
"Namaku Renald, aku terlahir dari keluarga biasa-biasa saja. Ayahku, jujur saja aku tidak ingin menyebutnya ayah, dia meninggalkan keluarga ini. Akhirnya, ibuku yang berjuang sendiri untuk menghidupi keluarga. Semenjak kecil, aku mempunyai hobby menggambar. Sampai membuat ibuku berkerja keras untuk membelikanku peralatan menggambar."Kata Renald dalam hatinya.
"Aku pun mulai menggambar dan melatihnya setiap hari. Saat aku masih SMP, teman-temanku selalu menghina setiap karya seniku. Disaat yang bersamaan ibuku selalu mendukung apa yang kulakukan. Ibu bekerja keras setiap hari untukku, sampai dia terjatuh sakit dan beberapa minggu kemudian ibuku meninggal. Aku akhirnya memutuskan untuk belajar dan memakai uang sisa dari ibuku sehemat mungkin. Hingga akhirnya, aku dapat beasiswa dan dapat melanjutkan ke SMA. Awalnya,aku ingin bersekolah di SMA Internasional Hope tetapi, karena beberapa alasan aku hanya diterima di SMA Good Dream."Kata Renald dalam hatinya.
"Setelah masuk SMA pun, hasil menggambarku belum pernah ada yang memujinya. Ya, meskipun aku tidak mengharapkan pujian. Tapi, ibuku pernah bilang kalau gambarku itu nyata atau 3 dimensi. Membuat orang yang melihatnya seperti sedang melihat hal yang nyata."Kata Renald dalam hatinya.
Hari ini merupakan minggu kedua bagi Renald di SMA. Dia sudah mengenal beberapa temannya di kelas, tetapi baginya tidak ada satu pun teman yang bisa diajak untuk bermain. Dikelasnya ada salah satu anak perempuan dari keluarga kaya yang suka bertindak semena-mena kepada siswa yang lebih lemah ataupun yang orang yang berstatus lebih rendah darinya.
Hari itu, terjadi keributan di kelas. Perempuan itu bersama dengan dua temannya mengganggu Hina, seorang kutu buku yang sedang memakan bekalanya.
"Hina. Itu apa?"tanya Violet.
"Ini bekal yang ku buat, Violet."Kata Hina dengan gemetaran.
"Kalian berdua, coba cicipi!"suruh Violet.
"Baiklah."Kata Bima dan Ardian.
"Tidak enak."Kata Bima dan Ardian setelah mencicipinya.
"Hina, kamu tahu aku tidak suka makanan yan tidak enak."Kata Violet menumpahkan bekal Hina.
Hina terdiam untuk sementara karena belaknya ditumpahkan. Ekspresinya mulai terlihat sedih, dan air mata mulai keluar membasahi pipinya. Dia menangis dan lari keluar, sementara Violet, Bima, dan Ardian tertawa menikmati hal itu.
Renald melihat kejadian hal itu, dia sebenarnya ingin menolong Hina. Tetapi, dia tidak berani karena pernah sekali ada yang menolong saat Violet mulai berulah. Alhasil, orang yang menolong tersebut difitnah dan dikeluarkan dari sekolah. Sementara siswa lainnya bersikap seolah hal itu tidak pernah terjadi di kelasnya.
Violet mulai mendekati Renald karena Renald dari tadi terus memperhatikan Violet. Dia merasa muak diperhatikan sinis oleh orang sesorang. Sementara itu, Renald tidak menghawatirkan hal tersebut. Dia sibuk menggambar di buku sketsanya.
"Hey, tuan sok keran. Kenapa tatapanmu seperti itu saat melihatku tadi?"tanya Violet dengan kesal.
"Kamu buta atau gimana, aku dari tadi sedang menggambar."Jawab Renald dengan santainya
Semua siswa di kelas sangat terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Renald. Violet pun mulai muak dan kesal atas yang baru dia dengarkan kali ini. Violet pun mengambil buku sketsa dari Renald, dan mulai melihat hasli gambar yang belum selesai.
__ADS_1
"Kembalikan, aku belum selesai menggambarnya."Kata Renald dengan kesal.
"Buat apa? Gambarmu jelek sekali. Bima, Ardian buang ini!"suruh Violet Melempar buku sketsa Renald.
"Kembalikan."Teriak Renald.
Bima menahan Renald yang berusaha mengejara Ardian yang akan membuang buku sketsa miliknya. Ardian berlari keluar dan membuang buku sketsa milik Renald kedalam tong sampah. Bima melepaskan Renald, dengan rasa kesal Renald membawa bukunya dan pergi meninggalkan kelas. Sementara itu, mereka tertawa dengan gembiranya.
"Sekali-kali, orang kalangan rendah itu harus hormat dan nurut."Kata Violet kepada semua siswa dikelas.
Renald berlari ke atap sekolah dimana dia ingin menyendiri dan mendapatkan ketenangan dengan menggambar. Saat sampai dia atap, dia melihat seorang peremepuan di sana yang sedang melihat lingkungan sekolah. Wanita berambut sampai bahu tersebut kemudian berbalik melihat Renald dan tersenyum. Renald hanya terdiam dan mulai melanjutkan menggambarnya, meskipun buku sketsanya kotor.
Selama Renald menggambar, hanya suasana hening dan hembuasan angin yang terdengar. Wanita itu tidak berkata sama sekali kepadanya dan hanya memandangi lingkungan sekolah. Renald akhirnya memutuskan untuk mendekati wanita tersebut.
"Hai."Kata Renald.
Wanita tersebut menulis pada note yang dia bawa *Hai juga* untuk menyapa Renald kembali.
"Kenapa, menulisnya?"Tanya Renald.
"Oh, maaf-maaf. Perkenalkan namaku Renald."Kata Renald kepada wanita tersebut.
*Namaku Riana, kenapa kamu datang ketempat ini?*
"Aku hanya tidak suka berada di kelas."Kata Renald.
*Kalau begitu sama.*
"Oh, boleh aku duduk di dekat sini."Kata Renald.
*Boleh. Apa kamu suka menggambar?*
"Ya, aku suka menggambar."Kata Renald.
__ADS_1
*Boleh aku melihatnya.*
Renald menunjukan hasil menggambarnya, saat Riana melihatnya alangkah terkejutnya Riana. Sampai membuatnya berbicara meskipun terbata-bata.
"Iiiinnnnddddaaaahhhhnnnyyya."Kata Riana.
"Tidak perlu memaksakan untuk berbicara."Kata Renald.
*Aku hanya terkejut, karena gambarnya sangat indah.*
"Benarkah? Tetapi, selain kamu dan ibuku tidak ada orang yang memuji karyaku."Kata Renald.
*Ya, gambarnya indah. Seperti memberi kesan 3 dimensi.*
Renald terkejut mendengar hal itu, hal yang sama yang pernah dikatakan ibunya diucapakan kembali oleh seeorang. Renald pun terdiam untuk beberapa saat, hingga bunyi bel istirahat berakhir berbunyi.
"Aku harus kembali ke kelas."Kata Renald.
*Baiklah.*
"Kamu tidak kembali?"tanya Renald.
*Aku sering bolos ketika istirahat.*
"Kenapa?"tanya Renald.
*Tidak ada yang peduli padaku.*
"Jangan berkata begitu. Ada yang peduli padamu, jadi ayo kembali ke kelas."Kata Renald menarik lengan Riana.
Baru kali ini, ada yang peduli pada Riana. Riana menganggap Renald sebagai teman pertama sekaligus teman satu-satunya yang dapat mengerti keadaanya. Untuk itu, dia berharap agar besok dapat bertemu kembali besok dengan Renald.
Malam harinya, Renald memikirkan suatu rencana untuk membalas dendam pada Violet. Dia pun mempunyai ide untuk merekam semua tindakan yang semena-menanya. Renald pun memesan sebuah kamera kecil dan ditaruh di dalam kerah lengan seragam sekolahnya.
__ADS_1
Keesokan harinya masih pagi hari, saat Renald baru sampai di kelas Violet sudah menjahili seorang anak laki-laki yang jarang bicara dengan menumpahkan tinta spidol pada anak tersebut. Muka dan baju anak tersebut terpenuhi oleh tinta karena ulah Violeta. Anak laki-laki itu pun pergi ke WC untuk membasuh mukannya dan membolos pelajaran. Sementara Violeta tertawa dengan riangnya karena berhasil menjahili orang lain.
"Oh, tuan sok keran sudah datang. Padahal buku sketsa jelek yang sudah kotor, masih saja dipulung. Rendahan."Kata Violeta.