Assalamualaikum, Pak Kepsek

Assalamualaikum, Pak Kepsek
Lembar Jawaban atau Foto


__ADS_3

Ninu!


Ninu!


Suara sirine mobil polisi berhenti di depan gerbang sekolah SMK Harapan Bangsa, kemudian disambut Ketot penjaga sekolah berdiri sejenak seraya memberi hormat kepada Hartono. Bukan hanya Ketot bahkan penduduk di luar sekolah juga ikut kaget kalau sekolah itu tiba-tiba kedatangan polisi, takutnya polisi tersebut ingin merazia.


"Assalamualaikum, selamat pagi Ketot, tolong jagain anak saya dan anak lainnya," sapa Hartono.


"Wa'alaikum salam, selamat pagi juga pak. Siap pak saya akan menjaga anak bapak dan anak lainnya," balas Ketot sembari memberi hormat.


Kini Hartono dan Dinda hanya tersenyum saja, karena telah diberikan hormat oleh Ketot. Kemudian mobil polisi sambil mengeluarkan sirine pergi meninggalkan sekolah sebab ingin mengantarkan Dinda.


"Bang Ke, mau nanya, bagaimana kabar Pak Surarto?" tanya Aida.


"Hum ... Pak Sur sekarang terkena penyakit stroke, beliau masih di rumah sakit, ditambah hari ini umurnya telah enam puluh tahun jadi Pak Sur sudah pensiun. Abang sangat berterimakasih banyak kepadanya, berkat dia aku bisa kerja di sini tanya interview, beliau juga adalah teman dekat bapakku," balas Ketot.


"Alhamdulillah kalau begitu. Akhirnya Pak Sur pensiun, gue bisa bebas pergi ke mana-mana. Gue nggak peduli dia sakit stroke atau apa kalau tidak ada Pak Sur lebih bersyukur," batin Aida.


Tin!


Tin!


Tidak lama suara motor supra x masuk ke dalam sekolah seraya menyapa Ketot, Aida yang melamun itu pun merasakan kaget, mereka berdua menatap bersamaan.


Ternyata seseorang yang menggunakan motor supra x adalah seorang lelaki berumur dua puluh empat tahun, dia adalah Pak Wawan yang mengganti menjadi kepala sekolah baru SMK Harapan Bangsa, meskipun beliau sangat muda tapi cara pemikiran sudah seperti kepala sekolah umumnya selain itu dia memakai kacamata juga sama hal dengan Pak Surarto.


Selama mereka berdua memperhatikan Pak Wawan yang sedang mengendarai motor masuk ke lingkungan sekolah, kini mobil avanza berwarna hitam yang dikendarai Madonna masuk ke dalam lingkungan sekolah.

__ADS_1


Tin!


Tin!


Suara klakson itu membuat Ketot dan Aida kaget juga. Mereka berdua menoleh bersamaan, ternyata Madonna juga telah sampai. Tanpa berlama-lama Aida izin pergi dengan meninggalkan Ketot, lalu datang menghampiri temannya.


Kemudian Madonna dan Lita keluar dari mobil bersamaan, Aida pun kaget ia tebak kalau yang ada di dalam hanya Madonna seorang ternyata ada Lita juga, biasanya Lita suka naik angkot tetapi hari ini pergi bersama Madonna. Usai keluar dari mobil, Madonna pun menutup pintu mobil dengan menggunakan kunci mobil, lalu mereka pergi ke kelas 11 J.


"Madonna, Lita. Kalian berdua sudah kelar ngerjain tugas matematika?" tanya Aida.


"Ha? Kami berdua belum ngerjain Aida. Tapi kami sudah bawa kertas double polio, sekalian merayu Aidil untuk mencontek. Aida lu mau 'kan bantuin gue," balas Madonna, lalu ia memelas kepada Aida.


Aida diam sejenak seraya memikirkan apa yang dikatakan oleh Madonna, sebenarnya Aida juga takut karena tidak mau mencontohkan tugas matematika kepada kedua temannya, karena ia sudah capek kerjain bareng Uka.


"Hum ... boleh, tapi Aidil sekarang belum sampai ke sekolah. Alangkah baiknya kita pergi ke kantin sambil menunggu kedatangan Aidil mau nggak?" ajak Aida.


"Boleh aja sih, tapi jam segini Bang Sat belum tiba. Kalau kita pergi ke kelas sambil menunggu Aidil bagaimana?" balas Madonna, lalu mengajak Aida dan Lita ke kelas 11 J.


"Aida, lu mau enggak pergi ke kelas?" panggil Lita.


"Ah? Ya sudah deh yuk kita ke kelas. Lagi pun apa yang dikatakan oleh Madonna ada benarnya, jam segini Bang Sat belum ada di sekolah," balas Aida.


Kemudian mereka berangkat menuju ke kelas 11 J seraya menunggu Aidil sih anak emas.


***


Sebelum itu Pak Wawan telah tiba parkiran guru. Ia membuka jaket dan helmnya, sekarang Pak Wawan telah memakai baju dinas ditambah kacamata minus 2, jam putih, id card dan batu aki berwarna hitam.

__ADS_1


Kemudian Pak Wawan membuka Iphone 11 nya untuk bercermin, lalu mengambil sisir dan menyisir rambut dari kiri ke kanan agar berpenampilan dengan menarik. Selepas itu, ia masuk ke dalam kantor sembari membawa tas berisikan dokumen-dokumen penting, kalau dirinya sudah resmi menjadi kepala sekolah dari pihak pemerintah pendidikan dan telah bertanda tangan pergantian kepala sekolah dengan Pak Surarto.


Sampai di ruang utama, Pak Wawan melihat Ibu Lusi yang hendak mengajar seni budaya ke kelas 11 G lalu disambung ke kelas 11 J selama empat jam.


Namun semua itu gagal, tiba-tiba Pak Wawan dipanggil oleh Pak Wakil Kepala Sekolah. Pengejaran pada Ibu Lusi hanya sia-sia, sebenarnya Ibu Lusi adalah seorang gadis tua berumur tiga puluh tahun dan berzodiak taurus. Jodoh yang ia inginkan tidak ada nan kriteria sehingga Lusi sangat kesulitan menemukan pasangan, meskipun dirinya sudah sangat keras kepala tapi prihal tersebut tetap tidak terjadi.


Sepuluh menit berlalu, Aida bersama kedua temannya telah lama berdiam di dalam kelas, sembari menunggu kedatangan Aidil. Tidak lama Aidil yang memakai hoodie hitam dan memakai tas seperti orang pintar berjalan ke kursinya seraya memakai headset seolah bagian ras wibu.


Kemudian Aida, Lita dan Madonna berencana untuk memaksa Aidil untuk memberikan jawaban matematika. Pertama kali Madonna mengunci pintu dari dalam, lalu Lita menutup jendela dan tirai jendela. Setelah melakukan itu, kini mereka datang menghampiri Aidil yang masih sibuk memainkan handphone.


"Aidil, gue boleh nggak minta jawaban matematika milikmu?" sapa Aida bersama Lita dan Madonna.


Aidil pun kaget ketika menghadap ke depan, ternyata Aida dan kedua temannya datang menghampirinya. Selepas itu, ia mematikan headset lalu membalas sapaan Aida.


"Iya, kalian bertiga mau mau ngapain datang ke sini?" balas Aidil dengan bertanya balik.


"Aidil, gue minjam lembaran jawaban matematika lu boleh nggak? Soalnya gue sama Lita dan Madonna kagak ngerti soal matematika, hanya lu anak berbakat di dalam kelas ini," pinta Aida.


"Nggak boleh, kerjakan sendiri lah. Emang gue siapa kalian," tolak Aidil dengan spontan.


"Hum ... lu mau main-main sama gue yah. Lita dan Madonna ayo kita buat Aidil telanjang sekarang, lalu kita foto dan sebar ke satu sekolah ini biar dibuat malu!" kekeh Aida agar bisa mendapatkan lembaran jawaban matematika milik Aidil.


"Heh? Eh? Kalian jangan macem-macem sama gue yah, atau gue bakalan ngadu ke polisi?!" Aidil yang memberikan peringatan pada mereka bertiga.


"Gue kagak takut, sebab bapak gue polisi. Sebelum kami melecehkan lu, kami bakalan beri keringanan berikan lembaran kertas matematika itu sekarang juga, kalau lu nggak mau ngasih maka apa yang gue katakan tadi lu bakalan dibuat malu satu sekolah."


Mendengar ucapan Aida, membuat Aidil dilema. Memberikan jawaban kepada mereka bertiga sama saja seperti dibodohi, seharian les di kota kini kayak dimanfaatin. Tetapi kalau Aidil menolak permintaan Aida bersama kedua temannya yang ada dirinya bakalan dibuat malu, dengan akhirnya Aidil menyerahkan kertas lembaran jawaban matematika kepada mereka.

__ADS_1


"Iya, iya gue bakalan ngasih, tapi jangan lakukan itu lagi pada gue yah," balas Aidil sembari mengambil kertas double polio, lalu menyerahkan kepada mereka bertiga.


Kemudian Aida mengambil lembar jawaban matematika itu dan di foto kan buat dikerjakan pulang sekolah nanti. Kemudian Aida mengirim empat foto jawaban pada grup Metalis.


__ADS_2