmu?"
Aku menolah dan tidak tidak begitu menyimak pertanyaan Grandpa.
" Menurutku apa Grandpa...!?"
Grandpa menolehku sambil mengerutkan dahinya. "Tentu saja pertandingan ini anak bodohhh ! " Aku cemberut mendengar ucapanya. Dibalik rasa sayangnya padaku terkadang aku merasa malu karena Grandpa sering bicara ceplas-ceplos dan terang terangan seperti barusan.
Belum selesai rasa malu ini, kudengar suara tertawa kecil tepat disamping Grandpa. Ya perempuan itu menutup mulutnya dengan tangan berusaha menutupi jejak. Aku menolehnya sedikit kesal, namun aku mendapati dia tersenyum manis kearahku dan sungguh tidak tahu harus bagaimana, haruskah aku membalas senyumannya atau cemberut atau justru pasang muka datar seolah tidak terjadi apa-apa. Sungguh perasaan yang aneh dan canggung.
Aku berusaha tenang dan fokus pada pertanyaan Grandpa tadi.
" Menurutku pertandingan ini akan Rubber Grandpa ! "
"Oh, yaaa ! Coba jelaskan "
"Dua pasangan ini sama-sama mempunyai play maker yang hebat. Kemampuan Arisa di depan dan juga Yaqiong di depan amatlah imbang. Mereka berdua Play maker yang jenius. Dan sebagai penggebuk aku rasa Yuta mungkin lebih unggul. Dia sangat ulet dan kuat, bahkan kecepatanya diatas rata-rata sama halnya dengan Ganda Putra kita Kevin Sanjaya."
"Itu artinya menurutmu Siwei kemapuanya dibawah Yuta dan selama ini kemenangan mereka lebih kepada Yaqiong sebagai play maker !" Grandpa bicara sambil mengernyitkan dahi.
"Bukan seperti itu maksdnya Grandpa ! Yuta dan Siwei sama-sama luar biasa, tapi entah kenapa jika dilihat secara perseorangan, Yuta mungkin lebih unggul sedikit."
"Jadi pasangan Jepang yang akan menang hari ini Rey? begitu menurutmu?"
" Aku rasa begitu !"
"Aku rasa tidak ! "
Suara asing tiba-tiba muncul diantara percakapan aku dan Grandpa. Aku menoleh dan aku yakin perempuan itu yang berbicara. Dia masih sama seperti tadi 'tersenyum'.
__ADS_1
Tanpa disadari jantung ini tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya. Bukan karena capek setelah olahraga ataupun berdebar karena sedang menonton pertandingan. Ini berbeda, sungguh-sungguh berbeda. Aku tidak tahu ini apa, dan rasnya tidak pernah merasakan hal seperti ini. Ini asing, tapiii...aku sungguh penasaran !