Art Of Uniting Heart

Art Of Uniting Heart
Color Stroke : Mentor And His Rule


__ADS_3

Keesokan harinya ,saat Atatakai selesai mandi untuk berangkat ke sekolah. Dia turun ke bawah dan melihat bahwa Suzuki telah menyiapkan makanan untuk Atatakai.


"Oh, cepat sekali menyaipakan makanannya. Padahal hari ini bukan hari upacara, jadi tidak perlu terlalu buru-buru."Kata Atatakai.


"Tuan Ata, anda harus datang pagi."Kata Suzuki.


"Sudah ku bilang jangan sebut aku tuan."Kata Atatakai.


"Ini bukan kehidupan sekolah, jadi saya harus memanggil anda dengan sebutan yang pantas."Kata Suzuki.


"Terserahlah, lagi pula kenapa aku harus buru-buru?"tanya Atatakai memakan sarapannya.


"Oh bukankah anda harus bertemu dengan Amira?"tanya Suzuki.


"Buat apa aku bertemu dengannya?"tanya Atataka dengan muka yang mulai memerah.


"Lalu, buat apa anda latihan meminta maaf di kamar mandi dan juga saat kemarin malam sebelum anda tidur."Kata Suzuki.


"Berhenti memata-mataiku!"teriak Atatakai dengan pipi yang memerah.


"Ini pertama kalinya anda bersikap tidak menyebalkan, apa terjadi sesuatu?"tanya Suzuki penasaran.


"Tidak ada."Kata Atatakai.


"Sepertinya anda harus memperbaiki cara anda berbohong!"saran Suzuki.


"Ah sudahlah...., aku melakukan ini karena merasa tidak enak padanya. Baru kali ini ada orang yang mendukung hal yang kusukai, jadi aku harus meminta maaf karena kesalahanku yang kemarin!"teriak Atatakai.


"Oh, saya paham."Kata Suzuki.


"Paham apa? Jangan berpikir yang aneh-aneh."Kata Atatakai.


"Tidak apa-apa, itu normal."Kata Suzuki dengan tersenyum.


"Sudah kuduga kau berpikir yang aneh-aneh."Kata Atatakai cemberut.


Mereka berdua pun berangkat ke sekolah sedikit lebih pagi agar tidak diketahui oleh banyak siswa. Suzuki mengantar Atatakai ke kelas Amira agar Atatakai dapat meminta maaf. Setelah sampai di kelas Amira, Atatakai mulai gugup dan grogi.


"Ayo tuan, kita sudah sampai di depan kelasnya."Kata Suzuki.


Saat mereka hendak membuka pintu kelas tersebut, tiba-tiba seseorang keluar dari kelas tersebut. Orang tersebut adalah Amira, dia sangat terkejut melihat kedatangan Atatakai dan juga Suzuki.


"Ada apa kalian kemari pagi-pagi buta?"tanya Amira.


"Oh, Tuan Ata ingin mengatakan sesuatu."Kata Suzuki.


"Tuan? Oh, jadi Suzuki adalah pembantunya, pantas dia tahan pada sifat sombong Atatakai."Kata Amira dalam hatinya.


"Sudah kubilang, jangan panggil aku tuan di luar maupun di dalam rumah, aku tidak suka itu."Kata Atataki memukul Suzuki.


"Oh, jadi tuan sombong mempunyai sisi baik juga."Kata Amira dalam hatinya.


"Amira, aku minta maaf atas kejadian kemarin."Kata Atatakai dengan gugup dan grogi.


Amira pun melihat wajah Atatakai dan mulai mengulurkan tangannya untuk mengajaknya bersalaman. Wajah Atatakai mulai memerah, suhu panas tubuhnya mulai naik dan bergejolak.


"Ayo salaman, sebagai permohonan maaf."Kata Amira.


Atatakai semakin gugup dan grogi, tubuhnya mulai tidak bisa dikendalikan. Akhirnya, dia memutuskan untuk berlari karena rasa malunya yang sudah tidak tertahan.


"Tuan Ata!"teriak Suzuki yang hendak menyusulnya.


"Suzuki, tunggu dulu. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu."Kata Amira.

__ADS_1


"Aku sudah mendugannya, kalau begitu aku jawab saja. Pertama,aku adalah pembantu Tuan Ata, mereka mengankatku jadi pembantu keluarganya. Tetapi, Tuan Ata malah menganggapku sebagai sahabatnya dia tidak mau dipanggil tuan. Kedua, pasti terjadi sesuatu kemarin diantara kalian berdua kemarin sehingga Tuan Ata bersikap seperti itu. Dan ketiga, Baru pertama kalinya Tuan Ata mau meminta maaf pada seseorang, sebulumnya belum pernah ada satu pun kejadian seperti ini. Untuk itu saya harap kamu dapat berteman dengannya, memang menyusahkan sih."Jelas Suzuki.


"Oh, jadi begitu. Kalau begitu terima kasih, aku akan berusaha jadi temannya."Kata Amira tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu aku kembali ke kelas terlebih dahulu."Kata Suzuki.


Setelah pulang sekolah, Amira pergi ke tempat clubnya untuk melakukan berbagai kegiatan berguna yang dapat mengisi waktu. Dan ya, dia harus membimbing Atatakai dalam menangani hal seni rupa.


"Aku datang, bagi yang mau makan ku beri waktu dua puluh menit untuk istirahat."Kata Amira datang memasuki ruangan club.


"Baik."Jawab semua anggota club.


"Baiklah, Ata kemari. Tidak ada istirahat untukmu, karena kamu memilihku sebagai pembimbing kita langsung mulai saja."Kata Amira.


"Gawat sudah kubilang bertemanlah."Kata Suzuki cemas dalam hatinya.


"Emh, bukankah itu tidak adil, dimana sifat perikemanusianmu."Kata Atatakai.


"Oh begitukah, haruskah aku memanjakanmu. Jujur aku bukan emakmu."Kata Amira.


"Setidaknya beri aku waktu untuk istirahat, sebagai ketua yang adil."Kata Atatakai.


"Sebagai ketua yang baik hati, aku ingin kau segera hebat dalam hal seni rupa, jadi hal ini memang harus dilakukan."Kata Amira.


"Sepertinya aku harus istirahat, dari pada melihat perang dunia kesepuluh ini."Kata Suzuki pasrah dalam hatinya keluar dari ruangan.


"Emh, terima kasih atas kebaikanmu. Tetapi makan dan minum adalah hal dasar."Kata Atatakai.


"Tidak makan dan minum beberapa jam tidak akan membuat mati kok, jadi jangan khawatir."Kata Amira tersenyum.


"Jika tidak makan, tenagaku sangat sedikit. Jadi, tidak bisa maksimal.:Kata Atatakai.


"Tenaga maksimal belum perlu untuk seorang pemula, lagi pula hasilmu belum tentu bagus."Kata Amira memancing Atatakai.


"Berhasil, dia terpancing."Kata Amira senang dalam hatinya.


"Kalau begitu, ayo buktikan."Kata Amira berjalan ke mejanya untuk mengambil buku sketsanya.


"Baiklah, akan ku buat kamu menarik kata-katamu tadi."Kata Atatakai membawa buku sketsanya.


Amira dan Atatakai pun mulai duduk berhadapan untuk menggambar sebuah sketsa.


"Jadi, hal apa yang pertama harus kita buat?"tanya Atatakai.


"Menggambar sketsa, junior."Kata Amira.


"Junior, dia mengejeku."Kata Atatakai kesal dalam hatinya.


"Sketsa apa yang ingin kamu gambar?"tanya Amira.


"Manusia."Kata Atatakai.


"Oh, kalau begitu perhatikan aku akan menggambarmu. pertama gunakan pensil ini untuk membuat sketsa wajah gunakan dengan halus. Kemudian pensil ini untuk menggambar alisnya, dan kamu harus menggerakannya dengan lembut dan bisa dilakukan dengan cepat. Dan selanjutnya, untuk membuat bibirnya tekan sedikit saja. Matanya harus menggunakan pensil ini dan tekan saat di ujung. Kemudian, untuk tubuhnya gunakan pensil ini dan sedikit lebih halus dalam menggambarnya. Untuk finishingnya, gunakan pensil ini untuk mempertebal hasil sketsa."Jelas Amira.


Dalam tiga puluh menit dapat selesai menggambar Atatakai yang sedang duduk tersebut dengan sempurna. Melihat hal itu, Atatakai sangat terkejut. Semangatnya mulai terbangun dan dalam hatinya dia ingin sekali bisa melebihi Amira seketika itu.


"Baiklah, giliranmu carilah model!"suruh Amira.


"Aku sudah menemukannya."Kata Atatakai tersenyum licik.


"Oh, oke coba kerjakan!"suruh Amira.


Atatakai mulai menggambar dengan penuh semangat, mengikuti arahan yang sudah diajarkan oleh Amira. Semangatnya untuk mengalahkan Amira yang sangat tidak wajar telah membuka potensi dirinya yang tersembunyi. Tetapi, karena dia baru pertama kali melakukannya Atatakai berhasil menyelesaikan sketsanya dalam waktu enam puluh menit pas.

__ADS_1


"Oh, gambarmu cukup bagus. Aku tarik kembali kata-kataku tadi, kamu memiliki bakat. Tetapi ada beberapa bagian yang kurang pas. Dan lagi ini sketsa diriku."Kata Amira heran.


"Oh, bagus. Padahal baru pertama kali aku menggambar seperti itu."Kata Atatakai menyombongkan dirinya.


"Tetapi, apa-apaan dengan bagian ini."Kata Amira dengan kesal.


"Apa maksudmu?"tanya Atatakai heran.


"Aku tidaklah seperti ini, masih dalam masa pertumbuhan."Kata Amira semakin kesal.


"HAH, apa aku harus melebihkannya."Kata Atatakai.


"Bukan begitu, tapi sesuai kenyataanya saja."Kata Amira.


"Kenyataanya kan memang begitu, lagi pula aku tidak diajarkan."Kata Atatakai.


"Masih masa pertumbuhan. Apakah hal seperti ini harus diajarkan?"tanya Amira dengan kesal.


"Oke, aku minta maaf ternyata hal sepele ini menjadi masalah besar bagi wanita."Kata Atatakai.


"Ya jelas lah."Kata Amira.


"Jangan semarah itulah, lagi pula wanita tidak dilihat dari besarnya dada mereka. Mereka dilihat dari sisi keibuannya."Kata Atatakai.


"Mengatakanya sama dengan pelecehan seksua!"teriak Amira memukul Atatakai.


"Awww, sakit."Kata Atatakai.


"Hasilmu tidak jelek."Kata Amira dengan kesal.


Amira pergi meninggalkan Atatakai kembali mejanya. Disana dia mengambil bekal makannya dan sebotol minuman dan kembali ke tempat Atatakai.


"Kamu mau sandwich buatanku?"tawar Amira.


"Ku kira kamu marah."Kata Atatakai.


"Memang, tapi tidak baik membiarkan orang kelaparan. Kalau tidak mau ya tidak apa-apa."Kata Amira.


"Aku mau."Kata Atatakai mengambil sandwich.


Atatakai pun memakan sandwich tersebut, saat memakannya senasi enak yang dia belum pernah dia rasakan melumeri mulutnya. Rasa lembut dari rotinya dan kelezatan isinya membuat mulut yang memakannya ingin memakan lagi dan lagi.


"Bagaimana rasanya?"tanya Amira.


"Lumayan."Jawab Atatakai.


"Hmmm,syukurlah."Kata Amira meminum air.


"Mungkin aku tidak mungkin akan mengakuinya bahwa makanannya sangat lezat."Kata Atatakai dalam hatinya.


"Boleh aku minta airnya?"pinta Atatakai.


"Boleh, tapi ....."Kata Amira belum selesai berkata.


Atatakai meminum air mineral tersebut dengan mulutnya langsung. Amira sangat terkejut melihat hal tersebut, dia pun memukul Atatakai setelah meminum air tersebut.


"Apa-apaan memukulku!"teriak Atatakai.


"Kamu langsung mengenai ujung botol itu, itu sama halnya dengan ciuman tidak langsung. Pelecehan seksual."Kata Amira dengan kesal.


"Dari tadi kudengar pelecehan seksual mulu. Tenang saja, aku belum pernah berciuman dengan siapapun sebelumya, jadi mungkin tidak akan terkena TBC."Kata Atatakai.


"HAH, jadi maksudnya ciuman tidak langsung itu ciuman pertamanya."Kata Amira kesal dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2