
Masih PoV Rendy
"Iih... Papa makan gak ajak - ajak Fia". Aku menoleh ke sumber suara dibelakangku. Safira masuk bersama Zein dengan wajah kesalnya. Aku jadi lupa dengan gadis kecil itu.
"Hehee... Papa laper banget, sayang. Maaf, ya. Sini cepet duduk. Biar langsung makan". Pintaku padanya lalu menggeser bokongku untuk memberi tempat dia duduk. Ku basuh tanganku lalu mengambilkan nasi ke dalam piring untuknya. "Segini cukup ?".
"Cukup, Pa".
"Loh, kok jadi ngerepotin Papanya. Kan Papanya lagi makan". Kata Ibu yang menggodanya.
"Biarin. Salah siapa gak ngajak anaknya makan. Emang yang laper cuma Papanya doang. Anaknya juga laper". Dia bersungut. Masih dengan mode kesal.
"Hehee... Gak apa - apa, Bu. Itung - itung permintaan maaf". Sambungku menimpali ucapan Safira. "Fira mau makan pakek apa ?". Aku menatap lauk pauk yang tersedia. Tidak mungkin dia hanya makan rebusan atau lalapan. Apalagi sambal.
Lalu dengan cepat tangan gadis kecil itu menyendok sambal terasi ke dalam piringnya. Kemudian beberapa lembar daun selada, timun dan kol. Setelah itu di mencuci tangannya dan langsung menyuapkan nasi dengan sambal dan lalapan ke mulutnya. Tentunya setelah dia memanjatkan doa sebelum makan.
Mataku membelalak. "Fira sanggup makan sambel terasi ?". Tanyaku tak percaya.
"Sanggup. Fia udah biasa kok, Pa. Papa lanjut lagi dong makannya. Tadi katanya laper banget". Jawabnya sambil menunjuk ke arah piringku.
Aku hanya menanggapinya dengan tawa dan kembali fokus menikmati makan siang kami. Setelah selesai, aku membantu Bapak merapikan meja bekas makan kami. Ibu dan Safira membawa piring kotor dan sisa lauk ke belakang. Sementara Zein, harus kembali berkutat pada bengkelnya karena sudah ada pekerjaan yang menanti.
Ku panjangkan leherku untuk melihat ke dalam dapur. Tampak Safira sedang mebantu Ibu mencuci piring dan menyusunnya ke rak piring. Safira tampak ceria. Biasanya gadis seusianya pasti akan sibuk bermain dengan sebayanya. Sedang Safira, harus berada di warung. Walaupun dia tidak bekerja, setidaknya dengan dia berada di warung sudah sangat membantu pengawasan mereka.
Bapak tampak bangkit dari duduknya menuju etalase. Tampak disana sudah dua orang lelaki paruh baya menunggu. Bapak melayani pembeli tersebut. Membuatkan satu cangkir kopi dan satu cangkir teh manis. Kemudian kembali lagi dengan membawa satu piring berisi berbagai jenis gorengan. Setelahnya Bapak kembali duduk bersamaku.
"Eh, udah ada pembeli ya, Pak ?". Tanya Ibu yang saat datang dari dapur tengah mendapati dua lelaki paruh baya yang duduk di warung. "Bapak yang layani ?". Tanya Ibu lagi.
__ADS_1
"Iya. Nunggu kamu siap, keburu pembelinya kabur". Seloroh Bapak yang dibarengi dengan tawa.
Safira duduk di sebelahku. Ditangannya sudah ada buku cerita tentang anak. "Safira udah bisa baca ?". Tanyaku memastikan.
"Udah, Pa. Lagian buku ini memang untuk anak yang masih sekolah TK kok". Jelasnya sambil membuka buku tersebut.
Aku memperhatikan setiap tulisan didalamnya. Hurufnya juga masih satu - satu dan belum di gabung. Sangat membantu proses belajar membaca Safira. Ku lirik jam di pergelangan tanganku. 14.37. Aku lalu mengatur nafas. Sepertinya aku tak boleh membuang waktu terlalu lama.
"Mm... Pak, Buk. Ada yang mau saya sampaikan". Ucapku perlahan sambil menatap Ibu dan Bapak bergantian.
Ibu memalingkan pandangannya ke Bapak yang di sambut dengan anggukkan. "Sepertinya sangat serius ya, Rend ?", tanya Ibu sambil mengulas senyum.
Aku jadi salah tingkah sendiri menutupi kegugupanku. "Iya nih, Buk. Gak enak juga sih kalo harus ngomong di warung. Tapi, kalo ngomong dirumah pasti udah terlalu larut malem. Bapak sama Ibu juga butuh istirahat." Aku kembali mengatur nafas. "Begini, Pak, Bu. Rencana saya mau bawa keluarga ke rumah minggu ini. Nanti di hari itu saya dan keluarga akan menyampaikan niat saya pada Risa. Jadi saya minta izin untuk datang ke rumah membawa keluarga saya Pak, Bu". Haah... Badanku rasanya panas dingin hanya untuk menyampaikan kalimat itu.
Bapak tersenyum sambil mengangguk. "Yasudah. Silakan datang ke rumah. Pintu rumah kami terbuka lebar untuk keluargamu". Ucapnya membuatku lega.
*****
PoV Author
Rendy kembali ke rumah orang tuanya yang masih tampak sepi. Kedua orang tuanya belum pulang dari acara kondangan ke luar daerah. Rendy yang sedang diliputi kebahagian tengah bersiul - siul sambil merapikan rumah yang sedikit berantakan. Menyapu debu dan membuang sampah. Lalu merebahkan tubuhnya ke sofa ruang tamu. Matanya menatap langit - langit. Senyumnya belum juga pudar. Dia melihat lagi bunga - bunga yang bermekaran di taman dengan aneka kupu - kupu yang berterbangan di atasnya.
"Haaah... Gak sabar rasanya nunggu hari minggu". Gumamnya seorang. Dia merogo saku celananya untuk memeriksa ponselnya.
Matanya membelalak mendapati ada lima belas panggilan tak terjawab dan lima pesan dari Kak Mira. Tanpa pikir panjang, Rendy langsung menelpon balik Kakak satu - satunya itu.
Dering sambungan masih terdengar di ujung telpon.
__ADS_1
"Halo Kak... "
"Ngapain aja sih kamu lama banget ngangkatnya ? Gini nih kalo lagi kasmaran. Serasa dunia hanya milik berdua. Yang lain ngontrak. Berkali - kali di telpon gak diangkat. Segitu terhanyutnya ya sama Risa sampek telpon dariku di abaikan ? Atau malah kamu sengaja silent ponsel kamu ? Dasar kamu ya, buaya. Eh, inget. Bentar lagi kamu jadi kadal. Gak usah banyak tingkah lagi". Rentetan kalimat cercaan dari Kak Mira harus memekakkan telinga Rendy. Dia hanya bisa merutuki kepolosannya yang langsung menelpon sang Kakak tanpa melihat pesan darinya terlebih dahulu. Isi pesannya hampir sama dengan yang diucapnya barusan.
"Udah selesai nyanyinya, Kak ?". Seloroh Rendy. Jika saja dia berada di dekat kakaknya itu, sudah pasti bantal akan melayang ke arahnya.
"Kamu ini, ya. Bener - bener deh". Rendy sangat senang menggoda kakaknya. Walau akhirnya berujung pada rentetan cercaan bahkan makian yang akan keluar untuknya. Baginya, itu adalah bentuk rasa sayang sang Kakak padanya. "Kakakmu yang cantik ini cuma mau ngingetin kamu. Kamu udah beli cincin ?"
Kening Rendy berkerut seakan belum bisa mencerna maksud pertanyaan sang Kakak. "Maksudnya ?". Akhirnya kata itu lolos dari mulutnya
"Hadeh... Bener - bener ya. Kamu niat ngelamar Risa gak sih ? Kalo emang niat jangan setengah - setengah dong. Beli cincinnya sebagai tanda. Sebagai bukti. Sebagai apalagi. Terserah deh. Yang jelas, kamu harus menyematkan sesuatu pada Risa sebagai bentuk keseriusanmu melamarnya".
Rendy menepuk jidatnya tiba - tiba setelah menyadari keteledorannya. Dia sama sekali tak terpikir untuk membeli sesuatu untuk Risa. 'Astaga... Bodohnya aku', batinnya. Dia hanya bisa merutuki kebodohannya yang tak memikirkan hal seistimewa itu.
"Oke. Besok Kakakmu yang baik hati dan cantik ini akan nemeni kamu untuk cari cincin buat Risa. Jemput aku jam sebelas siang. Jangan lupa traktiran makan siang juga sebagai imbalannya". Kak Mira langsung mematikan panggilannya secara sepihak. Bahkan sebelum Rendy sempat bernegosiasi dengannya.
Sementara di tempat lain. Risa pulang ke rumah dengan gontai. Tubuhnya sangat lelah karena harus terjun langsung melayani pembeli. Ditambah lagi, motornya yang tiba - tiba mogok di tengah jalan. Dia pulang dengan ojek online. Sedangkan motornya dibawa oleh orang suruhan Zein ke bengkel.
Risa langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Setelah kembali mengunci pintu rumah. Dia hari ini memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Tubuhnya sudah tidak sanggup lagi untuk membantu pekerjaan di warung. Setelah dirasa cukup memulihkan tenaganya sedikit, dia bangkit dan bergegas membersihkan diri.
"Halo, Bu. Maaf Risa gak bisa ke warung. Risa capek banget". Ucap Risa melalui sambungan telpon setelah dia selesai mandi.
"Yaudah, gak apa - apa. Kamu istirahat aja. Ibu juga udah masak disini. Nanti makan malam kamu dibawakan Manda. Dia juga bentar lagi mau pulang".
"Makasih ya, Bu. Safira gak rewel kan ?". Tanyanya lagi. Dia selalu memastikan bahwa anaknya tak merepotkan kedua orang tuanya.
"Enggak. Dia kan anak yang penurut. Dia juga nanti ikut pulang bareng Manda".
__ADS_1
Setelah bertelponan dengan Ibunya, Risa membereskan rumah. Lalu menjerang air panas untuk membuat minuman hangat sambil menunggu putri semata wayangnya pulang. Rasa lelahnya hilang jika mengingat Safira yang menjadi penyemangatnya.