Art Of Badminton

Art Of Badminton
Ginting, bangkitlah !


__ADS_3

Ginting dan Antonsen tampak sedang meregangkan otot-otot mereka di pinggir lapangan.


Digame pertama memang Antonsen belum memberikan perlawanan yang berarti bagi Ginting. Tapi sepertinya digame kedua ini gaya permainannya akan berbeda. Mungkin Antonsen menunggu badannya supaya panas terlebih dahulu, supaya seluruh kemampuannya bisa dikeluarkan dengan maksimal.


"Play...!" Wasit asal Korea sudah memberi aba-aba agar permainan digame kedua segera dimulai.


Ginting melakukan servis tipis. Antonsen mengembalikannya dengan backhand menyilang. Ginting mengambil bola tersebut tanpa ada kesulitan. Ia mendorong jauh bola ke belakang, dan Antonsen tampak kaget. Ia menjangkau bola dengan membalikan badannya ke belakang. Bola tanggung dari Antonsen langsung disambar Ginting, namun Antonsen dengan susah payah mengembalikan bola sambaran Ginting sampai Ginting melakukan sambaran lagi lantaran pengembalian Antonsen semakin tanggung. Tapi hebatnya bola kembali bisa dijangkau Antonsen. Ginting tampak heran karena bola tidak mau mati di lapangan lawan. Ginting kembali menyambar bola dengan terburu-buru dan akhirnya malah menyangkut di net dan jatuh di lapangannya sendiri.


Poin pertama untuk Antonsen dibabak kedua.


Pertandingan babak kedua memang temponya jauh lebih cepat dibandingkan game pertama. Tapi sebenarnya kedua pemain belum memberikan penampilan terbaiknya. Beberapa kali ginting terlihat terburu-buru ingin mematikan lawan dan akhirnya melakukan kesalahan sendiri. Hampir setengah poin yang didapatkan Antonsen adalah hasil dari kesalahan Ginting. 11 - 8 untuk keunggulan Antonsen. Kedua pemain tampak ke pinggir lapangan untuk menerima arahan dari pelatih masing-masing.


Antonsen kembali melakukan servis. Dia tidak tampak terlihat kelelahan sama sekali. Pergerakannya seperti biasa sangat aman dan bersih, dia jarang sekali melakukan kesalahan. Ginting mengembalikan bola dari Antonsen mencoba memakai teknik rahasianya 'mendelay bola' sehingga bisa mengecoh lawan dan bola jatuh di tempat yang sama sekali tidak terduga. Namun percobaannya selalu kurang sempurna dan beberapa kali gagal. Bola pengembaliannya selalu menyangkut di net. Penonton di Stadion tampak khawatir dengan Ginting pasalnya dia terlihat tidak dalam kondisi terbaiknya.


"Ada apa denganmu Ginting...!" Rey bergumam sambil menghela nafas.


Game kedua ini seperti kutukan bagi Ginting. Entah kenapa setiap dia melakukan percobaan teknik rahasianya, selalu gagal dan malah menghasilkan poin bagi lawan. Ginting tampak frustasi dan sepertinya akan melepaskan game kedua ini.


Antonsen seperti berada di atas angin. Permainannya sungguh sangat bersih. Digame kedua ini dia hampir tidak melakukan kesalahan sama sekali. Beberapa kali dia melakukan jumping smash dan memang langsung menghasilkan poin. Ginting seolah enggan untuk bersusah payah mengembalikan bola smash Antonsen. Semangatnya terlihat sangat turun dan sering melakukan kesalahan sendiri.

__ADS_1


Rey yakin ada sesuatu yang salah dengan idolanya saat ini.


*


Antonsen semakin percaya diri. Setiap servis yang dilakukannya selalu menghasilkan poin. Kali ini pukulan dalam sekali servis tercipta tidak lebih dari sepuluh pukulan. Ginting benar-benar seperti kehilangan gairah dalam bermainnya.


Hanya membutuhkan tiga angka lagi bagi Antonsen untuk menyudahi game kedua ini. Pukulan-pukulan nya semakin matang dan sangat terarah. Sudah tidak diragukan lagi game kedua ini akan menjadi miliknya.


Ginting menerima bola dari Antonsen. Ia mencoba teknik mendelay bola miliknya yang sangat terkenal. Bola kembali tapi dengan teknik yang tidak sempurna. Antonsen padahal hampir saja tertipu, tapi bola pengembalian Ginting masih bisa terbaca dan kembali terbang ke area kosong lapangan Ginting.


Waktu begitu cepat. Tida ada teriakan dan gemuruh di dalam Stadion.


"Game !" Wasit menyatakan game kedua telah berakhir dan dimenangkan oleh Antonsen.


Skor akhir digame kedua 21 - 10. Sebuah skor yang sangat terpaut jauh. Skor seperti ini biasanya disebut skor Afrika, mengingat di Afrika sana bulutangkis bukanlah olahraga terkenal dan atlit asal Afrika yang bertanding melawan pemain Asia atau Eropa selalu diberikan skor telak dan jarang melewati angka 10.


**


Game penentuan akan segera dimulai. Ginting masuk lapangan dengan raket dan jersey baru. Rey berharap Ginting bisa menemukan kembali ritme permainan dan bisa memberikan penampilan terbaiknya.

__ADS_1


"Semoga Ginting baik-baik saja." Nay menerawang jauh ke lapangan. Nadanya sedikit khawatir seolah melihat sesuatu yang berbeda dari Ginting.


Rey menoleh Nay dengan cemas dan bermaksud untuk meminta kejelasan darinya...


"Kamu melihat sesuatu Rey...?" Rey terkejut seolah Nay bisa mendengar isi suara hatinya.


"Ginting...?" Jawab Rey ragu karena kaget.


"Iyalah...memangnya siapa lagi! Memangnya disini ada Hyun Bin apa !"


Rey tersenyum malu. "Eh, siapa tadi...Hun Bin !?"


"Hyun...Hyuuunnn Bin !" Nay memperjelas nada bicaranya


"Apa dia pemain badminton juga? Sebelumnya aku belum pernah mendengar namanya."


Nay mendelik. " Sudah lupakan! Yang akan kita bahas sekarang adalah Ginting. Lupakan hal lain selain Ginting!"


Nay tampak serius. Rey dengan sigap siap mendengarkan apa yang akan dikatakan Nay mengenai Ginting. Hatinya was-was takut terjadi hal yang tidak diinginkan dengan idolanya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2