
Dicampakan, tidak dipedulikan, dan dibuang. Semua perasaan itu seolah-olah dipaksa masuk kedalam tubuh Liliana. Sejak awal, Liliana tidak begitu peduli terhadap urusan keluarganya. Dia merasa terkejut saat umurnya menginjak 7 tahun, dia baru tahu kalau ayahnya merupakan ayah tirinya. Dan ibunya tidak pernah memberitahukannya mengenai hal ini.
Ketika masa SMP, Liliana semakin tidak diperhatian oleh kedua orang tuanya. Terlahir dari keluarga dengan ibu seorang pengacara dan ayah seorang dokter bedah memang terlihat dari luar keluarga ini sangat didambakan oleh semua orang. Tetapi, dari dalam keluarga ini sedang dalam ambang kehancuran.
Di sekolahnya juga, dia seorang yang pendiam dan sulit bergaul. Hanya ada beberapa teman yang mau bergaul dengannya dan semuannya lelaki. Meskipun begitu, Liliana tidak masalah karena salah satu lelaki tersebut adalah sahabatnya dari kecil. Namanya adalah Liam, yang semenjak kecil mengerti bagaimana perasaan dan kehidupan dari Liliana dari kecil. Maka dari itu, Liam selalu mendukung dan menyemangati Liliana disaat kondisinya sedang terpuruk.
Tahun ini merupakan tahun terakhir bagi Liliana dan Liam di SMP mereka. Semuanya sibuk mempersiapkan ujian dan rencana sekolah. Saat itu, semua siswa diberikan sebuah surat pengumuman untuk wali siswa mengenai kelanjutan pendidikan semua siswa yang dilakukan oleh wali kelas masing-masing, untuk itu semua wali siswa harus hadir. Tetapi, tidak untuk Liliana, saat memberikan surat itu kedua orang tuannya sedang sibuk.
"Ibu tidak bisa, ada kasus yang ibu sedang tangani.Suruh saja ayahmu."Kata Ibunya Liliana.
"Mustahil, ada pasien yang harus ayah operasi."Kata Ayahnya Liliana.
"Lagi pula, pertemuan itu mungkin tidaklah penting. Kamu bebas memilih SMA yang kamu mau."Kata Ibunya Lilian.
"Kali ini ibumu benar."Kata Ayahnya Liliana.
"Hah, apa maksudnya kali ini!"teriak Ibunya Liliana.
"Yah, biasanya juga selalu berbuat kesalahan. Dan aku yang harus mengurusnya."Kata Ayahnya Liliana meninggalkan rumah untuk bekerja.
"Hey sayang, aku belum selesai bicara!"teriak Ibunya Liliana.
"Ini uang untuk bulan ini."Kata Ibunya Liliana menaruh uang dimeja.
"Emh, seperti biasanya jika mereka ada di rumah selalu bikin masalah."Kata Lilian dalam hatinya.
"Sepertinya aku akan menginap di rumah Liam saja."Sambung Liliana.
Liliana pun pergi ke rumah Liam, karena jarak dari rumahnya menuju rumah Liam cukup dekat. Jadi, dia sudah terbiasa menginap di rumah Liam. Bahkan Ibunya Liam sudah mengenalnya dan selalu menerima kedatangan Liliana untuk menginap.
"Oh, Lilian.Mau menginap?"tanya Ibunya Liam.
"Iya, Tante Ruri."Kata Liliana.
"Oh, begitukah. Liam, ada pacarmu!"teriak Ibunya Liam.
"Anu, kami bukan pacar.Kata Liliana.
__ADS_1
Oh, tante kira kalian pacaran."Kata Ibunya Liam.
"Apa bu? Jangan ngaco deh, aku tidak punya pacar!"teriak Liam dari dalam rumah.
"Maksud ibu, ada Lilian."Kata Ibunya Liam.
"Kalau begitu, mari masuk."Kata Ibunya Liam.
"Terima kasih, maaf merepotkan."Kata Liliana.
"Tidak merepotkan kok."Kata Ibunya Liam.
Liliana dan Ibunya Liam pun memasuki rumah. Saat Liliana di dalam rumah dia menceritakan semuanya kepada Liam tentang kejadian tadi. Sementara Ibunya Liam memasak untuk mereka berdua.Liam sangat mengerti mengenai hal yang menjadi masalah Liliana saat ini.
"Mungkin Lilian, kedua orang tuamu itu sangat menyayangimu. Karena itu, mereka bekerja keras demi dirimu."Kata Ibunya Liam yang sedang memasak.
"Awalnya aku mengira seperti itu, tante. Tetapi, keuangan kami bisa dibilang cukup dan juga setelah mendapat uang bukankah membuka sebuah bisnis lebih logis jika mereka menyayangiku. Dari situ aku pikir jika mereka hanya menyukai pekerjaan yang mereka lakukan."Kata Liliana.
"Jangan berpikir begitu, tenang ada aku dan ibuku. Jadi jangan terlalu dipikirkan."Kata Liam menepak pundak Liliana.
"Terima kasih."Kata Liliana.
Meskipun ada Liam dan Ibunya yang menghiburnya, tetap tidak bisa membuat Liliana untuk dapat tersenyum dan bersikap riang gembira. Yang hanya terpikir oleh Liliana yaitu adalah bagaimana perasaan memiliki keluarga yang sesungguhnya. Ibunya Liam memasak Nasi goreng dengan ayam bakar, mereka pun makan dan menonton televisi hingga malam hari.
"Sudah malam, ya. Tante akan siapkan tempat tidur untukmu Lilian."Kata Ibunya Liam.
"Tidak perlu repot-repot, tante."Kata Liliana.
"Tidak repot kok."Kata Ibunya Liam.
Besoknya, Liliana dipanggil untuk mengahadap wali kelas di kantor guru karena tidak ada satu pun wali yang datang untuknya. Wali kelasnya sangat heran, setelah ia melihat surat undangan kemarin yang diberikan Liliana ada tulisan dari ibunya "Terima kasih karena telah menjaga putri kami,saya sebagai ibunya mohon maaf karena tidak bisa hadir dikarenakan urusan pekerjaan yang mendesak.Urusan soal masuk SMA putri kami kuserahkan pada anda".
"Karena nilai kamu terbilang baik, bapak sarankan untuk memasuki SMA Internasional Hope."Kata wali kelasnya Liliana.
"Baik, pak."Kata Liliana.
"Jika ada sesuatu yang mengganjal dipikiranmu, bisa ceritakan kepada bapak. Kalau begitu kamu sudah boleh keluar."Kata wali kelasnya Liliana.
__ADS_1
"Terima kasih, kalau begitu saya permisi dulu."kata Liliana.
Setelah keluar ruangan tersebut, Liam dengan teman-teman Liliana lainnya datang untuk menghiburnya. Mereka mengajak Liliana untuk bermain basket, karena basket merupakan olahraga kesukaan Liliana. Setidaknya dengan bermain basket suasana hati Liliana dapat lebih baik, itulah yang terpikir oleh Liam.
Malam harinya, Liam mengajak Liliana untuk melihat konser piano yang diadakan di daerah rumah mereka. Liam pikir, dengan mengajak Liliana melihat konser tersebut kondisinya akan membaik. Namun, mereka datang terlalu awal. Keuntungannya mereka bisa melihat dari depan tetapi, Liam gugup jika berduan dengan Liliana.
Dia mungkin mengetahui jika Liliana tidak akan memiliki perasaan seperti itu, jadi dengan menjadi temannya dan melihat senyumannya saja membuat Liam sangat besyukur.
"Jadi, kita datang terlalu awal."Kata Liliana.
"Sepertinya begitu."Kata Liam tertawa.
"Aku baru pertama kali melihat seperti ini, dan aku juga bukan pecinta musik. Tetapi ,aku ingin mendengar melodi yang menggores hati."Kata Liliana.
"Tenang saja, pasti kamu dapatkan."Kata Liam.
"Jika tidak, aku tidak akan menemui seharian."Kata Liliana.
"Kajamnya."Kata Liam.
Saat waktu telah menunjukan pukul 8 malam, datang seorang wanita yang masih terlihat muda, dengan bibir yang mengkilap merah dan wajah yang rupawan. Semua mata tertuju padanya, seolah-olah wanita tersebut datang menggantikan sinar bulan. Bahkan,Liam yang berada disamping Liliana sampai tidak bisa berkata-kata. Namun, tidak hanya kecantikan saja yang didatangkan wanita itu.
Saat wanita tersebut memainkan pianonya, untuk pertama kalinya Liliana tersentuh hatinya oleh melodi yang wanita itu mainkan. Pikirannya terbawa kesuatu dimensi putih yang hanya ada dirinya dan ketenangan yang bersamanya. Mungkin, wanita ini salah satu orang yang dapat membuat Liliana kagum.
Selama performa wanita tersebut, telinganya berada di tempat itu, tetapi seluruh jiwa dan pikirannya sedang menikmati ketenangan yang dapat membuat manusia dapat bersyukur. Sampai akhir penampilan wanita tersebut, mata Liliana tertuju padanya. Untuk pertama kalinya, dia merasakan kebahagian walaupun sederhana tetapi akan selalu membekas dihatinya.
"Perasaan apa ini, yang mengalir dalam tubuhku?"tanya Liliana dalam hatinya.
"Bagaimana dengan penampilannya?"tanya Liam.
"Mengaggumkan, memberikan sensasi lain pada hidupku."Kata Liliana.
"Benarkan saranku, pasti yang belum pernah mendengarnya akan merasakan suatu sensasi berbeda. Dan seolah terasa seperti dilahirkan kembali."Kata Liam dengan tersenyum.
"Emm."Kata Liliana mengangguk.
Malamnya, setelah pulang melihat pertunjukan tersebut Liliana tidak dapat tertidur. Ditengah hembusan angin malam yang menggigil itu, melodi piano tadi selalu terngiang-ngiang dikepalanya. Suasana malam yang begitu sunyi, membuat pikiran Liliana kosong dan terlelap dalam kegelapan malam.
__ADS_1