
"Rin, bagaimana bisa menstruasi mu seperti itu?"
"Iya menstruasi ku memang seperti ini aku nya saja yang tidak kuat"
Alis duha berkerut bingung " maksud mu?"
"Iya tidak kuat untuk menjalani nya" ujar nya sembari tertawa
"Sudah di periksa ke dokter?"
"Belum"
"Kenapa ?"
Rinjani terdiam wajah nya terlihat bingung, duha menyadari ke bingungan rinjani pada saat itu juga, rinjani pasti takut , takut jika ada apa apa pada alat reproduksi nya, wanita se usia nya harus nya memiliki tempat untuk bertanya bahkan mengadu tentang apa yang di rasakannya termasuk keluhan nya.
Duha menarik napas nya sebentar
"Rin, kalau butuh apa apa ada aku disini, kalau malu atau takut nanti akan ku perkenal kan dengan teman ku disini untuk menemani mu " duha menghentikan kalimatnya sejenak
Bayangan wajah nara seketika menghampiri pikirannya.
"Aku punya adik disini bukan adik kandung kau tau sendiri aku anak tunggal , tapi gadis ini sudah ku anggap seperti adik ku dia ramah, baik, manis dan sedikit gila ku pikir hahaa" tawa duha di akhir penjelasan nya terlihat sekali duha sangat membanggakan seseorang yang di anggap nya seperti adik nya sendiri itu.
Rinjani tersenyum
" seseorang yang kau suka?" goda rinjani
Duha mengerlingkan matanya, ia menyilangkan kedua tangannya kedepan.
"Jangan sembarangan , dia istri nya yoga"
Mata rinjani membulat lebar , tebakan nya salah ternyata yang sedang dibicarakan duha ada lah istri yoga salah seorang sahabat arya.
Ngomong ngomong tentang itu, dia sama sekali belum pernah bertemu dengan yoga dan istrinya padahal sudah hampir satu semester dia di pontianak, tapi belum sama sekali bertemu dengan yoga.
Ia juga tak berani bertanya kepada arya perihal yoga , siapa lah dia dan apa hak nya untuk mempertanyakan keberadaan yoga pada arya.
Rinjani tertawa kecil " maaf ku pikir tadi dia seseorang yang sedang dekat dengan mu sekarang"
"Tidak apa apa, nanti jika aku mengujungi mu lagi, aku akan membawa mu bertemu dengan nya hitung hitung menambah teman"
"Bisa seperti itu?"
"Ofc, apa yang tidak bisa di dunia ini ,nanti jika sudah kenal dengan nya kau bisa dengan leluasa menanyakan perihal keluhan mu sebagai sesama wanita ku pikir kau akan lebih terbuka dengan nya,mengingat karakter dia yang hangat tidak sulit membuat mu dekat dengan nya"
"Rin..." panggil duha lembut membuat rinjani terfokus pada diri nya.
"Sekuat apa pun wanita , semandiri apa pun wanita dia juga butuh bahu untuk bersandar dia juga butuh tempat untuk mengeluh untuk mendengarkan semua keluhan bahkan perasaan nya, jadi..." kalimat duha terhenti sejenak
Tangan nya ia angkat sebelah lalu meletak kan nya ke puncak kepala rinjani mengelus kepala itu pelan.
"Jangan pernah menanggung nya sendirian" lanjut nya lagi.
Rinjani mematung untuk beberapa saat ia berdiam tampak dari kedua matanya bulir bulir bening sedang menggenang di pelupuk matanya. ia memang butuh seseorang untuk bebagi kisah selama ini , ia hanya memiliki sahabat nya untuk berbagi kisah dengan nya, kehilangan ibu di usia yang sangat muda membuat mental rinjani sedikit berbeda.
dari gadis pada umumnya, ia bahkan tidak mengetahui bagaimana harus nya bersikap pada saat mendapatkab haid pertama nya. ia ingat sekali ia sangat ketakutan begitu melihat darah haid pertama nya.
ia bahkan tidak berani keluar kamar nya dikarenakan hal itu sampai pada akhir nya salah satu ART di rumahnya menemukan diri nya sedang bersenyumbi di balik tempat tidur nya.
dan sang ART itu pun menemukan tempat yang duduki rinjani saat itu ada bercak darah nya, ia sedikit panik lalu segera menanyakan keadaan an rinjani yang pada saat itu sangat ketakutan dan sudah lemah karna menangis seharian.
namun akhirnya rinjani merasakan tenang begitu sang ART menjelaskan bahwa hal itu normal bagi wanita pada umumnya tapi rinjani tergolong cepat mendapatkan haid pertamanya.
haid pertamanya terjadi ketika ia berumur 12 tahun tepat saat ia duduk di kelas 6 SD semenjak saat itu juga ia tidak berani duduk berdekatan dengan laki laki. rinjani selalu mengingat perkataan ART nya.
"non, mulai sekarang non gak boleh deket dengan laki laki , kalau deket deket perut nya non bisa gede"
itu lah yang diingat rinjani polos saat itu namun semakin bertambah nya usia rinjani akhirnya paham apa yang dimaksud ART nya. sekelibat ingatan itu membuat rinjani sedikit terisak lihat lah betapa menyedihkan nya gadis yang besar tampa sesosok ibu atau bahkan wanita di sekelilingnya.
"Rin , ada apa ? Kenapa kau menangis "
Rinjani tersenyum ia mengangkat sebelah tangan nya lalu mengusap matanya cepat.
"Kenapa orang lain terasa seperti keluarga sendiri, sedang keluarga sendiri seperti orang asing" ujar rinjani pelan
"Karna menjadi kan orang asing menjadi keluarga itu tidak lah mudah" sahut arya dari muka pintu ternyata sedari tadi ia berada di sana mencuri dengar pembicaraan mereka.
Duha yang mendengar hal itu langsung menoleh kan kepalanya ke rinjani , kedua tangan rinjani mengepal selimutnya,tampak berusaha menahan tangis nya.
Arya sukses menjatuh kan mental rinjani, lelaki itu kembali pada wujud asli nya kejam, tak berperasaan.
Duha tersenyum singkat menertawakan diri nya satu jam yang lalu ia memuji bagaimana sahabatnya itu menolong rinjani mengenyampingkan rasa benci nya, namun beberapa saat kemudian ternyata sosok kejam nya kembali lagi.
"Dokter mu sudah pulang, dia akan kembali besok pagi, kau sudah tidak apa apa kan "
Rinjani mengangguk meng iya kan
"Kalau begitu kami pulang ada suster yang akan melihat kondisi mu"
Duha memutar bola matanya
"Aku disini "kata duha
__ADS_1
Arya tertawa sebentar " kenapa ? Mau mendengar keluhan nya tentang ku sudah ayo pulang , bukan nya jam dua nanti kau harus kembali ke supadio"
"Ya..." seru duha
"Aku sudah tidak apa apa mas duha kalian pulang saja" kata rinjani segera menimpali ia tidak ingin membuat duha cekcok dengan arya.
"Tapi rin..."
Rinjani menggeleng kan kepalanya perlahan
"Aku bisa lagi pula ada suster yang menjaga ku"
Duha berdiam diri sejenak, ia menimbang keputusan nya sebentar, benar apa yang dikata kan arya dia memang harus kembali pukul 2 dini hari nanti.
Tapi disamping itu ia sendiri tidak tega harus meninggalkan rinjani sendirian, duha melemparkan tatapan sinis nya kepada arya.
"Rin , kalau kau butuh sesuatu langsung telfon aku, atau aku bisa meminta teman ku untuk menemani mu disini "Tawar duha
Rinjani menggelengkan kepala nya segera , begitu duha mengatakan teman di pikiran nya langsung terlintas, istri yoga. Ia sungguh tak ingin menyulitkan siapa pun saat ini apa lagi seseorang itu masih bersangkutan dengan arya.
"tenang saja, aku bisa menghubungi teman ku"
"Kamu yakin"
"Iya mas "
"Debat nya bisa di persingkat tidak ?" celetuk arya membuat kedua nya saling berpandangan satu sama lain.
Duha lagi lagi menghela napas sebal, semenyebal kan ini kah sahabatnya.
"kalau begitu kami pulang , ingat kalau ada apa apa telfon aku" Ujar duha sembari melangkah kan kaki nya keluar dari ruangan rinjani.
"He embb..." rinjani mengangguk.
-
Didalam mobil tak ada satu pun diantara mereka yang mengeluarkan suara , arya fokus mengendarai mobil nya sedang duha hanya duduk tenang dibalik kursi penumpang sembari menyenderkan kepalanya ke jendela.
" mau ku antar pulang?" tanya arya mencoba mencairkan suasana hening diantara mereka.
"Tidak usah aku sudah memesan gocar untuk mengantar ku langsung ke bandara"
Arya terkejut ia melirik jam di tangannya pukul 21.15 masih terlalu dini untuh duha pulang.
"Masih awal kenapa tiba tiba ingin pulang, ada yang ingin kau temui"
"Tidak ada"
"Tidak usah perduli kan fokus saja pada menyetir"
Arya menyadari raut kekesalan di wajah duha saat ini. Ia tahu duha tengah marah kepada nya.
"Kenapa selalu aku yang salah disini"protes arya
"Lalu kau pikir ada orang lain ?"
"Hei.. Kau tau sendiri bagaimana kisah ku, kau tahu bagaimana terpuruk nya aku ketika ibu ku meninggal , jika dia tidak terlahir ibu ku tidak akan meninggal"
Duha menghela napas nya berat ia memicit kepalanya beberapa kali, lagi lagi arya akan membahas ini ketika mereka membahas rinjani.
"Sudah 20 tahun dan kau masih saja menyalahkan nya"
"KAU PIKIR MUDAH UNTUK MELUPAKANNYA !!" bentak arya saat itu juga, duha terlonjak kaget sebenarnya ia sudah siap menerima emosi arya yang tiba tiba saja akan meledak jika membahas tentang ibunya.
"Hentikan mobil mu"
"Maksud mu ?" tanya arya
"Aku bilang hentikan"
Arya menuruti perintah duha ia menghentikan mobilnya ketika menemukan tempat yang tepat dimana ia bisa memarkirkan mobil nya barang sejenak. di depan bangunan kosong , ya saat itu mereka berhenti tepat di depan bangunan kosong yang terlihat tidak berpenghuni tak ada satu pun lampu yang menerangi area tersebut.
Duha segera keluar dari dalam mobil arya yang menyadari hal itu ia memperhatikan langkah duha yang kini berjalan mengitari mobil nya dan berhenti disamping pintu dimana kini ia duduk.
Duha membuka pintu kemudi mobil.
"Pindah ..." kata nya
Arya terdiam kesadaranya seketika menghilang saat itu juga.
"Pindah ..." sekali lagi duha berujar membuat arya tersadar
"Kenapa ?"
"Kau pikir situasi mu yang saat ini bisa membuat ku tenang mengendarai mobil dengan mu"
"Aku baik baik saja"
"Kau tidak baik baik saja saat ini, kau mau pindah atau aku yang meninggal kan mu"
Mendengar kalimat duha terakhir membuat arya menurut ia dengan segera berpindah tempat duduk , mengambil posisi tempat dimana sebelum nya duha duduk. Dan kini duha sudah duduk di kursi kemudi.
Duha melanjutkan perjalanan mereka , sementara arya masih terdiam di tempat duduk nya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin membicara kan apa pun dengan mu malam ini"
"Jadi jangan coba coba mengajak ku berbicara" potong duha segera saat ia mendengar arya mencoba mengeluarkan kalimat nya.
"Kau memang sahabat ku , tapi rinjani seorang perempuan dan dia masih butuh perlindungan, jika disuruh memilih antara kau dan dia tentu saja aku memilih mu, tapi ini soal empati sebagai manusia aku memiliki rasa empati ,jadi saat ini rasa empati ku sedang menguasai ku dibanding rasa persahabatan ku dengan mu" jelas duha
Tak ada jawaban dari arya ia hanya berdiam tak menanggapi apa pun mengingat duha sudah memberikan ultimatum kepada nya.
-
" terima kasih ham sudah repot repot datang untuk menjemput ku"
"chill.. rin ini sudah tugas ku sebagai sahabat mu" jawab ilham menenangkan rinjani, ia dengan segera melihat wajah canggung rinjani.
30 menit yang lalu aulia menghubungi diri nya bahwa rinjani meminta tolong untuk dijemput, namun saat itu aulia tidak bisa , ia memiliki kegiatan lain yang mengharus kan nya untuk ikut.
aulia meminta tolong kepadanya untuk menggantikan diri nya menjemput rinjani. dan dengan segera ilham mengiyakan,ia tahu rinjani tinggal sendirian di pontianak, tidak sebenarnya gadis itu tinggal bersama kaka nya.
yang ilham yakinin kaka yang bukan sebenar nya kaka, walaupun ia adalah seorang pria namun ia menyadari bahwa selama ini rinjani memiliki masalah dengan kaka nya itu.
ilham sendiri belum pernah bertemu dengan pria itu, ya pria yang rinjani anggap kaka sesekali ilham mencuri dengan curhatan rinjani tentang kaka nya pada aulia, sebagai pria tentu saja itu sedikit mengusik nya membuatnya mengasihani rinjani.
"rin mau pulang dulu atau mau makan?"
"langsung pulang saja, aku makan dirumah saja"
"sungguh? " raut wajah ilham tampak kecewa
"kenapa ham?"
"padahal emak masak enak loh hari ini"
wajah rinjani berbinar cerah mendengar ucapan ilham, emak adalah panggilan ilham untuk ibu nya. kebanyakan anak anak di pontianak memanggil ibunya dengan sebutan emak.
rinjani dan aulia sudah beberapa kali datang mengunjungi rumah ilham dan disambut dengan hangat oleh emak, bahkan di suguhkan makanan. emak sosok ibu yang hangat bagi rinjani.
emak selalu cerewet dan hobi berbicara jika bertemu dengan mereka ia bisa menghabis kan waktu nya berjam jam untuk berbicara dengan aulia dan rinjani.
masakan emak juga sangat enak rinjani dan aulia mengakui itu.
"emak masak banyak hari ini?"
"iya rin.. tadi kata emak/
"kalau begitu ayo pulang kerumah mu dulu ajak aulia sekalian" kata rinjani langsung memotong kalimat ilham.
ilham tertawa kecil begitu melihat rinjani yang tampak bersemangat. membawa nama emak memang yang paling ampuh ucap ilham dalam hatinya.
ia pun mengikuti langkah rinjani yang sudah mendahului berjalan menuju motor scopy nya yang terpakir tak jauh dari posisi mereka sekarang.
#AryaPOV#
arya melihat jam dinding yang berada tepat bergantung di atas ruang tamu nya. waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, tapi sosok rinjani belum juga kembali kerumah mereka tangan nya terkepal kuat menahan amarahnya.
ia amat kesal sebelum ia pulang kerumah , ia mengunjungi rumah sakit dimana rinjani dirawat , namun yang ia dapatkan wanita itu sudah keluar 2 jam yang lalu.
tampa mengabari nya, ini ada lah kesalahan pertama lalu selanjutnya arya pikir mungkin rinjani sudah ada di rumah nya namun apa yang didapatkan nya. gadis itu batang hidung nya sama sekali tidak ada.
dan sekarang waktu sudah menunjukan pukul delapan malam tapi gadis itu masih saja belum pulang.
saat ia sedang di sibukan dengan pikiran nya terdengar suara motor di depan halaman rumah nya, arya segera mengintip dari jendela ruang tamu, benar saja itu rinjani kening arya berkerut ketika melihat seseorang yang mengantar rinjani
seorang pria mereka berdua saling melemparkan senyum dan terlihat pria itu memberikan sebuah bungkusan pada rinjani. arya menggeram jadi lelaki ini kah yang tadi menjemput rinjani.
beberapa detik setelahnya arya kembali pada posisi duduknya ketika ia melihat rinjani akan memasuki rumahnya.
gagang pintu itu berbunyi sebentar lalu pintu pun terbuka, rinjani sedikit terkejut menemukan keberadaan arya, kini pria itu tengah duduk di sofa dengan tegap kedua tangan nya dilipatnya ke depan dada tatapan nya tajam menusuk rinjani.
"dari mana saja kau ?"
"dari rumah teman ku "
"teman atau pacar ha?" nada arya mulai meninggi
"teman " kata rinjani santai ia berjalan santai meninggal kan ruang tamu menuju pintu kamarnya. melihat hal itu membuat arya semakin kesal
"hei..." pekik arya
"rinjani aku belum selesai bicara "
rinjani tak menggubris ia sama sekali tak menoleh, ia memasuki kamarnya lalu segera menutupnya.
arya terdiam di tempat nya, apakah saat ini ia baru saja di abaikan oleh rinjani. tapi bagaimana bisa sejak kapan gadis itu mulai memiliki keberanian untuk mengabaikan nya.
arya menepis pikirannya mungkin rinjani kelelahan atau rasa sakitnya masih ia rasakan hal itu lah yang membuatnya mengabaikan dirinya.
arya mengalihkan perhatian nya ke depan melihat halaman rumah nya, ia sedikit penasaran pada pria yang mengantar rinjani tadi. siapa pria itu?
"kenapa pula ia mengantar rinjani? apa ia juga yang menjemput rinjani di rumah sakit ?"
arya tersadar dari lamunannya tadi, apa peduli nya , kenapa pula ia harus repot repot memikirkan rinjani. ya rinjani tidak penting,bahkan tak penting sama sekali di hidupnya.
#AryaPOVEND#
__ADS_1