
Keesokan harinya, Atatakai tidak masuk sekolah. Semua anggota club mulai sangat heran. Tentu saja Suzuki tidak menceritakan kejadian kemarin kepada siapapun. Tetapi, meskipun dia tidak berangkat ke sekolah, dia mengirim pesan kepada Amira untuk menemuinya di Danau Emerald Green. Amira mengira bahwa Atatakai mengetahui hari ulang tahunnya dan akan memberikan kejutan padanya. Tetapi saat sampai di danau,dia hanya melihat sosok lelaki yang sedang memandangi jernihnya air danau.
"Ada apa memanggilku kemari?"tanya Amira.
"Aku ingin mengatakan sesuatu."Kata Atatakai dengan wajah yang serius.
"Ada apa?"tanya Amira.
"Kita putus."Kata Atatakai.
"Kita sudahi saja ini."Lanjut Atatakai.
Amira sangat terkejut mendengar hal itu,dunia yang awalnya mulai nampak berwarna kini menjadi abu semuanya. Datangnya seseorang yang memberikan rasa hangat, kini menyisakan dingin yang menggebu. Kesenangan yang datang pada hatinya, kini menjadi luka sayat yang sangat pedih pada hidupnya.
"Kenapa kau ingin putus?"tanya Amira dengan kesal.
"Aku membencimu."Kata Atatakai pergi meninggalkan Amira.
"Jadi ini yang namanya patah hati. Rasa sakit yang menusuk seperti jarum dihati. Mengubah pandanganmu terhadapa dunia menjadi abu.:Kata Amira dalam hatinya.
"Hati itu bagaikan goresan warna, warna yang gelap menandakan hati yang kelam dan dipenuhi kesedihan sementara warna yang cerah menandakan hati yang dipenuhi kegembiraan dan kesenangan. Tetapi, tidak semua warna cerah menggambarkan hal itu. Melihat cerahnya warna merah darah diatas lukisan bunuh diri tidak akan memperlihatkan kegembiraan dan kesenangan. Itulah yang kupikirkan, warna cerah yang dibawanya mungkin menunjukan makna lain pada diriku."Kata Amira dalam hatinya.
"Terima kasih karena telah memberikan kebahagian kepadaku. Ketahuilah bahwa meskipun kamu membenciku, aku akan tetap mencintaimu."Kata Amira.
"Kau sudah pergi.Kata Amira meneteskan air matanya.
Pulang dari danau, Atatakai langsung pergi mengurung diri di kamarnya tidak keluar. Bahkan dia tidak keluar saat makan malam, Suzuki pun pergi untuk memastika kondisi Atatakai. Saat Suzuki melihatnya, Atatakai sedang memandangi rembulan dari jendela dengan pipinya yang telah dibasahi oleh air mata. Suzuki mengerti bagaimana perasaan Atatakai dia pun tidak ingin mengganggunya terlebih dahulu.
Keesokan harinya, Atatakai mulai pergi sekolah. Tidak seperti biasanya hari itu, dia pergi dengan berjalan kaki. Dan ketika disekolah dia selalu berusah untuk menghindari agar tidak berpapasan dengan Amira. Bahkan, proyek komiknya yang hampir selesai pun tiba-tiba terhenti. Sementara itu, Amira mulai menyendiri dan jarang banyak berbicara dengan orang lain.
Kejadian ini berulang setiap hari, Suzuki pun mempunyai rencana untuk menemui Amira. Dia mengajak Amira untuk bertemu di Danau Emerald Green.
"Ada apa Suzuki kamu memanggilku kesini?"tanya Amira.
"Ada yang ingin kubicarakan."Kata Suzuki.
"Baiklah apa itu?"tanya Amira.
"Apa kalian putus?"tanya Suzuki.
"Ya, dia berkata padaku bahwa dia membenciku. Tapi itu tidak lah masalah. Ngomong-ngomong apakah dia sehat-sehat saja?"tanya Amira.
"Secara fisik dia terlihat baik."Kata Suzuki.
"Tetapi, Dia mulai terlihat sangat depresi,dan nafsu makannya kian hari kian memburuk. Sebenarnya dia tidaklah membencimu, dia sudah dijodohkan dengan seorang wanita oleh ayahnya. Aku harap kamu tidak membancinya."Kata Suzuki.
"Aku tidak membencinya, jujur aku sangat khawatir padanya."Kata Amira.
"Kalau begitu, terima kasih telah mau datang. Aku harus kembali bekerja."Kata Suzuki.
"Ku harap dia segera membaik."Kata Amira.
__ADS_1
"Aku pulang dulu, bye."Kata Suzuki.
"Bye."Kata Amira.
"Aku juga harus segera pulang."Kata Amira dalam hatinya.
Mulai dari hari itu, Amira mulai sering pergi ke Danau Emerald Green untuk menenangkan diri. Seminggu pun berlalu, tetapi kondisi kian memburuk. Malam harinya, Ayahnya Atatakai memanggil Atatakai untuk membicarakan sesuatu.
"Ada apa ayah memanggilku?"tanya Atatakai dengan ekspresi tidak senang.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"tanya Ayahnya.
"Tidak ada hal apapun."Jawab Atatakai.
"Oh, iya ayah sudah menentukan tanggal kalian tunangan."Kata Ayahnya.
"Bukankah aku masih SMA."Kata Atatakai.
"Tidak apa, kalian bisa tunangan terlebih dahulu. Setelah kamu lulus ayah akan nikahkan kalian dan akan ayah berikan hak perusahaan padamu."Kata Ayahnya.
"Aku tidak mau!"teriak Atatakai.
"Kenapa kamu tidak mau?"tanya Ayahnya.
"Aku tidak mau jika harus bersama orang yang tidak kuinginkan."Kata Atatakai.
"Jaga bicaramu. Azalea terlahir dari keluarga yang mapan, dan merupakan mitra bisnis ayah. Jika kamu menikah dengannya dapat menaikan status keluarga kita."Kata Ayahnya.
"Oh, kamu mau membantah ayah. Apakah kamu sudah bisa bekerja? Tidak kan, ayah lakukan ini untuk kebahagianmu."Kata Ayahnya.
"Jangan bercanda, ayah juga tidak tahu apa yang membuatku bahagia. Jika ayah bersikeras, aku akan keluar dari rumah ini."Kata Atatakai.
"Silahkan, kamu juga akan kembali lagi."Kata Ayahnya.
"Baiklah."Kata Atatakai berlari keluar.
Mengetahui hal itu, Suzuki sangat khawatir. Dia pun mengirimkan pesan kepada Amira tentang hal tersebut. Hal tersebut membuat Amira semakin mencemaskan Atatakai. Setiap hari, Amira dan Suzuki izin dari club untuk mencara keberadaan Atatakai.
Lima hari kemudian, Amira pun pergi ke Danau Emerald Green di sore hari untuk menenangkan diri. Sambil meminum sebuah minuman, dia terus memikirkan Atatakai. Dimana dia berada? Sedang apa? Apa dia baik-baik saja? Semua hal itu terlintas dipikiran Amira.
Hari itu, aku sadari bahwa sesuatu yang awalnya indah tidak selalu berakhir dengan baik. Semenjak itu,aku mulai menutup diriku dari dunia luar.Kata Amira dalam hatinya mengingat kejadian buruk yang menimpanya.
Ah, seharusnya yang kupikirkan saat ini adalah bagaimana kondisinya? Berhenti mengingat kejadian itu!kata Amira dalam hatinya, dengan kesal menendang kaleng minumannya.
'Aww, siapa ini yang menendang bekas minuman ini?"teriak seseorang lelaki yang terbaring di tanah.
"Maaf".Kata Amira mendekati lelaki tersebut.
"Sepertinya aku kenal suara itu."Kata Amira dalam hatinya.
Saat melihat Wajah lelaki tersebut, Amira sangat terkejut. Lelaki tersebut adalah Atatakai, dia terbaring dengan wajah yang sangat menghawatirkan.
__ADS_1
"Atatakai, syukurlah kamu baik-baik saja."Kata Amira.
"Hah, Amira."Kata Atatakai dengan terkejut dan langsung berdiri.
"Kemana saja kamu? Kamu membuat khawatir Suzuki, terutama aku sangat khawatir padamu."Kata Amira.
"Eh, bukannya aku sudah mengatakan hal yang jahat padamu. Seharusnya kamu membenciku."Kata Atatakai.
"Aku tidak akan pernah membencimu."Kata Amira memeluk Atatakai.
"Hei, bukankah kamu selalu bilang ini pelecehan seksual."Kata Atatakai.
"Jangan menyelaku, aku sangat senang."Kata Amira.
"Maaf, aku menyembunyikannya darimu."Kata Atatakai.
"Tidak apa-apa."Kata Amira.
"Jika kamu mau, aku akan merubah sifat sombongku. Asalkan kamu mau menerimaku aku akan melakukan apapun."Kata Atatakai meneteskan air mata.
"Itu tidak perlu, sifat itu yang membuatku suka padamu. Aku menyukaimu apa adanya, jadi kamu tidak perlu merubahnya."Kata Amira mengusap air mata Atatakai.
"Baiklah, aku menyukaimu juga."Kata Atatakai.
"Kamu sudah makan?"tanya Amira.
"Belum, aku sudah tidak mempunyai uang."Kata Atatakai.
"Kalau begitu, ayo ke rumahku! Aku akan membuatkanmu makanan."Kata Amira.
"Baiklah, tapi harus enak."Kata Atatakai.
"Jika kamu belum berbaikan dengan ayahmu, kamu boleh tinggal bersamaku. Ya, meskipun kita tidak tidur seranjang."Kata Amira.
"Baiklah, terima kasih."Kata Atatakai.
"Jangan berterima kasih, seperti bukan dirimu saja."Kata Amira.
"Hah, jangan salah sangka. Aku berterima kasih kepada tuhan karena telah mempertemukanku denganmu."Kata Atatakai.
"Hmmm, seperti inikah cinta. Selalu mendatangkan kehangatan."Kata Amira dalam hatinya.
"Kamu pernah berpikir seperti ini tidak?"tanya Atatakai.
"Seperti apa?"tanya Amira.
"Hati itu ibarat goresan warna,saat aku putus denganmu pikiran itu selalu terngiang-ngiang di kepala."Kata Atatakai.
"Pikiran aneh apa itu."Kata Amira.
"Ya, aneh."Kata Atatakai tertawa.
__ADS_1
"Jujur, aku sekarang dapat jawaban dari hal itu. Goresan warna ibarat hati seorang manusia tergantung pada lukisannya. Sama halnya dengan kondisi hati akan berasa sesuai kondisinya."Kata Amira dalam hatinya.