Art Of Badminton

Art Of Badminton
Salam perpisahan


__ADS_3

Turnamen Indonesia Open super 1000 resmi telah berakhir. Walau masih menyisakan sesak dalam dada Rey, tapi ini merupakan pengalaman yang sangat hebat baginya.


Banyak hal yang bisa Rey pelajari dari semua pertandingan ini.


Indonesia berakhir dengan menjadi juara umum dengan satu kemenangan dan satu runner up.


Nay, Rey, Grandpa dan semua penonton berduyun-duyun keluar dari stadion. Beberapa penonton tampak memborong pernak-pernik termasuk jersey karena banyak sekali outlet yang memberi diskon besar diakhir turnamen.


"Nay !" Grandpa tiba-tiba memanggil. Nay mengalihkan pandangannya ke arah Grandpa.


Grandpa menyuruhnya mendekat dan Nay langsung berjalan ke arahnya.


" Terimakasih sudah menjadi teman bicara Rey. Dia pasti senang karena bisa berdiskusi tentang badminton." Grandpa tersenyum kearah Nay. Nay hanya bisa tersenyum malu.


"Benar begitu kan Rey ?" Grandpa mendelik ke arah Rey sembari menggerak-gerakan bibirnya.


Rey tampak terkejut dan gelagapan. Pipinya memerah karena malu.


"Dasar bocah bodoh !" Grandpa menggerutu dan disambut tawa kecil dari Nay.


"Oh iya, rumah'mu dimana Nay? biar Grandpa anter pulang. Dulu Grandpa sering maen di Jakarta, jadi mungkin masih hapal jalannya." Grandpa terkekeh mengenang masa lalu.


"Tidak usah. Aku tidak mau merepotkan. Lagian hanya tinggal jalan ke halte busway didepan sana, dan tinggal naik satu kali saja." Nay berusaha menolak Grandpa secara halus.


"Grandpa serius loh, bukan bohongan !"


"Aku tau kok!" Nay merasa tidak enak. "Cuman aku benar-benar tidak mau merepotkan saja, lagian ini sudah sore, nanti Grandpa dan Rey kemalaman di jalan."


"Oke, baiklah kalo begitu." Grandapa, Rey dan Nay sama-sama berjalan kedepan untuk keluar dari stadion.

__ADS_1


Rey sama sekali tidak berkata apapun karena merasa malu dan canggung.


Mereka sudah sampai di parkiran tempat dimana mobil Grandpa disimpan.


Grandpa lebih dulu naik ke kursi supir setelah berpamitan dengan Nay. Kini di luar mobil hanya ada Rey dan Nay yang tampak canggung.


"Ehmm.." Nay mendehem dalam suasana yang serba canggung.


Rey masih terdiam, dan tampak matanya berputar-putar melihat ke sekeliling. Dia tidak bisa menatap mata Nay karena terlalu malu.


Nay terpaksa kembali membuka percakapan karena Rey hanya terdiam membisu.


"Oke Rey,..semoga lancar turnamen'nya nanti. Hati-hati di jalan!"


Rey hanya diam. "Oke terimakasih!" Akhirnya Rey membuka mulutnya setelah sekian lama membisu.


Suasana kembali canggung. Mereka berdua hanya berdiri dalam diam. Pada akhirnya Nay berpamitan dengan Rey karena memang sudah tidak ada lagi yang harus mereka bicarakan.


Nay akhirnya pergi dari hadapan Rey. Disaat seperti ini barulah Rey bisa menatapnya dengan leluasa.


Rey masuk ke mobil dan duduk masih dalam diam seperti ada sesuatu yang salah.


"Kita berangkat sekarang Rey ?" Tanya Grandpa.


"Hmm..." Rey hanya membalasnya dengan gumaman.


"Kamu yakin sekarang kita berangkat?"


"Iya.." Rey kembali menjawab dengan singkat.

__ADS_1


"Yakiiinnnn?" Grandpa mencoba meyakinkan sekali lagi.


Kali ini Rey terdiam tidak menjawab. Dia menatap Grandpa dengan tatapan bingung.


"Pergi sekarang atau tidak sama sekali !" Grandpa tampak mulai kesal.


Rey masih terdiam tidak bereaksi.


"Oke, kalau itu keputusanmu." Grandpa menyalakan mobil dan siap untuk berangkat.


Seketika Rey membuka pintu mobil dan loncat sembari berlari. Dia tidak tau apa yang mendorongnya sampai bisa seperti ini.


"Dasar anak bodohhh !" Grandpa bergumam sambil tersenyum melihat cucu kesayangannya itu.


Terlihat dari kaca mobil, Rey berlari ke arah Nay dan tampak Rey berbicara sesuatu walau sepertinya kikuk dan canggung. Nay'pun terlihat kaget dan tidak menduga Rey akan kembali dan berbicara dengannya.


Grandpa hanya tersenyum sendiri melihat tingkah kedua remaja tanggung itu.


*


Rey kembali masuk ke mobil. Wajahnya terlihat masih merah padam. Grandpa berusaha mengoloknya dengan terus menatap wajah Rey.


Rey tau apa yang sedang dilakukan Grandpa terhadapnya. Dia memalingkan wajahnya ke jendela mobil, membenamkan wajahnya supaya sang kakek tidak bisa melihat wajahnya saat ini.


Grandpa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah cucunya itu.


Di sepanjang jalan Tak henti-hentinya Grandpa menggoda Rey yang disambut ketus oleh cucunya itu.


Di sepanjang jalan Rey mengenang kembali momen dimana ia berbicara berdua dengan Nay. Rey pura-pura tidur padahal ia sama sekali tidak bisa terlelap sedikitpun.

__ADS_1


"Aku yakin kamu bisa Rey ! dan kita pasti akan bertemu lagi."


Rey dalam guyuran hujan dengan suasana yang sudah mulai gelap, ia mengulang-ulang dalam otaknya apa yang Nay ucapkan tadi. Kata-kata nya seperti sebuah lagu yang sangat enak liriknya dan ingin selalu didengar berulang kali tanpa membuat bosan sedikitpun.


__ADS_2