
Semenjak Akila menyadari akan hal tersebut, dia mulai kehilangan konsentrasi dalam pelajarannya. Akibatnya,nilainnya mulai menurun. Teman-temannya mulai khawatir akan hal yang terjadi pada Akila. Mereka pun mulai mengajak Akila untuk menjadi guru pembimbing mereka untuk menghadapi ujian akhir. Mereka rela membayar demi hal tersebut, tetapi Akila menolak bayaran tersebut. Dia mau melakukannya jika tidak dibayar.
Nilai Akila pun terselamatkan saat ujian akhir, dia pun berniat untuk meneruskan sekolahnya ke SMA Internasional Hope. Pada saat pendaftaran, dia bertemu dengan Aksal. Akila sangat terkejut, dia akan sesekolah lagi dengan Aksal. Dalam hatinya, dia menganggap ini adalah takdir bahwa Akila dipertemukan dengan Aksal.
"Akila, kamu bersekolah disini!"teriak Aksal.
"Iya, kamu juga."Kata Akila.
"Iya, aku ingin bersekolah disini dari dulu. Terima kasih atas bimbingan yang kamu lakukan."Kata Aksal.
"Itu bukan apa-apa."Kata Akila malu yang membuat wajahnya mulai memerah.
"Akila."Kata seseorang menepuk pundak Akila dari belakang.
"Oh, Aden. Kamu bersekolah disini?"tanya Akila dengan terkejut.
"Iya."Jawab Aden.
"Emh, dia siapa?"tanya Aksal.
"Oh, perkenalkan ini Aden. Dia temanku dari keci, kami dulu bersekolah di SD yang sama."Jawab Akila.
"Perkenalkan, aku Aden.Kata Aden.
Aku Aksal."Kata Aksal.
Beberapa minggu kemudian, Akila mulai bersekolah di SMA tersebut. Jujur saja, dia sedikit kurang pandai bergaul di kelasnya. Sehingga, dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Aksal. Mereka mulai pulang bersama, makan bersama dan menhabiskan banyak waktu bersama. Hal tersebut membuat perasaan Akila tumbuh dan ingin sekali berlabuh dihati Aksal.
Dia mulai sering menunggu Aksal ketika pulang sekolah, menyaksikan Aksal saat bermain basket dan benyak hal yang ia lakukan. Ketika Aksal meminta bantuannya untuk membantunya menerjakan pekerjaan rumahnya, Akila selalu ada untuk membantunya.
Hingga, Aksal mulai sering memberi perhatian pada Akila. Awalnya Akila hanya berpikir bahwa itu hanyalah gurauan dari Aksal saja, Akan tetapi hari demi hari kedekatan antara mereka sudah terlihat bukan sebatas teman. Pernah sekali, Aksal mengajak Akila untuk pergi ke rumahnya. Akan tetapi, saat sampai disana Akila sangat malu sekali. Dia mengira, bahwa orang miskin tidak pantas untuk mengunjungi rumah tersebut.
"Ayo, masuk!"ajak Aksal.
"Kita di luar saja, tidak baik seorang wanita masuk ke rumah lelaki."Kata Akila.
"Baiklah."Kata Aksal.
"Emh, kenapa kamu berteman dengaku?"tanya Akila penasaran.
"Karena kamu baik dan kamu adalah orang pertama yang tidak berteman karena fisik dan juga status."Kata Aksal.
"Begitukah?"tanya Akila.
"Iya."Kata Aksal tersenyum.
__ADS_1
Hal tersebut, membuat Akila semakin yakin bahwa perasaan yang dia miliki memanglah cinta. Meskipun hubungan mereka belum mengalami perkembangan, tetapi dari luar mereka terlihat seperti pasangan serasi. Akila mulai sering diantar oleh Aksal pulang menaiki motornya. Hal tersebut membuat banyak wanita iri, karena selain terihat ganteng, Aksal juga termasuk orang yang kaya.
Selain dari mengantarkan pulang, Aksal juga sering mengajak Akila untuk bersinggah diberbagai tempat untuk mengahabiskan waktu bersama. Suatu hari, mereka berdua pergi ke sebuah taman untuk menyegarkan pikiran dan suasana mereka. Namun, sesampai disana mereka terlihat seperti seorang anak TK. Mereka berdua membeli eskrim dan saling berperang mengotori wajah masing-masing. Tetapi, hal tersebut sangat menyenangkan untuk dilakukan. Dalam hatinya, Akila masih bermimpi jika dia dapat berteman dengan seseorang seperti Askal.
Mereka menghabiskan waktu di taman tersebut sampai hari sudah tertelan malam. Susananya lebih indah ketika malam hari. Kegelapan yang menyelimuti mereka di taman itu sirna oleh sinar rembulan. Bahkan, jika menatap langit akan disuguhkan pemandangan bintang-bintang yang bersinar. Hal tersebut membuat mereka nyaman berada disana dan tidak ingin pulang.
"Indah sekali, sampai aku ingin menyanyikan sebuah lagu."Kata Akila.
"Bernyanyilah, aku ingin mendengar suaramu."Kata Aksal.
"Just Let Me Lo-o-o-o-o-o-o Love You, You."Akila menyenandungkan sebuah nyanyian.
"Bagaimana laguku?"tanya Akila.
"Suaramu bagus, tetapi jika hanya satu kalimat tidak bisa disebut lagu."Kata Aksal.
"Begitukah?"tanya Akila.
"Iya, dulu aku selalu bermimpi bahwa aku akan menemukan seseorang yang akan mendampingiku."Kata Aksal.
"Bukankah mimpi itu sudah terkabul."Kata Akila dalam hatinya.
"Kalau aku, aku selalu bermimpi meihat senyuman seseorang."Kata Akila terenyum.
"Ku harap yang ada di dalam mimpi Aksal adalah aku."Kata Akila dalam hatinya.
Besoknya, saat tiba disekolah Akila sudah ditunggu oleh Aksal. Dihadapan banyak siswa, Aksal menarik Akila dan mulai menalikan kedua ujung tas masing-masing. Dan mulai jalan menyerong sampai ke kelasnya Aksal. Akila sangat kebingungan atas apa yang dilakukan oleh Aksal. Tetapi, tidak dapat dipungkiri dala hatinya Akila sangat senang sampai membuatnya tersenyum.
"Apa yang kau lakukan?"tanya Akila dengan muka yang memerah.
"Antar aku ke kelas, dan bantu aku mengerjakan pekerjaan rumah."Kata Aksal.
"Tapi, gak harus gini juga kan."Kata Akila.
"Kalau enggak gini, kamu tidak akan mau."Kata Aksal.
"Iya, karena aku ada piket hari ini."Kata Akila.
"Makannya, aku lakukan ini."Kata Aksal.
"Tapi, ini dilihatin banyak orang.Aku malu."Kata Akila.
"Biarkan saja orang lain, ini menyenangkan."Kata Aksal tersenyum.
Muka Akila semakin memerah, detak jantungnya semakin kencang dan suhu tubuhnya mulai hangat. Dalam hatinya dia semakin berharap bahwa Aksal menyukainya. Tetapi, dia masih pesimis terhadap dirinya karena dia terlahir dari keluarga kalangan rendah dan tidak mempunya kelebihan apapun.
__ADS_1
Hari demi hari berlalu begitu saja, seakan dunia yang dijalani oleh Akila terasa berputar sangat cepat. Seperti lantunan lagu yang dipercepat, namun masih memberikan kesan yang memukau, kehidupan damai seperti itulah yang dinamakan kebahagiaan.Namun dimana ada manis pasti ada pahit.
Sebelum hal itu terjadi, Akila selalu bermimpi bahwa dirinya berada disuatu tempat ketika liburan bersama dengan Aksal, menghabiskan waktu bersama, menaiki berbgai wahana bersama sampai berfoto bersama. Namun, setelah dipikir-pikir hal tersebut tidak mungkin dapat terjadi. Karena, meskipun sekolah mereka akan mengadakan study tour, kondisi keuangan Akila yang tidak memadai tidak memperbolehkannya untuk berangkat.
Suatu hari, saat pulang sekolah Aksal mengajak Akila untuk pulang bersama. Tujunnya, ingin menanyakan Akila prihal study tour. Namun, saat ditengah perjalanan pulang tiba-tiba turun hujan yang sangat deras. Mereka pun harus berteduh disuatu warung terdekat. Akila mudah sekali terkena kedinginan, dan hal tersebut tidak baik untuk kondisinya. Mengetahui hal itu, Aksal memberikan jaketnya pada Akila supaya dia tidak kedinginan.
"Hei, aku dengan kamu tidak ikut study tour. Apakah itu benar?"tanya Aksal.
"Iya."Jawab Akila.
"Kenapa?"tanya Aksal.
"Kamu tahukan kalau aku dari keluarga yang miskin, jadi aku mempunyai kendala dalam masalah biaya."Jelas Akila.
"Sebenarnya, kalau masalah biaya aku bisa mengatasinya. Tetapi, kamu pasti tidak mau."Kata Aksal.
"Aku tidak ingin menimbun hutang pada siapapun."Kata Akila.
"Tapi, aku ingin kamu ikut untuk menemaniku."Kata Aksal.
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Aksal, Akila semakin percaya akan perasaannya. Mulai dari besoknya, dia berusaha untuk mengumpulakan uang agar dapat ikut study tour. Kebetulan, Ibunya Aden adalah seorang pedagang. Dia meminta kepada Aden agar Akila dapat ikut bekerja dan membantu ibunya Aden. Hal tersebut pun disetujui oleh Aden.
Hari ke hari, Akila mempromosikan dagangan tersebut dan mengedarkannya dagangan tersebut. Hal tersebut semuanya dilakukan demi dapat menikuti kegiatan study tour. Dua bulan berlalu, Akila mulai berhenti bekerja karena harus mempersiapkan keperluan study tour. Namun, uang yang terkumpul belum cukup untuk melunasi biayanya. Saat ia ingat bahwa dia mempunya sisa tabungan, dia pun membuka celengan tersebut dan saat menghitungnya uanganya lebih dari yang dibutuhkan.
Akila memberitahukan kabar gembira ini pada Aksal. Namun, entah kenapa Aksal tidak berekspresi yang menunjukan bahwa dia senang. Awalnya, Akila sangat heran dengan hal tersebut. Tetapi hal tersebut ditutupi oleh rasa senang yang dia rasakan.
"Hei, Aksal aku akan ikut study tour."Kata Akila dengan gembira.
"Baguslah."Sahut Aksal dengan ekspresi biasa saja.
"Aksal, sebenarnya aku sejak dari pertama kita bertemu aku mulai memiliki perasaan aneh yang selalu menyelimutiku. Jantungku selalu berdebar ketika dekat denganmu, memikirkan dirimu ketika kita tidak bersama. Jujur aku menyukaimu."Kata Akila dengan wajahnya yang memerah.
"Maaf, saat ini aku sudah mempunyai orang yang kusuka. Jadi aku tidak bisa."Jawab Aksal.
Dunia yang seketika itu berjalan sangat cepat, tiba-tiba terhenti begitu saja. Layaknya sebuah lirik lagu, pasti memiliki akhir baik itu pahit maupun manis. Sejak awal memang benar, bahwa satu kalimat tidak akan menciptakan sebuah lagu. Sebagus apapun lantunan musik dan suara yang dimiliki tidak akan dapat menghasilkan apapun.
Mendengar hal itu, Akila sangat-sangat tidak percaya akan apa yang telah dia dengar. Layaknya sebuah jarum yang menusuk dihatinya, rasa sakitnya susah untuk hilang salam sekejap. Perasaan yang menggebu-gebu dalam dirinya kini berlabuh pada akhir yang pahit.
"Maaf, sekali lagi maaf."Kata Aksal.
"Tidak apa-apa."Kata Akila.
"Mau kuantar pulang?"tawar Aksal.
"Aku akan pulang bersama Aden."Jawab Akila.
__ADS_1
"Kalau begitu, bye."Kata Aksal.
"Bye."Kata Akila.