
Aku menoleh dan memandangnya kembali. Dia kali ini terlihat fokus dengan catatan yang ada di tangannya.
" Menurutku pasangan dari China yang akan menjadi juara ! Aku bicara seperti ini bukan tanpa sebab !" Ucap perempuan tersebut yang kemudian mengagetkanku.
Aku memandangnya dengan hati-hati, namun sial mataku selalu tertangkap basah oleh matanya yang begitu jernih dan bersinar. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku pada dua pasangan yang saat ini sedang berjabat tangan. Aku kira percakapan ini akan berakhir sampai disini saja. Tiba-tiba Grandpa menanggapi perkataan perempuan tersebut.
" Kenapa bisa begitu gadis muda ?"
Perempuan itu menyeka rambut dan merapikannya ke belakang telinga.
"Kedua pasangan ini berada disepuluh besar Dunia, itu artinya pasangan ini berada dilevel yang sama. Hanya kesiapan fisik dan mental yang bisa membawa mereka kedalam kemenangan. Kita harus melihat pertandingan sebelumnya, statistik pertandingan selalu penting. Dia yang bisa mengatur strategi dan tenaga aku kira dia akan jadi juara."
"Tentu saja, aku juga tau akan hal itu. Masalahnya...."
"Ya, aku tau apa yg kamu pikirkan !" Tiba-tiba ucapanku dipotong begitu saja. "Yuta-Arisa mendapat kemenangan mudah dilaga semifinal kemarin bukan ! Sehingga dia yang paling banyak menyimpan tenaga. Sedang Siwei - Yaqiong mendapat perlawanan sengit dari pasangan nomor tiga dunia asal Thailand. Tapi masalahnya Arisa tidak dalam kondisi terbaiknya. Bola-bola pendek dan langkah kakinya mengalamai kemerosotan."
" Tapi bukankah tidak ada berita kalau Arisa cidera? Bagaimana bisa kamu tau kalau dia sedang cidera?" Tanyaku penasaran tapi juga sedikit ragu dengan analisanya.
"Sebenarnya mungkin tidak bisa disebut cidera, jadi tidak begitu terlihat. Tapi percayalah aku menghitung tiap gerakan dia. Mulai bola-bola depan dia yang mulai tidak akurat, dan lagi dia salah satu pemain wanita yang jumping smashnya menakutkan, dan aku menghitung beberapa kali loncatan dia sebelumnya bahkan tidak sesempurna saat di Turnamen sebelumnya. Mungkin kebanyakan orang tidak akan menyadari bahwa sekarang dia tidak dalam kondisi terbaiknya. Tapi aku yakin Arisa sendiri tau kalau pergerakan kakinya sedikit melambat. Dengan itu sebentar lagi kita akan melihat Yuta sangat bekerja keras dan mungkin dia akan berusaha banyak mengambil posisi depan maupun belakang."
Entahlah aku harus percaya atau tidak dengan analisanya. Tapi terlihat dia sangat meyakinkan saat memberikan penjelasan tadi.
"Jadi kamu seorang analisis olahraga Bulutangkis sepertinya gadis muda !? " Grandpa memujinya sambil tersenyum dan dibalas senyum manis oleh perempuan tersebut.
Tapi aku tidak percaya begitu saja dengan ucapannya. Tiba-tiba saja mulutku mengeluarkan pertanyaan yang mungkin saja akan menyudutkan perempuan tersebut.
"Apakah kamu benar-benar menghitung berapa kali kesalahan Arisa di depan net selama turnamen ini?" Tanyaku menyeringai. Dalam hati aku yakin dia tidak akan sanggup menjawab pertanyaanku ini. Sebenarnya aku kasihan kalau sampai dia tidak bisa menjawab pertanyaanku ini, tapi apa boleh buat, tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari mulutku.
Tiba-tiba dia mendengus dan sesekali mendelikkan matanya padaku. Dia membuka-buka catatanya dan tiba-tiba dia melakukan hal yang diluar dugaan.
Dia berdiri sambil memandang Grandpa. "Bolehkah kita bertukar kursi Tuan !" Ucapnya sambil tersenyum. Grandpa tertawa terbahak-bahak dan langsung berdiri sambil meremas pundaku dan mengedipkan matanya sambil bergumam " bon appetit !"
__ADS_1
Saat itu juga aku benar-benar merasa canggung tapi juga dibalik itu ada rasa senang yang terpendam.
***
Dia duduk di sebelahku dengan santai. Sementara di lapangan kedua pasangan ganda campuran sudah mulai melakukan pemanasan.
Aku menunduk karena canggung dan malu, sementara dia sedang membolak-balik buku catatan yang sedang dipegangnya.
"Jadi begini...!" Dia menolehku dengan antusias. Kami berpandangan untuk beberapa detik dan sepertinya pipiku mulai memerah, untung saja jersey merah dan beberapa atribut merah putih berhasil menyembunyikannya.
"Beberapa pemain telah aku amati semenjak turnamen dimulai. Termasuk Arisa tentu saja! Dibabak awal di melakukan error hanya sedikit bahkan hampir tidak ada error, tapi semenjak masuk perempat final, telah aku amati pergerakan kakinya mulai melambat. Coba lihat ini !" Dia menggeser badannya lebih dekat. Siku tangannya menyentuh sebagian paha kakiku. Sungguh aku gemetar tapi berusaha untuk menahannya.
Aku berusaha fokus tertuju pada catatan yang dia tunjukan.
"Lihat ini ! telah aku amati kecepatan dia berubah semenjak perempat final. Saat dia melakukan pancingan net di depan dengan bola pendek, tentu saja lawan akan merasa kesulitan untuk mengembalikannya. Dan itu menyebabkan bola yang kembali akan tanggung dan tentu saja akan langsung disambar Arisa di depan net. Tapi masalahnya semakin jauh maka lawan harusnya semakin berat, dan lawan tidak mudah untuk dibodohi. Beberapa kali bola pendek dari Arisan berhasil dikembalikan dengan pengembalian bola silang, dan saat itulah kecepatan kakinya terlihat berkurang. Dari dua belas kali pengembalian bola silang dan Yuta posisinya masih berada di belakang, Arisa tampak benar-benar kesulitan. Dia hanya bisa mengejar bola silang tersebut hanya tujuh kali, selebihnya bola lebih dulu jatuh diatas lapangan." Kali ini aku benar-benar mendengarkanya secara seksama, walau rasa canggung ini masih terus menempel.
Permainan game pertama sudah dimulai. Arisa lebih dulu servis. Permainan begitu sengit. Beberapa kali Yaqiong memberi umpan bola kecil di depan net, namun rupanya Arisa juga sudah paham dengan metode pengembalian bola seperti itu. Pancingan-pancingan Yaqiong dapat dimentahkan beberapa kali oleh Arisa. Sedang Siwei dan Yuta beberapa kali Jumping smash dan masih terus bisa dikembalikan. sungguh permainan kelas Dunia. Posisi poin sungguh sangat ketat. Pasangan Jepang unggul satu angka enam - lima atas pasangan China.
"Lihat saja nanti, setelah game pertama yang sengit, bisa dipastikan game kedua pasangan Jepang akan mengalami kemerosotan. Kalau game pertama pasangan Jepang tidak bisa mengambil poin, maka pertandingan ini akan berakhir straigh game." Dia perempuan yang ada disampingku mencoba menganalisa dan menjelaskannya padaku. Aku mengangguk saja dan sedikit melirik wajahnya yang kini benar-benar dekat denganku. Tak kusangka diapun melirikan matanya dan kamipun kembali bertatapan dan terdiam untuk sesaat.
Umpan Arisan didepan net membuat bola melambung tanggung dan diserobot cepat oleh Yuta, dan menghasilkan poin sebelas - sembilan untuk keunggulan pasangan Jepang. Mereka tampak mendapat arahan dari pelatihnya masing-masing. Aku belum melihat dimana letak kelemahan Arisa sampai saat ini. Ya, memang benar poin masih sama ketat, selisih dua angka untuk permainan kelas dunia seperti ini bukanlah hal aneh.
Mereka sudah kembali masuk lapangan. Apakah ada perubahan strategi atau pertandingan akan sama seperti sebelumnya dan saling mengejar angka.
Arisa kembali memberikan bola kecil di depan net, tapi Yaqiong dengan kemampuannya yang bisa dibilang jenius mengembalikan bola tersebut tidak dengan bola silang, dia menarik raketnya kebelakang dada dan dia mencoba mengembalikan bola delay lurus tipis di depan net. Arisa tertegun dan sudah lebih dulu lari mengejar bola kosong kearah yang berlawanan. Dia masih berdiri terdiam, dan kemudian tersenyum ke arah Huang Yaqiong.
Tidak hanya Arisa akupun sama terkejutnya. Yaqiong tidak hanya berhasil mengembalikan bola tipis dari Arisa, tapi dia juga berhasil menipu Arisa mentah-mentah. Dan yang paling membuat aku terkejut, sejak kapan Yaqiong bisa melakukan tehnik mendelay bola seperti itu, sehingga lawan sudah lebih dulu bergerak tanpa tahu bola akan kemana, dan si pemegang kendali bisa dengan bebas menggerakkan bola kemanapun ia mau setelah tau lawannya justru bergerak lebih dulu. Aku tau teknik tadi masih kurang sempurna. Tapi aku terkejut karena selama ini teknik itu hanyalah milik Ginting seorang.
"Benar-benar gilaaa !" ucapku dalam hati.
Score kini sama imbang. Pasangan China berhasil menyamakan kedudukan tujuh belas sama. Siwei selalu berhasil mengeksekusi pengembalian bola yang tidak sempurna dari arah lawan. Tampak terlihat Yaqiong benar-benar seorang play maker yang sangat jenius dan luar biasa.
__ADS_1
Di turnamen sebelumnya Singapore Open, pasangan China dan Jepang ini baru saja bertarung sengit di Final. Dan pasangan jepang yang berhasil jadi Juara. Jadi aku pikir pertandingan kali ini tidak akan tertebak endingnya akan seperti apa. Tapi aku penasaran apakah analisa seorang perempuan ini benar-benar akan terjadi ! Aku sungguh tidak sabar.
Terlihat yuta beberapa kali melakukan jumping smash dan berhasil dikembalikan oleh Siwei. Pengembalian Siwei tidak pernah tanggung, karena kalau saja tanggung tentu saja akan dihabisi oleh Arisa yang juga salah satu pemain wanita dengan jumping smash menakutkan. Siwei dengan cerdas mengembalikan smash bola Yuta dengan menyilang, dengan begitu kekuatan pukulan Yuta tidak bisa seratus persen tertumpu di raket. Yuta tampak mulai melemah, dia tidak lagi melakukan pukulan keras, sesekali dia melakukan drop shot dan membuat kaget Yaqiong dan Siwei namun bola tipis yang jatuh di depan net berhasil dijangkau oleh Siwei dengan menjatuhkan badanya terguling ke lapangan, ajaibnya bola tersebut bergulir tipis di net dan jatuh di area lawan. Yuta dan Arisa terdiam dan benar-benar seperti patung karena tidak menyangka bola itu akan bergulir tipis dan jatuh di lapangan mereka.
Semua penonton bersorak merasa puas dengan pertandingan yang tersaji. "Ini benar-benar pertandingan kelas atas dan sulit untuk tidak mengagumi permainan semacam ini." Gumamku dalam hati.
Pertarungan masih sangat sengit. Yuta dan Siwei silih bergantian melakukan jumping smash yang sangat keras. Di depan, Arisa dan Yaqiong saling adu kecepatan dan juga kecerdasan. Di papan score terlihat sembilan belas sama untuk kedua pasangan ini. Siapapun yang lebih dulu sampai diangka dua puluh, tentu saja itu menjadi tekanan yang luar biasa bagi lawan yang tertinggal. Atau justru menjadi boomerang bagi pasangan yang unggul karena terlalu gugup dan cenderung ingin buru-buru mematikan lawan tanpa melihat seratus persen kesempatan yang ada.
Yuta akan melakukan servis. Suasana begitu menegangkan. Bahkan penonton ikut terdiam saat Yuta akan melakukan servis.
Yuta memukul bola dan tiba-tiba suara bergemuruh dengan begitu cepat. Yaqiong hanya terdiam seperti patung. Dirinya tidak menyangka Yuta akan melakukan flick servis. Servis cepat dengan setengah tinggi dan dengan cepat jatuh di lapangan bagian belakang Yaqiong. Benar-benar flick servis yang sempurna.
Yaqiong dan Siwei saling berbisik. Terlihat Siwei menepuk bahu Yaqiong sambil tersenyum.
Hanya satu poin saja maka pasangan Jepang akan merebut game pertama. Yuta akan melakukan servis. Siwei terlihat tenang, tapi aku yakin dia sangat gugup dan tentu saja dia harus menebak apakah Yuta akan melakukan flick servis lagi atau tidak. Disituasi seperti ini Siwei harus mengambil keputusan yang beresiko, masalahnya dia akan kehilangan game pertama jikalau salah mengambil keputusan.
"Lihat kakinya ! " Aku menoleh perempuan yang ada disampingku ini. Aku langsung menyadari apa maksudnya. Siwei melakukan kuda-kuda yang berbeda. Aku yakin Siwei akan mengambil keputusan yang akan terjawab sebentar lagi.
Yuta melakukan servis.
"Plakkkk...! " Suara pukulan keras membahana diseluruh stadion. Semua penonton bergemuruh dan terhipnotis dengan apa yang terjadi barusan.
Yuta tadi ternyata melakukan flick servis kembali. Dan siwei mempertaruhkan game pertama untuk bisa menebak teknik servis yang dilakukan Yuta tadi. Siwei tanpa takut ternyata langsung memundurkan tubuhnya dan melakukan sedikit jumping smash dan bola langsung tersungkur jauh di sisi kanan yuta dan tidak berhasil dijangkau.
Aku menggelengkan kepala. Ini adalah tindakan yang beresiko. Bagaimana bisa Siwei mempertaruhkan game pertama untuk satu poin ini. Aku benar-benar tidak habis pikir.
Grandpa menoleh padaku. "Terkadang kita harus mengambil keputusan seperti itu Rey !" Aku hanya memandang Grandpa dengan bingung. Dan kulihat perempuan yang ada disampingku ini juga ikut mengangguk tanda setuju dengan apa yang Grandpa katakan.
Kini terjadi Deuce. Dua puluh sama. Siwei akan melakukan servis.
Dia melakukannya dengan cepat tanpa basa-basi. Aku tau tujuanya apa. Itu supaya lawan tidak banyak diskusi dan lengah.
__ADS_1
Servis dikembalikan dengan baik, Yaqiong menyambar bola pengembalian dari lawan dan menyentuh net. Gilanya lagi bola itu bergulir tipis di lapangan pasangan jepang dan Arisa harus bersusah payah menggulingkan badanya untuk menjangkau bola yang bergulir tipis di area lapanganya. Bola berhasil dikembalikan Arisa dengan hebatnya lagi dibalas tipis secara menyilang. Yaqiong berada jauh dari jangkauan bola. Aku menghela nafas dan aku yakin bola tersebut akan jatuh di area lapangan pasangan China, tapi dugaanku salah. Siwei yang sedari awal tau bola itu akan menyilang dan tipis di depan, dia susah melangkahkan kakinya kedepan terlebih dahulu dan berhasil mengejar bola tersebut. Siwei menjatuhkan badannya untuk mengambil bola tersebut dan berhasil menyebrangkanya melewati net dan bergulir sangat tipis dan sangat mustahil bagi siapapun untuk mengembalikan bola semacam itu. Stadion bergemuruh keras. Terdapat siulan disana-sini. Ini sungguh pertandingan yang sangat Gila ! Benar-benar gila !
Aku hanya terdiam. Jantungku berdetak kencang. Kurasakan aliran darahku memanas dan mengalir begitu cepat. Rasanya aku ingin loncat ke dalam lapangan dan bermain sehebat itu.