
arya terkekeh sekilas " siapa aku yang punya waktu memperhatikan dia, lagian dia benar aku sudah mengambil waktu kebebasan dia"
Ucap ku saat itu yang sebenarnya perasaan ku teramat kesal mendapatkan penolakan dari rinjani, entah apa yang saat ini aku rasakan, aku sendiri tidak bisa menebak nya, sungguh aneh padahal perasaan ini hanya aku yang dapat merasakannya.
Aku kesal sekali saat dia mengatakan kalau aku telah mengganggu kebebasannya, tapi perkataannya tadi sekaligus menamparku membuat ku tersadar bahwa beberapa saat yang lalu aku sedikit melemah pada nya.
Aku membuka jalan dia untuk mendekati ku, kulupakan perihal dia yang seorang benalu dalam keluarga ku.
Mengingat hal itu membuat tangan ku refleks mengepal tinju, dia kini sudah berani melawan ku.
Aku harus nya tidak seperti itu kepadanya, ia harus tau diri siapa diri nya sebenarnya.
"Woiiiiii... kuaci mu kemana mana tu" ucap yoga saat itu yang membuat lamunanku buyar ,pandangan ku teralihkan pada wanita yang kini tengah menatap ku dengan tatapan yang sebenarnya aku benci ketika ia menatap ke arah ku.
Seakan kini ia sedang meremehkan ku,tapi tata memang gadis yang seperti itu ia kini melemparkan smirk nya ke arah ku, senyum mengejek nya yang sekali ku lihat aku sudah bisa menebak maksud dari senyuman itu.
#aryapovend#
"apa ?" tanya arya kepada tata
Tata mengendikan bahunya sekilas sembari masih mengunyah kuaci nya
"Tak ada " jawab nya singkat
Beberapa saat setelahnya ponsel arya berbunyi ia melirik layar ponselnya, ternyata ada sebuah pesan yang dikirimkan jhon kepadanya.
JHON :
"Aku sudah mengantar nya bertemu teman teman nya, tadi di mobil ku ,kulihat ia menangis ,siapa dia ? Kalian bertengkar ?"
Arya mendecakan lidah nya sekilas , ia hanya membaca pesan itu, enggan untuk membalasnya.
Apa peduli nya dengan gadis itu, ia mau menangis mau berteriak itu bukan lah urusan nya.
"Aku akan menelpon rinjani"kata nara tiba tiba seketika mengalihkan perhatian arya kepadanya, arya yang pada saat itu masih memegang ponselnya lalu melemparkan nya ke arah nara dan yoga yang berada tidak jauh diantara mereka.
Ia hanya melempar dengan menggunakan sedikit tenaga.
Nara dan yoga melihat ke ponsel arya mereka membaca pesan yang masih terbuka di ponsel arya.
Kedua nya saling berpandangan satu sama lain, nara tersenyum lega sedang yoga senyuman nya memiliki arti yang berbeda, arya tahu itu.
Yoga mengangkat sebelah tangannya lalu meletakannya ke kepala nara
"Tenang lah nara, sahabat ku tidak se jahat yang kau bayangkan " kata yoga sembari tersenyum ,lalu memalingkan perlahan kepalanya kepada arya.
Yoga masih tersenyum, senyum man itu sedikit membuat arya bergidik ngeri karna senyuman yoga saat ini memiliki makna yang berbeda.
-
"Rin udah ya nangis nya..." ujar alya lembut sembari mengelus bahu rinjani pelan , sebelum nya mereka berpelukan aulya membiarkan rinjani menumpahkan seluruh kesedihannya saat itu juga kepadanya
"Biarin aja dia nangis , dia kan lagi ngeluapin kekesalannya" ilham menimpali ia tampak kesal ,tangan kiri nya sudah mengepal tinju.
"Kalau aku di ijinkan akan ku samperin itu abang nya, masa sama adek sendiri sebegitunya " gerutu ilham
Aulya hanya bisa mendengus sebal , ia mengasihani nasib rinjani , ia tahu betul bagaimana hubungan rinjani dengan arya.
rinjani selalu membagi keluh kesahnya kepada aulya
"Udah ham, kita gak boleh ikut campur urusan keluarga rinjani walau bagaimana pun , dia tetap saudara rinjani"
"Urusan keluarga sih aku tahu ya, cuman gak juga seperti ini juga"
"Aku gak apa apa ham" sahut rinjani tiba tiba sedikit ter isak karena berusaha menahan tangis nya,ia harus berbicara pikir nya mendengar ilham yang mulai tersulut emosi mendengar cerita nya tentang arya.
Membuat nya sedikit khawatir , ia tak ingin jika masalah nya ini menjadi besar.
Ilham mendecak kesal ia tahu sahabatnya itu tidak baik baik saja, ilham lalu memutar tubuhnya tangannya mengusap wajahnya dengan kasar.
Beranjak dari tempat duduknya menjauh dari kedua sahabat wanita nya yang kini saling berbagi kesedihan mereka.
"Sabar ya rin, mas arya gak ada ngomong apa apa sama kamu, setelah itu?"
"Gak ada ya, dia langsung pergi setelah aku turun dari mobilnya"
Aulya mengerutkan alisnya bingung seingat nya baru baru ini rinjani bercerita kepadanya kalau arya mulai memperlakukan nya dengan baik.
Tidak seperti dulu,tapi malam ini setelah mendengar cerita rinjani ia memjadi tidak habis pikir dengan perubahan signifikan lelaki yang di panggil mas oleh rinjani.
"Penasaran sekali aku rin sama mas mu itu, seperti apa sih sosok nya ada ya manusia sejahat itu "
Rinjani tersenyum " bukannya kamu sudah pernah ketemu dia ?"
Aulya menautkan kedua alisnya bingung , ia menatap rinjani sambil mencoba mengingat memori ketika ia bertemu dengan arya, seperti apa yang rinjani bilang.
-
Beberapa hari setelah kejadian
__ADS_1
semua nya kembali seperti semula , seperti sebulan yang lalu seperti pertama kali rinjani menginjakan kaki nya ke rumah arya.
Arya kembali dingin bahkan lebih dingin dari sebelumnya , ia sama sekali tidak menyapa rinjani walaupun mereka tidak sengaja berpapasan, bahkan meminum kopi atau teh yang dibuatkan rinjani pun ia tidak mau.
"Mas , aku pergi kuliah dulu sepertinya aku akan pulang telat" pamit rinjani kepada arya yang pada saat itu tengah menonton tv di ruang tamu.
Tak ada satu pun kalimat yang keluar dari mulut arya, jangankan menjawab menoleh pun tidak ia benar benar menganggap rinjani sudah tidak ada di rumah.
Sebenarnya rinjani sudah tahu bahwa arya tidak akan menggubrisnya tapi ia tahu diri , sebagai seseorang yang menumpang tinggal.
Ia harus berpamitan kepada sang pemilik rumah.
Rinjani masih termangun di tempatnya tak menggubris kedua sahabatnya yang sedari tadi sedang berceloteh tentang kegiatan yang akan mereka lakukan pada akhir bulan.
Masih jelas di ingatan rinjani bagaimana wajah arya beberapa menit sebelum ia keluar dari rumah.
Arya sangat dingin bahkan lebih dingin dari sebelum nya.
"Rin..."
"Rin..." panggil alya sambil menggoyang goyang kan tubuh rinjani sedikit keras
Rinjani tersadar dari lamunannya
"Kenapa ?"
Aulya memutar kedua bola mata nya malas benar saja perkiraan nya sedari tadi ternyata rinjani tidak menyimak pembicaraan mereka berdua.
"Kamu gak nyimak ya ?"
"Maaf ya , otak ku lagi gak bisa diajak kompromi ini, kalian tadi bahas apa ?"
"Kita bahas kegiatan Bela negara yang akan diadakan akhir bulan ini"
Rinjani mendengus sebal " kalau gak ikut gak apa apa kali ya"
"Ya gak bisa rin, harus ikut"
"Emang kenapa sih rin, kamu ada masalah ? Kalo ada masalah cerita ke kita"ucap aulya ia memegang tangan rinjani lembut , sembari mengelus nya seakan ingin memberikan ke tenangan pada sahabat nya itu.
Rinjani hanya tersenyum, sudah terlalu banyak kesusahan yang ia ceritakan pada aulya, kali ini ia memutuskan untuk tidak menceritakan masalahnya.
Mengingat kejadian beberapa hari yang lalu , ia lebih menyembunyikan masalahnya kali ini.
"Hehe .. gak apa apa kok, biasalah tugas kuliah kita kan banyak. Ditambah ada kegiatan seperti ini bikin aku tambah strees"
Aulya benar kegiatan bela negara harus nya dilakukan pada semester awal ketika mereka masih menjadi mahasiswa baru.
Ini artinya mereka akan melakukan kegiatan bela negara bersama junior mereka , yaitu para MABA. Pada saat mereka menjadi MABA kegiatan bela negara untuk angkatan mereka dan satu tingkat dibawah mereka ditiadakan.
karenakan sesuatu hal pada tahun tersebut,oleh karena itu tahun ini lah menjadi puncaknya 4 angkatan akan menjalani kegiatan Bela negara secara bersamaan.
#1 minggu sebelum kegiatan bela negara diadakan#
"Rin,ya pulang kuliah nanti kita harus kumpul dulu di ruang praktik anak IT " ujar ilham sembari menyamai langkah kedua wanita yang sebentar lagi akan berjalan sejajar dengan nya.
"Kenapa ?"
"Para panitia alias para senior akan memberikan kita arahan tentang kegiatan bela negara ini, dan juga katanya akan ada pembagian kelompok"
"Kalau gak ikut gak apa apa kan? Tanya rinjani , sedang aulya gadis berjilbab coklat pastel itu kini tengah menggerutu di tempat nya.
"Gak bisa lah, kalian mau kena sanksi"
"Aduh ini tugas kita besok udah harus dikumpulin , materi yang kita cari kan belum dapat "
Ilham mendengus sebal benar apa yang rinjani bilang tugas mereka belum selesai, ia sendiri pun baru tersadar bahwa mereka memiliki beban.
"Habis nya gimana aku juga bingung, gini aja kita cari buku nya di perpus lalu kita kerjakan sembari kita menghadiri acara rapat gladi resik untuk kegiatan bela negara itu"
Rinjani dan aulya mengangguk cepat tanda mereka menyetujui usulan yang ilham berikan kepada mereka berdua.
Beberapa jam setelahnya benar saja mereka mengerjakan tugas mereka ketika para senior mereka sedang menjelaskan apa apa saja yang akan mereka lakukan ketika kegiatan Bela negara berlangsung.
Tampa mereka sadari seorang senior menatap tak suka ke arah mereka ,ia adalah Damara salah satu panitia yang di tunjuk kampus untuk mengurus penyelenggaraan kegiatan Bela negara tahun ini.
"Heiiiiii...." pekik damara membuat seisi ruangan langsung mengalihkan perhatian mereka padanya,tak terkecuali Kalan yang merupakan ketua BEM di kampus mereka saat itu.
"Kalian bertiga yang duduk di pojok kiri " lanjut damara lantang , lagi lagi suara diana tadi mengarahkan seluruh audience di ruangan itu pada arah yang damara tunjuk yaitu 3 orang yang dimaksud damara adalah rinjani, aulya dan juga ilham yang sedari tadi berkutat dengan ponsel mereka.
Menyadari mereka kini telah menjadi pusat perhatian diantara angkatan mereka, senior bahkan junior mereka.
Ilham,aulya dan rinjani mereka pun terpaksa harus menghentikan aktifitas mereka. Ketiga nya tersenyum kikuk menahan malu
"Kalian dari tadi bertiga sibuk sendiri, kalian tau menghormati kita yang berdiri di depan sini " ujar damara nada suara nya sedikit membentak
"Maaf ka.." jawab ilham
"Maaf ? Maksudnya maaf apa ?"
__ADS_1
"Ka , kita.../ ra, ayok ikut aku" tiba tiba saja kalan menarik tangan damara , keluar dari ruangan tersebut.
Damara tak menolak ia mengikuti kalan sebagai ketua BEM mereka
Beberapa menit setelahnya , Kalan datang pria dengan rambut panjang nya yang terikat dengan kaos berwarna putih dan celana jeans hitam berjalan santai menuju ke arah mereka.
Tampak beberapa mahasiswi yang berada di ruangan itu tidak melepaskan pandangan mereka dari Kalan.
"Kalian bertiga, bisa pulang sekarang" ujar kalan yang membuat ke tiga nya terkejut, tiba tiba dihampiri ketua BEM ,lalu mereka langsung di usir begitu saja
"Apa mereka sudah dikeluarkan dari kegaiatan" batin ilham saat itu yang tengah panik.
"Tapi ka kita..." ujar aulya seketika dengan wajah memelas
Kalan lelaki berambut panjang , rambut panjang sebahu nya ia ikat sedikit hanya menyisakan anak anak rambut , yang ia biarkan tergerai.
Ia tersenyum sekilas
"Kalian mahasiswa semester 4 kan , kami tahu kalian sedang banyak tugas, nanti kalian catat saja apa yang tadi sudah kami jelaskan dengam teman seangkatan kalian" katanya masih dengan senyum nya yang hangat
Benar desas desus yang beredar ketua BEM mereka adalah mahasiswa ter kharismatik di kampus mereka. Pikir aulya saat itu,yang pandangan nya sudah terpesona oleh senyum manis kalan.
ia masih tergamang melihat senyum sang ketua BEM di hadapannya.
Hanya ilham lelaki diantara mereka yang tidak akan tersihir oleh ketampanan sang ketua BEM.
"Terima kasih banyak ka, maaf kami telah membuat kekacauan kami hanya berusaha memenuhi panggilan untuk membahas kegiatan Bela Negara ini"
Kalan lagi lagi tersenyum
"Iya, terima kasih atas usaha kalian tapi jika seperti ini malah memperburuk keadaan, tubuh kalian disini sedang kan pikiran kalian ke tempat lain" jawab kalan lembut namun berisi sindirian pada kalimatnya.
"Terima kasih ka" ucap ilham segera ia mengemasi barang barang nya, ia menoleh ke aulya sebentar yang kini masih terdiam di tempatnya dengan mata yang berbinar binar menatap ketua BEM mereka, dengan sedikit kasar ilham menepuk bahu aulya
Auchhh...
Aulya mengadu, "kenapa sih kasar banget jadi cowok" gerutu alya
"Liur mu hampir aja keluar " sindir ilham, aulya tahu maksud ilham secara tak langsung sedang menyindir aulya
"Makasih ya ka sudah mengerti keadaan kita" kata aulya buru buru sambil mengemasi barang barang nya tampak sekali ia kini tengah salah tingkah
Sedang rinjani gadis itu ternyata masih tidak terlalu fokus ia hanya tersenyum lalu menekuk kepalanya pelan sambil berterima kasih, tak berlama lama setelah memberesi perlengkapannya.
Ia segera keluar menyusul ilham yang sudah berjalan lebih dulu meninggal kan mereka.
Dan disusul aulya, aulya masih terlihat salah tingkah buktinya saja ia hampir terjatuh ketika mata nya kembali melirik ke arah kalan yang menggunakan kaos putih polos yang sebelumnya menghampiri mereka siapa lagi kalau bukan sang ketua BEM mereka Kalan
Si rambut gondrong yang berkharisma terkenal di kampus mereka.
"Rin , aku harus ikut pokoknya bela negara " kata aulya tiba tiba ketika mereka bertiga sudah sampai di kos aulya yang ketika saat itu mereka masih asik mengerjakan tugas pemetaan yang diberikan dosen mereka yaitu bu Sri.
Bu sri dosen perempuan yang tegas yang sangat mereka takuti.
Rinjani hanya mengangguk menyetujui fokusnya masih kepada tugas yang berada tepat dihadapannya.
"Dari pada mikirin bela negara yang masih seminggu lagi, mending kamu pikiran , besok tugas pemetaan mu sudah selesai atau belum"celetuk ilham membuat kebahagian aulya pudar seketika.
"Bawel kamu ham, sekali kali bikin seneng temen kan gak apa apa, kenapa sih harus di komentari"
"Kamu gak usah mikirin yang lain dulu , ini dulu beresin kita juga dimarahin ka damara karena kita belum nyelesain ini kan, malah mikirin Bela negara"
"Iya kan , tapi otak ini butuh istirahat juga, aku gak nyangka loh ketua BEM kita setampan itu"
Ilham memutar bola mata nya malas " dasar wanita" ujar nya didalam pikirannya.
"Aku selesai" tiba tiba saja rinjani berujar dengan senyum cerah nya ia terlihat lega sekali setelah menyelesaikan tugasnya.
"Kamu dah selesai rin?"
"Iya dong, bentar lagi juga ilham selesai"
Menyadari hal itu wajah aulya seketika saja berubah menjadi murung "yah berarti cuman aku aja yang belum selesai"
"Siapa suruh ngehalu di saat ngerjain tugas " ujar ilham sembari tertawa " aku selesai" kini gilirannya, rinjani benar ilham pun telah menyelesaikan tugas nya, itu artinya hanya aulya yang belum menyelesaikan tugas nya.
Dan itu membuatnya semakin tertekan
"Tolongin aku dong, please "
Rinjani melempar senyum kepada ilham , ya walau bagaimana pun aulya ada lah bagian dari mereka, se halu apa pun si aulya mereka harus menolong aulya untuk menyelesaikan tugasnya.
...Kalan Ketua BEM ...
terima kasih yang masih setia dengan cerita
Rinjani dan arya😊🌻
__ADS_1