Art Of Badminton

Art Of Badminton
Mimpi saja dulu, Rey !


__ADS_3

Match ketiga tunggal putri antara Carolina Marin dari Spanyol dan Shindu dari India berhasil dimenangkan oleh Carolina Marin.


Marin yang dijuluki 'Si Ratu teriakan lima oktaf ' tampil begitu buas. Permainan cepat serta smash-smash tajam menjadi ciri khasnya.


Saat bermain di lapangan, dia tidak pernah diam. Bahkan jikalau lawan meminta ijin untuk sekedar menyeka keringat, dia lebih suka untuk mengelilingi lapanganya sendiri sambil komat-kamit.


Tetapi disaat dia merasa terpojok dan kehilangan poin terus-menerus, dia juga ahli membuat pemain dan wasit jengkel karena sering meminta ijin untuk menyeka keringatnya.


Apapun itu, Carolina Marin merupakan salah satu pemain tunggal putri terbaik di Dunia. Dan dia menjadi orang Spanyol pertama yang memenangkan banyak pertandingan bahkan medali emas Olimpiade untuk Badminton.


Kesuksesan karirnya dan kegigihan dia bangkit setelah cedera lama tidak akan pernah bosan untuk dibahas.


Sedangkan Shindu pemain dari India ini harus puas menjadi Runner Up. Shindu sama-sama berada diperingkat lima besar Dunia bersama Marin. Tapi tahun ini Shindu belum satu kalipun menjuari turnamen. Prestasi terbaiknya tahun ini adalah menjadi Runner Up di Indonesia Open sekarang ini.


*


Match ketiga ganda putra pasangan Indonesia Marcus - Kevin harus ditunda setengah jam lagi. Sepertinya ada suatu masalah yang membuat pertandingan ini menjadi delay dan itu membuat penonton seisi Stadion merasa kecewa. Mereka terus-menerus meneriakan nama Kevin dan Marcus karena sudah tidak sabar untuk melihat laga yang sangat ditunggu ini.


Bagiku dengan ditundanya pertandingan ini tidaklah masalah. Aku bangkit dari duduk'ku dan berniat pergi ke toilet sebelum pertandingan dimulai.


Aku melewati Nay dan kemudian berdiri di depan Grandpa.


"Grandpa ! Aku mau kebelakang sebentar. Apakah Grandpa mau aku belikan sesuatu?" Aku bertanya padanya.


"Tempat ini sangat luas, kamu nanti akan tersesat ! Ayo biar Grandpa anter !"


"Tidak usah ! " Aku tersipu malu takut Nay mendengarkan.


"Tapi Rey, apa kamu yakin tidak akan tersesat?" Grandpa tampak tidak percaya padaku.


"Pasti ada petunjuk, Grandpa tidak usah cemas !" Aku meyakinkan Grandpa.


Grandpa masih tampak ragu. "Oke Rey! Jangan sampai terlambat, nanti kamu tertinggal permainan Minions !" Ucap Grandpa menyeringai.

__ADS_1


Aku bergegas menaiki anak tangga ketika Nay tiba-tiba sedikit berteriak.


"Rey tunggu !" Aku membalikan badanku. Ternyata Nay yang memanggilku. Untuk kali pertama perempuan ini 'Nay' memanggil namaku.


Nay lari menghampiriku. Grandpa memberikan kedipan mata padaku, aku tahu maksudnya apa, dan itu malah membuatku canggung dan tersipu malu.


Aku berjalan beriringan dengan Nay melewati anak tangga dan keluar dari tribun. Ternyata banyak penonton yang memanpaatkan hal ini untuk sekedar pergi ke toilet atau membeli cemilan seperti halnya aku.


Keadaan di tangga keluar sangat ramai. Beberapa kali tubuhku tersenggol seseorang yang buru-buru keluar mungkin karena tidak tahan untuk ke toilet.


Seseorang tiba-tiba menyeruduk masuk diantara aku dan Nay. Nay hampir saja terjengkal jatuh, dan dengan sigap kupegang lengan Nay supaya tubuhnya tidak terjengkal ke belakang.


Aku masih memegang lengan Nay. Dia akhirnya segera menyeimbangkan tubuhnya dan memegang lenganku untuk menarik tubuhnya ke depan.


"Hampir saja !" Ucap Nay pelan. "Terimakasih Rey !" Dia kemudian menambahkan.


Aku mengangguk canggung sambil menggaruk-garuk kepala karena bingung harus merespon seperti apa.


Setelah tadi cukup kebingungan, akhirnya aku dan Nay menemukan toilet.


Akhirnya Nay keluar dan menghampiriku.


"maaf agak lama." ucapnya pelan. Seperti biasa aku hanya bisa mengangguk tanpa berkata apapun.


Aku dan Nay segera kembali ke tribun takut kalau pertandingan sudah dimulai.


Saat kembali ke tribun, aku melihat sebuah tempat yang sangat menarik perhatianku.


Aku seketika terdiam dan melihat kearah tersebut. Nay ikut berhenti dan menengok apa yang sedang ku perhatikan.


"Masih ada lima belas menit lagi Rey !"


"Aku melihat jam di tanganku."

__ADS_1


"Ayo, aku temenin kamu Rey !"


Nay mendorong badanku. Aku tidak bisa menolaknya, karena memang aku ingin melihat tempat tersebut.


Aku dan Nay berada disebuah tempat seperti sebuah museum tapi dengan ukuran yang lebih kecil. Terdapat banyak sekali foto yang di gantung. Aku melihat-lihat dengan seksama. Aku melihat foto-foto para pendiri organisasi Badminton saat pertama kali dibentuk. Aku juga melihat para legenda bulu tangkis dari seluruh dunia. Ada banyak yang kukenali, tapi masih banyak lagi yang juga tidak aku kenali. Kalau saja bersama Grandpa pasti dia sangat senang, dan dalam sehari mungkin tidak akan cukup untuk bercerita tentang semua ini.


Aku berhenti lama disalah satu bagian. Aku melihatnya dengan seksama dan sangat membuatku takjub.


"Ini adalah tujuanku. Impianku selama ini." Ucapku dalam hati


Nay menghampiri dan berdiri tepat disampingku. Dia ikut memperhatikan sesuatu yang membuat aku terpesona. Dia tersenyum padaku seolah sudah paham apa yang ada dalam isi kepalaku.


"Bermimpi saja dulu, Rey !" Ucap Nay dengan lembut.


Ucapanya sungguh membangunkanku. Aku tersadar aku masih sangat jauh, bahkan sangat jauh dari semua ini. Tapi aku bertekad untuk sampai disana walau dengan menghabiskan waktu yang lama.


Aku masih tertegun dengan sebuah poster besar atau apalah namanya itu. Sebuah poster yang berisi kalender BWF (World Badminton Federation) yang dimulai dari jadwal International Chalenge yang merupakan pertandingan untuk para junior, yang kemudian disusul Super series world tour mulai dari super 100, super 300, super 500, super 750, dan tentu saja Super 1000 seperti event Indonesia Open kali ini yang memang biasanya diperuntukan para pemain level atas. Belum sampai disitu saja, Selanjutnya ada BWF World Tour Final dan tentu saja Kejuaraan Dunia. Itu belum termasuk kejuaraan beregu seperti Thomas dan Uber Cup juga Kejuaraan Tim tiap Benua dan tentu saja Olimpiade yang merupakan puncak karir dari semua Atlit.


Aku sungguh gemetar dengan hanya melihat semua ini. Aku membayangkan apa yang akan terjadi seandainya aku sudah melalui semua level itu. 'Seorang Legenda', Itulah sebutan seorang pemain yang sudah melalu semua tahapan itu.


"Jangan bermimpi terlalu jauh dulu Rey ! hanya mulai saja sedikit demi sedikit. Akupun begitu, akan berusaha mengejar kalian para atlit !"


Aku menatap Nay, dan tak kupercaya dalam waktu sesingkat ini rasanya kita sudah cukup mengenal satu sama lain.


"Pastikan kita akan bertemu lagi Rey !" Ucap Nay tiba-tiba dan membuat aku terkejut dan tersipu malu. Aku merasa tersanjung ternyata Nay ingin bertemu lagi denganku.


"Event U-17 pastikan mimpimu mulai dari sana !" Aku tersadar apa yang dimaksud Nay tadi. Dia memastikan aku lolos masuk kejuaraan Nasional U-17 dan bertemu lagi disana. " Bukankah itu hanya beberapa bulan lagi Rey! " Nay menambahkan sambil menyemangatiku. Aku kaget dan merasa tak berdaya.


Kepercayaan diriku langsung turun, ada sedikit perasaan takut, tapi disisi lain, benar kata Nay disanalah mimpiku sedikit-sedikit akan mulai terwujud.


Aku dan Nay secepat mungkin kembali ke tribun, takut kalau pertandingan ganda putra sudah dimulai.


Sesampai di Tribun Grandapa menempati tempat duduku dan sedang asik berbincang dengan seseorang yang membeli tiketnya tadi.

__ADS_1


Grandpa melambaikan tangannya dan menyuruhku duduk disampingnya, sedang Nay duduk di kursi sebelahku tempat dimana Grandapa duduk sebelumnya.


Grandpa tersenyum nakal padaku sambil mengedipkan matanya. Aku bergidik sekaligus tersipu malu, tapi juga ada rasa bahagia yang muncul di dadaku.


__ADS_2