
Sementara itu, rencana untuk mengajak Riana makan gagal, karena bel yang menandakan istirahat selesai telah berbunyi. Renald pun kembali ke kelasnya, dan memikirkan bagaimana caranya agar Riana dapat menjauhinya dan membencinya. Dia memikirkan rencana tersebut ketika pelajaran berlangsung, sehingga ia tidak terlalu konsen saat belajar.
Pulang sekolah, Renald pun berencana untuk melakukan rencana yang telah ia rencanakan. Dia meminta agar Riana dapat menunggunya saat pulang. Saat keluar dari kelas, dia melihat Riana yang sedang menunggunya. Dia menarik Riana ke tempat dimana mereka biasa bertemu.
*Ada apa memanggilku*
"Berhenti tersenyum, aku tidak menyukainya."Teriak Renald.
*Kenapa?*
"Jangan dekati aku lagi dan jangan temui aku lagi! Aku muak terus menerus berpura-pura harus terasa senang dengan orang bisu sepertimu!"teriak Renald.
Riana terkejut mendengar hal itu dari Renald. Dia meneteskan air mata karena mendengar hal mengerikan itu dari orang yang sangat ia percayai. Dia berlari meninggalkan Renald dan menjatuhkan buku catatannya beserta bolpoinnya. Padahal catatan dan bolpoinnya tidak pernah terlepas dari Riana. Pasti kali ini, dia benar-benar sedih dan akan membenci Renald. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Renald.
"Kerja bagus."Kata Violet yang berada di balik tiang dengan tertawa.
"Apa kau puas sekarang?"tanya Renald dengan kesal.
"Tentu saja, kau bisa mendengar tawaku dengan keras."Kata Violet.
"Sekarang jangan pernah ganggu lagi Riana."Kata Renald pergi meninggakan tempat tersebut.
"Baiklah!"teriak Violet.
Setelah kejadian itu, seluruh pikiran Renald dipenuhi oleh Riana. Dia tidak ingin Riana marah padanya apalagi sampai memusuhinya. Tetapi, dia juga harus memikirkan keselamatan Riana dan tidak melibatkannya dalam rencana untuk balas dendam. Hari ke hari Renald semakin memikirkan Riana, sampai membuatnya lupa untuk memikirkan ide untuk lombanya.
Saat perlombaan, Renald pasrah karena belum menemukan ide yang bagus. Hal itu diperparah dengan berita seniman ajaib yang sering dibicarakan banyak orang. Seniman tersebut menggerogoti saingannya sampai ke tulang sumsum. Mendengar hal itu, Renald semakin pasarah ditambah lagi seniman tersebut juga SMA tahun pertama disekolahnya sama halnya dengan Renald.
Saat seniman jenius itu tiba, semuanya terpaku oleh pesona dari seniman tersebut. Semuanya peserta melelah melihat kecantikan seniman itu. Mungkin, hanya Renald yang tidak meleleh karena hal itu.
"Hai semuanya, maaf aku telat. Namaku Amira dari SMA Internasional Hope, mohon kerja samanya."Kata Amira yang baru datang.
"Jadi ini, seniman yang bisa menggerogoti tulang sumsum peserta-peserta sebelumnya."Kata Renald dalam hatinya.
"Hai juga, tidak apa-apa lombanya juga belum dimulai."Balas Renald.
Tak lama kemudian, perlombaan pun dimulai, Renald mulai melukis wajah yang selalu terbayang-bayang olehnya. Karena, pada saat ini tidak ada hal lain yang teringat dikepalanya. Waktu yang diberikan untuk menyelesaikan lukisan hanyalah 45 menit. Karena itu, semua peserta melakukannya dengan cepat untuk mengejar waktu. Tetapi, hal mengejutkan terjadi baru saja berselang waktu 25 menit Amira sudah selesai mengerjakannya dan keluar dari ruangan tersebut.
Seisi ruangan sangat terkejut ada seseorang yang dapat melukis dengan cepat seperti itu, Renald tidak mau kalah diapun menyelesaikannya dengan cepat. Setelah waktu selesai, dia adakan proses penentuan pemenang, saat itu semua peserta dikumpulkan di satu tempat. Semuanya terlihat akrab saat Renald memasuki ruangan tersebut, hanya Amira yang duduk terpisah dengan peserta lain. Renald pun berencana untuk duduk disebelah Amira.
"Oh, kamu peserta yang membalas sapaan dariku, ya."Kata Amira.
"Iya, namaku Renald. Salam kenal."Kata Renald.
"Oh, yang bisa membuat gambar seperti 3 dimensi atau nyata."Kata Amira dengan terkejut.
"Tidak begitu juga."Kata Renald.
"3 dimensi itu hebat, tetapi jika lukisan itu hampa semuanya sia-sia."Kata Amira.
"Maksudnya hampa bagaimana?"tanya Renald.
"Semua seni harus memiliki perasaan, jika tidak seni tersebut dianggap hampa. Semua seni hampa hanya menarik perhatian tidak menarik perasaan yang melihatnya."Kata Amira.
"Oh, begitukah."Kata Renald.
"Setidaknya menurutku semua lukisan yang kulihat dalam perlombaan ini hampa."Kata Amira.
"Bagaimana cara untuk membuat lukisan itu tidak hampa?"Tanya Renald.
"Emh, libatkan seluruh perasaan dan jangan terlalu membebankan pikiran dengan sesuatu yang tidak terlalu berguna saat melukis."Kata Amira.
"Begitu, ya. Terima kasih sarannya."Kata Renald.
Selang satu jam lamanya di ruang tunggu, semua peserta dipanggil untuk diumukan pemenangnya. Sebuah momen yang mendebarkan yang ditunggu semua peserta,membuat jantung Renald berdetak sangat kencang. Pada saat penyebutan pemenang kedua,nama Renald terpanggil. Dengan lukisan Riana yang rambutnya tertiup angin.
"Hampa."Kata Amira yang berada disebelahnya.
Saat disebutkan pemenang pertama, dengan lukisan wanita kaca. Nama yang terpanggil adalah Amira. Renald sangat terkejut melihat lukisan Amira, lukisannya bukan hanya terkesan nyata tetapi memang nyata. lukisan itu sangat hidup, seolah-olah menggambarkan semua perasaan yang ada.
"Apa-apaan lukisan itu, terisi penuh oleh perasaannya seakan hidup untuk menujukan pesan kepada orang yang melihatnya. Lukisan itu berisi, tawa, sedih, senang, tangisan, perjuangan, pengorbanan, kesepian, perdamain, kebencian, dan juga cinta. Bagaiman semua perasaan itu ada dalam lukisan?"Kata Renald dengan kesal.
__ADS_1
"Maaf, aku merebut posisimu."Kata Amira.
"Sepertinya memang cocok untukmu."Kata Renald dengan tubuh yang bergemetaran melihat lukisan Amira.
Setelah pengumuman tersebut, Renald pulang dengan perasaan sangat kesal. Karena telah diajari oleh seseorang yang baru dia temui. Namun,hal tersebut juga membuatnya bersemangat untuk tahun depan agar dapat memenangkan penghargaan sebagai pemenang pertama dan juga sebagai seniman terhebat tingkat SMA.
"Argh, aku kesal sekali."Teriak Renald.
Dia pun terbaring di kasurnya dan terlelap tidur karena kelelahan dan juga kesal. Keesokan harinya dia bangun, saat sedang menggosok gigi suara bel rumahnya berbunyi. Saat dia mengeceknya ternyata ada pengatatar barang yang mengirimkan sesuatu kepada Renald. Tanpa melihatnya, Renald menyimpannya di meja ruang tamu. Dan segera mandi untuk pergi ke sekolah.
Saat istirahat, Renald belum melihat Riana berkeliaran di sekolah. Bahkan dari hari-hari sebelumnya setelah kejadian waktu itu, Riana belum pernah terlihat di sekolah. Hal tersebut membuat Renald khawtir dan ingin mencarinya. Tetapi, tiba-tiba Violet menariknya dan membawanya kesuatu tempat didampingi oleh Bima dan Ardian.
"Tunggu dulu, apa maksudmu membawaku?"tanya Renald dengan kesal.
"Aku tidak menerima pemenang kedua."Kata Violet.
"Memang itu urusanmu."Kata Renald.
"Memalukan sekolah!"teriak Violet.
"Memangnya kamu yang mengikuti lomba tersebut!"teriak Renald.
"Bukan, tetapi pasti ada alasan ini terjadi. Apa yang kamu lukis?"tanya Violet.
"Riana, memangnya kenapa?"tanya Renald.
"Pantas saja, sibisu yang kamu lukis. Kenapa gak kamu jadikan aku sebagai modelnya."Kata Violet dengan kesal.
"Memangnya kamu lebih pantas?"tanya Renald dengan kesal.
"Tentu saja, dibanding rakyat jelata yang bisu."Kata Violet.
"Terus, apa urusanmu membawa kesini."Kata Renald.
"Tentu saja untuk menghancurkanmu. Lukisan sampah dengan model sampah tidak pantas ada disini."Kata Violet.
"Tarik kembali ucapanmu!"teriak Renald dengan kesal.
Amarah mulai meluap dari tubuh Renald, karena kali ini tidak ada yang menahannya Renald menampar Violet dengan kerasnya .Setelah itu, dia meninggalkan Violet yang memarah-marahinya.
"Berani-beraninya rakyat jelata sepertimu menamparku!"teriak Violet.
"Aku tidak peduli."Kata Renald.
"Kalian mendapatkannya?"tanya Violet.
"Tentu saja."Kata Bima dan Ardian.
"Kamu tidak bakalan tenang Renald. Sebentar lagi, masalah akan datang padamu. Itulah akibatnya kalau melawan pada seorang putri sepertiku."Kata Violet tersenyum dengan muka liciknya.
Beberapa saat kemudian, Renald dipanggil untuk menghadap ruang BK. Sesuai dugaannya, di ruangan BK sudah ada Violet dengan muka yang sudah dibasahi oleh air mata.
"Pasti dia sudah mengada-ngada cerita."Kata Renald kesal dalam hatinya.
"Ranald kamu sudah tau perihal kamu dipanggil ke ruang BK."Kata Guru BK.
"Belum."Kata Renald berbohong.
"Apakah kamu yang menampar Violet?"tanya Guru BK tersebut.
"Ya, pak. Tetapi sebelum bapak menghakimi saya,bapa lihat dulu video ini."Kata Renald memberikan ponselnya.
Video yang diputar semuanya berisi dengan perbuatan semena-mena yang dilakukan oleh Violet. Melihat Video tersebut, Guru BK tersebut terkejut terutama Violet tubuhnya sampai gemetaran karena ketakutan.
Video tersebut diambil setiap kali Violet berbuat semena-mena. Saat Renald termakan emosi dan Menmapar Violet,dia dengan cepat pergi ke ruangan komputer untuk memindahkan videonya ke hp milik Renald. Hal tersebut dilakukan karena Renald sudah tahu bahwa Violet akan mengadukan hal itu ke ruang BK. Tetapi, kini kondisinya berbalik untuk Violet.
"Oh, jadi begini kejadiannya. Renald kamu boleh keluar sekarang, tetapi lain kali jangan menampar perempuan."Kata Guru BK tersebut.
"Baik pak, saya permisi dulu."Kata Renald keluar.
Setelah kejadian itu, Violet dikeluarkan dari sekolah beserta Bima dan juga Ardian. Namun saat Renald mencari Riana ke kelasnya, salah satu temannya memberi tahukan sebuah berita yang sangat mengejutkan.
__ADS_1
"Emh, apa Riana ada di kelas?"Tanya Renald.
"Riana, apa kamu tidak mengetahuinya? Sebenarnya dia sudah keluar dari sekolah ini dari kemarin."Kata teman di kelasnya.
"Keluar dari sekolah."Kata Renald dengan terkejut.
"Iya, awalnya aku juga terkejut. Tetapi, sebelum dia keluar dia sudah absen selama beberapa hari."Kata teman di kelasnya.
"Oh, terima kasih atas infonya. Maaf mengganggu."Kata Renald meninggalkan kelasnya Riana.
Renald pulang ke rumahnya dengan perasaan frustasi,karena kesalahan yang telah ia perbuat. Saat sampai dirumahnya,dia melihat suatu kiriman yang tadi pagi dia terima. Karena penasaran, dia membukannya. Isinya ada sepucuk surat dan kaset hitam misterius. Ditambah lagi, tidak tertera alamat maupun siapa pengirimnya di dalam kiriman tersebut.
Saat suratnya dibuka, Renald terkejut pengirimnya adalah Riana. Isi surat tersebut adalah "Renald mungkin ini sedikit terlambat ,tetapi aku akan menucapkannya Selamat atas kemenanganmu. Mungkin kamu tidak ingin menerima ini dariku. Tetapi ketahuilah bahwa aku sebenarnya menyukaimu. Meskipun kamu membenciku, aku tidak masalah.Hey Renald, aku akan pindah dari sekolah ini. Jika kamu berpikir karena kejadian itu, ini bukan karena kejadian itu. Sebenarnya orang tuaku ingin aku bersama mereka. Sekarang mereka tinggal di daerah Tall Dream, memang sangat jauh dari sekolah. Makanya, aku pindah ke SMA Internasional Hope. Oh iya aku lupa, aku berangkat malam ini. Jadi aku akan mengucapkannya saja Good-Bye. Aku juga mengirimkanmu sebuah kaset, jika kamu tidak ingin mendengarkannya tidak apa-apa kok. Pokoknya ini semua yang ingin ku sampaikan. Dari Riana untuk teman pertamanya Renald".
"Apa-apaan ini!"Teriak Renald kesal.
Karena penasaran, Renald pun memutar kaset tersebut untuk mengetahui apa isinya. Saat kaset tersebut diputar, ternyata di dalamnya terdengar suara Riana yang ingin mengungkapkan sesuatu.
"Teriiimaaa kaaaassiih, kaarenaa teellah meeneemuuikku waaakttu iitu. Keedaattaanngaanmu meemmbeeriikan waaarnnna paadda hiiduuppku, aakku sseenaang biisa bbeerttemu deengganmu. Aku haarrraap kiitaa bissa beerteemu laaagi."Kata Riana dalam kaset tersebut.
Mendengar hal tersebut, Renald semakin frustasi. Air mata mulai membasahi wajahnya, dia menyadari dia bersalah karena telah mengatakan hal buruk kepada Riana. Dia berharap bisa melihat Riana untuk yang terakhir kalinya sebelum Riana pergi. Renald teringat bahwa Riana akan berngkat pada malam hari. Saat dia melihat jam sudah jam 5 dia pun segera bergegas pergi ke stasiun yang menuju daerah Tall Dream.
Dia menaiki taksi agar sampai dengan cepat, tetapi di tengah perjalanan kesana ternyata macet. Dia pun turun di tengah jalan dan terus berlari menuju ke stasiun. Hari sudah mulai gelap, tetapi dia yakin bahwa Riana belum berangkat. Karena itu, Renald terus berlari dan berlari. Saat sampai Renald senang sekali melihat Riana yang belum berangkat masih duduk di sebuah bangku.
"Riana!"teriak Renald sambil terengah-engah karena kecapaian.
*Ada apa?*
"Maafkan aku, aku sudah salah berbicara seperti itu. Aku terpaksa agar Violet tidak mengganggumu lagi."Kata Renald.
*Tidak apa-apa.*
"Terima kasih karena kamu sudah menghargaiku."Kata Renald.
*Tidak apa-apa, itu semua memang karena bakat kamu sendiri*
"Tetapi jika tidak ada kamu, aku mungkin tidak akan berhasil."Kata Renald.
*Meskipun hari itu kita tidak bertemu, kamu pasti tetap bisa seperti sekarang*
"Meski kamu berkata seperti itu, aku tetap berhutang padamu. Kamu harus minta sesuatu dariku agar kita impas."Kata Renald.
*Baiklah izinkan aku sebentar saja*
Riana pun memeluk Renald sebelum dia harus meninggakan tempat ini dan tidak bisa bertemu dengannya kembali. Renald pun membalas pelukan tersebut dengan erat. Air mata mulai menetes dari Renald, dia masih tidak menerima bahwa Riana akan pergi. Riana pun mengusap air mata yang keluar dari Renald.
"Maaf aku menangis."Kata Renald.
*Tidak apa, keluarkan saja semuanya*
"Sebenarnya, Riana aku menyukaimu. Tetapi, aku tidak berhak berkata seperti itu. Jadi, aku harap kita bisa bertemu kembali dan akan kuungkapkan semuanya."Kata Renald.
*Aku akan menunggunya. Tetapi, aku akan mengatakan sesuatu padamu.*
"Apa itu?"tanya Renald.
*Lukisanmu waktu itu telah menyayat hatiku. Segaris lukisanmu waktu itu, telah membawa perasaanku kembali. Lukisanmu terisi oleh kehampaan seperti diriku waktu itu. Aku kagum kamu bisa mengetahuinya, untuk itu aku ingin kamu melukisku dengan diisi perasaan. Karena kamu telah membawa kembali perasaan pada diriku.*
"Baiklah saat aku pulang nanti, aku akan melukismu."Kata Renald.
*Kalau begitu, selamat tinggal.*
"Selamat tinggal."Kata Renald melambaikan tangannya.
Kereta yang menuju Tall Dream telah tiba, Riana pun segera menaiki kereta tersebut. Beberapa menit kemudian, kereta tersebut melaju dan dari balik jendela kereta, Riana melambaikan tangannya kepada Renald. Renald hanya tersenyum dan dengan lengannya yang lemas dia membalas lambaikan tangan Riana.
Renald pun segera pulang ke rumahnya untuk mulai melukis Riana. Dia mulai melukis dengan serius dengan menggunakan semua perasaannya. Tetapi, saat dia sedang melukis dia dikejutkan dengan berita yang muncul di televisi. Di televisi memberitakan bahwa kereta yang menuju Tall Dream mengalami kecelakaan. Dan seluruh penumpangnya dinyatakan meninggal dunia. Kecelakaan tersebut dipicu saat kereta melewati suatu tebing dan terjadi longsor.
Mendengar hal itu, tangan Renald menjadi sangat lemas sampai membuat kuas yang dipegangnya jatuh. Dia masih tidak percaya hal tersebut dapat terjadi. Malam itu, dia meratapi kesedihan karena kehilangan seseorang yang berharga baginya.
"Hei Riana, segaris lukisan yang kubuat akan kuberikan semua perasaanku pada lukisan tersebut. Tetapi, kenapa kamu meninggakan ku seperti ini."Kata Renald dengan isak tangisannya ditengah malam yang gelap gulita itu.
__ADS_1
"Riana kamu mendengarkannyakan, Lukisanku tidaklah hampa. Semua lukisan yang kubuat terisi semuannya oleh perasaanku padamu."Kata Renald mengusap air matanya.