Art Of Uniting Heart

Art Of Uniting Heart
Definition of Art : Several Exam


__ADS_3

Pulang sekolah, Natasya sangat sial karena pulang lebih lama. Hal tersebut dikarenakan guru yang mengajar mereka sangat kesenangan mengajar, sampai lupa waktu. Di tambah bel pulang yang sedikit telat. Jika saja bel tidak berbunyi Natasya berpikir bahwa dia akan selamanya belajar di kelasnya. Saat dia keluar kelas, alangkah terkejutnya melihat Nowaki yang duduk sedang menunggunya.


"Apa yang kamu lakuakan disini?"tanya Natasya.


"Menunggumu, kalau begitu ayo pergi!"ajak Nowaki menarik lengan Natasya.


"Tunggu dulu, jangan menarikku!"teriak Natasya.


Sesampainya mereka di gerbang utama, Natasya terkejut melihat mobil yang menjemput Nowaki. Mobil berwarna merah yang terpampang di depan gerbang sangatlah mencolok. Dan banyak sekali siswa lainnya yang melihat hal tersebut. Natasya sangat malu, dia berpikir jika mati lebih baik dari pada menangung malu seperti ini. Dari kejauhan Natasya bisa mendengar bisikan dari banyak siswa yang iri terhadap dirinya.


"Kalau begitu ayo masuk!"suruh Nowaki.


"Tapi ......."Kata Natasya belum selesai berbicara.


"Aku tidak menerima penolakan."Kata Nowaki.


Nowaki pun menggendong Natasya secara paksa. Hal tersebut dilakukan di depan banyak siswa, sehingga menjadi perbincangan semua siswa. Mereka semua sangat iri terhadap Natasya yang kemungkinan dapat mendekati Nowaki.


"Lepaskan aku, kita dilihat oleh banyak orang."Kata Natasya memberontak.


"Tenanglah sedikit, biarkan orang lain melihat. Tidak ada ruginya."Kata Nowaki.


Natasya sangat malu sekali, dia mulai berpikir menjadi temannya Nowaki dan memberinya sebuah saran adalah hal terburuk yang dia pernah lakukan. Dan sekarang ini, dia harus menanggung akibat dari perbuatannya itu.Tubuh Natasya bergetar ketika dalam perjalanan. Dia memikirkan apa yang akan terjadi padanya jika berteman dengan seorang tuan muda yang terpandang di sekolah. Ketika sampai di depan gerbang rumah Nowaki, Natasya sangat terkejut karena halaman depannya merupakan taman yang sangat luas.


"Kita sudah sampai, ayo turun!"ajak Nowaki.


"Seriusan ada rumah seperti ini."Kata Natasya terkejut dengan mulut menganga.


"Kenapa memangnya? Kita kan tidak hidup dizaman batu."Kata Nowaki heran.


"Oh, aku lupa dia kan tuan muda yang kayanya sejagat raya."Kata Natasya kesal dalam hatinya.


"Ayo, kita harus berjalan untuk sampai kerumah."Kata Nowaki.


"Berapa jaraknya?"tanya Natasya.


"Satu kilometer dari gerbang."Kata Nowaki.


"Oh, satu kilometer. EH, SERIUSAN INI TAMAN ATAU HUTAN!"teriak Natasya.


Mereka berjalan dari gerbang masuk sampai kedepan rumah dalam waktu 30 menit. Dan itu membuat mereka sangat kelelahan.


"Seharusnya aku menyuruh diantar sampai kedepan rumah."Kata Nowaki terengah-engah.


"Dasar bodoh, kalau setiap hari jalan seperti ini pasti akan sehat."Kata Natasya.


"Nah, kita sudah sampai."Kata Nowaki.


"Seriusan."Kata Natasya terkejut dengan apa yang dia lihat.


Saat Natasya melihat ke depan terpampang rumah yang sangat besar dan juga lumayan tinggi, di halaman depannya terdapat air mancur. Di sebelah selatan terdapat sebuah garasi yang berisi banyak sekali mobil.


"Ini rumah beneran atau rumah mainan. Semua hal ini dia miliki."Kata Natasya dalam hatinya.


"Ayo masuk!"ajak Nowaki.


"Ini rumah atau istana sih?"tanya Natasya.


"Terserah kau mau menyebutnya apa. Ayo Masuk!"ajak Nowaki memaksa Natasya.


"Baiklah."Kata Natasya.


Pintunya saja bagaikan sebuah istana, besar sekali. Saat memasuki ruangan tersebut, Natasya sangat terkejut Nowaki disambut oleh banyak sekali pembantu. Di rumah Nowaki banyak sekali hal-hal yang menurut Natasya luar biasa. Dimulai dari lampu gantung yang memukau, anjing peliharaan nya yang elegan, dan juga pelayan laki-laki yang tampan.


"Wow, ada Alexander!"teriak Natasya kegirangan berlari kearah anjing peliharaan Nowaki.


"Namanya Steph."Kata Nowaki.


"Tuan muda, selamat datang.Mau makan siang?"kata pelayan laki-laki tersebut.


"SABASTIAN!"teriak Natasya kearah pelayan tersebut dengan mata bersinar-sinar.


"Nama saya Tanaka, nona ..... Siapa nama anda?"tanya pelayan terebut.


"Salam kenal, nama saya Natasya."Kata Natasya tersenyum dengen mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Buatkan aku pancake dan bawa ke kamarku."Kata Nowaki.


"Baiklah kalau itu keinginan tuan."Kata Tanaka.


"Ayo!"ajak Nowaki menarik lengan Natasya.

__ADS_1


Nowaki membawa Natasya ke kamarnya yang berada di lantai tiga. Saat memasuki kamarnya Nowaki, Natasya sangat terkejut karena ruangan kamar milik sangat besar. Selain itu, kamar tersebut dilengkapi dengan berbagai teknologi yang sangat memukau.Sampai-sampai membuat Natasya menganga melihatnya.


"Luar biasa, kamarnya seluas ini. Rumahku saja lebih kecil dari pada kamar ini."Kata Natasya kagum.


"Seriusan!"kata Nowaki terkejut.


"Tapi, aku heran."Kata Natasya.


"Kenapa?"tanya Nowaki.


"Tuan muda yang terlahir dengan kondisi seperti ini, tidak mengetahui jati dirinya. Berarti orang itu sangat payah."Kata Natasya meledek Nowaki.


"Iya, aku memang payah."Kata Nowaki dengan kesal.


"Kalau begitu aku sudah memutuskan."Kata Natasya dengan senang.


"Memutuskan apa?"tanya Nowaki.


"Menjadi temannya orang payah ini."Kata Natasya.


"Bukankah katamu dari tadi kita sudah berteman?"tanya Nowaki.


"Oh, yang tadi hanya terpaksa."Kata Natasya dengan tertawa.


"Bahkan untuk berteman saja masih ada yang terpaksa."Kata Nowaki.


"Itu salahmu, menarik paksa aku kesini."Kata Natasya.


"Baiklah, aku mengerti. Aku minta maaf."Kata Nowaki.


"Baiklah, kalau begitu kita mulai tesnya."Kata Natasya.


"Baiklah, kita mulai dari apa?"tanya Nowaki.


"Menggambar."Kata Natasya.


Nowaki pun membawa semua peralatan untuk menggambarnya. Sementara itu, Natasya menyimpan tasnya dan duduk di sebuah kursi yang ada di kamar tersebut.


"Apa yang harus ku gambar?"tanya Nowaki.


"Terserah, gunakan imajinasimu."Kata Natasya.


"Tapi, aku hanya bisa menggambar jika ada suatu objek yang bisa dijadikan model."Kata Nowaki.


"Terserah, ya. Ouh, aku menemukan model yang tepat."Jawab Nowaki dengan tetapan jahatnya.


"Oh, tidak. Aku merasakan firasat buruk."Kata Natasya.


Sepuluh menit kemudian, Tanaka memasuki kamar tersebut. Dan melihat Nowaki sedang serius menggambar, baru pertama kali Tanaka melihat Nowaki sangat serius mengerjakan sesuatu.


"Tuan muda, ini dia pancake yang anda inginkan."Kata Tanaka.


"SABASTIAN!"teriak Nowaki dengan mata bersinar-sinar.


"Taruh saja pancakenya di meja."Kata Nowaki


"Nama saya Tanaka.Ngomong-ngomong kenapa anda duduk seperti itu Nona Natasya?"tanya Tanka.


"Orang payah itu ingin menggambarku."Kata Natasya.


"Orang payah, ada juga wanita yang berani memanggilnya seperti itu. Ini pertama kalinya ada orang yang memanggil tuan muda dengan kasar. Biasanya tuan muda akan marah, tapi kali ini dia tidak bereaksi. Apa mungkin wanita ini pacarnya?"Kata tanaka dalam hatinya dengan ekspresi muka yang keheranan.


"Ada apa Sabastian, melihatku dengan ekspresi seperti itu?"tanya Natasya.


"Nama saya Tanaka. Tidak ada apa-apa, Nona Natasya. Kalau begitu, saya permisi dulu."Kata Tanaka


"Ngomong-ngomong, berapa lama aku harus seperti ini?"tanya Natasya dengan kesal.


"Sampai aku selesai menggambar."jawab Nowaki.


"Kubunuh lama-lama tuan muda ini."Kata Natasya kesal dalam hatinya.


"Kalau ada sesuatu yang kamu inginkan, tinggal panggil tanaka."Kata Nowaki.


"Aku ingin pulang."Kata Natasya dengan ekspresi menyesal.


"Jangan menyesal seperti itu."Kata Nowaki.


Kalau dilihat-lihat, ekspresi Nowaki saat sedang serius menggambar terlihat cool. Belum lagi,sebagian wajahnya yang terpapar oleh sinar matahari menambah kesan memukau. Rambutnya yang terurai menutupi mata kanannya menambah kesan tampan pada muka Nowaki. Hal itu secara tidak sadar terpikir oleh Natasya.


"Woy-woy, apa-apaan yang sedang kupikirkan. Mana mungkin, aku suka pada orang itu? Kita kan baru bertemu tadi saat istirahat, dan belum terlalu kenal. Ini bukan suka, aku hanya sedikit kelelahan."Kata Natasya dalam hatinya yang sedang mengalami konflik batin.

__ADS_1


Disisi lain, Natasya terlihat sangat menggemaskan. Rambutnya yang terkepang dua, cara duduknya yang seperti itu menambah daya keimutannya. Belum lagi ekspresi nya saat ini yang sedang kesal menambah keimutannya 100%.Itulah yang sedang ada pada pikiran Nowaki.


"Tidak mungkin, aku suka padannya. Hilangkan pemikiran ini, mungkin memang benar, dia cantik dan imut. Tapi, sifatnya itu menjadi nilai minus padanya. Belum lagi dadanya itu, tidak bisa menjadi daya tarik."Kata Nowaki dalam hatinya yang sedang terjadi konflik batin.


"Intinya, ini bukan rasa suka. Melainkan rasa kesal."Kata mereka berdua secara serentak dalam hatinya.


"Akhirnya selesai."Kata Nowaki.


"Lama sekali, aku sudah pegal."Kata Natasya.


"Lihatlah!"kata Nowaki.


Saat Natasya melihatnya, Natasya sangat terkejut. Dia tidak bisa mengungkapkan antara perasaan kasian dan juga kesal akan hasil gambaran Nowaki.


"Bagaimana hasilnya?"tanya Nowaki.


"Kamu mau jawaban versi jujur atau jawaban versi lebay?"tanya Natasya.


"Versi lebaynya saja."Kata Nowaki.


"Gambar ini sangat luar biasa."Kata Natasya dengan mata yang bersinar-sinar.


"Benarkah?"tanya Nowaki penasaran.


"Hmmm, benar."Jawab Natasya mengangguk.


"Cocok sekali jika dipajang di tempat pembuangan sampah."Lanjut Natasya.


"Kejamnya."Kata Nowaki putus asa.


"Habisnya, anak tingkat TK saja bisa menggambar lebih baik dari pada ini."Kata Natasya.


"Nah, itulah yang membuatku payah."Kata Nowaki putus asa.


"Tapi, tenang. Mungkin menggambar bukanlah keahlianmu."Kata Natasya.


Natasya menguji beberapa kemampuan seni lainnya. Dimulai dari menyanyi yang hasilnya membuat Natasya marah, dilanjut dengan menari tetapi terlihat kaku dan sangat tidak indah. Memainkan alat musik sungguh mustahil, dari cara memegangnya saja sudah salah.Itulah yang dipikirkan oleh Natasya. Memahat, membuat bendanya hancur berkeping-keping. Situasi ini membuat ingin rasanya Natasya menyerah. Tetapi, dia yakin ada suatu kelebihan yang dimiliki oleh Nowaki. Hal tersebut membuat Natasya menyerah.


"Dari semua tes yang kita lakukan, aku mendapatkan kesimpulan."Kata Natasya.


"Apa itu?"tanya Nowaki.


"Kamu, 100% payah."Kata Natasya.


"Jadi, aku harus menyerah?"tanya Nowaki putus asa.


"Tidak. Untuk itu,kamu harus berusaha"Kata Natasya.


"Semua seni dapat dipelajari. Tapi ada dua tipe seni ,ada yang dalam kategori mudah dan susah. Jika tanpa bakat kusarankan mempelajari yang mudah."Jelas Natasya.


"Lalu, apa saja seni itu?"tanya Nowaki.


"Tipe susah itu ada 2, yaitu segala bentuk seni rupa. Seni rupa merupakan seni yang memerlukan bakat dari awal. Akan sangat sulit jika memulai dari awal diusiamu. Yang kedua adalah menyanyi, mungkin dengan latihan vokal dapat merubah suaramu. Memang kamu sedang dalam tahap puber, tetapi sudah sangat terlambat jika baru latihan vokal sekarang. Sementara itu, seni yang lainnya dapat dipelajari lebih mudah. Saya sarankan sih untuk mempelajari cara memainkan alat musik. Soalnya orang yang tidak berbakat saja bisa memainkannya asalkan dengan ketekunan."Jelas Natasya.


"Baiklah sudah kuputuskan."Kata Nowaki dengan percaya diri.


"Apa itu?"tanya Natasya sedikit heran.


"Aku ingin belajar bermain ukulele,untuk itu aku tunjuk kamu sebagai mentorku."Kata Nowaki.


"Oh begitu, ya. APA!!"teriak Natasya terkejut.


"Iya, kamu mentorku mulai dari detik ini."Kata Nowaki.


"Jangan suka mengambil keputusan seperti itu sendiri."Kata Natasya sedikit kesal.


"Ayolah bantu aku!"bujuk Nowaki.


"Bukannya aku tidak mau, aku sedikit sibuk."Kata Natasya.


"Jangan berbohong, bukannya kamu hanya fokus belajar."Kata Nowaki.


"Tapi ......."Kata Natasya belum selesai berbicara.


"Kumohon, ajari aku bermain ukulele."pinta Nowaki memegang kedua tangan Natasya.


"Baiklah."Kata Natasya.


"Seriusan?"tanya Nowaki.


"Akan ku ajarkan, tapi kamu harus menemukan definisi seni menurutmu sendiri."Kata Natasya.

__ADS_1


"Baiklah aku akan berusaha."Kata Nowaki.


__ADS_2