Art Of Uniting Heart

Art Of Uniting Heart
A Word Song : Like A Hell


__ADS_3

Namun, disisi lain Arumi sangat kesal pada Akila. Putusnya hubungannya dengan Aksal merupakan kesalahan Akila yang terlalu gatal dan dekat dengan Aksal. Sejak hari itu, Arumi menganggap Akila adalah musuhnya. Dia sering melabrak Akila ketika saling berpapasan. Bahkan, mereka mulai saling bersaing dalam perebutan nilai ulangan.


Hingga suatu hari,semua orang yang mendapat peringkat kelas dikumpulkan untuk diadakan seleksi untuk lomba. Dari awal masuk ruangan, Akila ditatap sinis oleh Arumi. Bahkan, dia menarik kursi sisi kosong yang ada disampingnya dan mengisinya dengan tas milik Arumi. Alhasil,Akila harus duduk dilantai dan membuatnya ditertawai oleh siswa-siswa lain.


Semua siswa yang berada pada ruangan tersebut diminta oleh seorang guru untuk memilih bidang yang akan dia ikuti untuk seleksi. Awalnya,Akila memlih matematika tetapi dia berpikir bahwa Arumi akan mengikuti matematika juga. Akhirnya, Akila memilih pelajaran IPA untuk menghindari Arumi.


Namun naasnya, Arumi sendiri memilih IPA untuk dengan tujuan menghancurkan Akila. Jika sudah begini,mau bagaimana lagi. Akila pun terpaksa menjalani sesi pembelajaran bersama dengan Arumi.


Dihari pertama, dengan sengaja, Arumi duduk disamping Akila dengan niatan untuk menjahili Akila. Saking bencinya Arumi pada Akila, dia menumpahkan tinta pena pada Akila. Arumi hanya tersenyum licik dan berpura-pura minta maaf dihadapan siswa-siswa lain.


"Baiklah, ibu kali ini akan membahas tentang tekanan hidrostatis(PH) jadi ibu akan beri soal dan kalian kerjakan sesuai rumusnya.Kata ibu pembimbing.


Baiklah."Kata semua siswa yang mengikuti seleksi.


"Berapa jawabannya?"tanya ibu pembimbing.


"Satu juta."Kata Akila mengangkat tangannya.


"Jangan bercanda, seseorang yang paling pintar disini saja yaitu aku tidak bisa menjawabnya. Ini malah mengasal dan jawabannya tidak masuk akal."ledek Arumi.


"Iya, tepat sekali."Kata ibu pembimbing.


Arumi hanya terkejut, bagaimana bisa materi yang belum dipelajari sudah bisa dikerjakan oleh Akila. Hal tersebut membuat Arumi semakin kesal pada Akila. Ibu pembimbingpun menjelaskan caranya untuk menyelesaikan permasalah itu. Dan memberikan soal lain kepada semua siswa tersebut.

__ADS_1


"Oh, soal yang ini ada beberapa tekanan. Ada PHA, PHB, dan juga ada yang PHO."Sindir Arumi.


"Dia berusaha menyindirku, PHO sendiri berarti perusak hubungan orang. Jadi, dia benar-benar membenciku.:Kata Akila dalam hatinya.


"Ada yang bisa mengerjakan ini?"tanya Ibu pembimbing.


Akila mengacungkan tangannya, dan mulai beranjak dari tempat duduknya. Melihat hal tersebut, Arumi semakin kesla pada Akila. Saat Akila hendak maju ke depan, dia mengahadang langkah kaki Akila yang membuat Akila terjatuh.


"Ada apa Akila?"tanya ibu pembimbing.


"Hanya tersandung meja bu."Jawab Akila.


Semua siswa yang ada diruangan tersebut hanya bisa tertawa dan meledek Akila idiot. Tetapi, Akila tidak menghawatirkan akan hal itu. Hari demi hari telah berlalu, Akila selalu mendapat pembullyan yang dilakukan oleh Arumi. Meskipun begitu, dia tetap tegar dalam menghadapinya. Hingga pengumuman hasil seleksi, dan yang terpilih adalah Akila.


Dengan hasil yang seperti itu, tentu tidak membuatnya puas. Ditambah lagi dia selalu mendapat cacian dari Arumi setiap harinya. Suatu hari mereka berpapasan pada sebuah lorong menuju kelas Akila.


"Hem, andai saja aku yang ikut lomba. Pasti dapat juara pertama. Dasar payah."Kata Arumi.


Seperti biasa, Akila hanya membiarkannya dan tidak melayaninya. Hingga suatu hari, saat Akila pergi ke perpustakaan sepatunya tiba-tiba menghilang dari perpustakaan. Diapun harus berjalan kembali ke kelasnya tanpa alas kaki sama sekalipun. Saat tiba dikelasnya, di kolong mejanya terdapat sebuah catatan yang bertuliskan Datanglah ke WC putri. Akila segera berlari ke WC putri, disana dia melihat Akila dengan beberapa temannya yang sedang memegang sepatu milik Akila dan membawa gasoline.


"Hentikan!"teriak Akila.


"Tahan dia."Kata Arumi.

__ADS_1


Akila berlari berusaha untuk mengambil sepatunya tersebut. Akan tetapi, tubuhnya ditahan oleh teman-teman Arumi. Yang dapat dilakukan Akila hanyalah melihat sepatunya yang habis terbakar. Setelah sepasang sepatunya habis terbakar, Arumi dan teman-temannya tertawa ria dan pergi meninggalkan Akila.


"Sepatu bisa dibeli lagi. Oh aku lupa kau kan miskin."Kata Arumi tertawa.


Akila hampir saja akan terbawa oleh emosi. Tetapi untungnya dia masih berkepala dingin. Karena ibunya pernah bilang Jangan pernah dendam pada orang lain. Kita hanyalah golongan bawah, tidak bisa melakukan apapun. Akila kembali ke kelasnya dengan tanpa alas kaki. Teman-teman sekelasnya pun sangat kebingungan.


Hari itu, Akila pulang dengan tanpa alas kaki. Dan sepanjang perjalanan pulang, dia hanya menjadi perbincangan orang-orang. Besoknya dia sekolah dengan memakai sendal, dan saat baru saja sampai gerbang sekolah. Akila sudah menjadi bahan ejekan dari Arumi. Diapun berlari ke kelasnya dan menyendiri di kelasnya.


Namun, bukan sepatunya saja yang mulai menghilang dari Akila. Tasnya mulai menghilang, peralatan menulisnya mulai rusak, bukunya dipenuhi oleh coretan, bahkan sampai seragam yang dipakainya hari demi hari terdapat sobekan. Hal tersebut membuat Akila tidak nyaman berada dilingkungan sekolah. Akan tetepi, hal itu sirna saat dihari ulang tahunya dia dikejutkan oleh pemberiannya dari teman-teman sekelasnya. Dia mendapat seragam baru, tas baru peralatan menulis bahkan sepatu. Akila hanya dapat meneteskan air mata karena hal tersebut. Dia sangat berterima kasih karena teman-teman sekelasnya masih peduli padanya.


Namun, bukan hanya kabar gembira itu yang datang. Dia mengetahui bahwa dihari yang sama itu, Aksal telah berpacaran dengan seorang wanita dari ekskul paduan suara. Semenjak hari itu, Arumi berhenti memusuhi Akila. Arumi juga sampai menjadi teman dekatnya. Bahkan,Arumi sampai meminta maaf atas semua yang telah ia lakukan.


Aku tahu, perbuatanku tidak dapat dimaafkan. Tetapi, aku mau kamu memaafkanku.Kata Arumi sampai bersujud dihadapan Akila.


Akila pun mengulurkan tangannya kepada Arumi dan mulai bersamalan karena dalam hatinya, Akila tidak pernah sekalipun membenci Arumi. Saat Arumi berdiri, Akila memeluknya dan menangis.


"Aku ingin menjadi temanmu."Kata Akila.


"Seharusnya aku yang bilang seperti itu."Kata Arumi.


Mulai saat itu, Akila dan Arumi terlihat selalu bersama. Tetapi, setiap menceritakan soal orang yang disukai Akila belum pernah berkata apa-apa. Sementara itu, beberapa minggu kemudian Arumi berpacaran dengan salah satu teman sekelas Akila. Hubungan mereka cukup harmonis, dan terlihat tentram. Akila masih belum terlalu mengerti soal hubungan seperti itu, dia bahkan belum yakin orang yang sedang dia sukai.


Dua tahun pun berlalu, Aksal sudah bukan pacar orang lain, Aksal memutuskan untuk tidak berpacaran jika tidak menemukan orang yang tepat. Itulah yang dia ungkapkan kepada Akila. Sementara dalam diri Akila sendiri, dia menyadari bahwa dirinya menyukai Aksal sejak pertama kali mereka bertemu. Kehangatan tangan Aksal yang dulu menjabat tangannya, masih terasa hingga sekarang.

__ADS_1


__ADS_2