Art Of Uniting Heart

Art Of Uniting Heart
A Word Song : Best friend is Everything


__ADS_3

Hari itu, Akila pulang bersama Aden. Sepanjang perjalanan Akila tidak bicara sepatah kata pun. Dia hanya membisu dengan pandangan yang kosong menatap sekitar. Aden khawatir akan kondisi yang dialami oleh Akila. Sebagai teman dari kecil, Aden tahu bahwa Akila sedang menghadapi masalah.


"Akila, ada masalah apa?"tanya Aden.


"Tidak apa-apa."Jawab Akila.


"Jangan bohong, aku sudah berteman denganmu dari kecil.Pasti terjadi sesuatu."Kata Aden.


"Begitulah, aku ditolak."Kata Akila.


"Oleh?"tanya Aden.


"Aksal."Kata Akila.


"Maaf aku menanyakan ini, seharusnya aku tidak menanyakannya. Aku memang tidak mengerti soal yang beginian karena belum pernah mengalami. Tetapi, jangan terlalu hanyut dalam jurang kesedihan. Jika terlalu hanyut, maka banyak sekali kebahagian yang akan terlewat karena tidak bisa tergapai akibat terhanyut dalam jurang tersebut."Kata Aden.


"Aku butuh waktu untuk menghilangkan hal-hal yang berputar dikepalaku."Kata Akila.


"Hmmm, semangatlah! Jika kamu ingin mencurahkan semua keluh kesah itu, kamu bisa datang ke rumahku."Kata Aden.


"Terima kasih.Kata Akila.


Tidak perlu berterima kasih."Kata Aden.


Malam itu, Akila menyadari bahwa mimpi hanyalah mimpi dan kenyataan selalu pahit untuknya. Ditengah gelapnya malam, dia keluar dari rumahnya dan berjalan-jalan di sekitar halamannya sampai ke dekat rumah Aden. Semakin tenang suasana, semakin dia terpikir akan kejadian yang tadi dia alami.


"Just Let Me Lo-o-o-o-o-o-o Love You, You."Akila menyenadungkan nyanyian ditengah malam itu.


Ditengah malam itu, Aden terbangun dari tidurnya karena mendengar lantunan nyanyian. Suara yang begitu merdu itu seolah-olah menyatu dengan kesunyian malam.Saat melihat ke luar rumah, dia melihat sosok Akila yang sedang bernyanyi di dekat pohon. Sinar rembulan yang menyinari malam tersebut seolah-olah membuka jalan untuk menuju Akila. Sementara angin malam yang berhebus membuat rambut Akila terurai seolah-olah memperlihatkan sosok perempuan yang datang entah dari negeri dongeng mana.


"Akila, kamu tidak bisa tidur?"tanya Aden.


"Oh Aden, apa aku membangunkanmu?"tanya Akila.


"Tidak, aku terbangun karena mendengar suara yang begitu indah ini."Kata Aden.


"Maaf, aku membangunkanmu."Kata Akila.


"Tidak apa-apa, lagi pula aku bisa mendengarkan lagu indahmu itu."Kata Aden.


"Ini bukan lagu, sebuah kalimat tidak bisa menjadikannya lagu."Kata Akila.


"Kau salah, tidak peduli seberapa panjang kalimat ataupun kata-kata yang menjadi lirik sebuah lagu. Asalkan lirik tersebut memiliki perasaan saat dilantunkan, maka itu sudah menjadi sebuah lagu. Meski hanya sepatah kata saja, asal memberikan makna bagi pelantunnya, itu adalah sebuah lagu."Kata Aden.


"Mungkin kamu benar, tetapi tidak ada artinya jika hanya sepatah kata."Kata Akila.


"Kamu memang lebih pintar dariku, tetapi dalam masalah memahami persolan seperti ini aku lebih hebat. Sepatah kata saja, dapat memberikan beribu makna kepada seseorang. Karena, pelantun lagu akan memberikan ekspresi yang tepat saat mengucapkannya. Tidak peduli seberapa banyaknya lirik yang diucap, ekspresi itulah yang memberikan makna. Perasaan yang terselubung dalam ekspresi itu adalah seni dari menyanyi itu sendiri."Kata Aden.

__ADS_1


"Begitukah? Jika begitu, kalimat tadi merupakan laguku?"tanya Akila.


"Ya, begitulah. Kalimat tadi menggambarkan semua ekspresi yang kamu asingkan dalam dirimu. Tetapi, meskipun perasaan itu pahit kamu masih ingin mencintainya."Kata Aden.


"Karena dia adalah cinta pertamaku. Aku tahu, cinta pertama tidak akan pernah bertahan lama."Kata Akila.


"Seberapa kamu mencintainya dan seberapa dalam kamu tersakiti, perasaan itu tetaplah berharga. Meskipun kamu tidak dapat bersamanya, jangan buang perasaan itu."Kata Aden.


"Terima kasih, karena telah menghiburku saat aku sedang seperti ini. Maaf, mengganggumu dan membuatmu terbangun."Kata Akila.


"Sudahlah, jangan dipikirkan. Kita sudah berteman dari sejak kecil, jadi kapan saja itu aku akan membantumu. Sebaiknya kamu juga lakukan juga saat aku terpuruk."Kata Aden kembali lagi ke rumahnya.


"Baiklah, akan kulakukan."Kata Akila tersenyum.


Keesokannya, Saat Akila pergi berangkat ke sekolah, dia sangat terkejut bahwa Arumi juga menaiki angkutan umum. Dia heran bahwa orang sekaya Arumi dapat pergi ke sekolah dengan mengendarai angkutan umum.


"Oh, Akila."Kata Arumi.


"Arumi, kenapa kamu disni?"tanya Akila.


"Syukurlah, aku tidak salah kendaraan. Aku disuruh orang tuaku untuk sesekali mengendarai angkutan umum. Sungguh merepotkan."Keluh Arumi.


"Oh, begitukah."Kata Akila.


"Sehabis itu, kita turun dimana?"tanya Arumi.


"Oh begitu, ya. Baiklah."Kata Arumi.


Arumi dan Akila turun bersama. Setelah itu, Akila menunjukan angkutan umum yang harus dinaiki oleh Arumi. Namun, Akila tidak ikut akan ikut naik karen dia akan berjalan sampai ke sekolah.


"Kenapa tidak ikut naik?"tanya Arumi.


"Aku akan berjalan sampai sekolah."Kata Akila.


"Kalau begitu, aku juga tidak jadi.Aku akan berjalan juga."Kata Arumi.


"Eh, kenapa?"tanya Akila.


"Aku tidak bisa menghentikannya."Bisik Arumi.


"Baiklah."Kata Akila.


Mereka pun berjalan bersama sampai ke sekolah. Sepanjang perjalanan, Arumi menceritakan keluh kesahnya kepada orang tuannya kerana telah menyuruhnya untuk menaiki angkutan umum. Perjalanannya sendiri lumayan jauh, namun tidak akan membuat terlamabat untuk sampai ke sekolah.


"Hei, bagaiman hubunganmu dengan Aksal? Kalian baik-baik saja. Akhir-akhir ini kalian jarang berkeliaran bersama?"tanya Arumi penasaran.


"Emh, bagaimana ya? Singkatnya, dia menolakku."Kata Akila.

__ADS_1


"Apa!"teriak Arumi kaget.


"Pria itu, wanita sebaik ini dia sia-siakan. Padahal Akila selalu ada untuknya, apa yang dia pikirkan. Akan ku labrak dia."Sambung Arumi penuh emosi.


"Tidak perlu, selama dia menemukan orang yang lebih baik dariku itu tidak masalah."Kata Akila.


"Aku sangat tersanjung dengan dirimu. Dari dulu, kamu selalu baik pada setiap orang. Pada saat dulu aku selalu jahat padamu, kamu memaafkanku. Tetapi, sesekali jangan terlalu baik orang-orang akan memanfaatkanmu."Kata Arumi.


"Tidak apa, jika orang lain memanfaatkanku aku tidak apa-apa. Lagi pula, tidak ada yang bisa dilakukan oleh kalangan bawah sepertiku."Kata Akila.


"Jangan bicara seperti itu, karena kebaikanmu aku jadi seperti ini. Aku sangat berterima kasih padamu. Jika ada masalah,kamu bisa cerita padaku. Siapa tahu aku dapat membantu."Kata Arumi.


"Terima kasih."Kata Akila.


"Seharusnya, aku yang bilang terima kasih."Kata Arumi.


Pada akhirnya, saat study tour semua impian Akila hanyalah hayalan belaka. Disana, hanya kesendirian yang dia rasakan. Mereka hanya bertatap muka saja tanpa berkata sepatah kata apapun. Akila tahu hal itu akan terjadi, tetapi ini terlalu kejam untuk dirinya yang selama ini baik kepada semua orang. Mungkin luka secara fisik dapat terobati meskipun bisa lama, tetapi luka hati meskipun telah diobati akan tetap membekas rasa sakit tanpa henti.


Hal itu perlahan sirna dengan kedatangan Aden yang selalu ada setiap saat disampingnya. Mengeluarkan seluruh keluh kesahnya membuatnya semakin membaik dan dalam hatinya, mungkin muncul sebuah rasa yang setiap saat disangkal oleh Akila. Seberapa buruk pun sakit yang dihadapi, sekarang Akila sadar bahwa akan ada obat untuk setiap penyakit, vaksin untuk setiap virus, dan penawar untuk setiap racun.


Malam itu, Akila bernyanyi sayup ditengah-tengah sunyinya malam. Semua kata-kata keluar secara mendadak dari mulutnya. Angin malam mendukung suara tersebut dengan bertiup pelan menghebus wajahnya Akila. Udara dingin malam yang segar membuat mukannya memerah karena kedinginan. Nyanyian sayup itu begitu indah, membuat Aden terbangun untuk mencarai sumber suara tersebut.




Melihat Akila dengan muka yang memerah karena kedinginan, membuat Aden langsung berlari kearah Akila. Ditengah-tengah sayupnya nyanyian Akila, dengan perlahan Aden mendekapnya dan memeluknya dengan erat. Aden pun mulai bernyanyi mengiringi suara Akila yang lembut itu.



Dikesunyian malam itu, mereka bernyanyi secara bersama. Air mata menetes dari keduanya, dan angin malam yang berhembus seola-olah terhenti mendengar nyanyian mereka.



Setelah bernyanyi, air mata Akila mulai menetes deras. Aden mulai mengusap dan ditengah kesunyian itu, dia perlahan mulai mengecup kening Akila. Aden membalikan wajah Akila kearahnya, dan bibir mereka saling bergerak satu sama lain. Malam itu, mereka resmi berciuman.


"Cinta pertama tidak akan bertahan lama. Apa kamu masih mempercayai itu?"tanya Aden.


"Kenapa tidak mencoba untuk jatuh cinta lagi? Aku yakin, jika awalnya benar pasti kamu akan menemukan cinta sejatimu."Kata Aden.


"Aku sudah menemukan itu."Kata Akila tersenyum.


"Siapa?"tanya Aden terkejut.


Ditengah kesunyian malam itu,hanya dua insan itu yang masih terjaga. Akila secara tiba-tiba memeluk Aden, karena menyadari bahwa Aden selalu ada untuknya semenjak Akila kecil. Aden hanya diam membisu karena terkejut akan jawaban yang diberikan Akila. Dalam hatiya tidak bisa dipungkiri, bahwa sikapnya kepada Akila itu bukanlah sebuah sikap peduli, melainkan karena cintanya.


"Layaknya sebuah lagu, meskipun terdengar menyakitkan tetapi tetap banyak orang yang mendengarkannya. Karena dibalik semua kisah sedih dari lagu pasti akan memberikan akhir yang membahagiakan."

__ADS_1


__ADS_2