Asella

Asella
Solusi


__ADS_3

Happy Reading.


"Kenapa hei bilang sama Kakak? " ucap Helen dengan Alea yang masih berada dipelukkannya sambil menangis


"Gak apa-apa cuma kangen sama Kakak saja"


Hepen menaikkan sebelah alisnya karena merasa tidak masuk akal dengan jawaban Adiknya.


"Terus tadi it's hurt apaan? "


"Hurt lah kan tahan rindu sama Kakak"


Gak mungkin kan kalau Sella jujur tentang masalahnya sama Vano, nanti kalau Vano dipukuli sama Helen kan gak lucu.


"Terus kenapa bawa koper? Mau pindah? Vano nya mana? " ucap Helen sambil melirik koper dibelakang Sella


"Mau tidur disini, Vano lagi sibuk jadi gak bisa ikut"


Sella sengaja kasih alasan seperti itu karena takut jika jujur Helen pasti tidak akan terima kalau tau sikap asli Vano.


"Adek gak lagi ada masalahkan sama Vano? "


Sella tersenyum lalu menggeleng "gak, ini Adek gak disuruh masuk dulu gitu pegal mau duduk ini"


"Biasanya juga langsung masuk. Oh iya Adek lapar gak, tadi Kakak habis buat ayam balado mau gak? "


"Sejak kapan Kakak bisa masak ayam balado? "


"Baru kemarin coba buat sama Mama"


"Ah iya, Mama kemana? "


"Mama masih kerja belum pulang"


"Kak! Kapan bawa cewek Kakak kerumah"


"Nanti tunggu waktu" jawab Helen


Bibir Sella mengerucut "tunggu waktu terus, nanti keburu cewek kakak bosan dijanjikan terus"


"Udah sekarang Adek makan ini" ucap Helen sambil memberikan Sella satu potong ayam balado yang dibuat Helen


"Enak gak ini? " candanya.


"Cobain dulu dong! "


Disisi lain, Vano sedang terduduk dengan pandangan kosong. Ia bingung harus bilang apa ke Orang tuanya jika tau Sella pulang kerumah Orang tuanya.


"Seharusnya gue gak ngelakuin itu tadi sama Yura" ucapnya pada diri sendiri


"Gue harus telepon Dewa" ucap Vano lalau mengeluarkan ponselnya guna untuk menghubungi Dewa.


Dewa adalah teman yang dekat dengan Vano dari kecil. Mereka satu sekolah hanya saja Dewa dari kelas IPS dan Vano kelas IPA.


"Hallo? " ucap Dewa dari sebrang sana


"Lo bisa kerumah gue sekarang? " ucap Vano berharap Dewa mau kerumahnya.


"Bisa, kenapa? "


"Udah sekarang lo kerumah gue! "

__ADS_1


"Otw"


"Hm"


Sabungan terputus Vano berdoa agar Dewa bisa memberinya solusi yang membuatnya cukup tenang.


Tak lama setelah menelepon, Dewa datang dengan tidak sopannya langsung masuk saja kedalam rumah. Sudah biasa, tapi kalau ada Orang tua Vano pasti salam dulu kok.


"Kenapa panggil gue kesini? Gue lagi ngepush rank lo panggil! " kesal Dewa karena Vano mengganggu acara push rank nya padahal sebentar lagi menang.


"Gue bikin masalah"


"Sama Sella? "


Dewa memang sudah mengetahui kalau Vano itu sudah menikah dengan Sella, itu alasan karena Vano tidak ingin ada rahasia-rahasiaan dengan sahabat kecilnya.


"Iya"


"Lo buat masalah apa lagi sih Van! Masalah terus hidup lo"


Dewa heran dari mereka SMP selalu saja Vano yang mendapat masalah, entah itu masalah sekolah karena kenakalannya sendiri atau yang lain.


"Jadi tadi Sella lihat gue sama Yura" ucap Vano sambil memperagakannya dengan kedua tangannya yang disatukan.


"Serius? "


Vano memandang datar Dewa "kalau gue bohongan gak mungkin gue sepanik ini"


"Lagian lo kenapa coba lakuin itu, lo tau sendiri kan Sella itu hatinya rapuh sekali lo sentuh sama keburukan lo itu sudah buat dia kecewa. Lo kan sudah dewasa Van, seharusnya lo itu mikir kalau lo udah punya istri seharusnya lo putusin aja itu si Yura, apalagi istri lo itu modelan Sella, jangan di sia-siakan Van. Tapi kalau lo gak mau sama Sella, gue mau kok Van gantikan posisi lo"


Vano jadi pusing sendiri, Vano menyuruh Dewa datang kerumahnya itu untuk memberinya solusi bukan tentang ganti posisi.


"Dewa gini ya, gue suruh lo kerumah gue itu untuk kasih solusi. Ya gue tau itu tadi yang lo bicarakan itu ada benarnya tapi masalahnya kenapa sambung-sambungnya itu ke gantikan posisi"


"Tapi--- "


Dewa bingung sama temannya yang satu ini "Van, lo kan cowok jadi harus gentle jangan plin plan"


"Sialan! Gue belum selesai bicara udah lo potong"


"Yaudah lanjut"


"Gue harus bilang apa sama Yura, gak mungkin kalau gue bilang sudah menikah sama Sella, yang ada nanti Sella di teror sama Yura"


"Ganas banget pacar lo, tapi menurut gue lebih baik lo jujur sama Yura"


Vano memegangi kepalanya yang terasa pusing "nanti kalau kesebar luas gimana? Gue gak mau kalau Sella bakal dikeluarkan dari sekolah dan itu pasti buat dia gagal untuk mencapai cita-cita nya"


Dewa melempar Vano dengan kulit kacang "eh anak onta kalau pun gak kesebar dan nanti kalau lo khilaf terus Sella hamil tuh anak juga bakal dikeluar-keluarin juga dari sekolah"


Vano menatap Dewa kaget "Ya tuhan, lo kenapa mikir sampai kesitu coba? Gue sama sekali gak ada pemikiran buat bikin Sella hamil"


"Cih, omong doang nanti tiba-tiba gue dapat kabar kalau Sella hamil. Gini ya Van, yang namanya dua manusia berbeda jenis dan disatukan dalam satu ruangan itu pasti ada setan yang ganggu"


"Ini gue ngerasa kalau pembicaraan gue sama lo semakin lama semakin eror" ucap Vano sambil memakan kacang


"Tuh kan! Lo tuh paling bisa sama yang namanya mengalihkan pembicaraan"


"Sialan! "


"Tapi menuru gue--"

__ADS_1


Vano memotong ucapan Dewa "Kebanyakan menurut lo terus"


"Ya terua mau menurut siapa? Pak kepala sekolah? Mau langsung didrop out lo dari sekolah"


"Ya kagalah"


"Menurut gue ya lo jujur aja, percaya sama gue. Lagipula kita udah semester akhir SMA kan? "


"Iya, nanti kalau Yura gak terima gimana? "


"Ya kalau Yura gak terima yaudah biarin saja yang penting lo udah bilang putus, ribet banget! "


"Yaudah gue putusin Yura sekarang"


"Nah itu baru sahabat gue"


Vano memandang Dewa sinis tapi tetap untuk menghubungi Yura dan meminta mengakhiri hubungannya.


"kenapaVan? " ucap Yura dari telepon dna Vano segera me-loudspeaker ponselnya


"Mau bicara"


"Hm? Apa? "


"Kita udahan ya"


"Loh Van? Lagi ngeprank kan? Gak lucu tau"


"Aku serius"


"Van! Kenapa? "


Vano menoleh ke Dewa dan meminta jawaban, dan Dewa seperti mengisyaratkan 'jujur aja'.


"Aku sudah menikah"


Dewa memandang Vano jengkel, cara bicara Vano itu seperti sinetron-sinetron ditelevisi.


"Van serius! " bisa Vano dan Dewa dengar bahwa suara Yura sudah bergetar menandakan dia sedang menangis


"Aku serius"


"Sama siapa? "


"Kamu gak perlu tau"


Vano langsung memutuskan sambungannya.


"Gak gentle banget masa akhirin hubungan lewat telepon" celetuk Dewa


"Salah lagi! Kayaknya sekarang gue emang lagi salah terus dimata lo! Pulang sana lo! " ucap Vano


"Ck ngusir! Tadi saja minta solusi, bukannya terimakasih sama gue"


"Iya Terimakasih"


"Yang benar! "


"Ribet, Terimakasih Dewa yang baik. Dah kan? Sana lo! "


"Iya, gue balik! "

__ADS_1


"Ini sudah selesai tinggal satu yang belum" ucap Vano lalu pergi dari rumahnya.


__ADS_2