Arya & Rinjani

Arya & Rinjani
Part 2


__ADS_3

Arya menghela napasnya berat bebeberapa kali mencoba menghubungi nomor ayahnya tapi tetap tak tersambung.


Dia bisa gila jika harus serumah dengan rinjani , masalahnya rinjani sudah tak seperti dulu lagi. Gadis itu kini sudah dewasa dan arya tak bisa memungkiri rinjani tumbuh menjadi gadis yang cantik.


Ia takut bahwa diri nya akan melewati batas nya sebagai seorang kaka untuk rinjani, tapi faktanya ia memang bukan kaka kandung dari rinjani.


Arya mulai frustasi , ia memicit kepalanya perlahan bersandar di sofa nya dan membiarkan TV begitu saja menyala.


"Ka , aku " sahut rinjani lembut membuat arya mengalihkan perhatiannya.


"Apa ?" sergah arya segera


Rinjani refleks langsung memundurkan langkahnya, ternyata tubuhnya masih bereaksi sama seperti 10 tahun yang lalu.


Perlakuan kasar arya ternyata membuat tubuhnya mengingat itu semuanya, tubuhnya bergerak tampa di perintah begitu mendapatkan sinyal buruk


"Aku mau makan, kau mau ku pesan kan makanan sekalian ?"tanya rinjani lagi


Arya memperhatikan rinjani dari kaki hingga ke atas kepalanya , rambutnya masih dibiarkan nya tergerai.


Rinjani menggunakan celana pendek selutut dan baju kaos rumahan biasa yang membentuk lekuk tubuh nya. Oh tuhan kenapa gadis ini begitu cantik dengan style rumahan seperti ini " batin arya


"Ganti pakaian mu,kau tidak punya pakaian lain ? Gunakan pakaian over size " ujar arya sedikit kesal ia beranjak dari tempat duduk nya kemudian melewati rinjani. Mengabaikan rinjani.


Ya lebih baik seperti ini seperti nya ia harus membuat batas antara dirinya dengan rinjani. Seperti perjanjian atau semacam nya. Agar gadis itu bisa melindungi diri nya sendiri.


Siapa ia , ia hanya manusia biasa lelaki dewasa yang seharusnya sudah saat nya menikah , tapi tuhan belum mengizinkan jadi terpaksa ia harus menunggu sampai saat itu tiba.


Dan ia sungguh tidak akan menerima jika akal sehat nya , atau naluri nya sebagai laki laki goyah hanya karna sosok rinjani.


Kebencian nya terhadap rinjani memang tak akan pernah bisa hilang sekali pun gadis itu mencoba menggodanya atau pun berbaik baik kepadanya.


Ia tak berniat sama sekali memperlakukan rinjani baik. Ia harus membuat gadis itu tidak betah tinggal bersama nya.


To : ayah


"Ayah , we need to talk , call me if you're not busy"


Begitu lah pesan arya , ia langsung menghempaskan tubuh nya ke kasur ketika sudah sampai di kamarnya.


-


"Jadi salah ku itu apa beb ? Cuman gara gara pakaiannya aja dia udah marah marah gak jelas " keluh rinjani pada seseorang di ujung sana.


Ya rinjani sedang melakukan panggilan video call dengan meta sahabat nya ketika di SMA ,ia selalu berbagi cerita hidupnya dengan meta.


Gadis berparas chinese itu hanya tersenyum sembari memajukan bibirnya terlihat seperti berpikir.


" sudah berapa tahun kau tidak bertemu dengannya ?"


Rinjani menaikan alisnya sekilas " may be 2 years, i'm not sure "


"Exactly, mungkin dia ngerasa terganggu dengan cara berpakaian mu. Yeah you know what"


"Whaattt????"


"You'r so sexy babe , you have good body, that's why"


Rinjani cekikikan tertawa " no, kau tau bagaimana benci nya dia pada ku kan , he really really hate me , jadi tidak mungkin met"


"Who's know babe..." balas meta sembari menaikan bahu nya sekilas


"Rinjaaaaaaaniiiii......" panggil suara keras arya


"Yaahh , coming" jawab rinjani segera


"Babe , udah dulu ya ka arya manggil aku , thank you for you'r time have a nice day bye " tutupnya segera

__ADS_1


Rinjani segera mengambil jaket oversize nya ia memakainya kemudian dengan segera berlari ke arah pintu.


Membuka perlahan pintu kamarnya , terlihat olehnya arya yang sudah rapi dengan jacket bomber nya. Parfum nya menyeruak masuk ke rongga rongga hidung rinjani, membuatnya hampir tersedak.


Arya menaikan alisnya sebelah , sedikit tersenyum ketika melihat tubuh rinjani yang tenggelam di dalam jaket oversize nya.


"Ada apa ka ?"


"Kunci pintu aku akan tidur di luar"


"Ha , tidur di luar lalu aku?"


"Apa? kau ingin aku tidur dikamar mu?"


Rinjani panik " tidak tidak maksud ku, kenapa kau harus tidur diluar?"


Arya memutar kedua bola matanya malas " urusan ku, sudah tidak ada lagi yang perlu ku katakan , then don't worry ini asrama tentara , you will be save without me" Kata arya kemudian berlalu meninggalkan rinjani yang masih terdiam di tempatnya.


-


"Jadi kau meminta ku menemui mu , tengah malam seperti ini hanya karna rinjani datang !"


Arya mendecakan lidah nya sekilas " hanya karna katamu ?"


Yoga tertawa kecil , ia mengangkat tangannya sebelah dan meletakan nya di atas bahu kiri arya.


"Jadi rinjani berhasil menggoyah pertahanan mu " goda nya


"Dia pikir siapa dia, bisa membobol pertahan ku jangan bermimpi, kau tau betul aku sangat membenci wanita itu"


"Ya, rinjani itu tidak salah apa apa kenapa kau sampai sebegitu benci terhadap nya"


Arya melirik yoga , matanya tajam menatap yoga


"tidak perlu ku jelas kan lagi , sebesar apa kebencian ku terhadap nya dan kau harus tau juga, aku tidak berniat menampung nya. Memang nya dia pikir rumah ku penampungan untuk anak yatim!".


Setelah sekian lama tidak bertemu ternyata itu tidak menyulutkan kebencian arya terhadap rinjani, yoga tau betul bagaimana kisah masa lalu arya dulu , dan alasan kenapa lelaki itu bisa menjadi seperti saat ini.


Yoga juga tidak bisa menyalahkan arya atau bahkan memaksa arya untuk melupakan kebenciannya terhadap rinjani, siapa dia mungkin jika ia yang mengalami kejadian seperti yang arya alami.


Dia juga akan bertindak seperti itu.


-


Sudah hampir seminggu rinjani berada di pontianak ,semua proses pendaftaran kuliah nya sudah ia jalanin, jurusan Arsiktektur Interior menjadi pilihannya.


Karna ia tertarik dengan interior bahkan dengan bangunan bangunan yang aestetic membuatnya menjatuhkan pilihan pada jurusan tersebut, ditambah lagi peluang dari pekerjaan itu sendiri yang menurutnya bisa membuat nya cepat menggapai tujuannya dan mimpinya.


Ia mengecek beberapa berkasnya , senin depan ia sudah mulai masuk kuliah di mulai dari ospek, kini ia sedang menebak nebak beberapa hal yang harus dibawa nya ketika ospek.


"Assalamualaikum" sahut arya membuat rinjani mengalihkan perhatiannya.


"Udah pulang ka " jawab nya langsung meninggalkan kegiatannya tadi , ia segera menghampiri arya.


"Ya" jawab arya masih tetap mengabaikan rinjani


"Aku sudah masak, kaka bisa makan"


"Aku sudah makan"


Rinjani menghela napas ia mengikuti langkah arya " kalau begitu mau kubuatkan minuman ?"


"tidak perlu"


Katanya yang membuat rinjani kesal , sudah seminggu rinjani menerima perlakuan seperti ini dari arya.


Arya selalu mengabaikannya, setiap pagi rinjani berusaha bangun pagi untuk menyiapkan arya sarapan , tapi sama sekali tidak pernah di sentuh arya, dan ketika malam tiba di sore harinya rinjani akan menyiapkan makanan memasak atau jika makanan masih ada.

__ADS_1


Ia akan memanaskannya dan menghidangkannya ketika arya sudah tiba di rumah , semua itu ia lakukan dengan ikhlas, karna ia sadar ia menumpang hidup dengan arya tidak mungkin ia tidak melakukan apa apa untuk membalas kebaikan arya yang sudah memberikannya tempat tinggal walaupun rinjani tau. Arya terpaksa menerimanya.


"Ka " panggil rinjani sembari menarik tangan arya


Arya menghentikan langkahnya ia membalikan tubuhnya


"Aku tau kaka benci aku, tapi tidak bisa kah kaka menghargai aku" ujar rinjani , dan sepersekian detik berikutnya tubuhnya sudah terpojok bersandar ke dinding yang berada di sampingnya tangan kiri nya di cengkram arya , dan lehernya kini terasa tercekat karna sebelah tangan arya yang mengcekram lehernya kuat hingga membuat kepala nya menempel di tembok.


Arya menarik rinjani menyudutkannya ke tembok di sampingnya, tubuhnya meremang matanya menyalak marah.


"Memang nya aku yang meminta kau menyediakan semuanya?"ujar arya pelan tatapannya menusuk


"Dengar ,harus nya kau berterima kasih karna aku sudah membiarkan kau menumpang di rumah ku, ingat rinjani ! Arya mendekatkan wajah nya ke wajah rinjani hingga menyisakan sedikit jarak diantara mereka, rinjani dapat melihat kedua bola mata arya yang menyalak marah dan leher nya yang terasa perih karna arya yang mengcekram nya dengan kuat.


"Kau itu bukan siapa siapa dikeluarga ku, dan kau sangat tahu aku benci dengan mu, bahkan melihat mu saja aku tidak ingin , apa lagi ingin mencicipi masakan mu, jadi dengar kan kalimat ku ini jadi lah tidak terlihat oleh ku jika kau tidak ingin aku mengusir mu " ucap arya pelan tapi menusuk ada penekanan di setiap kalimat yang di ucapkannya, ia langsung melepaskan tangannya di leher renjani begitu juga tangan yang satunya


Membuat rinjani terbatuk batuk tubuh rinjani langsung merosot ke bawah, rinjani memegang lehernya pelan,air matanya mengalir tampa bisa ia perintah.


Ia meringkuk di posisinya membiarkan arya yang meninggalkannya , lelaki itu mengabaikannya dan langsung berjalan ke arah kamar, hanya bunyi dentuman keras yang rinjani dengar ketika arya menutup pintunya.


Lelaki itu ternyata masih teramat benci kepadanya.


Rinjani berjalan pelan menuju dapur mengambil sebotol air putih , menuangkan ke dalam gelas kecil yang berada tak jauh dari jangkauannya. Ia meminum nya air matanya masih mengalir.


Rinjani mengabaikannya sesekali ia menarik napas panjang kedua tangannya ia angkat ke atas meja , menutup wajahnya yang kini sudah basah karna air matanya


Tiba tiba saja sebuah panggilan masuk mengejutkan nya , rinjani beranjak dari tempat duduk nya , menuju kamar ia langsung mencari sumber dari suara tadi.


Itu nada dering ponselnya ,sepertinya ada seseorang yang menelponnya. Benda persegi panjang itu tepat di atas tempat tidur, bunyi nya masih terdengar, dengan cepat rinjani mengambil ponselnya.


Ia menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan keras , ketika membaca nama si penelpon.


Kenapa tiba tiba ayah nya menelpon disaat ia dalam kondisi yang seperti ini. Ia menghela napasnya sebelum mengangkat telfon ayah nya


"Halo yah ..."


"Haii rinjani , bagaimana kabar mu?"


Rinjani tersenyum kecil , ingin sekali ia menangis saat ini "Aku baik baik saja yah" bohong nya


"Benarkah ,syukurlah ayah senang mendengarnya aku takut kalau arya masih membuly mu sama seperti 10 tahun yang lalu"


Rinjani menahan isaknya " ayah benar dia masih tidak berubah, ia masih amat membenci ku" batin nya , namun sedetik kemudian ia langsung menjawab ayahnya


"Tidak yah, benar kata ku kan dia sudah dewasa sekarang buktinya aku bisa hidup damai bersama nya"


"Are you sure ?" tanya sang ayah


"Iya yah , aku benar benar aman disini " ujar rinjani ia menghela napas nya sekali lagi " yah sudah dulu ya, aku harus menyiap kan persiapan untuk besok ,lagi pula ka arya sebentar lagi datang "


Terdengar helaan napas di ujung sana , lelaki itu terdengar kecewa " baik lah , kalau ada waktu jangan lupa telfon aku, dan jika kau membutuhkan sesuatu jangan sungkan sungkan untuk menelfon ayah"


"Baik yah , jaga kesehatan aku tutup ya " tutup rinjani ia langsung terisak saat itu juga mendengar suara ayahnya membuatnya rindu dengan ke hangatan rumah dibandung.


Rinjani akhirnya tertidur dengan sendiri nya setelah lelah menangis , ia meringkuk di atas tempat tidurnya dengan ponsel yang masih ia genggam.


Sementara di sebelah kamarnya , arya tampak bersungut sungut sebal menerima balasan dari ayah nya.


"Take care of her, atau harta ku akan ku wariskan pada nya, aku serius!"


Mendapat jawaban itu membuat arya semakin kesal, bagaimana bisa ayah nya bisa mengancam nya seperti ini.


Sebenarnya apa yang sudah diberikan gadis itu kepada ayah nya, apa ayah nya sudah di cuci otak nya oleh gadis itu.


Gadis yang tampak polos diluar, mungkin ia memiliki banyak rencana licik untuk menjatuhkannya.


Persetan sudah dengan harta ayahnya , ia harus membuat gadis itu menderita selama hidup bersama nya. Sumpah arya saat itu sembari mengepal tinjunya.

__ADS_1


__ADS_2