
Rinjani mengikuti apa yang di minta arya ia hanya akan keluar kamar ketika arya tidak berada di rumah atau , jika arya ada di ruang tamu bahkan di ruang TV.
Rinjani tidak akan keluar , ia hanya mengurung diri dikamar, ia pergi kuliah sebelum arya pergi bekerja dan pulang kuliah setelah arya pulang.
Sering kali ia harus menunggu arya berjam jam di depan rumahnya , karna jadwal kuliah nya yang tak menentu.
Ia harus pulang lebih awal dari pada jadwal arya pulang bekerja , jika seperti itu ia akan memilih untuk menghabis kan waktu di perpustakaan atau bermain bersama sahabat baru nya. Ilham dan aulia.
"Jadi kaka mu itu tidak menggandakan kunci rumahnya rin?" tanya aulia gadis berkulit putih bersih itu masih asik mengunyah cemilannya sambil mendengar dengan seksama cerita rinjani .
"Iya "
" lah kalau kamu pulang awal begini , masa iya dia lebih milih adik nya keluyuran kesana kemari gak ada tujuan " sungut aulia
Rinjani tertawa kecil " habis kan dulu itu makanan mu baru ngomong"
"Iya ini juga lagi proses , jadi ya masa kaka mu gitu"
Rinjani menghela napas ia meneguk minuman larutan penyegar nya , sudah seminggu ini mereka praktek di lapangan dan itu membuat nya harus berjemur beberapa hari.
"Ya emang gitu kenyataannya"
"Itu kaka kandung apa kaka tiri , kok bisa sejahat itu , kaka ku loh ya jam 10 malam aja aku belum ada dirumah, udah di telfonin udah kaya buronan tau, sampe di ancam mau nyamperin " jelas aulia yang membuat rinjani cekikikan tertawa .
"Tapi sekarang bebas toh kan udah jauh dari orang tua mu"
Aulia memutar kedua bola matanya malas " boro boro rin, teman kaka ku dimana mana aku diancam kalau sampai ketemu temennya dijalan , kalau kedapetan masih keliaran jam 10 ke atas habis aku di laporin mereka ke kaka ku"
"Posesif juga ya kaka mu aulia " ujar rinjani sembari tertawa
"Ya gitu namanya juga adik cewek , mangkanya aku aneh kok bisa kaka mu ngebiarin kamu gtu aja "
Rinjani menghela napas berat , ia melirik jam tangannya sudah saat nya ia pulang karna 30 menit lagi arya akan pulang bekerja.
Rinjani sudah hapal dengan jadwal pulang arya , yang selalu pulang tepat jam 5 sore.Rinjani mengambil totebag nya yang berada tidak jauh darinya.
"Aul , makasih ya udah numpangin aku beberapa jam ini aku pulang dulu ya "
Rinjani beranjak dari tempat duduk nya.
"Mau kuantar ?"
" aku pulang pakai grab aja" jawabnya sembari menggeleng pelan
"Yakin ?"
"Ia yakin , ya udah aku pulang dulu yaa "
"Rin, minta ayah mu beliin motor tah biar enak bolak balik kampus pakai motor gak pake grab lagi"
Rinjani tersenyum simpul , senyum yang biasanya, rinjani selalu terlihat manis dengan dimple di kedua sisi pipinya.
"Iya nanti lah,dah aku pulang dulu ya " pamitnya kemudian keluar dari pintu kamar aulia.
Kost aulia berada tidak jauh dari kampusnya , kos wanita seperti pada umum nya bersih dan rapi , kos itu memiliki dua lantai
Kamar aulia tepat berada di lantai kedua, setiap kamar pintu nya langsung menghadap keluar didepannya di beri pagar teralis mungkin pembatas.
Rinjani senang bermain ke kos aulia karna letaknya yang tidak berada jauh dari kampus nya, suasana kos yang asri yang di mana pintu kamarnya langsung menuju ke jalan.
Membuat nya senang , ia bisa memperhatikan orang berlalu lalang ketika duduk di balkon depan pintu kamar kost aulia.
Sudah hampir 3 jam rinjani menunggu di depan rumah arya , ia sudah mengirim pesan di whatsapp arya, bahwa diri nya sudah berada di rumah.
Pesan itu sudah ceklis biru yang menandakan bahwa sang pemilik whatsapp sudah membaca pesan nya.
Rinjani membujurkan kaki nya , lelah sekali rasanya ia ingin segera mandi begitu arya datang dan beristirahat karna besok pagi ia masih harus praktek untuk menghitung kekuatan campuran semen dan pasir untuk sebuah gedung besar.
Rinjani membuka kembali catatannya tadi siang , mengingat ingat kembali materi yang dosen nya sampai kan.
__ADS_1
Cahaya terang menyilaukan mata nya , sebuah mobil masuk ke halaman parkir perkarangan rumah , rinjani mengangkat sebelah tangannya melindungi matanya saat ini yang tepat tertembak oleh cahaya lampu yang bersumber dari mobil tersebut.
Beberapa detik setelahnya ,mesin mobil itu pun mati dan seseorang keluar dari dalam nya , orang itu adalah arya , lelaki itu melirik rinjani sekilas , sembari mengambil kunci dari dalam kocek celananya.
"Sudah lama ?" tanya arya
"Ya " jawab rinjani ,ia berdiri tepat di belakang arya, begitu pintu dibuka rinjani pun masuk kedalam rumah tampa menoleh ke arah arya.
Itu sedikit membuat arya jengkel , "setidaknya dia harus mengucap kan terima kasih "batin arya
Arya menghela napas , ia pun mengikuti langkah rinjani masuk kedalam rumahnya , membuka sepatu PDL nya , mendudukan diri nya di sofa lelah sekali rasanya hari ini.
Ia harusnya sudah pulang beberapa jam yang lalu, tapi seli pacar nya meminta nya untuk menemani berbelanja ke mall , kenapa wanita itu selalu meminta nya untuk berbelanja , tidak bisa kah ia pergi sendiri sungut arya.
Sambil memicit kepalanya , ia mengambil ponselnya yang di simpannya di saku celananya , melihat isi whatsapp nya beberapa pesan diterima nya dari selli , arya memilih untuk mengabaikannya.
Melihat isi grup satuannya , beberapa anggota terlihat saling melemparkan guyonan,arya tertawa kecil melihat isi perdebatan di dalam grup letting nya, sedang asik nya melihat isi pesan whatsapp ia teringat rinjani.
Ngomong ngomong sudah berapa lama gadis itu menunggu nya di luar, arya pun mencari pesan dari rinjani, ternyata pesan rinjani sudah tenggelam oleh banyak nya pesan yang masuk di whatsapp nya.
Dan ia menemukan pesan rinjani , arya melihat waktu pesan itu di kirim pukul 17.15 , arya lalu mengecek jam ditangan kirinya waktu sudah menunjukan pukul 21.25 WIB itu artinya sudah 4 jam rinjani menunggu nya di depan.
Perasaan bersalah langsung menghampiri arya, sekalipun ia berniat membuat rinjani tidak betah tinggal bersama nya ,tapi membiarkannya selama 4 jam di luar itu adalah hal yang keterlaluan ditambah lagi mungkin saja gadis itu belum makan sejak dari tadi.
Arya menepuk jidatnya pelan , keterlaluan sekali kau arya umpat arya pelan lebih kepada dirinya sendiri, ia beranjak dari tempat duduknya lalu menuju ke sepeda sport nya.
Di keluarkannya sepeda itu lalu mengayun sepedanya, arya masih menggunakan pakaian dinasnya, berniat untuk membelikan rinjani makanan kebetulan di depan asramanya.
Ada sebuah warung makan , ada beberapa menu yang dijual disana , lamongan , bakso dll.
Untuk menebus rasa bersalahnya ada baik nya ia membelikan rinjani makanan.
Setidak nya perasaan bersalah nya tidak akan membuatnya kesulitan tidur nanti malam. Sebenci apa pun ia pada rinjani , ia juga seorang manusia yang jika memiliki rasa bersalah itu akan mengusik diri nya sendiri.
Beberapa menit setelahnya arya kembali dengan sebungkus lamongan , memasukan sepeda sportnya kembali kedalam rumah , berjalan menuju kamar rinjani.
Arya menghela napas nya sebelum ia mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar rinjani.
-
Salahnya juga kenapa tadi saat menunggu kedatangan arya dia tidak membeli makanan dahulu. Setidaknya ini menjadi pelajarannya.
"Tok "
"Tok"
"Tok"
"Rin....." panggil arya
Rinjani mendongakan kepalanya, apa lagi ini apa dirinya membuat kesalahan kenapa tiba tiba arya memanggilnya.
"Ya ka .." jawab rinjani pelan sedikit agak takut.
"Belum tidur kan?" tanya arya
"Belum "
Tak ada jawaban , rinjani yang penasaran pun akhirnya mendekat ke arah pintu.
"Ada apa ka?" tanya rinjani lagi, masih tak ada jawaban rinjani menempelkan telinganya ke dinding pintu namun tak ada suara sama sekali.
"Aneh " sungut rinjani tangannya masih memegang perutnya.
Tiba tiba suara pesan masuk di handphonenya yang ia biarkan tergeletak di atas kasur , rinjani berjalan kembali ke tempat tidurnya , mengambil handphonenya malas.
Rinjani membulat kan matanya besar begitu melihat pesan whatsapp yang dikirim kan arya kepadanya.
Ka arya
__ADS_1
"Makanan mu ku simpan di pegangan pintu kamar mu"
tangan rinjani terangkat menutup mulutnya , melirik ke arah pintu , ini benar arya mengirim kan pesan ini padanya.
Rinjani membaca ulang isi pesan arya ia memastikan berulang kali nama si pengirim pesan ,ini benar arya.
Kenapa tiba tiba saja ia , ah sudah lah rinjani tak menunggu waktu lama ia menuju pintu kamar untuk memastikan , membuka perlahan pintu kamarnya.
Sebelum itu, ia mengintip ke luar , apa arya masih berada di luar atau ternyata laki laki itu masih berdiri di depan pintu kamarnya.
Tapi tidak ada, kosong, rinjani memberani kan diri membuka pintu kamar lebar dan benar saja sebuah kresek hitam sudah tergantung di sana lengkap dengan secangkir gelas plastik es teh manis.
Mata rinjani berkilat bahagia betapa menggodanya es teh manis ini, membuat perutnya berbunyi tidak menunggu waktu lama , ia dengan segera mengambil makanan itu, dan kembali menutup pintunya pelan.
Tak lupa ia mengirim pesan kepada arya
"Terima kasih ka, aku akan membalasnya" itu lah isi pesan nya, sebelum ia menyantap makanannya.
-
"Terim kasih ka , aku akan membalasnya"
Arya membuka isi whatsapp rinjani , tak berniat membalasnya ia hanya mengabaikannya. arya masih di posisi nya berbaring menatap langit langit kamarnya.
Masih teringat jelas di ingatannya bagaimana pertama kali rinjani datang ke rumahnya, gadis itu tampak kurus lusuh dan hitam seperti anak tidak ter urus.
Ia kembali teringat saat saat ketika ia sering kali membentak rinjani , hingga rinjani menangis sesegukan dibuatnya. Arya tak perduli ia lebih memilih meninggalkan rinjani.
Pernah juga saat itu ia melihat rinjani pulang sekolah sendirian dan gadis itu di ganggu beberapa siswi, para siswi itu lebih muda dari nya, dan lebih tua dari rinjani bukannya menolong ia malah mengabaikan rinjani yang pada saat itu tengah menangis sesegukan.
Di tindas oleh beberapa remaja, dan yang menolong rinjani saat itu adalah duha dan yoga. Kedua sahabat nya itu bahkan memarahi nya tapi ia sama sekali tak perduli.
Arya menghela napas nya keras kemudian menghembuskannya.
"Kenapa kau melakukan ini ayah "ujar arya pelan sembari tangan nya sebelah terangkat , ia meletakan tangannya tepat di atas dahi nya memejam kan kedua matanya.
-
Suasana pagi ini tampak cerah di bandingkan hari hari sebelum nya , rinjani menghirup udara di sekitar nya beberapa kali, berjalan riang menyusuri komplek taman kampusnya.
Tampa memperdulikan aulia dan ilham yang sedari tadi sudah menunggu nya di depan pintu masuk untuk menuju ke ruangan belajar mereka.
"Selamaaaat pagiiii" sapa rinjani bersemangat.
Aulia menaikan sebelah alisnya " kenapa ? Tadi pagi gak sarapan yang aneh aneh kan?"
Rinjani tertawa kecil " lah kok ngomong gtu aulia," katanya lalu merangkul pergelangan tangan aulia.
"Ya aneh sih kamu, gak biasa nya juga kaya gini"
Ilham yang berada disamping aulia tertawa kecil " lagi seneng kali ul, mangkanya wajah nya beda pagi ini"
Rinjani terkikik geli , memang benar apa yang dikatakan kedua sahabat nya. Mood nya di pagi ini ceria seperti ini karna makanan yang di berikan arya kepadanya.
"Hari ini kita akan keluar lapangan lagi rin ?"Kata ilham membuat kedua gadis disampingnya tadi langsung menoleh ke arahnya.
"Serius ?" tanya aulia tak kalah terkejut.
Ilham tertawa kecil " kenapa kaget begitu, takut item " ejek nya
"Jadi kita akan kemana ham ?"
"Mencari bangunan yang menurut kita struktur nya bagus serta desain nya bagus."
"Bagaimana kalau masjid raya mujahidin saja ham " usul aulia , ilham manggut manggut seperti nya menyetujui sedang rinjani matanya berbinar.
Sudah hampir 2 bulan dia disini , dan ia sama sekali belum menginjakan kaki nya untuk mengunjungi masjid termegah di kota pontianak.
Salah satu bangunan yang membuatnya tertarik,karna design dari bangunan tersebut yang membuat nya penasaran.
__ADS_1
"aku setuju ham , itu saja " timpal rinjani semangat
Ilham tertawa kecil, " baik lah baik, aku akan mengikuti usul kalian , berdoa saja semoga belum ada tim lain yang mengusulkan tempat tersebut " kata ilham kemudian berlalu meninggal kan mereka