Assalamualaikum, Pak Kepsek

Assalamualaikum, Pak Kepsek
Mengerjakan Tugas


__ADS_3

Sore pun berakhir dan malam telah berganti, Uka dan Aida juga sudah selesai menunaikan sholat maghrib di kamar masing-masing. Selepas itu, Aida melanjutkan kerjakan tugas matematika tetapi ia malah tidak tahu. Karena ada Uka, Aida bergegas pergi ke bawah.


"Mas Uk, ajari Aida jawab soal ini dong. Aida enggak paham mas," panggil Aida sembari membawa dua lembar kertas double polio.


Uka yang habis sholat maghrib lalu duduk di kursi sofa sambil membuka handphone nya terganggu, karena kedatangan Aida. Kemudian Uka melihat Aida membawa kedua lembar kertas itu, ditambah Uka merasa kasihan. Walaupun ia sangat lelah kini ia tetap peduli kepada adiknya. Uka menghela napas yang panjang dan menyuruh Aida untuk datang ke sini.


"Ya sudah sini, mungkin saja mas bisa bantu kamu, tapi kalau mas nggak bisa kita belajar lewat internet aja kebetulan aku punya website brainly, pada website ini terdapat banyak jawaban," ajak Uka.


Kini Aida sangat senang dan tersenyum manis, kemudian ia mendekati Uka sembari memberikan kedua kertas double polio.


"Astaghfirullah, banyak banget Aida. Kalian lagi ujian tengah semester yah mana dua rangkap lagi," kaget Uka.


"Iya mas, ini semua gara-gara Pak Sabar. Bukan mas, Aida belum ujian tengah semester. Itu soal hanya tugas biasa mana disuruh buat dua rangkap lagi," balasnya.


"Pak Sabar. Emang Aida sekolah nya di mana?" tanya Uka.


"Lah, kok mas nggak tahu. Aida sekolah di SMK Harapan Bangsa."


"SMK Harapan Bangsa. Kayaknya mas belum pernah dengar nama Pak Sabar, dia guru baru yah?"


"Iya Mas Uk. Pak Sabar guru baru namanya aja penyabar tapi hatinya dingin dan bikin ngeselin, ditambah suka beri soal banyak-banyak mana Aida bersama kedua temanku disuruh nulis dua rangkap, kalau nggak ngerjain maka disuruh nulis empat rangkap," balas Aida dengan ekspresi kesal.


"Hum ... guru baru itu benar-benar kelewatan, ya sudah kamu nggak usah marah atau kesal. Soalnya kamu tinggal beberapa bulan lagi bakalan naik kelas, jadi kamu ikuti saja apa yang ia perintahkan, kalau bisa rayu dia biar dapat nilai bagus, Aida kan paling pandai merayu buaya."


Usai bercakap-cakap, Aida dan Uka mengerjakan tugas matematika bersama-sama. Aida yang menulis di kertas double polio dan Uka membuka handphone untuk memberi jawaban kepada adiknya.

__ADS_1


Tiga puluh menit berlalu kini Aida telah selesai mengerjakan tugas matematika satu rangkap, tinggal satu rangkap lagi dengan disalin. Tidak lama, mereka berdua mendengarkan suara kendaraan dari luar lalu sejenak ditambah suara ketukan pintu.


Tingtong!


Tingtong!


Suara bel dari bawah terdengar nyaring, kemudian Aida dan Uka turun bersamaan untuk membuka pintu. Ternyata di balik pintu itu ada Hartono dan Dinda yang baru pulang dari kerja.


Cek lek!


"Emak, bapak. Kirain siapa?" panggil Uka.


Mereka berdua pun kaget melihat kedatangan Uka.


"Uka, sejak kapan kamu pulang, kok nggak kabarin? Kalian sudah makan belum, kebetulan bapak barusan beli sate. Tapi bapak beli cuman tiga, kita bagi empat yah," balas Hartono, lalu ia mengajak makan pada Aida dan Uka.


"Hum begitu. Ya sudah ngerjain tugas matematikanya tunda dulu, soalnya hari sudah malam juga. Nak kamu nggak usah malu-malu, kamu itu 'kan anak bapak, jadi mana mungkin bapak tidak bersikap adil pada dirimu terus jangan kebanyakan makan mie instan nanti cacingan," balas Hartono.


"Ya sudah, kita sampai kapan berdiri di sini. Enggak bapak - anak selalu saja mengobrol, kasian tuh sama Aida yang berdiri saja menatap sate," balas Dinda menghentikan pembicaraan Hartono dan Uka.


"Eh? Emak! Aida nggak menatap sate kok, melainkan dengerin obrolan Mas Uka sama bapak suudzon saja," kaget nya.


Kini Hartono dan Uka menutup pembicaraan nya oleh Dinda, lalu tersenyum menatap Aida. Selepas itu, mereka sekeluarga pergi ke dapur untuk menyantap sate.


Sebelum menyantap sate, Dinda membuka tiga bungkus sate. Satu bungkus sate ada dua belas tusuk sama tiga lontong. Kemudian Dinda mengambil tiga tusuk sate pada ketiga bungkus yang terbuka lalu bagikan ke mangkok hijau untuk memberikan pada Uka.

__ADS_1


Setelah membagikan tiga sate dan masing-masing mendapatkan sembilan tusuk. Kini mereka berempat menikmati sate itu bersama-sama dengan menggunakan lontong dan nasi.


Usai menikmati sate, membuat Aida dan Uka sudah sangat kekenyangan kemudian mereka berdua pergi ke kamar masing-masing.


"Emak, bapak. Aku sama Aida mau kembali ke kamar yah sudah ngantuk banget nih," ucap Uka.


"Hei, masih belum Isya. Tunggu adzan Isya sudah berkumandang baru kalian tidur. Katanya Aida mau kerjakan tugas matematika, lebih baik kerjakan sekarang juga dan jangan ditunda. Uka mending kamu bantuin adikmu dan jangan tidur dulu sebelum Isya. Bapak nggak pernah ajarin kalian ninggalin sholat, sholat itu adalah tiang agama. Apakah kalian mau lihat bapak dan emak mu tinggal di neraka karena kalian tidak mengerjakan sholat," suruh Hartono.


Kini Uka dan Aida hanya diam saja dan mengangguk, kemudian mereka berdua kembali ke ruangan utama lalu melanjutkan tugas matematika.


Setelah menyuruh mereka berdua, Hartono pergi ke kamarnya mengambil handuk. Selanjutnya ia pergi ke kamar mandi, karena dari pagi - ke malam belum mandi sama sekali sama hal juga dengan Dinda. Mereka berdua saling berebutan ke kamar mandi, tapi Dinda malah mengalah karena Hartono sangat gesit masuk ke kamar mandi.


"Bapak mandinya jangan lama-lama, soalnya aku sudah gerah banget pak," ucap Dinda.


"Iya, ma. Tunggu yah sebentar lagi bapak bakalan selesai mandinya," balas Hartono.


***


"Mas Uk, kayaknya Aida ngantuk banget. Lihat rumus matematika kayaknya males aja, rasanya pengen cepat tidur," ucap nya.


"Aida, kamu 'kan tinggal salin aja tugas itu ke kertas double polio satunya. Ayolah adik mas jangan menyerah dulu. Mas juga sering menyalin sepuluh kertas penting saat bekerja," balas Uka seraya menyemangati Aida.


"Mas Uk, Aida capek banget. Lagi pun ngumpul tugas hari Jum'at, besok 'kan hari Kamis. Yah, Mas Uk sudah rajin dari dulu kalau aku beda lagi. Tutor biar nggak malas gimana Mas Uk, andai aja dalam diri Aida punya sihir anti malas mungkin aja aku bisa mengalahkan Aidil sih anak emas itu, terus di banggain sama satu sekolah karena berprestasi, tapi semua itu hanyalah mimpi," keluh Aida.


"Tutorial nya itu bertekad, berusaha, percaya diri dan banyak-banyak berdoa. Alasan bapak menyuruh kita sholat, agar keinginan kita dapat terwujud. Jadi Aida jangan mudah menyerah, lakukanlah apa yang kau bisa asalkan itu dapat berhasil," balas Uka dengan memberikan semangat.

__ADS_1


Kini Aida hanya diam saja sembari mendengarkan balasan Uka. Kemudian Aida melanjutkan pekerjaannya dengan menyalin tugas matematika ke kertas double polio yang baru. Usai mengerjakan tugas Aida malah mendengarkan Adzan Isya berkumandang.


Selepas itu, Aida menutup kertasnya lalu berjalan menuju kamarnya untuk memasukkan kedua kertas double polio berisi soal dan jawaban matematika pada ransel tasnya. Selanjutnya Aida berjalan ke kamar mandi untuk berwudhu dengan melaksanakan sholat Isya. Kemudian ia memakai mukena dan sholat menggunakan sajadah ke arah kiblat. Setelah melaksanakan sholat Isya, Aida malah ketiduran dengan menggunakan mukena di atas sajadah - menanti besok pagi.


__ADS_2