
Setelah memasukkan kaos kaki ke dalam mesin cuci, kini Aida malah didatangi kembali oleh Ibu Setan.
"Aida ... Aida?" panggil Ibu Setan.
Kini Aida hanya diam saja dan tidak mendengarkan panggilan itu, ia tetap berpikir positif. Kemudian Aida berjalan ke ruang tamu dan hendak untuk pergi ke kamar dirinya, sampai di ruang tamu ia malah melihat Uka yang baru saja memasukkan kedua sepatu miliknya.
Perlahan Aida mengukir senyum. Usai membereskan kedua sepatu Aida, Uka juga merasa capek lalu ia duduk sembari menghadap ke ruang tamu, kini ia kaget melihat Aida tiba-tiba tersenyum.
"Hum ... adik mas kenapa pada senyum? Aneh banget yah, apakah kamu baik-baik saja?"
"Mas Uk terimakasih yah sudah membenahi sepatu milikku, jarang sekali liat Mas Uk seperti itu. Biasanya suka ngomel dan banyak memerintah."
"Iya sama-sama, sebenarnya mas membenahi sepatumu itu bukan karena terpaksa, tetapi mas tidak suka dengan tempat yang berantakan. Kalau Aida masih ngelakuin ini lagi, maka mas tidak sungkan membuang sepatumu. Ya sudah, adik mas sudah sholat ashar belum?" tanya Uka.
"Hum ... heh? Kok mas gitu sih, jahat banget dah. Belum mas, kalau Aida mandi dulu boleh nggak, gerah banget nih mana haus lagi," balas Aida.
"Giliran mau sholat, banyak banget alasanmu. Ya sudah buruan mandi, terus minum sambung sholat ashar. Bentar lagi adzan maghrib mau berkumandang dan bapak sama emak bakalan pulang. Kalau bapak tau kamu nggak sholat, yang ada adik mas akan kena marah besar," suruh Uka.
Mendengar suruhan Uka, membuat Aida mengukir senyumnya. Selepas itu, ia pergi meninggalkan Uka di ruang tamu, lalu berjalan menuju kamar tidurnya dengan bergegas.
Pertama kali Aida berjalan menuju kamar mandinya, menghidupkan kran air hangat dan air dingin, setelah terisinya air pada bak besar. Selanjutnya Aida membukakan baju dan menenggelamkan tubuh ke dalam bak besar. Selama ia berendam, Ibu Setan datang lagi mengacak-acak kamar mandi seperti biasa.
Meskipun Ibu Setan selalu menganggu hidupnya, Aida pun tidak peduli. Usai berendam, ia berjalan memakai handuk ke kamar tidurnya sembari mengambil pakaian tidur lalu bergegas memakainya. Setelah berganti pakaian, ia masuk lagi ke kamar mandi untuk berwudhu.
Beberapa menit berlalu, Aida kembali ke kamar tidurnya mengambil mukena dan sajadah. Pas sudah sholat ashar, adzan maghrib pun berkumandang.
Tidak lama sebuah mobil polisi berhenti di depan rumah karena mendengarkan suara sirine. Kemudian disambut suara ketukan pintu.
Tok!
__ADS_1
Tok!
"Assalamu'alaikum, Uka, Aida tolong buka pintu nya?" panggil Hartono.
Cek lek!
"Wa'alaikum salam, bapak, emak. Kirain siapa?" balas Uka sembari membuka pintu, sedangkan Aida yang berdiri di belakang Uka masih memakai mukena.
"Hehehe, iya Uka. Bapak sama emak pulang tepat waktu, yok kita sholat maghrib sekarang juga. Nampaknya Aida sudah bersemangat kali untuk sholat berjamaah," ajak Hartono, sambil melihat Aida yang berdiri di belakang. Dinda, Uka juga ikut melihat ke belakang.
Aida pun kaget melihat mereka bertiga menatapnya, lalu wajah Aida memerah karena malu.
"Ih, bapak. Aida makai mukena karena baru selesai sholat ashar, terus aku malah mendengar suara adzan maghrib. Hum ... emak bawa apaan kayaknya harum banget," balasnya berbicara dengan Hartono, lalu mengganti dialog pada Dinda.
"Oalah, bapak nggak tahu. Ya sudah bapak mau mandi dulu, lalu kita lanjut sholat maghrib bersama-sama."
Selepas itu, Hartono berjalan ke kamar tidur untuk mengambil handuk, kemudian bergegas pergi ke kamar mandi dengan masih memakai pakaian polisi.
"Wah, mak Aida mau dong kue terang bulan satu," pintanya.
"Aida, kita makannya sudah sholat maghrib aja. Emak ribet bukannya," tolak Dinda.
"Yah, emak."
***
Kemudian Dinda dan Hartono telah bersiap untuk melaksanakan sholat maghrib, Uka dan Aida juga telah menunggu di ruang utama sembari membentangkan sajadah.
"Uka, kamu yah jadi imamnya. Bapak ingin merasakan anak sulung bapak jadi calon pemimpin keluarga," suruh Hartono.
__ADS_1
"Ih, bapak. Ada-ada aja deh, bilang aja bapak malas jadi imam," balas Dinda.
"Hehehe ... iya bapak. Emak sudah enggak usah berantem, aku siap kok jadi imam," balas Uka sembari menghentikan perdebatan antara Dinda dan Hartono.
Sedangkan Aida kini hanya diam saja dan kesal karena tidak bisa merasakan kue terang bulan, nan berdiri di samping Dinda.
"Allahuakbar, allahuakbar. Asyaduala ilaha illallah, Asyaduana Muhammad Rasulullah —" Suara bacaan ikamah diucapkan oleh Uka, terdengar oleh Hartono, Dinda dan Aida.
Mereka bertiga berkumpul untuk merapatkan shaf, Hartono berdiri di tengah, sedangkan Dinda bersama Aida di belakang.
Setelah menunaikan sholat maghrib berjamaah, kini mereka berempat malah mendengarkan suara adzan isya — akhirnya mereka berempat melanjutkan sholat isya berjamaah, nan masih dipimpin imam oleh Uka.
Usai menunaikan sholat maghrib dan isya. Kini mereka berempat pergi ke dapur untuk melakukan makan malam. Sebelum itu Dinda dan Aida kembali ke kamar menempatkan mukena dan sajadah, sedangkan Uka dan Hartono masih memakai sarung lalu berjalan ke dapur untuk menikmati kue terang bulan.
Saat berada di dalam kamar, Aida bergegas melepaskan mukena lalu ia tempatkan di atas meja belajar, sembari menempatkan sajadah juga. Tidak lama ia malah mendengarkan suara notifikasi pada handphonenya yang berisi 30 pesan, tapi tiba-tiba perut Aida keroncongan — ia tidak bisa fokus pada handphone itu dan meninggalkan di kamar tidur.
Aida bergegas pergi ke dapur, sebelum masuk ke ruang dapur ia malah menguntit Hartono dan Uka nan sedang makan kue terang bulan rasa kacang dan ketan. Selama Aida berdiri di pintu, kini Dinda memegang lengan tangan Aida.
"Nak, lagi lihat apaan sih? Serius banget," sapa Dinda.
"Astaga, emak! Kirain siapa bikin jantungan aja. Itu emak, bapak sama Mas Uk makan kue terang bulan sedangkan aku minta tadi, emak malah melarang mana ngabisin lagi mereka. Kesel deh!" balas Aida.
"Hahaha ... heh? Ya sudah yuk makan kue terang bulannya, maafkan emak gara-gara ngelarang mu makan. Bapak, Uka makannya jangan terburu-buru tinggalin Aida, ini dia sudah merajuk," ucap Dinda, lalu ia memanggil Hartono dan Uka.
Mereka berdua tertawa sembari memegang kue dengan melihat Aida nan merajuk itu.
"Aida, sini kita makan bareng," ajak Uka.
Kini Aida hanya diam saja dengan ekspresi kesal, mereka bertiga pun menikmati kue terang bulan bersama-sama, sedangkan Dinda masih sibuk mengambil piring untuk menyiapkan nasi padang yang baru ia beli.
__ADS_1
"Bapak, Uka, Aida. Ayo kita makan nasi padang dulu, sebentar lagi malam mau larut," ajak Dinda.
Kemudian Hartono, Uka, Aida dan Dinda menikmati nasi pedang. Setelah makan, mereka berempat kembali ke kamar masing-masing karena sudah mengantuk akibat kekenyangan.