Arya & Rinjani

Arya & Rinjani
part 5


__ADS_3

Arya memarkirkan mobil nya di halaman rumah tatapannya tertuju pada kursi kosong yang berada di halaman, biasa nya disana sudah terduduk rinjani yang menunggu kedatangan nya , sembari membaca buku pelajaran nya. Tapi hari ini kursi itu kosong.


Arya keluar dari mobil menutup pintu lalu melirik jam di tangan kiri nya. Waktu sudah menunjukan pukul 17.30 sudah lebih dari 30 menit rinjani terlambat pulang, kemana dia , apa yang dilakukannya , kenapa sampai saat ini belum pulang. Batin arya saat itu


Arya melirik ke samping kiri duha ternyata sudah keluar dari mobil , pria itu memandang ke arah nya dengan tatapan bingung.


"Apa aku tidak di ijin kan masuk ?" sindir nya karena arya masih terdiam di tempat nya alih alih membuka kan pintu, ia justru terlihat seperti orang yang kebingungan mencari sesuatu.


Arya menghembuskan napas nya kasar, sedikit tersenyum mendengar ucapan duha lalu berjalan menuju pintu utama, mengambil kunci di saku celana lalu membuka pintu rumah nya.


Beberapa detik kemudian mereka sudah memasuki rumah arya , duha menghela napas lega begitu melihat sofa empuk di ruang tamu , ia segera menuju ke sofa tersebut menjatuh kan tubuh nya ke atas sofa , lega sekali rasanya karna sekarang sudah bisa beristirahatkan dan meregang kan otot otot tubuhnya.


"Ah akhirnya bisa beristirahat dengan nyaman" batin duha sambil tersenyum


"Aku nginap di kamar tamu ya " kata duha


"Gak bisa !" jawab arya tegas, ia kini tengah sibuk membuka sepatu pantopel nya , di sofa samping pintu.


Duha menautkan kedua alisnya bingung


"Lah kok gak bisa , kemarin juga bisa" protes nya


arya mengabaikan nya, kini ia sudah selesai membuka kedua sepatu nya , menaruh nya ke dalam rak sepatu sembari membuka satu persatu kancing baju PDL nya dan berjalan menuju dapur , ia membuka kulkas disana terdapat beberapa makanan , buah dan beberapa minuman dingin yang ternyata telah di isi oleh rinjani.


Ya siapa lagi yang akan mengisi kulkas nya selain gadis itu ,kalau dirinya tentu saja tidak mungkin ia tidak terlalu memperhatikan isi di dalam kulkas nya. Terlebih ia jarang berada dirumah.


Arya mengambil satu botol air dingin dan mengambil 2 gelas bersama nya lalu kembali ke ruang tamu.


"Pacar mu nginap disini?" tanya duha asal


Arya menggeleng kan kepalanya sebentar, bisa bisa nya otak sahabat nya berpikiran seperti itu tentang dirinya.


"Gila ya , udah ini minum " Kata nya kemudian menuangkan air dingin ke dalam gelas duha.


"Ya ada penghuninya lah " tambah nya setelah meneguk air dingin milik nya.


"Iya ada , tapi siapa ?"


Arya melirik duha sekilas , senyum smirk tersungging di wajah tampannya.


"Jangan pura pura gak tau"


" kok pura pura gak tau, ya emang aku gak tau, kalau tau tentu gak kutanya ya"


Arya mendecak kan lidah nya sebentar.


"Rinjani"


Duha yang pada saat itu sedang meneguk minuman nya pun seketika terhenti, ia hampir saja tersedak.


"Serius ?" tanya nya setelah menaruh gelas di meja


Arya mengangguk sebentar, lalu mendudukan diri nya ke salah satu sofa yang berada tidak jauh dari duha, menarik napas nya lalu menghembuskan nya kasar, terdengar frustasi.


"Kamu tau kan , aku sebenci apa dengan gadis itu"


Duha mengangguk membenarkan


"Jadi gimana ?"


"Apa nya?"


"Ya gimana? Ya udah hampir 12 tahun masa iya kamu masih sebenci itu sama dia"


Rahang arya mengeras seketika " mau 12 tahun, mau berapa tahun pun, wajah dia itu bikin aku muak ha' dia yang udah buat mama meninggal, kalau mama ku gak ketemu sama lelaki b******, ayahnya dia , sampai sekarang keluarga ku masih utuh, aku bahkan mungkin gak jadi tentara seperti ini." ucap arya ,nafasnya ter engah engah ketika melontarkan satu demi satu kalimatnya.


"Iya aku tahu, tapi kan rinjani tu gak salah apa apa "Duha masih berusaha untuk menyampaikan pendapat nya , walaupun ia tahu lelaki di hadapannya ini sudah mulai tersulut emosi.


"Ha, mau salah mau tidak keputusan ku itu udah bulat. Dan dia juga lahir untuk menebus kesalahan orang tuanya!!!" bentak arya


"Mama ku itu mama mu juga !!!!" sahut rinjani dari depan pintu utama , tampa disadari mereka gadis itu sejak tadi sudah berdiri di depan pintu rumah , mendengarkan pembicaraan mereka.


mata rinjani memerah , air mata sudah mengenang di pelupuk matanya. Kedua tangannya mengepal tinju, tubuhnya bergetar


Arya dan duha tersentak kedua nya saling berpandangan satu sama lain. Arya beranjak dari tempat duduk nya , mendengar rinjani menyebut ibu nya, emosi nya semakin tersulut ia berjalan menghampiri rinjani nafasnya memburu.


Matanya berkilat marah arya kini tepat berada di hadapan rinjani menatap rinjani tajam.

__ADS_1


"Jangan coba coba mengatakan ibu ku itu adalah ibu mu" ucap nya


rinjani diam kepalanya yang awal nya berani ia tegak kan, kini tertunduk rinjani memejam kan mata takut ya saat ini ia tengah takut bayangan beberapa hari yang lalu, ketika arya menyudutkan nya, kini kembali di ingatan nya, ia bisa merasa kan gigi arya yang berbunyi menggertak seakan tengah menahan amarah nya.


Arya beralih ia pergi meninggalkan rinjani yang masih berdiri di depan pintu dengan tangisnya, memasuki kamarnya.


Braaaaaaaaakk...


Pintu kamar dibanting keras seketika membuat duha terkejut begitu pula rinjani , gadis itu langsung terduduk di dekat pintu, sepatu nya masih belum ia buka, tubuh nya kini bergetar hebat.


Tatapannya sendu, tangisan nya yang lirih terdengar oleh duha,duha sendiri tak menyangka bahwa arya akan semarah ini kepada rinjani. ia jadi merasa bersalah karna mengungkit masalah mereka, harusnya ia tak perlu ikut campur tentang urusan ini


Dan yang lebih menyedih kan nya lagi kini rinjani tau apa alasan arya membenci nya selama ini.


Duha segera menghampiri rinjani , ia tidak tega melihat kondisi rinjani saat ini , gadis kecil itu masih sama seperti beberapa tahun yang lalu ,ia ingat betul bagaimana rinjani saat arya dengan tak berperasaanya memerahi rinjani di depan mereka.


mungkin dulu duha masih bisa mendiam kan karna saat itu mereka masih teramat muda, tapi saat ini umur mereka sudah lebih dari 20 tahun. apa kah kedewasaan tidak menghilangkan rasa kebencian arya terhadap rinjani sedikit pun.


"Rin..."panggil lembut duha


Duha ragu sejenak ia menghampiri rinjani berlutut mensejajari tubuh nya dengan rinjani yang saat ini sudah terduduk ,tangan duha terangkat sebelah ia meletakan tangan nya ke samping bahu rinjani pelan


"Mas arya cuman/aku juga gak mau terlahir dari orang tua seperti mereka"


Kalimat duha terhenti ketika mendengar kalimat menyedihkan yang keluar dari mulut rinjani , kalimat rinjani tadi langsung membuatnya bungkam, pikiran nya kosong.


apa yang harus ia katakan, apa kah tepat jika ia mencoba menghibur rinjani, sedang kenyataanya diri nya lah sumber dari permasalahan mereka malam ini.


duha lah yang membuat arya tersulut emosi, hingga membuat rinjani menangis seperti saat ini.


-


1 jam kemudian, duha hanya berdiam disamping rinjani dengan tisu yang sedari tadi ia pegang, tisu itu ia beli ketika melewati sebuah mini market yang berada tepat di depan gerbang komplek rumah arya, duha menemani rinjani duduk di taman yang berada tidak jauh dari pemukiman rumah dinas arya.


satu persatu tisu itu ia berikan pada rinjani ketika rinjani menangis ,tak ada satu kalimat pun yang bisa ia berikan kepada rinjani saat ini untuk menghibur nya, yang bisa ia lakukan saat ini ada lah menemani nya.


tak masalah baginya jika rinjani ingin menangis semalaman di taman ini, atau jika tisu ini habis seragam pilot nya pun rela ia berikan untuk mengusap air mata rinjani.


gadis disamping nya ini begitu rapuh, ia menanggung beban emotional sejak sedari kecil, diperlakukan kasar oleh arya terus menerus membuatnya menjadi wanita yang naif. yang selalu menyembunyikan kesedihan nya dibalik keceriaan nya.


Hari ini bulan berbaik hati menerangin malam mereka , menunjukan sinarnya beberapa bintang kecil tampak berkilat kilat tak ingin kalah dengan sinar bulan, mereka juga ingin menunjukan eksistensi sinar mereka


Terdengar helaan nafas rinjani beberapa kali, duha masih tak mengeluarkan sepatah kata pun ia hanya berdiam menunggu rinjani. Menunggu gadis itu berbicara


"Makasih ya mas ..." kata rinjani lirih


"Untuk apa?"


"Karna sudah menemani ku"


Duha tersenyum ia mengangkat sebelah tangannya, meletak kannya ke atas kepala rinjani, mengelus puncak kepala rinjani lembut.


"Sudah lega ?"tanya duha


Rinjani mengangguk pelan , mendapat jawaban dari rinjani membuat duha lega ia menarik napas nya panjang lalu menghembus kan nya perlahan


"Lapar tidak ?"


Rinjani mendongakan kepalanya , memandang duha


"Mas nanya aku?" tanya rinjani mencoba meyakin kan


Duha mengalihkan perhatian nya dari rinjani memandang ke kiri dan kanannya , lalu kembali pada rinjani " ku rasa tidak ada orang lain selain kita berdua disini"


Mendengar ucapan duha sontak membuat rinjani terbahak keras, ia sempat bingung mendapati respon duha sebelum nya, namun setelah mendengar ucapan duha ia mengerti


Duha lega begitu melihat rinjani akhirnya tertawa ,ternyata tidak susah untuk membuat rinjani tertawa, batin duha saat ini.


-


Sementara itu di dalam kamar, arya berbaring menghadap tembok kamar , tinju nya masih terkepal kuat, ada perasaan bersalah yang kini menganggu hati nurani nya.


Terlebih wajah menyedihkan rinjani tadi berkali kali muncul di saat ia mencoba memejam kan kedua bola mata nya.


Arya menghela napas keras ia menyerah, penghuni perut nya sudah berteriak meminta untuk di isi, baik lah mungkin setelah makan malam ia bisa tidur, bukan karna rinjani, ya bukan karna gadis itu dusta nya ia mencoba mengalihkan pikiran nya terhadap rinjani.


Lebih tepat nya rasa bersalah

__ADS_1


Ia bergegas melepaskan pakaian dinas nya berniat untuk mandi dan setelah itu ia bisa mengajak duha untuk menemaninya makan.


Pikirnya saat itu namun kenyataaan nya tidak lah sesuai ekpetasi kini ia tengah melihat rinjani yang tertawa bahagia bersama duha , mereka bercanda bersama seperti tidak terjadi apa apa pada diri nya sebelum nya.


Itu semakin membuat arya muak, jadi hanya diri nya disini yang menderita karna menanggung rasa bersalah. Atau gadis itu sudah pandai bersandiwara untuk menarik simpatik duha.


Arya menghampiri mereka , karna mendapat jawaban dari duha yang meminta nya untuk menyusul mereka, tak ada pilihan lain mau tidak mau arya harus menyusul mereka.


tawa rinjani terhenti ketika arya berdiri di hadapan nya arya menduduki kursi di depan rinjani. Pria itu sudah mengganti pakaian nya lebih fresh dari sebelum nya. dengan baju rumahan kaos abu abu dan celana panjang berbahan kaos yang menjadi style rumahan nya.


Ia tersenyum pada duha namun mengabaikan rinjani.


"Duduk ya, makan disini aja kenapa sih harus makan di luar " kata duha mencoba mencairkan suasana di antara mereka, ia melirik rinjani yang kini langsung terdiam di tempat nya.


" hmm" jawab arya tak berkomentar


"Mau makan apa ?" tanya duha lagi


"Terserah"


"Ya sudah terserah aku pesan nya nasi setengah sama kerupuk aja ya"


Arya mendecakan lidah sekilas" gila kamu, kamu kira aku cewek yang lagi diet, aku pesan lamongan seperti kamu lah"


“ mas duha aku duluan ya …” celetuk rinjani ia beranjak dari tempat duduk nya


“duduk !!!” kata arya dingin


mendengar kalimat arya membuat duha langsung mengalihkan pandangan nya pada rinjani alis duha bertautan bingung , apa lagi ini kenapa pula arya menahan rinjani .


Rinjani tertegun ia memandang duha meminta penjelasan namun nihil , duha mengangkat bahu nya sekilas pertanda tidak tau ia sendiri pun tak paham apa yang di inginkan arya.


duha meletak kan tangannya di kursi yang sebelum nya rinjani duduki mengisyaratkan rinjani untuk mengikuti kemauan arya.


Rinjani mengalah ia menuruti perkataan arya tidak ingin berdebat lagi pula ada duha di antara mereka setidaknya ada yang akan mencairkan suasana kecanggungan diantara mereka berdua.


rinjani memperhatikan wajah arya, sebenarnya kaka tiri nya itu sama sekali tidak menakutnya , ia memiliki senyum yang manis dan sikap yang manis.


Seperti saat ini arya bahkan bisa tertawa lepas bersama duha dan sesekali terdengar ia menceritakan pengalaman lucu nya kepada duha.


duha pun tertawa keras, suasana diantara mereka pecah , hingga sanggup membuat rinjani lupa bahwa sebelum nya ia sudah dibuat menangis oleh lelaki dihadapannya ini, rinjani ikut menertawakan cerita konyol mereka.


#RinjaniPOV#


Aku masih tidak habis pikir lelaki dihadapan ku ini bisa semanis ini jika tersenyum , gingsul nya tawa nya, malam ini dia tertawa lepas hanya karna candaan sederhana yang di lemparkan lelaki yang duduk disamping ku ini.


Jika aku tidak terlahir menjadi adik tiri nya aku pasti menjadi wanita paling bahagia karna memiliki kaka tampan seperti mereka berdua. Mas arya pasti tidak akan memperlakukan ku sekasar tadi.


Dia pasti menganggap ku , menghargai ku , melindungi ku seperti adik nya sendiri atau jika tidak ,jika aku bukan lah seseorang yang memiliki hubungan darah dengan nya. Hanya seorang yang datang sebentar di kehidupan nya mungkin dia akan memperlakukan ku dengan baik.


“ ah apa yang sedang ku pikirkan , dia kan mas ku walaupun saudara tiri dia juga anak ibu ku “ batin nya rinjani tersadar dengan cepat ia menggeleng kepalanya mengusir pikiran sebelum nya, dan lalu memukul kepalanya


“Auuuuhh….”


#Rinjani POVend#


“auuhhh…” rintih rinjani


Arya dan duha yang saat itu sedang asik bersenda gurau langsung mengalihkan perhatian mereka pada rinjani secara bersamaan .


“ada apa ?” Tanya duha tampak khawatir sedang arya , ia langsung menatap rinjani tangan kanan nya masih memegang minuman.


sontak saja wajah rinjani memerah karna ditatap secara langsung oleh arya , dengan cepat rinjani menekuk kepalanya ketika mata mereka saling bertemu , melihat hal itu membuat duha terbahak ia sempat melihat wajah memerah rinjani sebelum rinjani menekuk wajah nya.


Sebelum nya ia tak mengerti kenapa tiba tiba rinjani langsung menekuk kepala nya , tapi ketika melihat posisi arya sekarang menatap rinjani dengan intens, membuat duha paham apa penyebab nya.


ia mengerti dengan situasi pada saat ini , hanya arya yang tak peka dengan situasi mereka saat ini alisnya bertautan bingung melihat duha yang tiba tiba saja tertawa.


“ kau gilaaaa ya!” celetuk arya asal lalu kembali mengabaikan rinjani.


Duha masih tertarwa kecil , ia mengangkat sebelah tangannya langsung mengelus puncak kepala rinjani mengabaikan kehadiran arya yang masih berada di antara mereka.


arya yang melihat itu secara langsung matanya membulat lebar, berani sekali pria ini mengusap kepala rinjani di hadapan nya apa lagi dilakukan secara langsung , aku saja sebagai kaka nya tidak pernah melakukan hal seperti itu “ batin arya saat itu.


“ tangan mu !!” protes arya tampa ia sadari ia sudah menunjukan perhatiannya pada rinjani.


tangan duha terhenti, ia hanya tersenyum sambil menyipitkan sebelah mata nya pada arya, pertanda kalau ia berhasil menggoda arya.

__ADS_1


__ADS_2