Art Of Badminton

Art Of Badminton
Analisa dan perhitungan


__ADS_3

Disela-sela jeda menuju game ketiga, Rey dan Nay tampak serius membahas kemungkinan-kemungkinan yang sedang terjadi pada Ginting.


Dengan permainan Ginting yang tidak berkembang digame kedua, membuat Rey dan Nay bertanya-tanya.


"Aku rasa masalahnya terletak pada tangan. Mungkin pergelangan tangan atau bahunya sedang ada masalah !" Rey menerawang Ginting dari kejauhan.


"Bisa jadi. Mengingat saat di final Malaysia open ginting sempat terjatuh dan tangannya kala itu berusaha menahan tubuhnya supaya tidak ambruk." Nay membuka-buka buku catatannya. Dan dengan spontan menutup mulut dengan tangannya.


"Tidak mungkin...!"


"Apa yang kau temukan ?" Rey kaget sekaligus penasaran.


"IG Ginting...!"


"Maksudnya Instagram Ginting? Aku juga mengikutinya, tapi tidak ada yang aneh dengan Instagramnya."


"Memang tidak ada yang aneh..." Nay mencari-cari sesuatu di Instagram.


Rey benar-benar penasaran. "Lalu apa yang membuatmu begitu penasaran ?"


Nay memperlihatkan Instagram dengan nama 'Amelia86' kepada Rey.


"Maksudmu ini-ii-iii pacar Gintii..."


"Memangnya Ginting suka tante-tante. Tentu saja bukannn !" Nay mendelik. "Lagian Ginting bukannya sudah punya pacar kan? masa kamu tidak tau apa-apa tentang idolamu!" Nay kembali mendelik kepada Rey.


Rey hanya mesem-mesem sambil menggaruk kepalanya.


"Ini liat ! Kak Amel ini adalah salah satu dokter yang khusus menangani para atlit." Nay memperlihatkan foto profil akun Amelia86 kearah Rey.


"Jadi dia selalu mendampingi para atlit kemanapun mereka bertanding?"


"Hmmm tidak juga" Nay menggelengkan kepalanya. "Memang ada dokter khusus yang mendampingi para atlit saat mereka pergi Turnamen. Tapi Kak Amel ini beda, dia adalah dokter ahli yang khusus menangani para atlit yang cidera atau dicurigai cidera karena atlit mengeluh sesuatu yang berbeda pada tubuhnya. Secara teknis dia memang ditunjuk untuk menangani atlit yang cidera, tapi dia juga bekerja dan prakter seperti layaknya dokter pada umumnya."

__ADS_1


Rey mengangguk-anggukan kepalanya. "Jadi apa yang kamu lihat...?"


Nay memperlihatkan sesuatu foto di Instagram Amelia86 sebelum Rey bertanya panjang lebar kepadanya.


"Lihat ini ! Bukankah ini Ginting ?"


Rey melihat foto sebuah tangan yang sedang dibalut kasa. Namun wajah pemilik tangan itu sama sekali tidak terlihat. Rey memicingkan matanya berusaha mengenali tangan yang sedang dibalut kasa tersebut. Rey masih ragu kenapa Nay bisa yakin kalau tangan tersebut merupakan tangan Ginting.


"Bukannya dia dokter, bisa saja itu pasien yang lain."


"Coba liat caption dan tanggal foto ini diposting!" Nay menunjuk tanggal foto ini saat diposting.


Rey melihat tanggal foto tersebut saat diposting. Ternyata foto tersebut diposting tepat sehari setelah Ginting menjadi Runner-up di Malaysia Open kemarin. Kemudian Rey membaca caption yang tertulis di postingan tersebut 'cek & ricek pasien yang baru saja bikin bangga aku dan semua orang '.


Jika merujuk tanggal kejadiannya, memang ini sangatlah cocok. Tapi Rey masih tidak mengerti kenapa Ginting menyembunyikan ciderannya ini.


"Tapi kenapa Ginting menyembunyikan cideranya?" Rey tampak penasaran.


"Tapi kenapa mesti ngotot mau ikut turnamen kalau merasa cidera. Bukannya kesehatan atlit jadi prioritas?"


Nay kembali mendelik tajam. Matanya tampak berapi-api siap melayani semua pertanyaan Rey.


Rey terkesima dengan kobaran api semangat Nay, dan dia merasa terbakar oleh karenanya.


"Jadi seperti ini!" Nay membuka buku catatanya dengan semangat.


"Pertama, kenapa Ginting tetep ngotot ikut dalam turnamen ini. Tentu saja dia merasa sudah sembuh dan itu semua dengan persetujuan dokter. Oke !"


Rey ngeri melihat semangat berapi-api Nay. Dia merasa terintimidasi dan tidak bisa berbicara kecuali hanya mengangguk-anggukan kepalannya.


"Kedua, ini adalah Indonesia Open Rey, IN-DOOO-NEE-SII-A-AAA OO--OO--PP--EE-NN. Saat kamu jadi atlit sungguhan suatu saat nanti Rey, mungkin kamu akan mengerti mengenai hal ini."


Rey cemberut kecewa dan perkataan Nay sedikit membuatnya terguncang. Dia seolah terjatuh lalu kemudian tertimpa tangga. Sesudah terbakar api membara Nay, kemudian ditusuk dalam-dalam oleh perkataannya.

__ADS_1


"Atlit sungguhan... !" Rey bergumam dalam kecewa. Tapi dia juga menyadari bahwa benar dirinya sekarang masih bukanlah siapa-siapa.


"Kamu oke Rey ?" Nay membuatnya kaget dan terbangun kembali dari lamunannya. Rey hanya tersenyum dan masih melihat kobaran api di mata Nay. Rey tahu ternyata semua gempuran Nay belumlah berakhir.


"Oke Rey tampaknya kamu sudah fokus kembali. Ketiga, ini masalah poin Rey !"


"Poin? Bukannya poin Ginting sekarang ini cukup besar, dan dia masih diurutan ke-enam untuk lolos world tour final?"


Ney kembali mendelik tajam, kali ini bahkan lebih tajam.


"Rey, aku benar-benar serius. Kamu harus belajar menghitung poin atlit dan juga kemungkinan mereka akan kehilangan poin. Sebagai seorang atlit ada kalanya kamu harus memperhitungkan itu dengan akalmu sendiri, walau tentu saja sudah ada tim yang menangani itu semua."


Rey termenung dengan perkataan Nay. Berusaha mencerna dan mengingat-ingat apa yang telah ia lewatkan.


"Maksudmu Ginting tidak akan mendapatkan poin kalau tidak ikut turnamen ini?"


Nay mengangguk tapi sedikit ragu. "Bukan hanya tidak mendapatkan poin Rey, bahkan lebih buruk. Ginting akan kehilangan poin yang besar. Dan posisinya akan merosot jauh, kemudian dia harus mengejar di turnamen-turnamen kecil yang tentu saja poinnya tidaklah besar, dan itu akan jauh lebih melelahkan."


Rey pelan-pelan menganggukan kepalanya. Dia baru sadar bahwa Ginting tahun lalu berhasil melaju ke babak semi final Indonesia Open dan kalah oleh wakil China. Dengan demikian ginting memperoleh poin yang cukup besar. Dan tahun ini jikalau Ginting tidak ikut turnamen, dan atau dia kalah sebelum babak semi final, dia akan kehilangan poin sesuai poin tahun lalu yang ia dapatkan.


"Lagian aku yakin Ginting memang sebenarnya sudah sembuh dan dokter tidak salah telah mengijinkannya untuk bertanding. Itu kenapa dia berhasil sampai final. Tapi lawan ginting dibabak-babak sebelumnya begitu brutal dan menguras tenaga. Mungkin disitulah cedera Ginting kembali kambuh." Nay berusaha menganalisa kondisi Ginting dan menjelaskannya kepada Rey.


Rey mulai faham sedikit demi sedikit. Selama ini dia hanya tau seorang atlit hanya dalam satu hal saja, yaitu 'pertandingan'. Tapi kini dia mulai sadar, ada banyak hal yang atlit pertaruhkan dalam satu pertandingan. Kehormatan Negara, Poin, membanggakan keluarga dan masih banyak hal lain lagi.


Rey melihat Nay tajam, yang kemudian membuat Nay heran sekaligus kikuk dan tersipu malu. Dia sangat mengagumi cara berfikir seorang perempuan yang ada dihadapannya itu.


Untuk pertama kalinya dia menatap seorang perempuan begitu lama dan merasakan getaran yang berbeda lain dari biasanya.


"Play !"


Suara wasit menyudahi pandangan Rey terhadap Nay.


Nay dan Rey kembali fokus ke lapangan untuk melihat game ketiga yang sebentar lagi dimulai.

__ADS_1


__ADS_2