Arya & Rinjani

Arya & Rinjani
Part 15


__ADS_3

" lan , kamu kenal sama 3 mahasiswa yang kemarin damara teriakin ?


"Enggak"


"Trus kenapa kamu nyuruh mereka keluar"


"Ya itu lebih baik kan, memang dari awal aku perhatiin mereka gak fokus sama apa yang kalian sampaikan tentang kegiatan kita"


"Trus kamu biarin aja"


Kalan tersenyum " ya biarin lah, kalau mereka cerdas mereka akan mencari materi yang kita bicarakan kemarin" ucapnya


Kalan dan dewa berjalan ber iringan melewati lorong kampus mereka, seperti biasa ketika kalan berjalan melewati lorong lorong kampus beberapa siswa dan siswi akan menyapa mereka.


Sebagai ketua BEM kiprah kalan sangat diakui oleh para rekan nya dan juga mahasiswa mahasiswi di polnep.


Tentu saja ia menjadi sangat di segani oleh para rekan nya ditambah kalan juga memiliki paras yang tampan dan tubuh yang proposional membuatnya semakin sempurna menerim predikat sebagai ketua BEM.


Rinjani berjalan asal sembari memegangi surat persetujuan dari kampusnya untuk wali murid. surat persetujuan yang berisi bahwa wali mereka menyetujui.


anak anak mereka untuk mengikuti kegiatan Bela negara yang akan di laksanakan pada hari jumat minggu ini, dan akan  berlangsung selama 3 hari,yang akan berakhir di hari minggu.


Rinjani bingung bagaimana harus menyerahkan surat ini kepada arya sedang situasi mereka saat ini masih tidak kondusif.


Arya masih mendiam kan diri nya


Kalan dan dewa yang tidak berada jauh dari rinjani melihat kondisi rinjani saat itu yang tampak kebingungan, terlihat sekali bahwa gadis itu tengah resah di tangan kanannya menenteng selembar kertas yang mereka berdua yakinin adalah surat persetujuan untuk wali murid.


"Hei..." sapa kalan mencoba ramah pada


langkah rinjani terhenti seketika ia sedikit mendongakan kepalanya melihat siapa yang memyapanya


"Oh hai bang" jawab rinjani tersenyum palsu


"Sedang apa ? Tanya kalan matanya tertuju pada kertas yang berada di tangan rinjani.sebagai ketua BEM kalan menjadi sedikit peka dengan keadaan rekan rekan nya.


Ia seakan tahu bahwa rinjani sedang memiliki masalah dengan perijinannya.


"Tidak ada apa apa bang "


Kalan tersenyum , benar respon pertama yang akan dia terima pasti ucapan seperti ini "tidak ada apa apa"


"Kamu sudah mengantongi ijin dari wali mu?" Tanya kalan lagi tampa berbasa basi ia langsung menanyakan pokok permasalahannya.


Refleks tangan rinjani yang memegang surat perserutujuan pun lalu ia sembunyikan kebelakang tubuhnya.


"Oh, aku belum ngasih ke wali ku tapi pasti di ijinkan bang " bohong rinjani


Kalan lagi lagi tersenyum, ia melirik dewa sebentar seakan tahu bahwa wanita dihadapannya ini sedang mencoba berbohong kepada mereka.


"Baik lah kalau begitu, kalau memang tidak diperbolehkan jangan dipaksakan" kata kalan kalimatnya terhenti sejenak " siapa tadi namamu?"


"Rinjani bang"


"Ah ya rinjani, kalau begitu kami duluan sampai ketemu di hari jumat" pamit kalan lalu berlalu melewati rinjani.


-


Rinjani terdiam di kamarnya samar samar terdengar suara TV yang sudah menyala itu artinya arya sudah kembali kerumah


Rinjani melirik jam di handphonenya pukul 10 malam, akhir akhir ini arya selalu pulang larut malam, mungkin saja sepulang ia bekerja ia langsung menemui kekasih nya batin rinjani


Siapa lagi kalau bukan selli.


Rinjani menarik napas panjang, beberapa detik setelahnya menghembuskan melakukannya beberapa kali.


Itu semua ia lakukan sembari mengumpulkan keberaniannya untuk menemui arya yang pada saat itu masih dalam mode dingin nya.


Rinjani mengutuk diri nya, mengumpat beberapa kali kenapa ini semua harus terjadi disaat arya kembali sedingin seperti dulu


Kenapa tidak dari kemarin kemarin saja.


Ia beberapa kali meremas kertas persetujuan itu, dan sedetik kemudian ia teringat lagi bahwa kertas itu tidak boleh sobek bahkan kusut pun tidak boleh.


Beberapa kali ia memotivasi dirinya agar berani keluar , sudah hampir 1 jam ia hanya berkutat dengan pikirannya menarik napas panjang hanya itu itu saja yang ia lakukan.


Sampai akhirnya suara TV itu pun sudah tidak terdengar dan itu pertanda bahwa arya akan masuk ke kamarnya untuk tidur.


Rinjani sudah tidak bisa mengulur waktunya, besok adalah hari jumat, besok ia harus berangkat dengan membawa surat ijin tersebut.


Dengan seluruh keberanian yang sudah ia kumpulkan dalam beberapa hari kemarin dan kata kata yang sudah ia rangkai untuk meminta ijin kepada arya.ia pun memberanikan diri untuk bertemu arya.


Ia melangkah kan kaki nya , membuka pintu kamar nya dengan sedikit bersemangat.


Saking semangat nya ia sampai tidak menyadari bahwa arya sudah berdiri di depan pintu kamarnya hingga tubuhnya pun menabrak arya yang saat ini terkejut dengan kehadiran rinjani yang tiba tiba hingga menabrak tubuhnya.


Seketika itu juga keadaaan menjadi kikuk, rinjani terdiam di tempatnya begitu pula arya.


Tubuh rinjani seketika saja panas dingin bagaimana tidak kini dihadapannya sudah tereskpos tubuh bidang arya yang terpampangan nyata di depan wajah nya lekukan itu amat nyata hingga membuat matanya tidak bisa


arya kini sedang tidak menggunakan pakaian, ia hanya bertelanjang dada.


Beberapa detik suasana diantara mereka seakan membeku sampai pada akhirnya suara deheman arya membuat rinjani tersadar.


"Maaass mmmmaass arya ini" ucap rinjani terbata bata sembari menunjukan kertas yang sedari tadi ia pegang, tangannya bergetar hebat ia tak berani menatap tubuh arya ,mata nya seketika saja terpejam ketika mendengar deheman arya


Arya melirik sejenak kertas itu, lalu mengambilnya berjalan santai masuk ke kamarnya dengan membawa kertas tadi.


Lagi lagi ia tak bersuara, hanya suara pintu yang ditutup dengan keras.


kebetulan kamar mereka berada bersebelahan, rinjani segera menyusul arya namun ia terhenti tepat di pintu kamar arya yang sudah tertutup.


"Mas itu harus ditanda tangani , aku harus dapat surat itu paling lambat besok kalau gak ada surat itu aku gak bisa ikut kegiatan " kata rinjani sedikit berteriak.

__ADS_1


tak ada jawaban hanya lampu kamar yang tiba tiba dimatikan yang menandakan arya sudah memasuki waktu tidur nya.


Rinjani menggerutu ia mengepal tinju nya, kesal sekali rasanya menerima perlakuan arya seperti ini.


namun tiba tiba saja bayangan dada bidang arya menghampiri pikirannya saat ini dengan cepat ia menampar kedua pipinya sembari menggeleng gelengkan kepalanya


"kau gila rinjani, kau gila janga pikirkan itu " tolak rinjani pada naluri kewanitaan nya.


rinjani setengah berlari kembali kekamarnya menghempas kan tubuh nya dengan kasar ke tempat tidur nya.


wajah nya yang putih seketika saja merona merah, lagi lagi bayangan tubuh arya melintas di pikirannya.


"rinjaaaaaaniiiii stop, stop dia saudara mu sadar lah rinjaniii jangan mesum okeee!" kata rinjani terjadi pergolakan batin saat itu pada dirinya


dengan cepat rinjani mengambil bantal gulingnya membekap wajah nya, lalu mematikan lampu tidur ia ingin segera tertidur agar bisa melupakan kejadian barusan yang baru saja dialaminya.


dan tentu saja roti sobek milik arya , iya harus melupakannya.


-


#Aryapov#


"Mas itu harus ditanda tangani , aku harus dapat surat itu paling lambat besok kalau gak ada surat itu aku gak bisa ikut kegiatan "


Teriak nya saat itu , ingin sekali ku bekap mulutnya, ia tiba tiba saja keluar dari kamar nya dengan kondisi ku yang saat itu tidak menggunakan pakaian.


nafas ku hampir tercekat ketika ku rasa kulit ku bersentuhan dengan kulitnya dan jelas sekali ku lihat wajah nya tepat di depan dada ku.


Cuaca malam itu sangat panas , itu sebab nya aku tidak menggunakan pakaian, lagi pula saat itu sudah hampir tengah malam, mustahil pikir ku dia akan keluar.


ditambah kondisi kami yang memang sedang dalam mode perang dingin.


Bukan dia , tapi aku yang mendiam kan nya, untuk menghindari perasaan aneh  yang tiba tiba berubah kepadanya, aku memilih menjaga jarak dengan nya.


Ku buka kertas yang tadi ia berikan pada ku, kertas ini tampak kusut sepertinya sudah lama ia memegang kertas ini.


Mata ku terbelalak ketika membaca isi surat di kertas ini, ini surat ijin wali murid.


Aku mengusap wajah ku kasar, tidak kusangka ia akan mengikuti kegiatan ini.


Dengan segera kutekan saklar lampu yang berada tak jauh dari ku. Ku matikan lampu kamar ku, agar dia kembali ke kamarnya.


#aryapovend#


Suara dari smartphone nya membangun kan rinjani yang pada saat itu masih setengah tersadar ketika ia mengangkat telfon nya tampa melihat siapa orang yang sudah mengganggu pagi nya.


"Rinnnnnn kamu dimana ??? " teriak suara wanita yang terdengar panik.


Mendengar hal itu membuat rinjani segera tersadar dari tidurnya


"Apa ?" Jawabnya


"Rinjaaaaniii kamuuu dimanaa ?? Baru bangun ? Kita semua disini nungguin kamu loh!!!!"


Dan seketika rinjani tersadar bahwa seharusnya ia berangkat ke kampus nya untuk berangkat bersama sama dengan lain nya ke lokasi Bela Negara.


rinjani bergegas keluar dari kamarmya langsung menuju kamar arya yang masih tertutup rapat


"Massss aryaaaaaaa " pekik rinjani


Tok


Tok


Tok


Rinjani mengetok pintu kamar arya dengan keras


"Masss suraaattt kuuuuu" pekik rinjani sekali lagi namun masih tak ada jawaban


"Masss aryaaa aduhhhhh"


Berulang kali rinjani mengetuk pintu kamar arya tapi tetap saja tak ada jawaban harusnya dalam sekali ketukan pintu


arya pasti bangun dan langsung memarahi rinjani.


Namun sama sekali tak ada respon apa pun , rinjani berlari keluar membuka gorden jendela ruang tamu dan benar saja perkiraannya mobil arya sudah tidak ada.


Itu artinya arya sudah pergi sedari tadi.


Rinjani mengumpat kesal , ia mengusap kepalanya dengan kasar kesal sekali rasanya. Ia kembali ke kamarnya mengambil handphone nya.


"Aku gak bisa ikut ul" kata nya kepada aulya


"Gak bisa ikut gimana namamu tu ada di daftar"


"Ya tapi aku gak ada suratnya"


"Aduhhhhhh, si arya mas mu itu langsung nelpon pak bagus dia bilang dia mengijinkan kamu untuk ikut kegiatan"


"Ha ??????" Rinjani sedikit berteriak


"Udah gak usah kebanyakan Ha, kamu udah ditungguin bang kalan dan teman temannya, kami udah berangkat 10 menit yang lalu"


"Trus aku?"


"Kamu bareng bang kalan dan panitia yang lain nya"


"Aduhhhh, kalau kaya gitu lebih baik gak usah ikut deh"


"Rinjaaaaaaaniiiiiiiiiiiii!!! Pekik aulya hampir membuat gendang telinga rinjani pecah


"Iya iya aku beres beres sekarang kamu punya no bang kalan?"

__ADS_1


"Nanti aku mintain sama bang Cahyo!" Kata aulya di akhir kalimat ia pun langsung mematikan panggilannya.


Rinjani setengah berlari menuju ruang praktek IT disana sudah berdiri Kalan yang tampak sibuk dengan ponselnya ,pandangan kalan kini teralihkan kepada rinjani yang  setengah berlari ia  tampak kesulitan dengan ransel nya.


Dengan segera kalan menghampiri rinjani


"Lepaskan ranselmu " kata kalan begitu ia di hadapan rinjani


Rinjani terlihat bingung


Dengan cekatan kalan mengambil ransel rinjani lalu menggendong nya.


"Lari !!" Kata nya sembari menunjuk sebuah mobil mini bus yang sedari tadi sudah siap untuk berangkat.


Rinjani berlari dengan sisa tenaganya yang ada , sedang kalan menyusul nya dari belakang


"Beri dia minum" teriak kalan dari kejauhan pada salah seorang rekan nya, sang pria yang mengerti pun langsung memberikan rinjani sebuah aqua gelas begitu rinjani sampai di mobil ia pun mempersilahkan rinjani masuk.


Kalan mengikuti langkah rinjani dari belakang, ia menyuruh rinjani duduk bersebelahan dengan nya, di kursi belakang tepat dengan pintu keluar.


"Duduk disini , ayok kita jalan" perintah kalan


Kalan hanya menggeleng gelengkan kepalanya tampak sedikit kesal, rambutnya lagi lagi ia ikat dan menyisakan sedikit anak anak rambut.


Ia masih berdiri memperhatikan kondisi rinjani yang tampak amburadul terlihat sekali wanita ini terburu buru.


"Ada yang punya biskuit ?" Tanya kalan sembarang


"Ada lan" jawab salah satu wanita diantara mereka wanita itu dengan cepat memberikan sebungkus biskuit kepada kalan.


"Makan ini, jangan sampai perut mu kosong ini baru permulaan masih ada 4 jam untuk sampai ke lokasi itu pun kalau tidak ada halangan "


"Terima kasih ka" jawab rinjani membungkukan tubuhnya sedikit.


Putri , gadis baik itu adalah putri wanita yang memberikan biskuit nya pada rinjani, ia melihat rinjani yang terlihat kelelahan keringatnya bercucuran di wajahnya


padahal ini masih pagi.


Dengan cepat ia mengambil beberapa tisu miliknya lalu memberikannya pada kalan.


"Lan , ini kasih dia kasian keringat nya dimana mana"


"Terima kasih put"


Kalan memberikan beberapa tisu pada rinjani dengan segera rinjani menyeka keringat nya.


"Rapikan penampilan mu"


"Baik ka"


"Jadi teman teman kita akan berhenti di salah satu pasar di daerah mempawah untuk membeli beberapa makanan yang memang tidak kita beli sebelum nya"


"saya akan membagi teman teman menjadi perkelompok agar menghemat waktu jadi tidak bergerombol. kita akan bertemu di tempat kita parkir setelahnya, aku harap 15 menit cukup untuk teman teman berbelanja keperluan dalam acara ini"


"Bagaimana ?"


"Siap lan" jawab mereka serentak


Rinjani yang berada diantara mereka hanya diam , beberapa saat setelah mobil berjalan kalan


terlihat sibuk membacakan


Jadwal kegiatan mereka , dan rinjani beruntung saat itu karna ia mengikuti mobil panitia dan itu artinya dia lah lebih tau dulu jadwal kegiatan mereka di banding teman teman nya.


Selama diperjalanan rinjani berkirim pesan dengan aulya mereka saling menceritakan keadaan mereka di mobil masing masing.


Rinjani terpaksa berbohong kepada arya perihal posisi tempat duduk nya, ia tidak ingin aulya tau kalau ia duduk disebelah bang kalan, sang pujaan hati aulya pada saat ini.


Ia tidak ingin mendengarkan kecerewetan aulya jika sampai tahu kalau ia duduk disamping kalan.


"Kalau ngantuk tidur, simpan tenaga mu setelah ini akan banyak kegiatan" kata kalan begitu ia duduk di kursinya.


"Ia bang"


Hening untuk beberapa saat diantara mereka , kalan tertawa sembari mendengarkan stand up comedy dari salah satu teman nya yang memang terkenal lucu di lingkungannya.


Tak terkecuali dengan rinjani yang tampak mengikuti kegiatan tersebut, ia tertawa terbahak bahak disamping kalan.


"Kamu kenapa bisa telat?" Tanya kalan tiba tiba membuat rinjani mengentikan tawanya seketika.


"Masalah ijin?" Tebak kalan segera karena melihat reaksi rinjani yang terlihat bingung menjawab pertanyaan kalan


"Iya bang" jawab rinjani tersenyum kikuk


Kalan menarik napasnya panjang kemudian menghembuskannya perlahan, kedua tangannya bersedekap tepat di depan dada nya.


"Beberapa hari yang lalu kita ketemu kan, kaya nya aku pernah nanyain perihal ini juga sama kamu, soal perijinan"


Rinjani mencoba mengingat kenangan beberapa hari yang lalu, ya dia ingat dia pernah bertemu kalan dengan teman nya , benar apa yang kalan katakan saat itu kalan menanyakan perihal persetujuan dari wali rinjani.


Namun rinjani menyembunyikan nya, rinjani lagi lagi tersenyum kikuk ia menyadari kesalahannya tapi mau bagaimana , dia tidak mungkin mengatakan masalah pribadinya dengan orang lain. Apa lagi orang yang baru di temuinya yaitu kalan.


"Hmmmm... semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi ya rinjani, aku mau tidur dulu kalau ada yang memanggil ku bangun kan aku"


"Baik bang kalan"


...KALAN SAAT MENJADI KETUA BELA NEGARA...



...outfit rinjani pada saat ini...


__ADS_1


__ADS_2