
"Apa yang kamu katakan tadi?"tanya Arumi dengan terkejut.
"Kita putus."Kata Aksal dengan jelas.
"Kenapa? Bukankah, kamu mencintaiku?"tanya Arumi dengan kesal.
"Itu dulu, sekarang aku sadar telah salah memilihmu. Aku baru tahu bahwa sifatmu itu kasar."Kata Aksal.
"Apa ini gara-gara wanita miskin itu!"teriak Arumi.
"Jangan berkata seperti itu!"kata Aksal dengan kesal menggenggam tangan Arumi dengan kasar.
"Lepaskan tanganku, sakit!"teriak Arumi.
"Akan ku lepaskan, tapi jangan pernah berbuat ulah pada Akila!"ancam Aksal.
Mendengar hal itu, Arumi berlari dengan kesal meninggalkan Aksal sendirian. Dia tidak menyangka hubungannya akan berakhir seperti ini karena adanya pihak ketiga. Itulah yang terlintas dikepalanya. Dia berniat untuk membalas dendam pada Akila karena perbuatannya itu.
"Lihat saja pembalasanku!kata Arumi dengan kesal.
Mulai dari besok, Arumi menyatakan perang kepada Akila. Setiap dia bertemu dengan Akila, dia selalu melabraknya. Dia berpikir bahwa jika setiap hari dia melabraknya, mungkin Akila akan meminta maaf padanya dan menjauhi Aksal. Tapi nyatanya, setiap hari hubungan mereka semakin lengket saja. Arumi mulai mencoba mengalahkannya dalam hal akademi. Arumi pun ikut dalam seleksi untuk lomba dan memilih mata pelajaran yang diikuti oleh Akila.
Kehadirannya dalam seleksi bukan untuk benar-benar berpartisipasi dalam perlombaan, melainkan untuk melakukan pembalasan kepada Akila. Setiap hari, Arumi menjahili Akila mulai dari menumpahkan tinta ke bajunya Akila, membuatnya terjatuh, bahkan dengan menaruh paku pada sepatunya. Namun, Akila tidak bereaksi sama sekali akan hal itu. Karena hal itu, Arumi semakin kesal pada Akila. Belum lagi, Akila yang terpilih sebagai perwakilan siswa untuk lomba membuat kebenciannya semakin membara.
Beberapa hari kemudian, dia mendengar bahwa Akila jatuh sakit. Arumi sangat senang, karena dengan begitu dia dapat mengantikan posisi Akila saat lomba nanti. Tetapi, pada saat hari lomba Akila berangkat sekolah dengan memaksakan kondisinya yang jatuh sakit. Saat Akila pulang dengan membawa penghargaan sebagai juara ketiga membuat amarah dalam diri Arumi mulai mendidih. Kebenciannya kini sudah menguasai diri Arumi, dia bersedia melakukan apapun untuk membuat Akila terdiam dan meminta maaf.
Arumi mulai berniat untuk sedikit nakal pada Akila. Saat Akila pergi ke perpustakaan untuk membaca buku, Arumi mengambil sepatunya dan menulis sebuah pesan ke kolong mejanya. Dia membakar habis sepatu Akila tanpa sisa dan tertawa menikmati hal itu. Tidak berhenti sampai situ, besoknya dia menaruh ulat bulu pada tempat pensilnya. Semua teman-teman sekelasnya terkejut dan karena Akila phobia dengan ulat bulu, dia mulai bertingkah aneh dan pingsan ditengah pembelajaran.
Tidak sampai itu saja, dia menaruh steples pada jaket yang dikenakan oleh Akila. Saat Akila membuka jaketnya, tubuhnya tergores dan membuat pakaiannya sobek. Hari berikutnya, semua bukunya dan kursi tempat duduknya terdapat coretan yang secara sengaja dibuat oleh seseorang. Hampir semua coretan itu bertuliskan Aku bodoh, miskin dan tidak layak hidup. Lalu, saat istirahat Akila haus dan mulai minum minuman yang dibawanya, minuman tersebut telah diganti dengan tinta dan membuat Akila keracunan saat itu.
Hal-hal aneh itu terus terjadi kepada Akila, sementara Arumi hanya tertawa diatas semua penderitaan itu. Hingga suatu hari, dia mendengar kabar bahwa ternyata Aksal telah berpacaran. Tetapi saat dia tahu Aksal tidak berpacaran dengan Akila dia mulai menyesal terhadap semua perbuatannya.
"Bagaimana ini? Aku harus meminta maaf kepadanya."Kata Arumi dalam hatinya menyesal dengan penuh kecemasan.
"Bagaimana, kalau dia melaporkan perbuatanku ke BK?"Tanya Arumi dalam hatinya semakin cemas.
"Habislah sudah."Kata Arumi dengan cemas.
__ADS_1
Selama berhari-hari ini, Arumi dihantui oleh rasa bersalahnya. Bahkan, dia selalu bermimpi buruk mengenai hal tersebut. Dia sudah tidak tahan dengan hal itu, selalu terbayang-bayang akan kesalahannya. Arumi memutuskan untuk berlatih meminta maaf kepada Akila. Meskipun dia mengetahu perbuatannya tidak dapat dimaafkan, tetapi dia akan berusaha untuk bisa dimaafkan.
Hal yang membuat terkejut terjadi, tidak hanya memaafkan kesalahan Arumi, Akila bahkan memintanya untuk berteman dengannya. Bingung dan senang menyelimuti hati Arumi. Dia tidak mengerti kenapa bisa ada orang sebaik ini yang bukannya dendam, malah ingin berteman.
Arumi pun berusaha untuk menjadi teman yang baik untuk Akila. Setiap hari, mereka mulai terlihat bersama. Arumi mulai sering mengajak Akila ke kantin dan meneraktirnya. Baginya, uang bukanlah segalanya. Setelah dia menemukan seorang yang dapat ia anggap sebagai sahabat, hal itulah yang membuat sikap Arumi berubah menjadi lebih baik sedikit demi sedikit. Dia tahu bahwa dirinya dapat sebaik Akila, tetapi dia akan melakukan apapun agar Akila bahagia dan ketika melihat Akila tersenyum, Arumi dapat merasakan kebahagian dalam dirinya.
Yang masih menjadi misteri untuknya adalah kenapa Akila mau menjadi teman orang seperti dirinya itu? Suatu hari saat Arumi pergi ke kelas Akila, Akila masih berada di bangkunya yang masih menulis.
"Akila, pergi makan yuk!"ajak Arumi.
"Maaf, Arumi aku sedang mengerjakan tugas bahasa daerah. Aku payah sekali dalam pelajaran ini."Kata Akila.
"Perlukah kubantu lagi!"tawar seorang laki-laki teman sekelas Akila.
"Oh, Arlan. Mohon bantuannya!"kata Akila.
Akhirnya setelah dibantu Arlan,Akila menyelesaikan pekerjaannya rumahnya. Akila pun memperkenalkan Arumi dengan Arlan.
"Oh, Arumi perkenalkan ini Arlan. Teman sekelasku."Kata Akila.
"Salam kenal juga,Arlan."Kata Arlan.
"Ouh iya, Arumi hari ini kamu ikut tidak!"ajak Akila.
"Kemana?"tanya Arumi.
"Kamu pernah bilang ingin belajar menari, kita pergi ke suatu tempat agar dapat belajar disana."Kata Akila.
"Biaya belajarnya?"tanya Arumi.
"Oh, itu gratis. Dan pas sekali, pembimbingnya adalah salah satu saudara Arlan."Kata Akila.
"Oh, baiklah kalau begitu."Kata Arumi.
Pulang sekolahnya, Akila mengajak Arumi untuk pergi ke tempat saudaranya Arlan. Setelah sampai ke tempat itu, Arumi langsung bertemu dengan saudara Arlan yang bisa mengajarkannya menari. Arumi sangat antusias untuk mepelajari tari, meskipun dia berpikir bahwa tidak dapat sekali coba langsung bisa.
"Bi, ini temanku yang ingin bisa belajar menari."Kata Arlan.
__ADS_1
"Sebentar, bibi turun ke sana!"teriak saudaranya Arlan.
Saat menuruni tangga, Arumi dan Akila sangat terkejut melihat penampakan saudaranya Arlan. Mereka tercengang saat melihatnya, meskipun terlihat sudah berumur, tetapi kulitnya yang begitu putih bersinar saat terkena cahaya. Selain itu, diwajahnya tidak ada kerutan sama sekali. Sangat sempurna sebagai seorang wanita dengan postur tubuh yang cukup tinggi dengan paras yang menawan.
"Jadi, kalian berdua yang akan belajar tari?"tanya Saudaranya Arlan.
"Saya tidak, aku hanya mengantar dia."Kata Akila menunjuk Arumi.
"Oh, kalau begitu perkenalkan nama tante adalah Tante Maya."Kata Tante Maya.
"Salam kenal. Namaku Arumi, tante."Kata Arumi.
"Kalau begitu, aku pulang dulu Arumi. Aku harus menjaga rumah dan belajar, karena ibuku tidak ada dirumah."Kata Akila.
"Baiklah, hati-hati di jalan."Kata Arumi.
"Semangat belajar menarinya."Kata Akila tersenyum.
"Jadi Arumi, tari seperti apa yang ingin kamu pelajari?"tanya Tante Maya.
"Untuk sekarang sih tari tradisional."Kata Arumi.
"Baiklah, kalau begitu tante akan menunjukan cara-caranya. Kamu ikuti, ya!"kata Tante Maya.
Tante Maya mulai menyalakan musik daerah sebagai lagu untuk pengiring tari mereka. Secara perlahan, Tante Maya menunjukan gerakan-gerakan tari yang sangat bergemulai. Karena, gerakan-gerakan tersebutlah Arumi menjadi sangat tertarik kepada tari. Menurutnya setiap perpindahan gerkan saat menari merupakan seni abadi yang akan selalu diingat oleh orang lain. Pada awalnya, memang Arumi mendapat banyak kesusahan dan dia mulai berpikiran pesimis.
Saat sedang beristirahat, dia mulai murung dan berpikir bahwa dirinya tidak akan pernah bisa menari dengan benar. Melihat Arumi yang sedang murung, Arlan mencoba untuk sedikit menghiburnya agar semangat Arumi kembali.
"Kenapa murung?"tanya Arlan.
"Aku hanya berpikir bahwa aku tidak mungkin bisa menari."Kata Arumi.
"Bodoh! Kenapa mau belajar kalau baru saja mulai sudah menyerah seperti itu?"teriak Arlan.
"Kamu benar juga, aku seharusnya berusaha dengan keras."Kata Arumi.
"Nah, begitulah namanya semangat."Kata Arlan.
__ADS_1