
Jreeng!
Jreeng!
Aku bukan super, aku bukan star kalau digabungin aku bukan superstar. Ku bukan bangsawan, ku bukan priai, ku hanyalah orang yang ingin dicintai.
Lantunan lagu bergabung dengan bunyian gitar listrik dan drum bergendang nan terdengar di aula sekolah. Suara nyanyian itu bersamaan dengan bel sekolah pertama — sangat terganggu oleh semua kegiatan sekolah.
Kemudian Pak Surarto sebagai kepala sekolah datang menghampiri Aida, Lita dan Madonna yang sedang memainkan alat musik di aula sekolah.
"Huh. Aida nampaknya permainan musik kita sudah sangat memuaskan. Sudah sekian kalinya kini kita telah berhasil menciptakan lagu Bukan Superstar dengan kolaborasi musik metalis," ucap Lita.
"Hahaha ... iya Lita. Kita sudah sangat berjaya dalam melakukan ini, ayo kita lanjutkan lagi sampai lagu Bukan Superstar semakin sempurna," balas Aida untuk mengajak kedua temannya memainkan musik.
"Teman-teman apakah kita tidak istirahat dulu sejenak, sepertinya bel jam pertama sudah berbunyi selama tiga menit yang lalu, hari ini 'kan kita mau belajar matematika. Takutnya Pak Sa nyariin kita," Madonna yang sangat kelelahan dan menginginkan untuk kembali ke kelas.
Aida dan Lita pun berhenti sejenak lalu menatap Madonna dengan serius.
"Madonna, kau tidak usah takut selagi ada kami dijamin engkau baik-baik saja. Palingan kita bakalan dihukum berdiri di luar selama pelajaran Pak Sa," balas Aida.
Tidak lama Pak Surarto sedang berjalan memasuki pintu aula sekolah. Kemudian ia melihat Aida, Lita dan Madonna nan masih sibuk memainkan alat musik.
"Aida, Lita, Madonna. Hei kalian buruan masuk ke kelas sekarang juga?!" teriak Pak Surarto dengan menyuruh mereka bertiga untuk kembali ke kelas.
Mereka bertiga kaget setelah mendengarkan suara teriakan itu, lalu mereka berhenti dan menatap bersamaan kalau di depan sudah di tatap serius dengan kepala sekolah.
"Nah 'kan Aida. Sudah gue bilang kalau kita tidak masuk ke kelas yang ada kepala sekolah bakalan nyariin kita," ucap Madonna karena kesal dengan Aida dan Lita.
Kini Aida dan Lita hanya diam saja. Mereka sangat ketakutan. Selepas itu Pak Surarto datang menghampirinya. Kemudian mereka bertiga berusaha kabur untuk meninggalkan kepala sekolah.
Mereka bergegas melewati pintu belakang dan pergi kembali ke kelas. Pak Surarto sangat kesal dengan tingkah mereka bertiga, meskipun sudah berkali-kali diberi peringatan kini mereka selalu saja membuat masalah.
Aida dan kedua temannya pun berjalan melewati koridor, lalu perut Aida berbunyi menandakan bahwa ia sedang lapar.
__ADS_1
"Lita, Madonna kita pergi ke kantin dulu yuk. Kayaknya gue lapar banget nih, tadi pagi lupa sarapan, emak sama bapak gue pada sibuk dengan kerjaan nya," ajak Aida.
"Tapi Aida. Pak Sur tadi menyuruh kita pergi ke kelas, kalau kita melanggar yang ada masuk BK lagi. Gue agak kesal sama Bu Suk," ucap Madonna.
"Yaelah Madonna. Lu kenapa pada panik sih, di sekolah aja kita masih bayar dan kenapa harus takut sama mereka, kalau gue nggak makan apakah lu mau lihat gue menderita, jadi lu nggak usah pada takut. Guru-guru di sini anggap kayak orang biasa aja," balas Aida karena kesal dengan tingkah Madonna nan panik kan itu.
Lita dan Madonna kini hanya diam saja. Usai bercakap-cakap mereka bertiga bergegas menuju kantin luar pagar dan kebetulan gerobak bakso Satria baru sampai.
"Bang Sat, gue sama teman gue mau mesan bakso daging tiga mangkok banyak kan dagingnya yah," pinta Aida.
"Oh, baiklah non. Tunggu sebentar yah," balas Satria.
Aida bersama kedua temannya hanya mengangguk saja. Kemudian mereka bertiga duduk di meja makan sembari melihat alam bebas dan menikmati angin sepoi-sepoi.
Tidak lama Ketot nan bekerja sebagai satpam sekolah datang menemui Satria, dengan alasan untuk sarapan pagi.
"Bang Sat, saya mau pesan bakso campur satu," panggil Ketot pada Satria.
Aida, Lita dan Madonna kaget tiba-tiba di belakangnya kedatangan seseorang. Mereka pikir kalau orang itu adalah Pak Surarto ternyata Ketot.
"Makan sini aja, Bang."
"Hum ... baiklah tunggu sebentar yah, Pak. Ini saya masih bikinin bakso buat Non Aida, Lita dan Madonna," balas Satria.
Kini Ketot hanya diam saja dan mengangguk saat mendengar balasan Satria.
"Eh, Bang Ke. Lagi mau sarapan yah bang?" sapa Aida.
"Hehehe iya Aida. Abang lagi lapar banget nih, tadi di rumah kagak ada makanan jadi abang makan di sini. Oh iya kalian bertiga kenapa tidak masuk ke kelas, 'kan bel sudah masuk," balas Ketot.
"Ini bang, Aida lapar juga gara-gara emak sama bapak gue nggak masakin makanan. Jadi kami bertiga datang ke sini dan kebetulan bertemu Bang Sat juga sekalian mesan bakso tiga, memang keberuntungan Aida tidak jauh-jauh."
"Oh begitu. Ya sudah nanti kalian buru-buru makannya. Takutnya Pak Sabar nyariin kalian entar, hari ini kalian bertiga belajar matematika 'kan?" suruh Ketot lalu ia bertanya.
__ADS_1
"Iya, bang. Kok abang tau kalau hari ini gue mau belajar matematika?" heran Aida
"Karena abang sudah tau. Kan ponakan abang sekolah di sini juga, setiap hari saya juga kerja jadi soal mata pelajaran sama jurusan kalian tau lah. Hehe ...," balas Ketot seraya menyeringai.
Selama mereka mengobrol, Satria datang membawa keempat mangkok dan menyuguhkan pada mereka berempat.
Selanjutnya mereka bertiga menikmati bakso itu dengan tergesa-gesa, usai menikmati bakso. Aida mengambil uang di dompet berwarna merah jambu miliknya lalu membayar pada Satria.
Setelah itu mereka bertiga bergegas menuju kelas 11 J. Melihat tingkah Aida bersama temannya membuat Ketot hanya tersenyum saja.
"Bang Sat, saya mau ngebon dulu yah. Kalau sudah gajian, saya janji bakalan lunasi," ucap Ketot.
"Iya, pak," balas Satria.
Usai menikmati bakso, Ketot pergi kembali ke depan gerbang sekolah untuk melanjutkan pekerjaannya.
***
"Anak-anak sekarang kerjakan dua puluh lima soal itu sampai bel pelajaran telah habis, kalau belum selesai dan bel berbunyi maka bapak tambahkan dua puluh lima soal lagi," suruh Pak Sabar.
Semua anak-anak yang ada di kelas hanya diam saja sembari menelan air liur bersamaan. Meskipun nama ia Sabar Wiraga tapi sisi gelapnya sangat luar biasa, dengan alasan itu mengapa Aida bersama temannya malas masuk ke dalam kelas karena tidak mau mengerjakan soalan matematika tersebut.
Tidak lama Aida, Lita dan Madonna melihat Pak Sabar yang sedang duduk di teras luar kelas sembari memainkan handphone. Kemudian mereka bertiga datang menghampiri Pak Sabar dengan men-gombal nya.
"Assalamu'alaikum, Pak Sa," sapa Aida.
"Wa'alaikum salam. Aida, Lita, Madonna. Eh kalian pada pergi ke mana, kirain bapak kalian nggak sekolah?" heran Pak Sabar.
"Anu, Pak. Tadi aku sama Lita dan Madonna lagi pergi ke toilet, jadi agak telat kami datangnya," ucap Aida.
"Hah, ke toilet kok kalian lama banget sih. Bapak sudah nerangin materi selama 30 menit ditambah bapak sudah beri soal kepada teman-temanmu, waktu sekarang tinggal 15 menit lagi mau ganti jam pelajaran?!" balas Pak Sabar karena kesal melihat tingkah mereka bertiga.
"Itu Pak, Aida tadi lagi sakit perut, Lita dan Madonna juga sama. Tolong Pak maafkan kami, kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
__ADS_1
"Cukup tidak usah banyak alasan pada bapak. Mulai saat ini kalian tidak usah masuk kelas dan bapak akan menghukum kalian berdiri di depan kelas selama mata pelajaran matematika selesai," suruh Pak Sabar.
Aida, Lita dan Madonna hanya diam saja sambil mendengarkan suruhan Pak Sabar. Kemudian mereka berdiri di depan kelas — menunggu mata pelajaran matematika selesai, lalu Pak Sabar masuk ke dalam kelas dan kesal melihat tingkah Aida bersama temannya.