Art Of Uniting Heart

Art Of Uniting Heart
Melody Beats : First Boyfriend Not First Love


__ADS_3

Keesokan harinya, Liliana memanggil Liam saat istirahat untuk makan bersama di kantin. Liam bertanya-tanya mengepa dirinya diajak untuk makan bersama.Padahal, Liliana jarang sekali keluar dari kelasnya.


"Ada apa?"tanya Liam.


"Bisa temani aku nanti pulang?"tanya Liliana.


"Kencan?"tanya Liam bercanda.


"Ya sudahlah kalau tidak mau."Kata Liliana.


"Bercanda-bercanda. Mau kemana memangnya?"Tanya Liam.


"Membeli piano."Kata Liliana.


"Hah, kenapa tiba-tiba?"tanya Liam dengan terkejut.


"Aku ingin bisa bermain piano."Kata Liliana.


"Kalau soal harganya?"tanya Liam.


"Oh, tenang saja. Beberapa hari yang lalu, ibu baru saja memberiku uang bulananku. Dan jika kurang, aku bisa pakai tabungan."Kata Liliana.


"Berapa uang bulananmu?"tanya Liam.


"Aku tidak menghitungnya, mungkin diatas Rp.20.000.000,00."Kata Liliana.


"Hah, anak sekolah mana yang diberi uang seperti itu. Kalau tabunganmu ada berapa?"tanya Liam.


"Aku punya 4 tabungan, dan kalau tidak salah isi dari semuanya mencapai Rp.100.000.000,00."Kata Liliana.


"Bukan hanya piano yang bisa kamu beli, kamu bisa membeli apapun dengan uang sebanyak itu."Kata Liam.


"Aku tahu itu, tetapi aku ingin meminimalisir penggunaan uang yang diberikan oleh orang tuaku."Kata Liliana.


"Anak orang kaya beda lah."Kata Liam menyindir Liliana.


"Gak jadi nemeninnya?"tanya Liliana.


"Bercanda, tentu saja jadi."Kata Liam.


"Pulang sekolah ditunggu di gerbang."Kata Liliana.


Sepulang sekolah, Liam langsung mengantar Liliana ke toko peralatan musik. Tempat yang mereka tuju langsung merupakan toko musik besar yang ada dipusat kota. Saat sampai, banyak sekali alat-alat musik yang bagus. Tetapi, mata Liliana terpaku pada salah satu piano yang beada ditengah-tengan alat-alat musik lainnya. Liliana sangat tertarik pada piano tersebut dan menarik Liam kedekat piano tersebut.


"Kamu tertarik pada piano ini?"tanya Liam.


"Ya, tanyakan harganya!"suruh Liliana.


"Tapi kan, ini merek terbaru pasti sangat mahal. Meskipun kamu dapat membelinya, tetapi lebih bagus membeli yang lain saja."Kata Liam.


"Sudahlah, tanyakan saja."Kata Liliana.


"Mas, bisa kemari sebentar!"teriak Liam memanggil salah satu pegawai toko tersebut.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?"tanya Pegawai tersebut.


"Berapa harga piano ini?"tanya Liliana.


"Ini model terbaru di toko kami. Harganya Rp.35.000.000,00."Kata pegawai tersebut.


"Eh buset, uang segitu bisa dipakai makan sampai berbulan-bulan."Kata Liam.


"Baiklah, kalau begitu tunggu dulu mas. Kami akan segera kembali."Kata Liliana.


"Baiklah."Kata pegawai tersebut.


Liliana menarik Liam keluar toko tersebut. Dia menariknya untuk mencari lokasi ATM terdekat agar bisa menarik uang.


"Kenapa kita kesini? Kukira kamu sudah menyerah."Kata Liam.


"Tidak mungkin, aku ingin piano tersebut."Kata Liliana.


Liliana dan Liam pun kembali, saat dia memberikan uang pada pegawai tersebut, pegawai tersebut sempat tidak percaya apa yang dia lihat. Saking herannya, dia memeriksa uang tersebut takut palsu.


"Itu tidak palsu, dia memang kaya."Kata Liam.


"Aku sudah membelinya, mana tanda jadinya?"tanya Liliana.


"Baiklah, akan saya akan segera kembali."Kata pegawai tersebut.


Setelah melakukan tanda jadi, piano tersebut sepenuhnya milik Liliana. Tetapi, ada yang membuatnya heran. Dia berpikir bagaimana cara membawa piano seberat itu ke rumahnya. Liliana sempat bengong tentang hal tersebut.


"Ada apa bengong?"tanya Liam menepak pundaknya.


"Bagaimana caraku membawa piano tersebut?"tanya Liliana.


"Kamu bisa menyuruh kurir antar."Kata Liam.

__ADS_1


"Dimana?"tanya Liliana.


"Panggil saja mas yang tadi."Kata Liam


"Mas yang tadi,bisa kesini sebentar!"teriak Liliana.


"Ada apa lagi?"tanya pegawai tadi.


"Apakah disini ada kurir antar, aku ingin piano ini diantar ke rumah saya."Kata Liliana.


"Rumah anda di daerah mana?"tanya pegawai tersebut.


"Di daerah Tall Dream."Kata Liliana.


"Jauh sekali, biaya pengirimannya pasti cukup mahal.Kata pegawai tersebut.


Berapa, Rp.1.000.000,00 atau Rp.2.000.000,00?"tanya Liliana.


"Sudah kubilang dia anak orang kaya."Kata Liam.


"Baiklah, kalau begitu kami panggilkan salah satu kurir kami dan anda bisa pulang terlebih dahulu."Kata pegawai tersebut.


Setelah pianonya sampai, Liliana sangat senang. Sampai membuatnya melompat-lompat kegirangan. Liam sangat heran melihat Liliana yang kegirangan tersebut. Dia hanya bisa tersenyum melihat sisi lain dari Liliana yang belum pernah dia lihat.


Dengan percaya dirinya, Liliana memainkan piano tersebut dengan asal-asalan, dia pikir bahwa piano yang bagus dapat memberikan suara yang bagus. Tetapi, jika dimainkan asal-asalan tentu saja tidak dapat menghasilkan suara yang indah.


"Kok bisa, suaranya tidak indah?"tanya Liliana dengan heran.


"Kok malah bertanya, sebelum memainkannya kamu harus mempelajarinya terlebih dahulu."Kata Liam.


"Harus dipelajari, ya."Kata Liliana.


"Ya harus."Kata Liam.


"Kalua begitu, aku tunjuk kamu sebagai pembimbingku."Kata Liliana.


"Oh, APA!"teriak Liam.


"Kamu harus."Kata Liliana.


Mulai dari hari itu, Liam mengajari Liliana untuk bisa bermain piano. Liam sedikit terpukau oleh kemampuan Liliana yang dapat mempelajarai bermain piano dengan cepat. Waktu tidak begitu terasa,hingga mereka tidak sadar bahwa beberapa minggu lagi mereka akan lulus dari sekolah tersebut.


Tatapi, masalahnya datang dari dalam keluarga Liliana sendiri. Ibu dan ayahnya bertengkar sangat hebat, yang membuat kehidupan Liliana yang mulai membaik kembali memburuk kembali. Hingga satu minggu sebelum kelulusan Liliana,orang tuanya bercerai. Liliana dan ibunya harus meninggalkan tempat tersebut, sedikit jauh dari Liam.


Kenapa ini harus terjadi padaku.Kata Liliana dalam hatinya yang penuh luka itu.


"Liliana, selamat atas kelulusanmu!"teriak Liam kegirangan.


"Kenapa histeris begitu, bukannya kita juga satu SMA."Kata Liliana.


"Tidak apa, semoga kita satu kelas."Kata Liam.


"Emmm."Kata Liliana mengangguk.


Liliana pulang dengan perasaa biasa saja, meskipun dia menjadi juara umum diseklahnya tidak ada yang bisa dia banggakan. Tidak memiliki perasaan, selalu mendapat masalah, tidak mendapat cinta dari orang tua membuatnya tidak ingin bergaul ketika SMA. Ditengah dia sedang memikirkan hal tersebut, dering handphonenya berbunyi. Ibunya mengirimkan Liliana pesan Selamat atas kelulusanmu,maaf ibu tidak bisa hadir.Liliana sangat kesal setelah menerima pesan tersebut.


Mengapa kau mengirimkan pesan itu?tanya Liliana dengan kesal melempar Handphonenya ke kasurnya.


Liburan akhir tahun pun tiba, Liliana sama sekali tidak keluar dari rumahnya. Dia sibuk setiap hari dengan memainkan pianonya. Sudah beberapa kali, Liam mengirimnya pesan untuk mengajak Liliana liburan. Tetapi, Liliana menolak semua ajakan tersebut. Dia lebih ingin menghabiskan waktunya untuk bermain piano.


Dari hari ke hari, hanya pemandangan yang sama yang dia lihat. Semakin hari, semakin dia bosan dengan kehidupannya itu. Sampai membuatnya berpikir untuk apa manusia harus hidup?. Dan beberapa kali,dia mencoba untuk memainkan pianonya, hanya melodi yang sama yang ia dengarkan. Dia ingin menciptakan lagunya sendiri. Tetapi, sebelum dia berniat menciptakannya, dia masih bertanya-tanya tentang syarat melodi dapat terdengar indah.


Liburan akhir tahun pun hampir berakhir, beberapa hari lagi Liliana akan masuk ke SMA Internasional Hope. Liliana pun segera menyiapkan peralatan sekolahnya. Tetapi, selama itu Liliana masih belum bisa mengetahus syarat sebuah melodi dapat terdengar indah. Hal itu membuatnya sedikit frustasi dan ingin menghancurkan sesuatu.


Hari pertama sekolah, Liliana sangat bingung karena semua siswa baru berkumpul di depan mading. Mereka berkumpul disana untuk melihat kelas mereka masing-masing. Liliana sedikit kesal karena antriannya sangat panjang,tetapi detengah keramaian itu terdengar suara teriakan dari seseorang yang Liliana kenal.


"Liliana, kita satu kelas!"teriak Liam.


"Baguslah, aku jadi tidak perlu ikut dalam kerumunan tersebut".Kata Liliana.


Setelah keluar dari kerumunan tersebut, Liam menarik lengan Liliana untuk pergi ke kelas mereka. Mereka sengaja datang dengan cepat untuk mendapatkan tempat duduk masing-masing.


"Beruntung sekali, kita dapat satu kelas."Kata Liam.


"Emmm.Kata Liliana mengangguk.


Hey Liam, menurutmu apa yang membuat melodi dapat terdengar indah?"Tanya Liliana.


"Emmm, yah menurutku perasaan orang yang memainkannya yang membuatnya terdengar indah."Jawab Liam tersenyum.


"Perasaan, ya.Kata Liliana.


Ada apa?"tanya Liam penasaran.


"Bukan apa-apa. Aku hanya ingin menciptakan melodiku sendiri."Kata Liliana.


"Baguslah, kalau begitu aku ingin menjadi orang pertama yang mendengarnya."Kata Liam bersemangat.

__ADS_1


"Tentu saja. Siapa lagi yang akan mendengarkannya jika bukan dirimu."Kata Liliana.


Entah kenapa, mendengar hal tersebut detak jantung Liam semakin kencang. Wajahnya mulai memerah dan dia mulai grogi dan juga berkeringat membuat Liliana heran melihat hal tersebut.


"Ada apa?"tanya Liliana.


"Bukan apa-apa."Jawab Liam dengan grogi.


"Sadarlah Liam, jangan seperti ini.Liliana tidak memiliki perasaan padaku."Kata Liam dalam hatinya.


Hari demi hari Liliana semakin bingung untuk membuat melodinya sendiri. Kian hari ,dia semakin pusing sampai dia berpikir mungkin seharusnya dia mempunyai seorang pacar. Tetapi, dia tidak menyukai siapapun.


Seminggu kemudian, liam mengajak Liliana untuk bermain basket. Tujuannya sih, ada salah satu temannya dalam club basket ingin dikenalkan dengan Liliana. Hal tersebut dilakukan oleh Liam agar Liliana dapat lebih bersosialisasi dengan orang lain.


"Seperti biasa, selalu keren ketika bermain basket."Puji Liam.


"Tidak perlu heran.Kata Liliana.


Eh, kenalkan ini teman satu club denganku."Kata Liam mengenalkan temannya.


"Hai, namaku Alexander. Panggil saja Alex."Kata Alexander memperkenalkan dirinya.


"Hai juga, namaku Liliana."Kata Liliana.


"Emmm, bagaimana ya aku ingin bilang sesuatu padamu."Kata Alexander.


"Bicara saja, aku bukan psikopat."Kata Liliana.


"Emh, aku suka padamu. Bisakah kita pacaran?"kata Alexander.


"Apa-apaan itu? Baru saja kau berkenalan pasti ditolak, lagian Liliana tidak akan pernah mau berpacaran."Kata Liam terkejut dalam hatinya.


"Baiklah."Kata Liliana.


Mendengar hal tersebut, Liam langsung membisu. Tidak disangkannya bahwa Liliana akan menerima seseorang yang baru dia kenal. Liam hanya termenung tanpa bisa berkata-kata, selama ini dia menjaga agar tidak mau Liliana tahu perasaannya karena Liliana tidak pernah membuka hatinya pada siapapun. Tetapi, setelah kejadian ini dia tersadar akan sesuatu.


"Aku disini akan menjadi nyamuk, kalian berduan saja."Kata Liam pergi meninggalkan mereka dengan perasaan kesal.


"Eh, aku ikut ke kelas!"teriak Liliana.


"Kamu disini aja Lilian, bicaralah dengan Alex. Diakan pacarmu."Kata Liam.


"Baiklah."Kata Liliana.


Liliana pun diam disana bersama dengan Alexander. Disana Liliana mengobrol segudang hal yang tidak berguna dengan Alexander. Liliana menerima tawaran untuk berpacaran dengan Alexander, karena dia harus menemukan suatu perasaan untuk dapat membuat melodinya sendiri.


Pulang sekolahnya, Liliana mengajak Liam untuk menemaninya bermain piano. Awalnya Liam menolak, akan tetapi karena Liliana tidak mau mengajak orang lain, akhirnya menirima ajakan Liliana. Saat sampai digerbang, ternyata Alexander sedang menunggu Liliana agar dapat pulang bersama.


"Hei, Liliana.Pulang bareng yuk!"ajak Alexander.


"Tapi, aku akan ......."Kata Liliana belum selesai berbicara Liam memotongnya.


"Pergi saja, aku bisa lain kali."Kata Liam.


"Baiklah, maaf."Kata Liliana.


"Jangan minta maaf, seperti baru kenal aku kemarin saja."Kata Liam.


Liliana pun pulang bersama dengan Alexander menaiki motor Alexander. Alexander menyuruhnya untuk berpegangan, tetapi Liliana menolaknya. Perjalanannya cukup jauh, karena rumah Liliana sudah pindah ke Heaven Town.


Hari demi hari, Alexander mulai mengajak Liliana untuk pergi keluar kelas. Bermain basket, bermain volly, sampai tidur-tiduran diatas gedung sekolah untuk melihat awan. Liliana mulai merasakan seseuatu yang berbeda, dia pun mulai membuka hatinya untuk Alexander. Tetapi,ditengah itu Liliana menjadi jarang bersama dengan Liam dan itu membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda. Dia merasa sesuatu hilang dari hatinya dan membuatnya merasa sedikit kesepian.


Sepulang sekolah Alexander juga mulai sering mengajak Liliana untuk pulang bersama, hingga mengajaknya ke berbagai tempat untuk berduan. Lama kelamaan Liliana mulai nyaman berada di dekat Alexander dan mungkin dia dapat menjalin hubungan ini dengan sepenuh hati. Hingga 2 bulan berlalu, Alexaner mengajaknya ke taman bermain yang ada di luar kota.


"Untuk apa kita kemari?"tanya Liliana.


"Ya, untuk berduan."Jawab Alexander.


"Oh begitu ya, aku pulang saja."Kata Liliana.


"Jangan begitu, aku hanya bercanda."Kata Alexander.


"Kamu ingat 2 bulan yang lalu pada tanggal ini, aku menyatakan perasaanku padamu."Sambungnya.


"Ingat, jadi ini untuk perayaan?"tanya Liliana.


"Emh seperti itulah, saat itu kamu sangat cuek padaku. Kita punya segudang hal tidak berguna untuk dibicarakan. Tetapi sekarang, kamu sudah mulai terbuka kepadaku."Kata Alexander.


"Lagi pula ini menyenankan."Kata Liliana tersenyum.


Mereka pun bersenang-senang di dalam taman bermain tersebut hingga malam hari. Keesokan harinya, saat Liliana berangkat sekolah menuju kelasnya, dia melihat Alexander sedang berbicara dengan temannya. Saat Liliana mendekatinya untuk menyapanya, dia sangat terkejut apa yang dia dengar.


"Hei, Alex bukankah kau sudah berpacaran dengan Tina."Kata Toni.


"Memangnya ada apa?"tanya Alexander.


"Tetapi, aku dengar kau berpacaran dengan Liliana anak kutu buku itu."Kata Toni.

__ADS_1


"Oh, itu hanya cewe cadanganku. Ku kira dia orang yang susah didekati, tetapi ternyata gampangan."Kata Alexander.


__ADS_2