
Permainan kembali berlanjut setelah tadi sempat tertunda sebentar karena Ginting meminta diperiksa oleh tim medis.
Skor 13 - 15 dan sedikit demi sedikit Ginting mulai mengejar Antonsen.
Ginting dengan hati-hati dan sangat fokus melakukan servis. Servis-nya tampak sangat tipis hampir mengenai net. Antonsen mendorong bola servis Ginting ke arah kiri, dengan cepat Ginting berhasil mengambil bola tersebut dan mengembalikannya lurus ke arah badan Antonsen. Bola berhasil dikembalikan Antonsen walau sedikit kagok karena bola benar-benar mengarah tepat ke badannya. Bola melayang di udara dengan bergoyang tidak stabil, dan Ginting langsung melakukan jumping smash. Tampak bunyi smash Ginting berbeda karena bola tidak tepat mengenai raket Ginting, tapi justru hal itu membuat bola jatuh susah untuk diprediksi. Bola melayang dengan bergoyang dan melaju dengan kekuatan yang tidak sempurna. Antonsen merasa tidak siap dan lari kedepan karena bola akan jatuh tidak sesuai dengan perhitungannya. Ia mencondongkan badannya supaya raketnya bisa menyentuh bola. Bola berhasil dijangkau dan dikembalikan Antonsen tepat didepan Ginting. Tampak Ginting mengarahkan raketnya ke arah kanan Antonsen, dan Antonsen sudah melihat pergerakan tangan Ginting dan dia melangkahkan kakinya lebih dulu untuk mengejar bola, tapi Ginting melakukan hal tak terduga. Dia akhirnya mecoba kembali tehnik andalannya. Raketnya tidak langsung dia gunakan untuk memukul bola, tapi dia menurunkan raketnya dan menunda untuk memukul bola sepersekian detik. Dengan begitu lawan yang sudah dulu bergerak merasa tertipu dan sudah tidak bisa lagi mengejar bola, karena langkah kaki mereka sudah melangkah ke arah yang salah.
Penonton bersorak gembira. Akhirnya Ginting berhasil menggunakan tehnik andalannya itu. Dia tampak puas setelah beberapa kali gagal melakukan tehnik tersebut. Skor 14 - 15 dan satu poin lagi maka Ginting akan menyamakan kedudukan.
Ginting tampak berbeda dan lebih semangat. Sangat aneh cedera pergelangan tangannya seperti hilang begitu saja. Dia kembali melakukan servis. Kali ini flick servis dilakukan Ginting. Tidak tampak ada getaran pada tangannya saat mau melakukan servis. Antonsen kaget karena Ginting bisa melakukan flick servis disaat kondisi tangan-nya tidak begitu baik. Dia memutar badannya untuk mengambil bola yang sudah terlanjur jauh ke belakang. Bola kembali lumayan tanggung dan Ginting melakukan jumping smash dan bola tanpa basa-basi menembus pertahanan lawan.
Skor imbang 15 - 15. Untuk kali pertama Ginting bisa menyamakan kedudukan digame penentuan ini.
__ADS_1
Ginting seperti sedang diatas angin. Pukulannya sangat bertenaga dan bola-bolanya sungguh mematikan.
Bola pengembalian Antonsen bergulir di net dan tampak sulit untuk dikembalikan, tapi Ginting dengan mudah mengembalikan bola tersebut dan Antonsen harus kembali terkecoh karena bola ternyata datangnya terlabat akibat teknik men-delay bola yang dimiliki Ginting.
Antonsen tampak kecewa dan sedikit marah dengan dirinya sendiri. Beberapa kali dia memukul kepalanya dengan raket.
Skor 17-16 masih sangat ketat, dan kali ini Ginting unggul atas Antonsen.
Rey berfikir apa hanya karena obat semprot dan sebuah syal semua ini jadi mungkin?
Rey menggeleng-gelengkan kepalanya karena serasa tidak masuk akal.
__ADS_1
"Ada kalanya ada suatu hal yg kita tidak mengerti. Dan mungkin hanya mereka yang di lapangan yang mengerti." Grandpa setelah sekian lama diam akhirnya membuka mulutnya.
"Itu namanya, kekuatan yang tak terlihat Rey!"
Rey hanya bisa menatap Grandpa dengan penuh tanda tanya. "Rasa sakitnya tetap ada, tapi kekuatan yang tidak terlihat, yang datangnya bisa dari mana saja atau siapa saja saat ini jauh lebih dominan."
Rey menerawang jauh ke arah Ginting dan mencoba memahami apa yang Ginting rasakan saat ini.
"Tapi itu semua tergantung sang pemain, bisa sejauh mana mereka memanpaatkan kekuatan ini. Karena kekuatan ini tentu saja lambat laun akan kembali digeser rasa sakit yang mungkin jauh lebih kuat."
Rey tampak cemas mendengar penjelasan Grandpa. Dia tidak mau kalau Ginting tiba-tiba merasakan sakitnya kembali.
__ADS_1
Grandpa menatap lama Rey, dan dia tersenyum melihat kepolosan cucu kesayangannya itu.