
"Bang, kita sholat jum'at di masjid mujahidin saja ya , kalau langsung balik kompi sepertinya udah gak keburu" ujar salah satu di antara mereka
Arya sedang bersama anggota nya, sejak beberapa hari yang lalu mereka tergabung dalam pelatihan gabungan bersama TNI AD, dan TNI AL.
dan kebetulan saja ia dan beberapa anggota nya di minta untuk kembali ke kompi setelah istirahat makan siang.
"Kalian bagaimana ?" tanya arya langsung menoleh ke beberapa anggota nya yang lain.
"Boleh bang"
"Iya bang , udah lama gak sholat disana nyari suasana baru bg "
Arya tersenyum ia mengangguk sebentar " baik , kalau begitu kita ke masjid mujahidin dulu"
"Siap bang" sahut wisnu , pria yang saat ini menjadi supir mereka.
-
Sementara itu rinjani dan kedua sahabat nya tengah sibuk mengambil beberapa gambar dari bangunan megah masjid raya mujahidin , ditemani pak abdul , salah satu penjaga yang di amanahi untuk merawat dan menjaga masjid raya mujahidin.
Beberapa kali rinjani mengerjapkan matanya melihat kubah dari masjid besar itu , sangat mewah, di dalam pikiran nya sekarang bagaimana para tukang mengerjakannya hal yang serumit ini.
Pasti hanya seorang profesional yang bisa melakukannya ,itu lah yang kini sedang berputar putar di otak rinjani , beberapa kali juga ia menyentuh keramik marmer yang menghiasi lantai masjid.
Sesekali ia mengabaikan history dari masjid mujahidin itu sendiri, ia lebih tertarik dengan arsitektur dari bangunan masjid.
"Rin , " panggil ilham , tak ada jawaban dari rinjani gadis itu masih sibuk berkutat dengan handphonenya mengambil beberapa gambar.
"Rin " panggil ilham lagi dan kali ini rinjani mendengar panggilannya , ilham menggerakan sebelah tanggannya memanggil rinjani untuk menghampiri dirinya dan aulia.
Rinjani berlari kecil tak butuh waktu lama ia pun sampai di tempat ilham dan aulia.
"Ada apa ?"
"Kamu sama aulia ngambil gambar disini , aku dibantu pak abdul akan ngambil gambar di luar , oke " ucap ilham , kedua gadis itu mengangguk menyetujui
"Oh ya jangan lupa di videoin juga ya " timpalnya lagi.
Aulia tersenyum " tenang saja ham , aku ingat kok , kita harus ngambil video dan gambar "
" iya jangan lupa di catat juga ntar bingung mau jelasi nya gimana "
"Siap " jawab aulia bersemangat
"maaf mba, kalau bisa segera ya mba soalnya sudah mau memasuki waktu sholat jum'at , kan gak enak kalau kalian yang gadis gini berkeliaran di area pria, kalau di area wanita sih saya tidak apa apa mba" ujar pak abdul membuat ketiga nya tersadar
Ilham menepuk jidadnya ringan " oh iya, maaf ya pak hari ini hari jum'at saya lupa , aulia rinjani kalian berdua di luar saja dulu ya , biar aku yang ngambil foto dan video untuk area cowok kalian bagian depan saja , kalau ngerasa panas atau risih langsung masuk aja, sisa nya biar aku" jelas ilham
Aulia mendecak kan lidah nya sekilas
" ham , memang nya kita ini cewek manja ya udah kamu sama pak abdul di dalam saja, aku dan rinjani biar di luar "
Ilham tertawa kecil
"Emang gak sayang sama skincare ul?" godanya membuat aulia mendengus sebal dan langsung berlalu meninggal kan nya.
Rinjani tertawa kecil melihat pertengkaran ke dua sahabat nya.
"Gak apa apa ham, biar kami saja , oh ya area cewek biar aku dan aulia saja gak enak kan kalo kamu masuk ke area cewek.
Ilham tertawa kecil
" bercanda doang kok rin, ya udah kalau begitu aku duluan keburu masuk waktu sholat jumat"
"Oke"
Rinjani dan aulia menyusuri halaman depan masjid raya mujahidin sesekali mengambil gambar bangunan yang berada di pemukiman masjid raya mujahidin , memperhatikan arsitektur nya.
Tak henti hentinya rinjani dan aulia mengagumi ke indahan bangunan megah itu.
Tampak sesekali rinjani mengajak bicara beberapa pengunjung yang mengunjungi masjid raya mujahidin.
Aulia membidik salah satu sudut dari halaman parkir yang berada tidak jauh dari bangunan utama , tampak sebuah mobil tentara yang terparkir di area itu, beberapa tentara berseragam biru laut turun dari bak belakang mobil tentara tersebut.
Tampak gagah dengan baju seragam mereka
Aulia tersenyum sekilas
"Pucuk di cinta ulam pun tiba " katanya tampa sadar telah mengutarakan isi pikirannya
Mendengar ucapan aulia membuat rinjani menoleh ke arah nya
"Ada apa ul ? Apa nya yang ulam ?"
__ADS_1
Aulia tertawa kecil " rin ada untung nya ya kita disuruh ilham untuk survey bangunan di luar"
Rinjani bingung alis nya bertautan ketika mendengar kalimat aulia
" apa untungnya ?aku gak melihat keuntungan disini"
Aulia menarik napas nya sejenak ia menoleh kan kepalanya pada rinjani , tampak gadis itu sesekali menyisir rambut hitam nya yang terlihat sulit sekali diatur karna terkena angin.
"Hemb udah dibilang, rambut di ikat kan jadi kesusahan gini kan dikit dikit rapiin rambut" sungut aulia sembari memasukan tangan nya kedalam tas totebag nya , seperti sedang mencari barang.
" yah , mau gimana aku lupa bawa ikat rambut"
"Jedai kamu kemana sih?"
Rinjani menyunggingkan senyum lebar
"Patah"
Aulia melebarkan mata nya untuk kesekian kali
"Ini udah jedai yang ke 3 ya selama aku kenal kamu, patah terus sama kamu. " sungut aulia , lalu tangannya disodorkan nya pada rinjani
"Ini ikat rambut pakai karet bibi dulu,aku risih tau gak liat rambut mu terbang terbang kaya gitu"
Rinjani tertawa kecil ia mengambil karet berwarna coklat yang disebut aulia karet bibi, ya karet yang biasanya mengikat nasi bungkus di warung makan.
"Makasih ya aulia, kaya nya lebih enak kalau pakai jilbab ya, jadi rambut gak kemana mana " kata rinjani sembari mengikat rambut ikal nya asal .
Aulia mendengus sebal
"Ya enak, tapi jangan pakai jilbab cuman supaya gak risih sama rambut aja , niatin dalam hati dong"
Rinjani mengangguk anggukan kepalanya sekilas tanda menyetujui kalimat yang di lontarkan aulia.
Tampa mereka sadari beberapa tentara berseragam TNI AL kini tengah berjalan ke arah mereka, karna kebetulan saja mereka sedang duduk di antara pintu masuk untuk menuju bangunan utama dari masjid raya mujahidin
"Misi mba ..." ucap salah satu dari para tentara tadi membuat rinjani dan aulia serentak menoleh ke sumber suara.
Seorang pria bertubuh tegap, berpotongan cepak kini tengah berdiri di depan mereka dibelakangnya sudah berdiri seorang pria yang menunggu nya di belakang dan beberapa lagi bergerombol di belakangnya.
Lelaki yang kini sedang berdiri tegak di belakang pria yang bertanya pada mereka , adalah Arya
Arya menatap rinjani datar, sedang rinjani gadis itu langsung menundukan pandangannya. Begitu mata mereka bertemu.
"Mba mau nanya, tempat wudhu cowok dimana ya?"
"Ah ituuu.... " jawaban aulia menggantung karna sesungguhnya ia tak mengetahui , ini pertama kali ia mengunjungi masjid raya mujahidin
"Dibelakang mas, jalan lurus saja dari sini belok kanan lurus bangunan terakhir dari masjid ini tempat wudhu cowok mas , disebelahnya tempat wudhu cewek " jelas rinjani tampa menatap pria yang kini langsung mengalihkan perhatian nya pada rinjani
Karna rinjani langsung menjawab pertanyaanya.
"Yuk ul" ajak rinjani segera, langsung menarik tangan aulia, membuat aulia terbangun dari tempat duduk nya dan meninggalkan kerumunan pria berseragam tadi.
"Makasih ya mba ..." teriak pria tadi.
-
"Makasih ya mbaa...." ucap Bima alis nya terangkat sebelah , ia melirik ke sebelahnya , disana sudah berdiri arya yang kini masih masih memandang kedua gadis yang barusan saja mereka temui.
Hingga ke dua gadis itu menghilang dari balik tembok yang berjarak kurang lebih 2 meter dari mereka , atasannya itu masih tetap tidak mengalihkan pandangannya.
Bima tersenyum " bang, kalo naksir langsung minta aja nomor wa nya " celetuk nya
Arya langsung mengerti maksud dari adik letting nya itu.
" mau sholat atau mau nyari pacar kamu" sindir arya
"Sholat lah bg, abang kali yang mau nyari pacar " canda bima
"Gak usah aneh aneh , ayok langsung ngambil wudhu ," arya menoleh ke belakangnya dimana para anggotanya berdiri.
"Tempat wudhu nya dibelakang , ayok wudhu dulu, setelah itu langsung masuk gak ada yang ijin mau makan atau bikin alasan mau ke toilet cuman karna mau telfonan atau vc an sama pacar nya ya" ujar arya
Membuat semua anggota nya tersenyum kecut tak terkecuali bima.
"Siap bang!!!" jawab mereka serentak.
Mereka menuju ke tempat wudhu pria , arya memilih berjalan terakhir untuk memastikan para anggotanya tidak melenceng kemana mana , sebenarnya ia sedikit ingin tahu apa yang sedang dilakukan rinjani di sini.
Di tambah lagi di siang hari seperti ini , masih teringat jelas di ingatan arya rambut hitam ikal milik rinjani yang di ikatnya menggunakan karet gelang khas bibi bibi sayur.
Arya tertawa kecil mengingat hal itu " kemana uangnya hingga harus mengikat rambut nya dengan karet gelang seperti itu " batin nya.
__ADS_1
Ia melirik ke kiri dan kanannya mencoba menemukan sosok rinjani dan teman nya tadi. Beberapa langkah lagi ia akan sampai di tempat wudhu pria, beberapa anggotanya sudah mengambil tempat mereka masing masing sedang yang lain menunggu antrian
Sambil mengeluarkan handphone mereka.
Arya masih tetap di posisi nya matanya masih melirik ke belakang, sisi kanan dan kiri dan ia menemukan sileut rinjani yang sedang berdiri di salah satu area bangunan masjid raya mujahidin dengan sebuah buku yang dibawa nya. Ia terlihat mencatat apa yang kini tengah di jelaskan teman nya yang berada disamping dirinya.
Arya mengambil ponsel nya segera.
Mengotak atik sebentar ponsel nya , lalu langsung menyimpannya.
"Bang, " panggil bima
"Hm" jawab nya segera
"Kami dah selesai semua , tinggal abang"
"Ya ya , kalian duluan masuk aku langsung ambil wudhu" katanya lalu berjalan cepat menuju bima.
Sedang bima tersenyum begitu arya berada disamping nya, bima bergumam
" bang, yang gak pake kerudung bening yaaa, ayu tenan" ujar nya sembari menepuk pelan bahu arya kemudian berlalu meninggalkan arya.
Arya tak mengubris ia hanya diam lalu berjalan menuju salah satu kran air wudhu yang berada tidak jauh dari nya.
Aulia, ilham dan rinjani kini tengah asik bersantai di salah satu cafe yang berada di kantin universitas mereka , sesekali rinjani membaca catatannya , lalu membanding kan nya dengan foto foto yang diambil nya dari kamera milik ilham.
"Aku rasa ini sudah cukup untuk presentasi" ujar rinjani
"Yang presentasi kamu ya ham" lanjut rinjani
Ilham mengangkat alisnya sebelah
"Kenapa harus aku?
Aulia mendengus sebal " kan diantara kita kamu cowok lagian kan , aku dan rinjani sudah membuat kalimat untuk presentasi nya"
"Tapi kan ..."
Rinjani menatap tajam mata ilham " gak ada tapi tapian loh , cowok kan harus gentleman lagian kamu kan ketua di kelompok kita" ujar rinjani sembari mengalihkan perhatian nya pada aulia , meminta aulia untuk mendukung kalimatnya.
Aulia tersenyum " ia ham , ayolah kamu kan cowok"
Ilham menarik napas nya panjang di sudutkan oleh kedua wanita seperti aulia dan rinjani ia pilihannya hanya satu yaitu mengalah ketimbang harus ber argumen dengan kedua wanita yang memiliki otak kritis seperti mereka.
"Baik lah biar aku saja " katanya pasrah
" yessssss...." ucap aulia dan rinjani secara bersamaan wajah mereka terlihat bersemangat saat itu.
Aulia menghela napasnya panjang sambil meregang kan otot otot di tubuhnya ia melirik jam tangannya .
Matanya melotot begitu melihat jam , waktu sudah menunjukan pukul 16.45 , sudah sangat sore , ia teringat dengan rinjani yang harus tiba dirumah sebelum kaka nya pulang.
"Rinnnnnnn....." sergah aulia sontak membuat ilham dan rinjani terkejut
"apa sihhhh ngagetin aja " protes rinjani
"Liat jam , ini udah 16.45 kaka mu pulang jam 5 kan "
Rinjani langsung menepuk jidadnya , ia langsung membereskan buku bukunya yang berserakan di atas meja kantin.
"Kenapa kamu gak ngomong dari tadi sih ul "
"Ya mau gimana , aku juga baru sadar "
Rinjani tampak gelisah
"Rin, beresin buku mu aja biar aku yang beresin sisa nya , mau ku antar pulang gak biar ke buru sebelum kaka mu datang" kata ilham
Rinjani menghela napas nya
" gak deh ham , ul kamu aja ya ngantarin aku, maaf ham aku gak mau kaka ku ngeliat aku diantarin cowok bisa marah marah dia sama aku" kata rinjani
"Ya udah aku antar," aulia mengambil buku nya segera mengemasi barang barang nya memasukan nya kedalam totebag nya
" yuk rin , ku antar" kata aulia setelahnya mereka pun berjalan cepat menuju parkiran tempat dimana motor aulia terparkir.
Sesekali rinjani melirik jam di tangan kiri nya , ia mengutuki diri nya yang terlalu sibuk dengan tugas nya sampai ia melupakan waktu. Ia malas jika harus bertengkar dengan arya.
Teringat oleh nya beberapa waktu lalu dimana ia disudutkan arya, ditambah lagi pertemuan mereka tadi siang yang secara tidak sengaja , ia melihat dengan jelas bagaimana cara arya menatap nya.
"habis lah aku" batin rinjani saat ini , bisa bisa kali ini arya membentak nya sama seperti dulu saat ia masih kecil , kenangan saat ia masih kecil kembali berputar putar di otak nya.
ia hapal betul bagaimana kilat kemarahan mata arya ketika sedang marah.
__ADS_1