Art Of Badminton

Art Of Badminton
Teman dan latihan


__ADS_3

Seminggu telah berlalu semenjak Rey menonton langsung turnamen Indonesia Open.


Rey menempelkan pipinya di meja kelas disela-sela pergantian guru. Tatapannya menerawang jauh lewat jendela. Angin berhembus melewati wajahnya, sinar matahari sedikit mengenai wajahnya dan menimbulkan efek nyaman yang luar biasa disaat cuaca lebih dingin dari biasanya.


Beberapa kali dia menguap dan merasakan kantuk yang lumayan hebat. Selama seminggu ini dia berlatih setiap hari untuk persiapan kejuaraan tingkat provinsi. Walau di rumah ia cukup istirahat, tapi seolah badannya menuntut lebih dan membuat siang ini merasakan kantuk yang teramat hebat.


Hasil undian kejuaraan dua hari lagi akan keluar. Rey sangat penasaran dengan siapa dia akan bertemu pertama kali.


Sore ini Rey sudah disiapkan dengan jadwal latihan. Dia punya dua jam untuk bersantai dengan hanya beristirahat di ruang olahraga. Baginya dua jam itu sangatlah berharga.


Kalau dipikir-pikir, ia sudah sangat lama tidak pergi bermain dengan teman-temannya, walau hanya sekedar duduk-duduk di mall atau pergi ke warnet untuk bermain game.


"Bluuggg..." Suara buku dijatuhkan dengan keras di meja tempat Rey yang hampir saja tertidur.


Rey terbangun seketika dan tampak celingak-celinguk. Tampak ruangan kelas kosong, dan tampak disampingnya ada dua orang pria yang sudah lama ia kenal dan merupakan sahabat dekatnya sedari awal masuk SMP.


"Hmmm...kenapa kelas kosong begini?" Rey tampak keheranan. Mukanya datar dan matanya masih berputar-putar melihat ke sekeliling.


"Bangun Rey banguuuunn...!" Kedua temannya berteriak keras tepat ke arah telinga Rey.


Rey segera menutup telinganya karena suara temannya itu terlalu keras.


"Sialan...berisik tauuu! Nanti ada guru masuk dan menghukum kita !"

__ADS_1


Kedua temannya itu malah mencemoohnya dan terus berteriak-teriak tidak jelas.


"Gila kalian...berisiikkk! emang belajar udah selese apa!" Rey menggerutu.


"Emanngggg!" kedua sahabatnya menjawab secara bersamaan.


"Makanya jangan tidur mulu kau Rey! Untung tadi bu Guru Yasmin yang masuk, jadi dia membiarkanmu tertidur." Ucap Mahmud yang merupakan teman Rey yang paling tua diantara mereka bertiga.


Rey hanya bingung. Padahal dia merasa tadi tidak tertidur sama sekali. Dia hanya mengantuk dan juga melamun tentang kejuaraan yang akan datang.


"Serius kalian ? Tapi bukannya masih ada satu lagi mata pelajaran? kenapa sudah pada bubar?"


"Udah jangan banyak tanya. Buruan kita cabut. Bukannya kamu sore ada latihan lagi? jarang-jarang ada jam kosong seperti ini." Jodi yang merupakan sahabat Rey yang paling muda menarik lengan Rey dan menyeretnya untuk segera ikut dengannya dan juga Mahmud.


*


Rey kembali ke Sekolah dan menuju ruang olahraga. Tiga jam bersama teman-temannya terasa begitu cepat. Padahal mereka hanya jalan-jalan dan mampir ke warnet untuk bermain game.


"Rey, latihan kali ini kita akan memperkuat pukulan back hand kamu. Kita akan lihat sekuat apa pukulanmu ketika diserang terus-menerus ke arah back hand."


Pak Robi yang merupakan guru olahraga di Sekolah memberi isyarat kepada Rey supaya siap-siap.


Rey hanya mengangguk dan mulai bersiap melakukan latihan sesuai instruksi.

__ADS_1


Bola-bola meluncur tanpa henti ke arah back hand Rey. Dia berusaha sebaik mungkin untuk mengembalikan bola-bola tersebut. Entah sudah berapa ratus bola yang Rey kembalikan dengan back hand'nya, dan sekarang ia tampak kelelahan. Namun sang pelatih belum membiarkannya untuk istirahat.


Bola-bola masih terus meluncur. Terlihat gerakan tangan Rey sudah mulai melambat. Beberapa bola tidak bisa Rey kembalikan karena gerak tangannya sudah tidak secepat seperti awal latihan.


Rey merebahkan tubuhnya di lantai setelah pelatih memberikan instruksi untuk istirahat. Nafasnya ngos-ngosan belum mampu untuk dikontrol. Keringatnya bercucuran sampai bajunya basah seperti orang yang kehujanan.


Setelah cukup istirahat, Rey bersama Pak Robi duduk santai sambil membahas tentang latihan tadi.


"Kamu tahu Rey! Pukulan back hand kamu itu bagus, bahkan sangat bagus. Arahnya cukup tajam dan bisa menyulitkan lawan."


Rey memperhatikan Pak Robi yang sedang menganalisa latihan tadi.


"Tapi,..ada kelemahannya tentu saja."


Rey sangat penasaran apa yang mesti diperbaiki dari hasil latihan tadi.


"Kekuatan otot-otot di semua lengan kamu masih belum cukup kuat. Ya, mungkin diawal pukulan, back hand kamu akan terasa begitu kuat dan tajam. Tapi lambat laun, karena otot kamu yang belum terlalu kuat, back hand kamu akan cenderung lemah dan bahkan tanggung. Dan itu bahaya, karena bisa langsung dimatikan lawan."


Rey menyimak dengan seksama. Apapun kata Pak Robi Rey akan melakukannya. Di tahun ini, tahun terakhir SMP baginya. Dia bertekad akan mendapatkan tiket kejuaraan Nasional dan mengharumkan nama Sekolah.


Pak Robi bangkit dari duduknya sambil memberikan catatan untuk Rey. Dia pergi setelah kurang lebih dua jam berlatih bersama Rey.


Rey membuka catatan latihan yang diberikan Pak Robi. Menu latihan Rey untuk menguatkan otot-otot lengannya tertera dalam catatan.

__ADS_1


Walau tampak berat, tapi Rey semakin semangat dan akan melaksanakan latihan sesuai instruksi gurunya itu.


__ADS_2