
Lima belas menit berlalu, kini mobil avanza berwarna hitam berhenti di perempatan jalan, kemudian Madonna membelokkan mobilnya dan berjalan menuju angkringan nan bersebelahan dengan lapangan basket.
Tidak lama, mereka bertiga turun dari mobil. Kemudian bertemu lagi dengan Satria yang sedang berdagang di bawah pohon beringin.
"Lita, Madonna. Di bawah pohon itu aku melihat Bang Sat. Kita makan bakso aja yuk," ajak Aida.
Lita dan Madonna pun kaget, lalu mereka menoleh bersamaan. Apa pun yang diucapkan oleh Aida, mereka berdua selalu mengikutinya.
Selepas itu, Aida bersama kedua temannya datang menghampiri Satria.
"Bang Sat, kok bisa ada di sini. Bukannya terakhir kali berada luar sekolah?" panggil Aida.
Satria yang baru saja menghentikan gerobaknya malah kaget, bisa bertemu Aida bersama kedua temannya.
"Ahh. Abang baru sampai non di sini. Lagi pun aku nggak punya lapak tetap untuk berdagang, jadi yah sering pindah tempat. Lah kenapa kalian pergi ke sini, lagi bolos yah?" balas Satria, lalu ia bertanya kembali.
"Oh, Bang Sat yang sabar yah. Aida do'ain semoga ditemukan tempat dagang yang tetap. Heh? Kami nggak bolos bang, tadi satu sekolah disuruh pulang cepat," tanggap Aida.
"Iya, aamiin terimakasih banyak yah Non Aida. Hum ... abang tidak tau, soalnya usai kalian makan abang sudah pergi aja cari pelanggan. Oh iya, kalian datang ke sini mau ngapain?" balas Satria.
Aida, Lita dan Madonna hanya diam saja sembari mendengarkan balasan Satria.
"Kami datang ke sini. Mau cari makan Bang Sat. Kebetulan ketemu abang jadi kami mau beli bakso."
"Oh iya, kalian mau pesan apa nih?" tanya Satria.
"Bakso daging masih ada nggak bang?"
Kemudian Satria membuka kukusan besar pada gerobaknya. Ternyata bakso daging sudah tidak ada.
"Non, bakso dagingnya sudah habis," balas Satria.
__ADS_1
"Yah. Terus sekarang ada bakso apalagi bang?"
"Sekarang, ada bakso telur sama bakso campur, Non."
"Ya sudah deh. Kami pesan bakso telur tiga aja, bang," balas Aida.
Kini Satria hanya mengangguk saja, lalu ia pergi kembali menghadap gerobak untuk menyiapkan bakso. Selepas itu, Aida bersama kedua temannya duduk di bawah pohon beringin seraya memandangi taman dan lapangan basket nan lebar.
Tidak lama Satria, membawakan ketiga mangkok bakso telur lalu menyuguhkan pada mereka bertiga. Aida, Lita dan Madonna menikmati bakso bersamaan. Usai menikmati bakso seperti biasa Aida selalu membayar karena yang mengajak makan itu adalah dirinya, kalau Lita atau Madonna mengajak makan nan pasti dia bayar.
Kemudian mereka bertiga berencana untuk meninggalkan angkringan, karena hari sudah sangat siang. Lalu Madonna melihat es bubble gum yang baru saja buka. Tanpa berlama-lama Madonna mengajak kedua temannya untuk membeli es tersebut.
"Ish, Madonna kita mau pergi ke mana?!" kesal Aida.
"Aida, maafkan gue. Alasan gue bawa kalian ke sini karena mau es warna merah jambu itu," ucap Madonna.
"Oh, bilang kek kalau mau es. Kirain lu mau ngapain ngajak kami lari, bikin jantungan aja. Ya sudah buruan beli," balas Aida.
Madonna bersama kedua temannya datang menghampiri warung itu.
Kakak penjual pun mengangguk, lalu membuatkan es bubble gum dengan toping oreo. Sepuluh menit berlalu, kini tiga cup berisi sesuai pesanan sudah siapa disajikan dan disodorkan pada Madonna.
"Kak, semua harganya berapa?" tanya Madonna.
"Tiga puluh ribu dek," balas pemilik warung.
Madonna pun mengangguk. Kemudian ia membuka dompet kesayangan lalu mengambil uang kas sebesar lima puluh ribu.
"Ini, kak uangnya."
"Ok, ditunggu kembaliannya yah dek."
__ADS_1
Setelah membeli minuman. Madonna langsung memberikan cup berasa es bubble gum kepada Lita dan Aida untuk meminum bersama-sama sembari mengantar kedua temannya ke rumah masing-masing.
"Madonna, Lita terimakasih yah sudah antar gue sampai ke sini. Sampai jumpa lagi," ucap Aida.
Lita dan Madonna hanya mengangguk saja sembari mengukir senyum kecilnya. Kemudian mereka berdua pun pergi meninggalkan Aida nan sendiri di depan rumahnya.
Setelah kepergian mereka berdua. Aida pun merasakan tidak enak, karena dirinya tidak terbiasa tinggal sendiri ditambah ia ketakutan melihat sesosok Ibu Setan yang selalu menghantuinya.
Namun apa boleh buat, Aida tetap memaksakan masuk dan tetap berpikir positif untuk memalingkan dari tatapan Ibu Setan.
"Huh. Hari ini gue capek banget, mana emak sama bapak masih sibuk kerja. Uh, nampaknya gue harus berendam air panas deh, " ucapnya.
Kini Ibu Setan hanya duduk di dekat Aida dan Aida selalu me cuek nya. Air keringat yang terus mengalir sekujur tubuh pada dirinya membuat ia tidak nyaman.
Selama Aida menenggelamkan tubuhnya pada bak besar, kini Ibu Setan selalu mengacak-acak kamar mandi. Memainkan alat mandi di depan kaca, membuka tutup gorden - menghidupkan dan mematikan lampu, tetapi Aida tidak pedulikan prihal itu.
Setelah mandi dan memakai pakaian ganti. Kini ia berjalan menuju kamarnya sembari menggandeng tas, kemudian suara notifikasi pada handphonenya selalu berdering. Saking penasaran Aida pun membukanya ada 30 pesan yang belum terbaca di group whatsapp.
[Assalamu'alaikum, maaf menganggu waktunya untuk tugas matematika kalian kerjakan sebanyak 50 soal sekarang juga, paling lambat ngumpulnya lusa,] Pesan yang bernama Pak Sabar masuk ke grup matematika sembari mengirim foto soal matematika sebanyak 50 soal.
[Wa'alaikum salam, baiklah pak terimakasih sudah memberi tahu,] balas Aidil.
[Wa'alaikum salam baiklah pak,] balasan salam sampai 28 pesan.
[Oh iya, hampir lupa. Untuk Aida, Madonna dan Lita. Karena hari ini kalian tidak masuk ke dalam kelas maka tugas 50 soal matematika dibuat dua rangkap dengan menggunakan kertas double polio. Kalau kalian tidak mengerjakan segera mungkin maka bapak tambah empat rangkap,] tambah Pak Sabar.
^^^[Astaga, pak. Banyak banget, bisa nggak pak dibuat dua puluh lima soal aja, terus buat dua rangkap,] balas Aida dengan menggunakan emote nangis. ^^^
[Enggak boleh, itu karena ketentuan dari teman sekelas mu. Emang sekolah ini milik bapakmu, datang aja terlambat, malah mau minta keringanan. Makanya kalau bel masuk yah masuk!!] kesal Pak Sabar.
^^^[Astaga, bapak. Aida beneran mules lho tadi, apakah bapak tidak kasihan sama Aida. Barangsiapa yang memberi kemudharatan kepada seorang muslim, maka Allah akan memberi kemudharatan kepadanya, barangsiapa yang merepotkan (menyusahkan) seorang muslim maka Allah akan menyusahkan dia. Hadits riwayat Abu Dawud nomor 3635, At Tirmidzi nomor 1940 dan dihasankan oleh Imam At Tirmidzi).] balas Aida seraya memberikan hadis.^^^
__ADS_1
[Aida, berhentilah untuk bermain-main. Mau sampai kapan pun kamu buat kata-kata, bapak tetap tidak peduli. Karena ini adalah kewajiban mu, mau bapak buat nilai kamu kecil,] Pesan Pak Sabar karena tidak peduli hadist yang dikirim oleh Aida.
Kini Aida tidak bisa berkata-kata lagi, setelah menerima balasan pesan Pak Sabar. Membuatnya sangat pasrah - akhirnya dengan terpaksa Aida mengerjakan tugas matematika 50 soal dengan menggunakan kertas double polio sebanyak dua rangkap.