
Happy Reading.
Satu Bulan Kemudian
Satu bulan kemudian, semua berjalan baik-baik saja sejak kejadian yang dilakukan pasutri muda itu. Beberapa minggu yang lalu Sella bertemu dengan Tania karena kemauan Tania sendiri yang ingin berkenalan langsung dengan Sella. Dengan senang hati Sella menyetujuinya.
Sekarang pelajaran olahraga sedang berlangsung dilapangan yang ramai dengan anak kelas 12 IPA. Sella sedang duduk dipinggir lapangan sambil memperhatikan anak laki-laki yang sedang pengambilan nilai bola basket
Saat sedang memperhatikan Vano yang sedang mendribble bola Sella merasakan dingin pada daerah pipinya dan ternyata itu air mineral dingin yang diberikan oleh Vallen.
"Untuk lo" ucap Vallen
Sella tersenyum manis "makasih" ucapnya lalu mengambil air mineral itu dan meminumnya.
"Chelsea apa kabar? " tanya Keina yang duduk disamping Bella
"Baik kok, Chel juga sekarang makin aktif gerakin kaki sama tangannya keudara" respon Sella sambil tersenyum kala mengingat betapa menggemaskannya Chelsea.
"Lo gak ada niatan mau beli hiasan dinding kamar Chelsea lagi? " tanya Bella
Sella menggeleng "Sella gak mau kalau dikamar Chel kebanyakan hiasan terlalu ramai dilihatnya"
"Btw, hubungan lo sama Vano gimana? " tanya Bella lagi
"Baik kok" ucap Sella
"BAIK ANAK-ANAK KELAS 12 IPA SEMUANYA KUMPUL DILAPANGAN DALAM HITUNGAN KE LIMA" ucap pak Rahman selaku guru olahraga disekolah ini.
Sella dan yang lain segera berkumpul ditengah lapangan, Sella mengambil posisi disamping Vano yang sedang mengatur nafasnya karena bermain basket.
"Minuman buat Vano" ucap Sella memberikan air mineral yang tadi ke Vano
Vano menoleh lalu tersenyum "Makasih" ucapnya lalu mengecup rambut Sella.
Sella menyisir rambut basah Vano karena keringat kebelakang dengan jemarinya "Capek banget ya Van? "
"Ngga kok cuma sedikit nguras tenaga doang"
"Oh, jangan capek-capek nanti kamu sakit"
"Iya sayang"
"Ekhem inget masih disekolah, lo berdua jangan memperlihatkan kemesraan disini" ucap Radit yang duduk disamping kiri Vano
"Iri bilang bos" sahut Vano
"Baik semua selesai sudah kita pengambilan nilai bola basket dan sekarang waktunya pengambilan nilai lari" ucap pak Rahman
"Yahh pak kan minggu kemarin udah masa sekarang pengambilan nilai lari lagi" keluh Vallen
"Minggu kemarin kita pengambilan nilai lari jarak pendek dan sekarang jarak jauh"
"Masih kuat kan? " tanya Sella kepada Vano
"Masih kok"
"Absen satu sampai lima silahkan kedepan"
Sella berdiri dan berjalan kedepan untuk mengambil posisi larinya. Tiba-tiba saja kepala Sella merasa pusing dan pandangannya juga mulai mengabur sedikit tapi masih bisa Sella kendalikan.
Saat peluit sudah berbunyi Sella berlari namun baru sedikit berlari pandangannya sudah buram Sella berhenti memegangi kepalanya lalu tak sadarkan diri, kata terakhir yang didengarnya sebelum terjatuh pingsan itu Vano meneriaki namanya.
__ADS_1
Vano menaruh kepala Sella dipangkuannya "Sel bangun Sel" Vano menepuk-nepuk pelan pipi Sella agar terbangun
"Sella bangun! " pekik Keina
"Van bawa ke uks van" panik Sandy
"Vano, kamu saya izinkan membawa Asella ke uks" ucap pak Rahman
Vano menggendong Sella dan membawanya ke uks, sesampainya diuks Vano meletakkan Sella di bankar uks dan mengambil kotak p3k.
Vano menuangkan sedikit minyak kayu putih sedikit diujung telunjuk jarinya lalu mendekatkannya kehidung Sella.
"Bangun sel" gumam Vano
Tak lama Sella mengerjapkan matanya lalu merasakan sakit dikepalanya, sedikit meringis lalu memegang kepalanya. Vano ikutan panik juga saat Sella meringis kecil.
"Kamu kenapa? "
Sella menggeleng "Cuma pusing"
"Pulang aja ya? " bujuk Vano
"Sella gak mau pulang"
Vano menangkup wajah Sella dengan kedua telapak tangannya dan dihadapkan kearah wajahnya "Tapi keadaan kamu lemes kayak gini, nanti aku yang izin ke guru piket"
Sella menggeleng "Sella mau belajar"
"Jangan egois sel, ini demi kesehatan kamu" ucapnya tetap lembut
"Oke Sella mau" final Sella
"Mampir kewarung dipinggir jalan itu ya Van? " ucap Sella
"Mau ngapain? "
"Beli sate, Sella mau sate" ucapnya
Vano menatap Sella bingung "bukannya kamu gak suka sate"
"Tapi Sella mau itu Van, mau banget" rengeknya seperti anak kecil meminta permen kapas
"Oke"
Vano menepikan mobilnya dipinggir jalan tepat didepan tukang sate yang Sella inginkan. Selesai membeli sate Vano melajukan kembali mobilnya menuju rumahnya.
Sesampainya diperkarangan rumah Vano memarkirkan mobilnya dibagasi rumah, dan menggendong Sella memasuki rumah jangan lupakan sate yang berada digenggaman Sella.
"Lho Van kok udah pulang? " ucap Bunda yang berada diruang tamu sambil mengajak bercanda Chelsea.
"Sella sakit bun"
"Ya ampun!! Sakit apa? Sini nak duduk dekat bunda" ucap Bunda
Sella duduk disebelah ibu mertuanya sedangkan Vano ke dapur untuk menaruh sate dipiring. Vano kembali dengan sepiring sate dan air mineral untuk Sella.
"Cuma pusing kok bun nanti juga hilang" ucap Sella... Lalu memakan satenya.
Baru saja akan memakan satu sate, Sella didatangi rasa mual diperutnya yang seakan memaksanya untuk segera memuntahkan semuanya. Dengan cepat Sella berlari kearah westafel dapur sambil menutup mulutnya.
Vano? tentu saja panik dan mengikuti sang istri sama halnya dengan si Bunda yang menggendong Chelsea sambil mengikuti Sella berlari.
__ADS_1
Sella memuntahkan isi perutnya, Vano memijat tengkuk leher dengan pelan sambil mengusap punggung Sella. Sella mencuci mulutnya dan berbalik menatap Vano dengan tatapan berkaca-kaca.
"Kenapa sayang? " tanya Vano khawatir
"hiks sakit" balasnya lalu memegang perutnya yang terasa sakit dan sudah mengeluarkan air mata yang berjatuhan dipipinya.
"Apa yang sakit sayang? " ucap Bunda sambil mengusap-ngusap rambut menantunya dengan sebelah tangannya.
"Perut Sella hiks"
Vano membawa Sella kedalam dekapannya sambil mengecup puncak kepala gadisnya lama dan mengusap punggung Sella agar lebih tenang dam berhenti menangis.
Tidak ingin Chelsea menangis juga karena mendengar suara tangisan, Bunda membawa Chelsea keruang tamu kembali.
"Istirahat ya? " ucap Vano, Sella mengangguk.
Vano merangkul pundak Sella dan menuntun kekamarnya dengan hati-hati. Sesampainya didalam kamar Vano membaringkan Sella diking sizenya dan menyelimuti tubuh gadisnya.
Vano mengusap perut Sella sambil menatap gadis itu lekat. "Masih sakit? "
Sella mengangguk.
Sebelah tangan Vano mengusap air mata yang berjatuhan diwajah imutnya "Jangan nangis, sekarang kamu istirahat tidur ya" Sella mengangguk lalu mengerjapkan matanya.
Vano keluar dari kamarnya dan menutup pintu dengan perlahan agar Sella tidak terganggu, lalu Vano turun kebawah untuk menghampiri Bunda dan Chelsea.
"Sella udah istirahat Van? " tanya Bunda
"Udah bun"
"Bunda boleh tanya? "
"Boleh"
"Kamu sama Sella.... emm udah ngelakuin itu? " ucap Bunda
"Kenapa emangnya? " jawab Vano santai
"Bunda sedikit curiga sama Sella hari ini maksud bunda Sella tuh beda banget hari ini sama hari biasanya, tadi katanya dia pusing terus yang bunda bingung itu Sella gak suka makan sate tapi dia beli sate dan satu lagi dia mual, coba kamu fikir sikapnya kayak ibu yang sedang mengandung gak sih? " jelas Bunda
"Maksud bunda, Sella hamil? " tanya Vano
"Nah benar"
Vano terlihat berfikir sejenak "Betul juga sih sikapnya emang beda sama yang kemarin tapi masa bisa Sella hamil? "
Bunda melempar bantal sofa ke Vano "ya bisalah kan kamu pelakunya yang buat Sella hamil, gimana sih"
Vano beranjak dari duduknya dan mengambil kunci mobilnya "Vano mau keapotik dulu"
"mau ngapain? " tanya Bunda
"Mau beli chicken nugget, ya mau beli testpack lah gimana sih"
"Oh oke hati-hati nak"
"Iya bun"
Setelah itu terdengar suara mobil Vano menjauh dari perkarangan rumah.
Haii udah lama ya aku ga up lagi maaf banget soalnya aku benar benar sibum dengan semua tugas yang numpuk diotakku. its so semoga part ini menyenangkan.
__ADS_1