
Mendengar hal itu, Liliana sangat kesal bahwa dirinya dipermainkan seperti itu. Dia pun menghampiri Alexander dan menamparnya. Alexander sangat terkejut melihat hal tersebut, dia tidak menyadari akan kehadiran Liliana. Liliana pun berlari ke kelasnya dalam hatinya, dia telah membuat keputusan yang salah telah membuka hatinya untuk seseorang. Meskipun hal tersebut merupakan kesalahannya menerima seseorang yang belum ia kenal sama sekali.
Dengan patah hati, Liliana memasuki kelas. Melihat Liliana yang murung dan tidak berbicara apapun dari tadi membuat Liam bingung. Liam pun memutuskan untuk menanyakan hal tersebut.
"Lilian, apa terjadi sesuatu?"tanya Liam.
"Tidak ada, hanya saja ....."Kata Liliana tidak menyelesaikan ucapannya.
"Hanya saja apa?"tanya Liam.
"Pulang sekolah temani aku ke suatu tempat."Kata Liliana.
"Ada apa? Tidak pergi bersama Alex?"tanya Liam.
"Temani aku saja. Kalau tidak mau, ya tidak apa-apa."Kata Liliana.
"Baiklah, aku akan menemanimu."Kata Liam.
Sepulang sekolah, Liliana menarik lengan Liam dan memesan taksi. Tempat yang mereka akan kunjungi berada di luar kota. Sebuah taman besar yang sangat sejuk dan indah. Liliana mengajak Liam kesana untuk menemaninya menenangkan diri atas kejadian hari ini.
"Apa terjadi sesuatu diantara kalian?"tanya Liam.
"Dia hanya mempermainkanku."Kata Liliana kesal.
"Jujur saja, aku telah melakukan kesalahan."Sambung Liliana.
"Kesalahan seperti apa?"tanya Liam.
"Kesalahan karena menerima seseorang yang bahkan baru ku kenali."Kata Liliana.
"Jadi pada akhirnya kalian putus."Kata Liam.
"Tentu saja, aku menamparnya saat sudah mengetahuinya."Kata Liliana.
"Lalu, apa alasanmu dulu menerimanya?"tanya Liam.
"Oh, dulu kamu pernah berkata jika untuk menemukan melodimu sendiri itu harus dari perasaanku. Jadi mungkin jika aku berpacaran aku dapat menemukan meloi itu, tetapi nyatanya tidak."Kata Liliana.
"Jadi, kamu pacaran hanya karena itu. Tidak ada apapun diantara kalian."Kata Liam.
"Iya, memangnya harus ada perasaan yang menyertai. Jujur, aku tidak tahu soal perasaan pada diriku."Kata Liliana.
"Iya harus, tetapi kenapa kamu menamparnya saat mengerahui bahwa kamu dipermainkan?"tanya Liam.
"Awalnya sih aku mulai membuka hatiku untuknya, karena dia orang yang bisa membuatku nyaman selain darimu. Tetapi, saat aku tahu dipermainkan tubuhku mulai mendidih dan ingin sekali menghajarnya."Kata Liliana.
Liam tertawa setelah mendengar hal itu, dalam hatinya dia sangat senang karena dirinya dapat membuat Liliana merasa nyaman. Melihat Liam yang tertawa Liliana semakin kesal diapun memukuli Liam untuk melampiaskan kekesalannya.
"Eh, sakit tahu."Kata Liam.
"Kenapa kamu tertawa?"tanya Liliana dengan cemberut.
"Hey,ayolah jangan marah begitu, tetapi lucu juga kamu jika cemberut."Kata Liam tertawa kembali.
"Sudahlah, aku pulang saja."Kata Liliana dengan kesal.
"Maaf-maaf aku bercanda, kalau kamu pulang masa aku harus jalan kaki sampai rumah."Kata Liam
"Biarin."Kata Liliana pergi meninggalkan Liam.
"Tunggu."Kata Liam menahan lengan Liliana.
"Lepasin, aku ingin pulang saja."Kata Liliana.
"Kenapa kamu marah, padahal aku cuma bercanda?"tanya Liam.
__ADS_1
"Bukan apa-apa, hanya saja kenapa kamu tertawa? Apa kamu mengejeku?"tanya Liliana dengan kesal.
"Emh bukan begitu, bagaimana ya menjelaskannya. Intinya aku hanya senang jika kamu merasa nyaman berada didekatku."Kata Liam dengan muka yang memerah.
"Apa alasannya kamu senang?"tanya Liliana dengan heran.
"Itu karena aku mencintaimu, tetapi jika kamu tidak mencintaiku juga tidak apa-apa. Meskipun dianggap teman sejak kecil aku juga sangat senang. Tetapi, aku tidak bisa membohongi diriku bahwa aku ingin menjadi pacarmu."Kata Liam.
"Tetapi, jika kamu menjadi pacarku. Orang-orang akan berpikir jika kamu hanya kujadiakan pelampiasan."Kata Liliana.
"Aku tidak masalah meskipun dijadikan pelampiasanmu. Tetapi, jika itu membuatmu bahagia tidak masalah buatku."Kata Liam.
"Tapi, kenapa kamu sampai mau segitunya?"tanya Liliana heran.
"Soalnya aku mencintaimu."Kata Liam tersenyum.
"Aku masih belum mengerti soal seperti itu. Sejak kapan kamu mempunyai perasaan itu padaku?"tanya Liliana.
"Sejak ....."Kata Liam.
Saat itu, 9 tahun yang lalu saat liburan musim panas merupakan saat pertama kalinya Liam dengan Liliana. Saat itu, Liam diajak oleh ibunya ke dekat gunung disebelah utara kota. Liam saat itu meminta izin pada ibunya untuk berkeliling sendiri. Ibunya mengizinkan karena ada hal yang harus ibunya lakukan.
Liam pun memasuki gunung tersebut, hingga saat hampir sampai puncak dia melihat seorang anak perempuan yang duduk termenung di dekat semak-semak. Dengan ekspresi sedih, anak perempuan tersebut duduk sendirian dengan memainkan ranting-ranting pohon. Liam pun menekati anak perempuan itu,saat liam duduk di sampingnya, anak tersebut hanya menatapnya dengan dingin.
"Kenapa kamu sendirian disini?"tanya Liam.
"Tidak apa, aku hanya ingin sendiri saja."Kata anak perempuan itu.
"Dimana orang tuamu? Siapa namamu?"tanya Liam.
"Namaku Liliana, orang tuaku hanya mempedulikan pekerjaan mereka."Jawab Liliana.
"Namaku Liam, salam kenal."Kata Liam.
"Salam kenal juga."Kata Liliana.
"Mencintai, apa itu makanan?"tanya Liliana.
"Jangan bercanda,kamu tidak tau cinta?"tanya Liam.
"Tidak."Jawab Liliana denga ekspresi serius.
"Eh, kenapa bisa begitu?"tanya Liam bingung.
Liliana hanya termenung kembali dan memainkan ranting-ranting pohon yang ada disampingnya.
"Hey jangan bersedih seperti itu, cinta itu rasa peduli terhadap orang lain. Dan dengan cinta tersebut, kamu akan menganggap orang lain berharga. Pasti orang tuamu mencintaimu."Jelas Liam.
"Peduli, berarti orang tuaku hanya mencintai pekerjaan mereka."Kata Liliana.
"Eh, dari sudut pandang seperti apa kamu dapat menyimpulkannya?"tanya Liam dengan heran.
"Emm, ayahku bukan ayah kandungku. Dan ibuku sibuk dengan pekerjaannya."Jawab Liliana.
"Maaf telah bertanya sesuatu seperti itu."Kata Liam.
"Bukan apa-apa, lagi pula tidak begitu masalah untukku."Kata Liliana.
"Untuk permohonan maafku, bagaimana jika ku ajak untuk melihat kedalam hutan di gunung ini?"ajak Liam.
"Baiklah."Jawab Liliana.
Mereka pun mulai memasuki hutan yang ada digunung tersebut, udaranya memang sejuk. Ditambah lagi dengan daun yang berguguran membuat perasaan menjadi sejuk. Hal tersebut dilakukan Liam agar Liliana tidak merasa tertekan dan murung atas kejadian keluarganya.
Saat sampai di tengah-tengah hutan tersebut, tiba-tiba hujan deras mngguyur mereka. Mereka pun harus berteduh dibawah pohon besar. Mereka menanti hujan mereda, tetapi hari menjelang malam hujan tidak kunjung reda.
__ADS_1
"Dingin sekali, boleh aku mendekat."Kata Liliana bersandar pada bahu Liam.
"Boleh."Kata Liam.
"Terima kasih."Kata Liliana.
Melihat Liliana yang kedinginan dan terlihat ketakutan karena mereka tidak bisa pulang membuat Liam untuk bersikap berani dan menghibur Liliana. Dia menceritakan banyak sekali kisah hidupnya yang sudah ia lewati, bahkan hampir semua tentang dirinya ia ceritakan.
Tidak lama kemudian, datang ibunya Liam yang menemukan mereka. Ibunya Liam sangat khawatir, dia memerahi Liam dan saat melihat Liliana dia terkejut. Ibunya Liam pun segera mengajak mereka berdua untuk pulang.
"Sejak saat itulah, aku selalu terpikir olehmu. Beberapa minggu kemudian, kamu pindah ke sekolahku dan aku yang menjadi teman pertamamu di sekolah itu."Kata Liam.
"Jadi semenjak saat itu."Kata Liliana terkejut.
"Iya, aku sudah lama memendam perasaanku ini. Aku tahu, kalau cintaku ini memang sepihak. Walaupun kamu tidak menyukaiku dan suka kepada orang lain, bahkan jika kamu sampai membenciku. Aku tidak akan pernah menyalahkanmu karena pada awalnya cuma diriku yang menyukaimu."Kata Liam.
"Aku tidak membencimu, kalau begitu kita pacaran saja."Kata Liliana.
"Tidak perlu memaksakan, aku tidak apa jika menjadi temanmu saja."Kata Liam.
"Kamu tidak apa-apa, tapi aku tidak ingin menjadi temanmu!"teriak Liliana.
"Tapi, jangan terlalu memaksakan."Kata Liam.
"Semenjak saat itu, aku juga memikirkan soal dirimu. Aku mengalami masalah disekolah sebelumnya, saat aku bilang kepada ibuku ingin pindah. Aku mengingat sekolahmu, makanya aku pindah kesana."Jelas Liliana.
"Kamu memikirkanku juga."Kata Liam dengan terkejut.
"Iya, tetapi jika berakhir jadi teman aku tidak mau. Sejujurnya saat itu, aku ingin kamu yang mengungkapkan cinta bukannya Alexander."Kata Liliana
"Baiklah, kalau begitu aku akan menurutimu."Kata Liam bangkit dan memeluk Liliana dengan erat.
"Terima kasih, waktu itu kamu datang."Kata Liliana.
"Sama-sama."Kata Liam.
Kedatangan Liam dalam hidup Liliana memang bagaikan melodi untuk hidupnya. Layaknya melodi, kedatangan Liam bagaikan alunan yang membuat hati Liliana bahagia. Walaupun melodi dalam hidup Liliana pernah berhenti dan menimbulkan rasa sakit, tetapi kehadiran Liam adalah melodi baru dalam hidupnya.
Dengan kehadiran Liam yang menjadi kekasihnya Liliana, membuat Liliana lupa akan patah hatinya tersebut. Tiga hari pun berlalu, karena hari itu merupakan hari libur Liliana dan Liam pergi ke gunung yang saat mereka masih kecil terjabak disana karena hujan.
Saking senangnya, Liliana menyebrang tanpa melihat jalan. Saat itu, ada mobil yang melaju dengan cepatnya. Tanpa sadarnya, Liliana hampir tertabrak oleh mobil itu. Akan tetapi, sebelum sempat tertabrak Liam mendorong Liliana dan akhirnya Liam yang tertabrak oleh mobil tersebut. Awalnya, Liliana tidak percaya akan hal yang baru saja terjadi, Tetapi, saat melihat darah yang keluar dari tubuh Liam, dia terkejut sampai tidak bisa apa-apa.
"Liam!"teriak Liliana.
Orang yang dalam mobil tersebut langsung keluar dan meminta Liliana untuk membantunya mengangkat Liam kedalam mobilnya. Mereka pun berangkat menuju rumah sakit terdekat. Liliana memberitahukan Ibunya Liam mengenai hal ini. Sepanjang perjalanan menuju sana,Liliana menangis akan kecerobohan yang dia lakukan.
"Jangan menangis, aku masih ingin mendengarkan melodimu."Kata Liam mengusap air mata Liliana sebelum kehilangan kesadarannya.
Saat sampai, Liam langsung ditangani oleh dokter, sementara Liliana, Ibunya Liam dan supir mobil tadi menunggu di luar dengan sangat khawatir. Tak lama kemudian, dokter tersebut keluar dengan muka yang tidak menyenangkan.
"Kami sudah melakukan yang kami bisa, sayangnya anak ibu tidak bisa kami selamatkan."Kata dokter tersebut.
"Tidak mungkin, Liam kamu sudah berjanji padaku bahwa kamu akan mendengarkannya."Kata Liliana menangis.
"Tenangkan dirimu Lilian, ini sudah takdir."Kata Ibunya Liam menenangkan Liliana.
"Tapi, itu salahku tante andai saja dia tidak menyelamatkanku."Kata Liliana.
"Jangan begitu, tante tidak ingin kehilangan siapapun diantara kalian."Kata Ibunya Liam memeluk Liliana.
Liliana menangis dengan keras saat itu, dia tidak dapat membayangkan luka yang ia terima setelah hatinya dimainkan oleh laki-laki, dan sekarang dia harus kehilangan orang terdekatnya sekalius kekasihnya.
Malamnya, dengan muka tanpa ekspresi Liliana pulang dari rumah sakit langsung menuju ke kamarnya dan duduk untuk memainkan pianonya.
"Liam, kamu ingin mendengarkannyakan. Kumohon datanglah!"kata Liliana dengan air mata yang menetes secara perlahan-lahan.
__ADS_1
Saat hendak memainkan piano tersebut, Liliana merasakan sensasi yang berbeda pada tangannya. Seolah-olah ada tangan orang lain yang memandunya menemukan melodi yang akan ia mainkan. Tetapi, saat dia sadari kehangatan yang ada pada tangannya pernah ia rasakan sebelumnya. Ditengah malam itu, hanya suara melodi yang menyayat hati yang mengiring kesunyian.
Hati itu bagaikan melodi, ketika alunannya dimainkan dapat membuat dua insan bahagia, tetapi ketika melodi itu berhenti akan menyayat hati dan sulit diobati. Tetapi, akan ada melodi kedua yang dapat mengganti. Datangnya cepat dan selalu mengiringi hati dan menghilang membekas disayatan hati yang sudah pernah terlukai.