
Hanya butuh satu angka lagi bagi Ginting untuk merebut kemenangan. Kalau itu terjadi, maka ini akan menjadi gelar super 1000 kedua bagi Ginting setelah kemenangannya di China Open beberapa bulan yang lalu. Bahkan ini akan menjadi sebuah kebanggaan karena sektor tunggal putra sudah sangat lama tidak menjadi juara di turnamen Indonesia Open.
Ginting tampak tenang dan bersiap melakukan servis. Seisi stadion tampak terdiam dan bahkan sangat sunyi tidak ada suara sedikitpun. Kali ini Ginting tampak agak lama melakukan servis. Semua penonton terdiam menunggu bola meluncur ke arah Antonsen dan ingin segera jatuh di lapanganya.
Ginting masih belum melakukan servis. Sebagian penonton tampak heran termasuk Rey dan Nay yang tiba-tiba saling pandang dan mengisyaratkan kebingungan di keduanya.
"Ginting...Ginting !" Terdengar wasit memanggil dan menyuruhnya mendekat.
Tampak wasit berbicara dengan Ginting dan menyuruhnya segera melakukan servis.
Ginting tampak meminta maaf karena terlalu lama menunda servis.
Ginting bersiap di posisinya untuk melakukan servis. Entah kenapa dia tampak tidak nyaman. Dia tampak ragu untuk memukul bola.
"Ini bahaya !" Nay menutup matanya tak kuasa untuk melihat.
Rey melihat kearah Nay dan pada akhirnya dia tau kalau Ginting kembali merasakan nyeri di pergelangan tangannya.
Hanya butuh satu poin lagi untuk jadi juara dan Ginting mempunyai empat kali match poin. Apakah mungkin semua bayangan tentang kemenangan akan hilang begitu saja. Bahkan jikalau Antonsen melakukan kesalahan satu kali saja, otomatis Ginting akan keluar sebagai juara.
"Gintinggg...bertahanlahhh !" Rey berteriak keras dan bergema di seisi stadion. Dia tidak peduli lagi dengan pandangan orang. Ia berteriak beberapa kali sambil berdiri dan penuh dengan semangat.
Nay melihatnya dengan terpana. Di mata Nay, Rey seperti seseorang yang memperlihatkan kecintaannya kepada sang idola, sebelum dia tumbuh menjadi dirinya sendiri.
Nay yakin dia tidak salah liat. Semangat Rey seperti seseorang yang ia kenal, tapi semangat itu pudar secara perlahan dan bahkan menghilang. Nay berharap Rey tidak akan seperti itu nantinya.
Tangan Ginting tampak gemetar. Disaat seperti ini bahkan untuk melakukan servis'pun akan sulit. Tapi Ginting harus melakukannya, apalagi hanya membutuhkan satu poin saja.
__ADS_1
Bola berhasil dipukul dan terbang ke arah Antonsen. Belum juga bola sampai ke raket Antonsen, servis judge sudah menyatakan servis Ginting 'fault'. Servis Ginting dinyatakan fault karena raket diangkat terlalu tinggi dan melebihi dari ketentuan yang sudah diatur organisasi, yaitu tidak boleh melebihi 115cm.
Penonton berteriak menyayangkan keputusan wasit. Ginting'pun tampak kecewa namun tidak berusaha untuk protes. Dia hanya mondar-mandir di dalam lapangan berusaha menghilangkan rasa sakit di tangannya.
17-20, dan kali ini Antonsen yang akan melakukan servis.
Bola servis dari Antonsen melesat jauh kebelakang. Tidak diduga dia langsung melakukan flick servis. Antonsen tau betul kondisi Ginting, dan flick servis adalah hal yang tepat untuk dilakukannya saat ini.
Dan memang benar yang dilakukan Antonsen. Ginting tampak kesulitan mengembalikan bola karena selain terbang jauh ke belakang, tapi juga pergelangan tangannya saat ini sedang cidera dan tidak ada tenaga untuk mengembalikan bola semacam itu. Bola kembali ke arah Antonsen dengan sangat tanggung. Antonsen tidak mau menunggu lebih lama lagi, dia langsung menyambar dan mematikan bola ke lapangan Ginting.
Penonton bergemuruh kecewa. Tapi mereka kembali berteriak dan menyanyikan yel-yel untuk menyemangati Ginting.
Dua poin sudah Antonsen mengejar Ginting dan dengan waktu yang sangat singkat. skor 18-20, dan Ginting masih mempunyai dua match poin untuk menghantarkannya jadi juara.
Antonsen melakukan flick servis kembali, dan tentu saja sudah diduga oleh Ginting. Karena sudah menduga sebelumnya, Ginting sudah siap dan melangkahkan kakinya ke belakang. Karena dengan posisi yang nyaman, bola bisa dikembalikan oleh Ginting walau rasa sakit masih menyelimutinya.
"Nineteen...Twenty." Sayup-sayup suara wasit terdengar dari ricuhnya para penonton yang sedang menyemangati Ginting untuk bertahan.
*
Ginting mengambil inisiatif mendekati wasit dan meminta tangannya untuk diperiksa.
Wasit menyuruh tim medis kembali memeriksa tangan Ginting. Tentu saja ini salah satu cara Ginting supaya bisa menahan laju poin Antonsen. Ia berharap setelah pergelangan tangannya diberi semprotan pereda nyeri, bisa langsung mengakhiri pertandingan ini.
Ginting kembali ke lapangan setelah diberi semprotan pereda nyeri. Antonsen menunjukan ketidak sabarannya. Ia takut kalau konsentrasi Ginting kembali fokus.
Antonsen melakukan flick servis, dan ternyata benar Ginting dengan cukup mudah mengembalikan servis darinya dan dengan tenaga yang cukup kuat. Efek pereda nyeri memang cukup membantu pergelangan tangan Ginting.
__ADS_1
Pertarungan sengit terjadi diantara keduanya. Beberapa kali Antonsen melakukan jumping smash dan berhasil dikembalikan oleh Ginting.
Pertarungan di depan net'pun sering terjadi, dan kali ini Antonsen tidak mau melakukan kesalahan karena akan langsung mengakhiri pertandingan ini.
Antonsen kembali bermain di depan net dan langsung diladeni Ginting. Beberapa kali Ginting mencoba melakukan teknik andalannya, tapi memang tidak sempurna. Walaupun begitu Antonsen hampir saja terkecoh dan sedikit lagi kehilangan kesempatan untuk mengejar ketertinggalannya.
Antonsen memberikan bola tipis di depan net, Ginting mau tidak mau harus mengangkat bola dan tidak mau bermain di net karena sangat tipis dan beresiko.
Antonsen langsung melakukan jumping smash ke arah kiri Ginting, dan bola melesat dengan cepat. Ginting berhasil mengembalikan bola smash Antonsen sedikit kesusahan. Bola kembali melambung tinggi dan kembali di smash keras Antonsen ke arah kanan Ginting. Karena posisi Ginting agak jauh, ia menjatuhkan badannya untuk menjangkau bola tersebut. Terlihat tangannya menahan seluruh berat tubuhnya saat terjatuh untuk mengambil bola. Bola kembali dengan sangat tanggung dan disambar oleh Antonsen, namun Ginting dengan posisi yang masih terduduk di lapangan, beruntung berhasil mengembalikan bola. Namun pengembaliannya kali ini terlampau tanggung dan diserobot Antonsen yang langsung menghasilkan poin.
Skor dua puluh sama, dan terjadi deuce.
Rey tampak pasrah kali ini. Dia tidak lagi berteriak-teriak menyemangati Ginting. Tapi bukan karena ia tidak mau Ginting menang, tapi dengan melihat Ginting yang sedang cedera dan kesakitan, dia hanya ingin semua ini cepat berlalu menang maupun kalah.
Ginting masih berusaha mengimbangi permainan Antonsen dengan susah payah. Ia lari kesana-kemari demi mengejar bola. Dengan kondisi tangannya yang kesakitan Ginting memperlihatkan semangat yang pantang menyerah. Semua penonton dibuat kagum tapi juga menginginkan Ginting supaya berhenti sampai disini saja. Terlihat dia sangat kesakitan dan bahkan tangannya gemetar menahan rasa sakit.
Hanya satu poin saja yang dibutuhkan Antonsen untuk mengakhiri pertandingan ini. Semua penonton sepertinya sudah menerima apapun yang akan terjadi. Dengan melihat perjuangannya saja, Ginting sudah layak mendapatkan penghargaan walaupun tidak keluar sebagai juara.
Antonsen bersiap mengakhiri pertandingan ini. Dia melakukan jumping smash dan bersiap merayakan kemenangannya. Tapi Ginting masih bisa mengembalikan smash dari Antonsen. Beberapa kali Ginting jungkir balik mengembalikan smash dari Antonsen. Sampai pada akhirnya dia terkapar lelah dan kesakitan. Dia sudah tidak berdaya lagi dan membiarkan pukulan Antonsen mendarat indah di lapangan miliknya.
Wasit sudah menyatakan pertandingan berakhir. Antonsen tidak melakukan selebrasi yang berlebihan. Dia menghargai lawannya karena dalam posisi yang cidera. Dia menghampiri Ginting yang masih terkapar di lapangan dan memberikan tangannya ke arah Ginting sebagai pegangan. Ginting menjangkau tangan Antonsen dan terbangun dengan raut muka yang masih menahan sakit. Tapi dia tetap tersenyum seolah menemukan sesuatu kepuasan dalam dirinya.
Semua penonton berdiri bertepuk tangan untuk kedua pemain. Siulan muncul disetiap sudut stadion. Suasana sangat meriah dan tidak sedikitpun tampak kekecewaan dari penonton. Mereka semua bangga karena memiliki seorang pahlawan yang pantang menyerah seperti Ginting.
Rey hanya terdiam tidak berkata-kata. Tapi secara tidak sadar matanya berkaca-kaca. Nay dan Grandpa tahu ini bukan saatnya mengajak bicara apalagi mengganggu nya. Mereka berdua tau yang terbaik untuk Rey saat ini ialah dengan membiarkannya meresapi, memahami sekaligus menikmati momen seperti ini.
Momen indah itu tidak selalu datang saat kita menang, tapi saat kita kalah'pun semua itu bisa terjadi.
__ADS_1