Art Of Uniting Heart

Art Of Uniting Heart
Painting Lines : A Line


__ADS_3

Renald membiarkan hal tersebut dan tidak menghiraukannya sama sekali. Dia menunggu waktu istirahat untuk bisa bertemu dengan Riana di tempat kemarin. Saat istirahat, Renald langsung bergegas menuju tempat kemarin, dan ternyata Riana sudah ada disana. Seperti biasa Riana Cuma memandangi lingkungan sekolah.


"Hai, kita bertemu lagi."Kata Renald.


*Hai juga.*


"Emh, Maukah kamu menjadi model yang akan ku gambar?"Tanya Renald.


*Boleh saja.*


Renald dengan senangnya dan penuh semangat mulai menggambar sketsa Riana. Sementara itu, Riana hanya terdiam memandangi lingkungan sekolah. Rambutnya yang tertiup angin membuatnya terlihat lebih mempesona. Tiba-tiba, jantung Renald berdetak lebih kencang karena hal tersebut. Dia pun dengan cepat menyelesakain gambarannya. Gambarannya sangat sempurna, karena kemampuannya yang membuat terlihat 3 dimensi, membuat rambut Riana seolah-olah tertiup oleh angin seperti sungguhan.


*Ini terlalu bagus, bahkan rambutnya seperti benar-benar tertiup angin*


"Terima kasih."Kata Renald.


*Kamu pernah mengajukan lukisanmu*


:Belum pernah, karena semua orang disekelilingku mengatakan aku tidak mempunyai bakat sama sekali."Kata Renald.


*Aku dengar ada lomba melukis, bagaimana kalau ikut?*


"Sepertinya tidak, meskipun aku sangat ingin."Kata Renald.


*Cobalah untuk percaya pada dirimu sendiri*


"Tetapi, menurut pandangan orang lain saja jelek."Kata Renald.


*Coba dulu saja.*


"Baiklah, tetapi bagaimana cara mendaftarkannya?"tanya Renald.


*Kalau begitu, aku antar ke guru kesenian.*


"Baiklah, mohon bantuannya."Kata Renald.


Riana membawa Renald ke kantor guru untuk menemui Ibu Santika, guru kesenian. Riana dan Renald mencari meja Ibu Santika, dan akhirnya mereka menemukannya. Ibu Santika sangat terkejut karena ada siswa yang mau menemuinya, padahal belum pernah ada siswa yang berani menemuinya karena sikap tegasnya membuat banyak siswa enggan untuk menemuinya.


"Emh, ada apa kalian datang kemari?"tanya Ibu Santika.


"Nama saya Renald, dan ini Riana. Kami datang untuk berbicara dengan ibu."Kata Renald.


"Kalau Riana sih ibu kenal, karena ibu mengajar kelasnya. Apa yang mau dibacarakan?"Tanya Ibu Santika.


*Sebenarnya ibu, Renald mempunyai keahlian dalam menggambar. Dia ingin mengikuti lomba melukis.*


"Oh, seperti itu. Boleh saja, apa kamu membawa sketsa gambaranmu?"tanya Ibu Santika.


"Ini."Kata Renald memberikan buku sketsanya.

__ADS_1


Ibu Santika sangat terkejut melihat hasil karya Renald. Baru kali ini ada siswa SMA yang bisa memberikan kesan 3 dimensi pada sebuah gambar.


"Kamu, akan ibu daftarkan dalam lomba."Kata Ibu Santika.


"Benarkah?"tanya Renald dengan ekspresi yang sangat senang.


"Iya."Kata Ibu Santika.


"Terima kasih bu, kalau begitu kami permisi dulu."Kata Renald.


Renald keluar dengan perasaan yang sangat gembira. Seolah-olah mukannya memancarkan bunga-bunga yang bermekaran karena saking senangnya.


"Kamu dengar tadi Riana, aku akan mengikuti lombanya."Kata Renald dengan senangnya.


Riana mengangguk dengan tersenyum kearah Renald. Mereka berdua pun bertatapan dengan saling tersenyum. Tiba-tiba timbul perasaan aneh pada Renald, jantungnya mulai berdetak dengan kencang dan suhu tubuhnya mulai hangat. Ditengah hal itu,tiba-tiba Violet datang dan menabrak mereka berdua.


"Ups, sepertinya rakyat jelata menghalangi jalanku."Kata Violet.


"Tidak perlu dilayani."Kata Renald.


"Oh, tidak punya teman dikelas. Akhirnya kamu memutuskan untuk berteman dengan sibisu."Kata Violet tertawa.


"


Renald hampir saja termakan oleh amarahnya, tetapi Riana menariknya dan menulis *Tidak perlu didengarkan*. Akhirnya, Renald membiarkan Violet dan pergi meninggalkannya. Violet sangat kesal, karena dia diacuhkan.Dia pun berniat untuk melakukan sesuatu.


Saat istirahatnya, Renald pergi ke atsa atap sekolah untuk bertemu kembari dengan Riana. Saat berada disana Riana sedang tertidur, karena terlalu kelelahan. Renald pun berniat untuk membangunkannya, saat meliat catatan yang selalu dibawanya dia melihat tulisan *Maaf atas hal ini, aku tidak akan mengulanginya lagi*.Hal tersebut membuat Renald bertanya-tanya.


"Riana."Kata Renald membangunkan Riana.


*Ada apa?*


"Aku tadi membaca catatanmu, maaf. Apa kamu tidak apa-apa?"tanya Renald.


*Tidak apa-apa. Aku tadi ketiduran di kelas, sehingga guru memahariku.*


"Oh begitu ya."Kata Renald.


*Tidak membawa buku sketsa?*


"Tidak, aku ingin mengajakmu untuk makan di kantin?"Ajak Renald.


*Baiklah.*


Mereka berdua pergi ke kantin dan membeli makanan yang sama. Hal tersebut terjadi karena Renald ingin agar Riana memakan makanan kesukaan Renald dan memudahkan Riana dalam memesan. Menu yang mereka pesan adalah Nasi kuning dengan telur dibumbui oleh sambal yang sangat banyak dengan minuman es teh.


"Bagaimana rasanya?"tanya Renald.


*Enak*

__ADS_1


"Syukurlah."Kata Renald.


Dari hari ke hari,mereka mulai memahami satu sama lain. Riana terlahir dengan kondisi susah untuk berbicara, sehingga membuatnya tidak terlalu diperhatikan kedua orang tuannya. Sementara itu, Renald ditinggal oleh ayahnya dan kehilangan ibunya. Dalam hal ini mereka memiliki kekurangan dalam masalah keluarga, dan seakan-akan mereka dilahirkan untuk memberikan sisi saling melengkapi satu sama lain.


Seminggu kemudian, Renald mulai mengikuti kegiatan lomba tersebut. Dan memang mendapatkan hasil yang memuaskan. Dia terus masuk ke dalam jenjang yang lebih tinggi, sampai akhirnya dia akan berlomba tingkat nasional. Semua usaha kerasanya dapat terwujud adalah berkat dukungan dari Riana.


Hari itu, Renald ingin mengajak Riana untuk makan bersama setelah pulang sekolah, tetapi Renald mengurungkan niatnya, karena dia harus memikirkan ide untuk lombanya nanti. Akhirnya untuk mengganti semua itu, Renald mengajak Riana untuk makan di kantin bersama.


Akan tetapi, masalah datang disaat mereka ingin pergi ke kantin, mereka berpapasan dengan Violet saat hendak pergi ke kantin. Secara sengaja, Violet menumpahkan Riana dengan minuman yang dia bawa. Violet tertawa dengan senangnya karena menumpahkan minuman tersebut tepat ke Riana.


"Ups, aku tidak hati-hati."Kata Violet dengan tertawa.


"Jaga kelakuanmu!"teriak Renald.


"Oh, rakyat jelata marah padaku saat pacarnya ku jahili."Kata Violet.


Renald mulai terbawa amarah dan ingin menampar Violet, tetapi lengannya di hentikan oleh Riana. Riana menggelengkan kepalanya agar Renald tidak terbawa emosi. Dia pun menulis *Jangan tersulut emosi, biarkan saja. Aku akan ke toilet dulu untuk membersihkan ini*.Renald pun mulai tenang dan menurunkan lengannya,sementara Riana berlari ke toilet.


"Terima kasih bisu!"teriak Violet.


"Jaga ucapanmu."Kata Renald dengan kesal.


"Rakyat jelata mulai emosi, tetapi aku punya pengumuman penting untukmu."Kata Violet.


"Apa itu?"tanya Renald.


"Kamu harus menjauhi sibisu."Kata Violet.


"Kenapa aku harus lakukan itu?"tanya Renald.


"Emh, mau menentangku. Aku akan melakukan sesuatu kepada sibisu lebih dari tadi. Bagaimana?"ancam Violet.


"Kenapa kau melakukan ini? Kau cemburu?"kata Renald.


"Mana mungkin aku seorang putri cemburu pada rakyat jelata. Yang kuinginkan hanyalah penderitaan bagi kalian rakyat jelata. Yang berhak bahagia adalah putri sepertiku."Kata Violet.


"Aku tidak akan mau menjauhinya."Kata Renald.


"Jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi padanya."Kata Violet.


"Dasar licik."Kata Renald dengan kesal.


"Jadi, bagaimana?"Tanya Violet tertawa.


"Baiklah."Kata Renald.


"Aku juga harus memikirkan keselamatan Riana, supaya rencanaku untuk balas dendam pada Violet berhasil. Aku siap ditanggung benci olehnya asalkan dia baik-baik saja."Kata Renald dalam hatinya.


"Keputusan yang bagus."Kata Violet menepak pundaknya Renald dan pergi meninggalkannya dengan melambaikan tangan.

__ADS_1


__ADS_2