Art Of Uniting Heart

Art Of Uniting Heart
A Word Song : First View


__ADS_3

"Dulu, aku pernah berpikir bahwa cinta pertama tidak akan pernah bertahan lama."Kata Akila.


"Namun semua perasaan itu pudar ketika aku mengetahui tentang semua hal dari orang itu."Kata Akila dalam hatinya.


Hari itu merupakan hari yang sangat melelahkan untuk Akila. Dihari dia mendapat banyak sekali tantangan. Dalam seharian itu, semua mata pelajaran yang dipelajari memberikan soal ulangan. Hal tersebut merupakan sesuatu yang berat yang harus dilakukan Akila sebagai gadis SMP. Belum lagi, dia tidak bisa pulang cepat karena mengikuti ekskul matematika. Seluruh sel otaknya terbakar hari ini untuk berpikir.


Awalnya, Akila berpikir semua itu akan melelahkan. Tetapi, saat sampai di tempat ternyata guru pembimbingnya berhalangan hadir dan ditugaskan untuk membahas soal yang waktu itu. Namun karena Akila minggu itu tidak mengikuti kegiatan ekskul, dia tidak mengetahui apapun tentang soal dan juga anggota baru dari ekskul mereka.


"Emh, dia siapa?"tanya Akila.


"Oh, salam kenal namaku Askal."Kata Askal memperkenakan diri.


"Salam kenal, aku Akila ketua dari ekskul ini."Kata Akila.


Askal mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Akila. Awalnya, Akila berpikir aneh saat berjabatan dengannya. Namun, saat berjabatan Akila merasakan kehangatan tangan dari Aksal dan saat melihat wajahnya,mereka saling bertatapan.


"Ehm, Aksal. Jangan terlalu lama berjabatan, nanti ku beritahu Arumi, loh."Kata Puput.


"Jangan Put!"kata Aksal.


"Tumben, Akila mau bersalaman dengan lelaki."Kata Herdi.


"Ya, diakan anggota baru. Sebagai ketua yang baik hati,aku harus memperlihatkan sopan santunku."Kata Akila.


"Suka bullshit."Kata Herdi.


Akila semakin termakan emosi akibat gurauan Herdi. Diapun mulai berjalan kearah Herdi duduk dan mencekiknya dengan keras.


"Kau selalu saja jahat.Kata Herdi.


Salah dirimu."Kata Akila.


"Sudah-sudah, kita harus menyelesaikan ini dulu. Baru berdebat kembali."Kata Adit.


"Baiklah-baiklah, kalau begitu kita bagi kelompok menjadi 2 orang saja supaya cepat."Kata Akila.


"Baiklah, kalau begitu aku dan Puput, Adit dan Diana, Akila dan Aksal."Kata Herdi.


"Baiklah, aku setuju-setuju aja."Kata Diana.


"Jika semuanya setuju, ayo kerjakan."Kata Akila.


Akila dan Aksal mendapat soal yang paling susah, karena tingkat kecakapan Akila dalam mengerjakan soal sangat tinggi. Namun, hal tersebut membuat Aksal sedikit kebingungan.


"Ada apa?"tanya Akila.


"Aku bingung saat bagian ini.Kata Aksal.


Oh, itu Cuma mengganti nilai x yang belum diketahui dengan menggunakan perbandingan awal. Dan selesaikan dengan mengeliminasinya. Kata Akila.


Oh, jadi seperti ini?"tanya Aksal.


"Iya."Jawab Akila.


"Bagaimana kamu mengetahuinya? Padahal inikan belum diajarkan dikelas 7?"tanya Aksal.


"Oh, aku sudah mempelajarinya."Kata Akila.


"Hei, Aksal. Sebenarnya, Akila tidak pantas berada di SMP, dia sudah mempelajari matematika tingkat perguruan tinggi.:Bisik Herdi kepada Aksal.

__ADS_1


"Ehm, berhenti bisik-bisk. Kerjakan soalnya."Kata Akila.


"Baiklah-baiklah."Kata Herdi.


Untuk sesaat, Aksal terkejut setelah mendengar hal yang sangat luar biasa itu dari Herdi. Tetapi ,yang membuatnya terkejut adalah saat Akila sedang mengerjakan soal tersebut ekspresi seriusnya dapat melelehkan hati seseorang yang melihatnya. Tak butuh waktu yang lama, semuanya telah mengerjakan soal tersebut. Biasanya sebelum waktu ekskul selesai,mereka selalu melakukan teka-teki yang sangat gila.


"Kalau begitu, coba tebak teka-teki dariku.6 huruf, huruf ketiganya m. Sapi dan kambing biasannya makan ...."Kata Herdi.


"Rumput."Jawab Aksal.


"Jawaban dari teka-tekinya biasannya gak logis."Kata Puput.


"Sudah pasti salah."Kata Herdi.


"Nambah."Jawab Akila.


"Eh, kok bisa benar begitu."Kata Herdi heran.


"Apanya teka-teki hebat, aku melihatnya di acara TV kemarin."Kata Akila.


"Emh, dasar.Kata Herdi.


Ada lagi?"tanya Aksal.


"Kenapa malah minta?"tanya Adit dengan kesal.


"Jangan begitu Dit, ini cukup menyenangkan."Kata Diana.


"Aku sih tidak punya lagi."Kata Herdi.


"Aku adanya tes psikologi."Kata Akila.


"Di rumahmu, terdapat sebuah pohon apel yang di bawahnya tertanam beberapa ranjau. Bagaimana caramu untuk mendapatkan apel?"kata Akila.


"Dengan tangga."Jawab Aksal.


"Apa kau hidup dizaman purba?"ledek Akila.


"Melemparinya dengan batu."Kata Puput.


"Ini dia si manusia gua."ledek Akila.


"Emh ambil secara langsung."Kata Diana.


"Ingin mati?"tanya Akila.


"Menyuruh orang."Jawab Adit.


"Memangnya ada yang mau?"tanya Akila.


"Gak juga sih."Jawab Adit.


"Apa jawabannya?"tanya Herdi.


"Cie nyerah."Ledek Akila.


"Jawab aja, jangan ngajak ribut!"Kata Herdi.


"Baiklah, jawabannya simpel. Cukup beli online aja buat dapat apel, gak perlu sampe mempertaruhkan nyawa kayak jawaban kalian."Kata Akila.

__ADS_1


Semua yang ada disana melihat Akila dengan keji, mereka sangat kesal atas pembodohan yang dilakukan oleh Akila.


"Hei-hei, kenapa kalian marah begitu?"tanya Akila.


"Kita tidak marah, hanya kesal."Kata Puput.


"Kenapa kesal? Apa yang kulakukan pada kalian?"tanya Akila.


"Mungkin, mereka marah karena jawabanmu."Kata Aksal.


"Kenapa jawabanku?"tanya Akila.


"Gak masuk akal, tes psikologi yang gak berguna. Sebenarnya apa sih yang di tes?"tanya Herdi.


"Yang dites Cuma seberapa kuno pikiran kalian."Kata Akila.


"Sudahlah, kita tutup saja ekskul hari ini. Kita pulang."Kata Adit.


"Baiklah."Kata Akila.


Selama perjalanan pulang, Akila memikirkan apa yang membuat teman-temannya marah akan jawabannya. Padahal, dia berpikir bahwa teorinya sangat logis dengan memberikan jawaban itu.


Keesokan harinya, Akila terkejut saat dia berjalan menuju kelasnya dia bertemu dengan Aksal yang berada di samping kelasnya.


"Kenapa kamu disini?"tanya Akila


"Oh, aku berada di kelas ini."Kata Aksal menunjuk kelas yang berada di samping kelas Akila.


"Oh, aku ke kelasku dulu."Kata Akila.


"Baiklah."Kata Aksal.


Siangnya saat Akila keluar kelasnya, ternyata ada Aksal yang sedang duduk di sebuah anak tangga yang menjadi perbatasan antara kelas Akila dan kelas Aksal.


"Oh, hei Akila."Sapa Aksal.


"Hai."Sapa Akila.


"Tidak ke kantin?"tanya Aksal.


"Tidak, biasannya aku jarang ke kantin."Kata Akila.


"Emh, kalau begitu mau mencoba bekal buatanku?"tawar Aksal.


"Boleh saja."Kata Akila.


Akila pun duduk disamping Aksal dan menikmati bekal buatan Aksal. Dan makanan yang dibuat Aksal sedikit gosong, karena pagi ini Aksal terburu-buru untuk datang ke sekolah.


"Bagaimana?"tanya Aksal.


"Lumayan."Kata Akila


"Syukurlah."Kata Aksal.


Lumayan sih rasanya tapi sedikit gosong.Kata Akila dalam hatinya.


Mulai dari hari itu, Akila dan Aksal mulai dekat. Setiap jam istirahat, Akila selalu mampir ke kelas Aksal untuk menghabiskan istirahat bersama. Terkadang, Akila sering membantu Aksal belajar matematika ketika menemukan soal yang sulit. Namun, Akila masing menjaga jarak dengan Aksal. Karena Aksal sudah berpacaran dengan seseorang dari kelas sebelahnya Akila. Seorang wanita yang katanya adalah rival Akila dalam pelajaran matematika.


Satu semester telah berakhir, hubungan antara Akila dan Aksal semakin dekat, hal tersebut berbanding terbalik dengan hubungan Aksal dan Arumi. Hingga, suatu hari mereka dirumorkan telah putus. Kata Aksal, Arumi sudah mulai cuek dan bersikap kasar pada Aksal. Mulai dari cara bicara bahkan sampai tingkah laku Arumi kepada Aksal sudah tidak menyenangkan, hal tersebut yang menyebabkan hubungan mereka berakhir.

__ADS_1


__ADS_2