
Arya :
“ balik sekarang juga , susul aku di RUMKIT !!!”
Begitu lah bunyi pesan yang didapat duha , dengan segera ia melajukan mobil yang sedang ia kendara i menuju RUMKIT ( Rumah sakit Tentara ) beberapa menit yang lalu arya mengirimi nya lokasi dimana tepatnya rumah sakit itu berada.
tangan duha mengepal tinjunya ia sudah setengah khawatir karna mendapati pesan arya , beberapa kali ia coba menghubungi arya.
Namun panggilan itu tidak dijawab arya ,dan kini ia sudah berada berada di Lorong rumah sakit beberapa wanita berseragam putih berlalu Lalang melewatinya.
Beberapa dari mereka menebar senyum mereka pada nya namun tak di indah kan duha, siapa lah ia hanya pria yang kini tengah panik menunggu jawaban dari seseorang yang kini coba ia hubungi.
Duha terus berusaha mencoba menghubungi arya , ia semakin panik ketika untuk beberapa kali ia mendapati arya tidak mengangkat panggilannya. Feeling nya mengatakan bahwa ini ada hubungannya dengan rinjani.
Tapi kenapa ? Kenapa pula tiba tiba rinjani masuk rumah sakit , duha segera menepis pikiran jahat yang menghampiri otak nya saat ini. Tidak rinjani pasti aman , rinjani aman begitu lah kalimat duha, mencoba menenangkan diri nya sendiri.
Dan di dering ketiga terdengar
“ hallo …”
“ dimana ?” sergah duha cepat nadanya terdengar panik. beberapa orang yang berada disampingnya langsung menoleh ke arahnya mendengar suara yang sedikit keras keluar dari mulut nya tapi duha tak perduli .
“aku di rumkit “
“ iya rumkit, dimananya? Aku juga disini siapa yang sakit “
“ rinjani sakit , tapi udah gak apa apa ?”
“ sakit apa ? kamu sekarang dimana ?”
“ kita di lantai 2 cari aja ruang anggrek kamar no 2 “
“ oke !!” tutup duha lalu bergegas menuju tangga ia sedikit berlari untuk mempercepat langkahnya tak butuh waktu lama ia sudah sampai dilantai dua
dan kini ia dihadapkan dengan 2 ruangan kiri dan kanannya, duha ingat arya mengatakan ruang anggrek , ia pun membaca tulisan yang berada tepat diatas pintu sisi kiri nya ada pintu yang bertuliskan TULIP .
tentu saja bukan ini ,duha ia beralih ke sisi kanan nya dan benar saja di atas pintu nya tertulis ANGGREK tak ingin membuang waktunya duha langsung masuk keruangan tersebut , ia berjalan menyusuri Lorong pintu pertama bertuliskan Kamar 1 , duha melewatinya itu artinya ruangan di depan nya ini ada lah ruangan rinjani.
Duha baru saja akan masuk ke kamar no 2 namun langkah nya terhenti karna melihat arya yang berjalan keluar dari pintu kamar dengan tangan yang masih sibuk mengotak atik ponsel nya .
“ hei …” sapa duha membuat arya menghentikan langkah nya arya menegak kan kepalanya.
“ sampai juga “ kata arya lega
“ sampai lah, aku disekolahin ibu ku 13 tahun baca itu saja gak bisa keterlaluan namanya “ jawab duha ketus
“ jadi gimana keadaan rinjani , kenapa keluar ?”
Paniknya
“ kita keluar dulu " ajak arya
Alis duha bertaut bingung “ ha ? kenapa ?”
“pokoknya keluar aja “
“gak bisa gitu ya, dia kan lagi sakit “
“pokoknya keluar aja dulu “ kata arya menarik paksa duha
“ gak , aku mau lihat keadaan dia “ tolak duha bersikeras ia mencoba melewati arya namun dengan cepat kedua pergelangan arya menahan tubuh duha membuat duha terlonjak kaget tubuhnya di pegang keras oleh arya.
“ya , maksud kamu apa ?” tanya duha dengan nada tinggi
“ aku bisa jelasin intinya kamu gak bisa masuk bahkan aku pun gak bisa”
“ ya alasan nya apa ? ini tu rinjani lagi sakit kamu bego apa gimana sih ? Aku tau kamu benci dengan rinjani tapi gak gini cara nya “ omel duha namun tak di indah kan arya , arya masih bersi keras menahan tubuh duha yang meronta mencoba untuk mendobrak pertahanan arya.
“loh.. kenapa masih disini ?” tanya seorang suster yang keluar dari kamar rawat rinjani , suster tadi tampak kesal ketika melihat arya dan duha yang masih berdiri di depan kamar rinjani.
“saya kan sudah bilang tadi , lelaki keluar “
Arya memaksakan seulas senyum nya kepada suster yang kini tengah menatap mereka dengan tatapan tak suka, sementara duha masih kebingungan mencoba mencerna situasinya saat ini ditambah dengan kemunculan suster yang tiba tiba saja datang memarahi mereka.
“ iya mba ,ini juga kami mau keluar “ kata arya dengan segera menarik paksa duha, duha mengernyitkan bingung ia memandangi arya sebentar lalu beralih pada suster tadi yang melirik mereka dengan tatapan sinis.
Beberapa jam kemudian
“kamu gak bilang sih …”ujar duha sembari cekikikan menahan tawa nya .
Mereka berdua kini sedang duduk bersantai di sebuah warung yang berada di daerah kantin rumah sakit ,hampir 30 menit arya menjelaskan tentang kondisi rinjani pada duha , ia tahu sahabatnya itu akan memberinya pertanyaan yang beruntun terkait keadaan rinjani.
__ADS_1
jika ia tidak menjawab atau tidak menjelaskan dengan detail apa yang terjadi pada rinjani , dan ia pun sesungguhnya tidak ingin disalahkan atas apa yang menimpa rinjani.
Ia sendiri masih tidak percaya akan mendapati rinjani dengan kondisi yang demikian, walaupun ia tidak suka pada rinjani tapi sebagai manusia yang masih memiliki empati tidak mungkin ia membiarkan rinjani dengan kondisi tubuh yang selemah tadi.
Masih teringat jelas di ingatannya bagaimana kondisi rinjani saat itu , gadis itu tampak lemah dengan bercak darah yang berada di sprei tidurnya yang membuat arya panik, tapi kini ia sudah tidak begitu panik karna rinjani sudah di tangani oleh dokter.
dan disini lah ia bersama pria yang yang beberapa menit lalu meninggikan nada bicara nya kepada dirinya.
Arya memutar bola matanya malas
“ gimana mau bilang , kondisi nya seperti itu lagian ya ‘ kaka nya rinjani tu siapa sih kamu atau aku , kok sepertinya justru kamu yang kelewatan khawatir “
Duha menyesap minuman nya sembari menunggu arya menghabiskan sebatang rokok duha baru menyadari bahwa ini kali pertamanya ia meliha arya merokok timbul pertanyaan di dalam pikirannya sejak kapan arya mulai merokok
“yah gimana ya’ ya , bukan nya sok khawatir berlebihan sih tapi kalau yoga berada disini aku rasa dia juga akan bersikap sama seperti apa yang aku lakuin tadi. Karna kita itu tumbuh besar bersama kamu, jadi kami sudah hapal bagaimana kamu memperlakukan rinjani”
Arya terkekeh sebentar “ ya ya .. tapi gak selamanya orang jahat itu bakalan jahat ha “
duha terkikik sebentar " oh yaaaa...." nada nya terdengar menggoda
" jangan seperti itu" protes arya
" hehehe.. Iya maaf"
“ jadi tadi kamu bawa rinjani pakai apa ? mobil mu kan sama aku “
“ aku pesan gocar lah , nungguin kamu lama , mana darah nya itu udah nyecer dikasur nya ih serem “ jelas arya sembari menggendikan bahunya ia membayang kan kondisi nya saat itu.
“jadi kamu gendong ?”
“iya ku gendong lah ..”
Jawab arya santai
“ pakai tangan doang ?” tanya duha lagi
“iya pakai tangan “
“gak pakai alas ?”
“pakai, seprai nya ku gulung bersamaan selimutnya“
Duha menggelengkan kepalanya pelan hampir tak percaya dengan apa yang dikatakan arya.
Kaos biru arya masih terlihat bersih dan celana pendek setengah tiang nya sama bersih nya tak ada satu pun noda darah.
"Tapi baju mu bersih ya gak ada satu pun noda darah nya ? Kamu sempat ganti baju"
Arya memperhatikan tubuhnya
“ya , itu darah haid loh “ ujar duha sekali lagi mencoba meyakin kan dirinya
“iya darah haid , lah trus ?”
Duha sekali lagi menggelengkan kepalanya masih tetap tak percaya dengan apa yang sudah dilakukan arya untuk rinjani , duha masih ingat betul bagaimana kasarnya arya memeperlakukan rinjani pada saat rinjani masih sekolah , hingga gadis itu takut untuk menunjukan diri nya di hadapan arya.
“ kamu gak geli ?”
Arya mengalihkan perhatian nya pada duha
“ diposisi seperti itu ke inget geli tu gak ada ha , udah gak sampai kesitu pikiran ku, aku udah panik duluan mana tadi rinjani wajah nya udah pucat trus darahnya udah sampai kaya gitu gimana gak panik ?”
Duha tertawa kecil “ ya , bukannya apa kan kamu benci banget sama rinjani “
Arya tak mengindahkan perkataan duha , ia dengan segera mematikan rokok ditangannya, padahal rokok milik nya masih tersisa setengah.
“ sejak kapan merokok ?” tanya duha
Arya melirik rokok ditangannya yang sudah mati sembari tersenyum ia berujar
“ kalo lagi panik aku memang merokok ha “ katanya kemudian berdiri meninggal kan duha yang masih terdiam di posisi nya .
Duha tersenyum ia menangkap raut wajah yang berbeda tadi dan kalimat yang dikeluarkan arya tadi sanggup membuatnya sedikit geli atau lebih tepatnya, membuat insting jail nya terpancing untuk keluar.
“ tungguin lah …” teriak duha segera ia berlari lari kecil mengejar langkah arya , yang tiba tiba saja berjalan cepat.
-
perlahan rinjani mencoba membuka matanya, putih langit langit ini putih pikirnya, kepala nya terasa sedikit nyeri sementara aroma khas rumah sakit menyeruak memasuki kerongkongan nya.
Segera ia membuka matanya , menoleh ke samping kiri dan kanan nya tak ada siapa pun hanya dirinya.
__ADS_1
Rinjani memicit kepalanya pelan, mencoba mengingat ngingat apa yang terjadi padanya seingat nya terakhir ia masih berbaring di tempat tidur nya dengan tangan yang mengepal menahan kram perut nya akibat datang bulan.
tak jauh dari ruangan rinjani bisa mendengar dengan jelas
terdengar suara berat yang mendekat menuju ruangan nya rinjani kenal suara itu, suara itu milik arya dan duha yang sedang mengobrol santai, seperti nya mereka akan menuju ke kamarnya.
Dengan segera rinjani menutup matanya berharap mereka tidak menyadari bahwa diri nya sudah sadar. entah kenapa ia melakukan itu ia sendiri pun tidak tau. tapi saat ini hanya itu lah yang terlintas di benak nya
rinjani mengutuki dirinya kenapa pula hal ini harus terjadi di saat ia berada di pontianak , dimana ia tinggal bersama arya itu akan membuat arya akan membenci nya karna telah membuat repot diri nya.
" masih belum sadar juga " tanya duha terdengar kecewa ketika melihat rinjani yang masih berbaring lemas di tempat tidunya.
"Iya , kenapa ya ? Padahal kata suster tadi beberapa jam lagi dia akan sadar"
"hmmm.. Memang nya tadi darah nya banyak keluar ya?"
"Gimana ya ? Menurut ku sih banyak"jawab arya sembari mengingat ngingat.
"Mana selimutnya aku pengen lihat"
"Udah kucuci"
duha melongo untuk sekali lagi, wah malam ini arya sukses membuatnya takjub kepada dirinya. pertama membawa rinjani kerumah sakit, lalu mencuci darah haid rinjani.
apa ini benar sahabatnya , atau ada kah roh lain yang memasuki diri nya ,duha mengerjap kan matanya beberapa kali.
" kamu sendiri yang nyuci?"
"Iya aku" jawab arya santai ia berjalan menuju kursi yang berada tidak jauh dari ranjang rinjani.
"tadi setelah dokter memeriksa rinjani aku langsung mencuci sprei dan selimutnya, menghilang kan darah nya aja sih , setelahnya langsung ku antar ke laundry sebelum kamu datang, untung nya gak jauh dari sini ada laundry. kan gak mungkin menyuruh laundry yang mencuci nya. " jelas arya panjang lebar membuat duha menggelengkan kepalanya pelan.
rasa rasanya bukan arya sekarang yang berbicara tapi arwah yoga yang berbicara , karna hanya yoga yang paling mungkin melakukan hal semacam ini ketimbang ia dan arya.
sedang asik asiknya menyimpulkan terdengar suara rinjani yang terbatuk segera membuat perhatian mereka teralihkan pada gadis yang kini. tengah terbatuk di ranjang nya.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
suara rinjani sukses membuat keduanya tersentak dengan segera duha langsung menghampiri ranjang rinjani.
"Rin ..." panggil duha segera, ya duha lah yang langsung tanggap menghampiri rinjani
Rinjani membuka matanya perlahan, tidak ada gunanya bersandiwara lagi mereka sudah mendengar suara nya,sandiwara nya gagal dikarenakan mendengarkan penjelasan arya , wajah nya seketika saja memerah.
bagaimana bisa arya mencuci bekas noda haid nya. betapa malu nya diri nya saat inu, bagaimana pula ia harus menghadapi arya " batin rinjani saat ini.
"Ya mas" kata rinjani pelan
Duha tersenyum lebar senang rasanya melihat rinjani sekarang sudah tersadar dari pingsan nya.
Sementara arya ia hanya duduk tak jauh dari tempat tidur rinjani menyilangkan tangannya. Tampak enggan untuk bertanya, ia hanya melihat kedua manusia yang sedang memainkan drama melankolis di hadapannya.
Ya seperti itu lah yang terlihat di hadapan arya sekarang.
"Ya , rinjani udah sadar" kata duha
"Ya aku tau" jawab arya santai
Arya bangkit dari tempat duduk nya
"Kalau begitu aku panggil dokter untuk periksa keadaan mu" Lanjutnya kemudian berlalu meninggal kan mereka
Tak ada satu pun kalimat perhatian yang dikeluarkan arya pada rinjani , sedikit kecewa melihat respon kaka nya itu.
Tapi siapa dia yang akan berharap lebih, siapa lah diri mu. Rinjani tak akan pernah berubah di mata arya dulu maupun saat ini.
Duha yang menyadari hal itu langsung mengelus puncak kepala rinjani, ia paham betul melihat tatapan rinjani saat ini.
"Sudah, jangan diambil hati sesungguhnya dia yang paling panik karna melihat mu sakit"
Rinjani tersenyum ya ia memaksa kan seulas senyum nya , kenapa orang lain lebih peduli dengan diri nya ketimbang kaka nya sendiri.
Ya memang bukan saudara kandung tapi kami dilahirkan dari rahim yang sama" batin rinjani saat itu.
"Iya mas aku tau" kata nya.
Duha membalas senyum rinjani " mas tau kamu kuat"
__ADS_1
"Pasti" kata rinjani pelan.
rinjani menghela napas nya beberapa kali, ia merutuki diri nya sekali lagi, bagaimana ia harus mengahadapi arya setelah itu, setelah pulang kerumah dan tampa duha di antara mereka.