
Risa telah berada di warung setelah Zein menjemputnya di Cafe. Urusannya di Cafe telah selesai. Dia juga sudah mengurus mobil Rendy ke bengkel langganannya. Setelah tak ada kepastian dari pihak bengkel yang telah dihubungin Rendy.
Di lain tempat, dua sosok wanita tengah mengintai Risa. Wajah keduanya tampak murka dan tak bersahabat. Mereka berdua telah mengikuti Risa sejak di Cafe.
"Dasar janda gatel. Suka banget sama milik orang". Ucap wanita yang tampak lebih muda. Wajahnya cukup cantik. Kulitnya putih dengan rambut pirang, ulah salon.
"Kayaknya omongan doang gak mempan. Perlu bukti. Sesekali dia harus dipermalukan di depan umum". Timpal wanita yang lebih tua. Tubuhnya sedikit gempal, dengan wajah yang mulai ditumbuhi jerawat.
"Janda emang meresahkan", ucap si rambut pirang sambil menggerutukkan rahangnya.
"Kurang belaian kayaknya. Sampek sana sini disikat juga", sahut wanita satunya yang tak kalah kesal. Matanya telah ditutupi kabut kebencian. "Kayaknya emang harus dikasih pelajaran. Janda gak boleh makin di depan".
"Jangan sampek ada korban lagi. Gak mikir apa dia, ya ? Anaknya cewek, trus dikasih makan dari hasil morotin laki - laki orang ?".
"Mungkin emang udah gatel. Pengen digaruk", ucap si tubuh gempal dengan geram. Mulutnya sangat tajam dengan amarah yang telah menyambar - nyambar bagai petir. "Enaknya di apain, ya ?".
"Iya, ya. Biar viral sekalian", ucap si pirang sekenanya.
Kedua saling tatap dengan tajam. Sedetik kemudian, senyum licik terukir dibibir keduanya.
"Siapin kamera". Ucap keduanya kompak sambil menunjukkan ponsel mereka.
*****
Risa masih meringkuk di tempat tidurnya. Badannya terasa remuk. Pandangannya sedikit kabur. Akhir - akhir ini dia memang memforsir waktunya untuk toko dan Cafe. Pesanan di toko sedang membludak. Dia sudah mengalihkan pesanan online dari nomor pribadinya ke Toko agar dapat di handle Rati. Sedangkan Cafe, untuk saat ini masih ramai dan semakin banyak peminat. Dua hari ini adalah acara promo Cafe. Mau dikatakan launching, Cafe telah buka lima hari yang lalu.
"Bunda... Fia berangkat sekolah dulu, ya ?". Ucapnya sambil mencium kening Risa. "Bunda cepet sembuh", lanjutnya lagi dejgan wajah murung.
Risa tersenyum lalu duduk. "Bunda kan gak sakit, sayang. Bunda cuma perlu istirahat. Nanti siang atau sore juga Bunda udah enakan".
Safira menghela nafas pelan. "Yaudah, deh. Pokoknya Fia gak mau liat Bunda sakit". Ucapnya sambil meraih tangan Risa dan menciumnya takzim. "Satu lagi, Bunda. Tolong bilangin ke Papa. Fia pengen dijemput Papa". Ucapnya penuh harap. Matanya tampak berbinar saat mengucap kata 'Papa'.
Sepertinya dia kangen Rendy, batin Risa. Dia tersenyum, "Nanti Bunda sampein, ya. Semoga Papa gak sibuk. Jadi bisa jemput Fira".
__ADS_1
Safira berangkat sekolah diantar Zein seperti biasa. Dia lebih nyaman di antar Zein ketimbang Manda. Katanya Manda terlalu cerewet saat dijalan. Sehingga mood Safira menjadi buruk untuk memulai pelajaran.
Risa telah mengabari Rendy untuk menjemput Safira hari ini. Beruntung Rendy punya waktu luang, sehingga Safira tak akan kecewa dengan harapannya.
"O iya, Ri. Ntar aku boleh sekalian bawa Safira ke rumah ? Mama sama Kak Mira pengen ketemu". Ucap Rendy sebelum sambungan telpon mereka berakhir.
"Boleh. Tapi, itu artinya kamu harus ke sini dulu bawa pakaian gantinya. Aku gak mau dia seharian pakek seragam sekolah. Kasian nanti".
"Oke. Kamu siapin dari sekarang aja. Biar nanti aku gak nunggu lama".
"Hem".
"Trus masalah mobil gimana ?", tanya Rendy. Mobil sedan hitam metalic milik Rendy telah sampai dirumah pagi tadi. Tentu diantar langsung pihak bengkel langganan Risa. "Aku anter ke Cafe atau toko ?", tanyanya lagi karena belum juga mendapat jawaban dari Risa.
"Kamu bawa aja dulu buat jemput Safira. Trus nanti kamu bawa ke rumah sekalian anter Safira pulang". Jelas Risa dengan suara paraunya.
"Kamu sakit, Ri ?", nadanya terdengar sangat cemas.
Risa menghela nafas. "Cuma gak enak badan. Udah, ya. Jangan bawel. Aku cuma butuh istirahat, gak butuh omelan dari kamu. Assalamualaikum. Bye". Ucap Risa mengakhiri panggilan tanpa menunggu balasan dari seberang sana. Diletakkannya ponsel ke balik tubuhnya lalu menarik guling ke dalam pelukkannya dan kembali terlelap.
Persiapan Rendy menuju hari yang dinantinya telah maksimal. Cincin dan segala printilannya sudah tertata rapi dikamarnya. Keluarganya juga sudah tak sabar menantikan hari tersebut. Bahkan, Kak Mira sengaja memesan gaun couple untuk mereka kenakan saat acara itu.
"Semoga kamu lekas sembuh, Ri. Aku gak mau di hari spesial nanti kamu kenapa - kenapa", gerutunya sambil menggenggam erat ponselnya. Rendy sangat hapal dengan tabiat Risa. Jika sakit, dia tidak akan pernah mau menyentuh obat - obatan. Dia hanya akan tidur seharian, dan bangun saat lapar, ingin buang hajat atau beribadah. Selebihnya dia akan seperti mamalia yang sedang hibernasi.
"Ma... Mama". Rendy berjalan menuju dapur, tempat favorit Diana, Mamanya. "Mama sibuk ?", dia mulai meraih piring yang masih penuh busa di wastafel dan membilasnya.
"To the point aja. Mau apa ?", ucap Diana telak padanya. Tentu saja kelakuannya dapat tertebak dengan mudah. Anak lelakinya tak kan mungkin turun ke dapur jika tak ada yang diinginkan darinya.
"Heheee. Mama tau aja, deh". Ucapnya sambil menyenggol lengan Diana dengan sikunya.
"Hem... Kamu ya gitu kalo ada maunya", balasnya pada sang anak dengan cebikkan.
"Risa kayaknya sakit, Ma. Dia pasti gak mau minum obat. Buatin wedang jahe dong, Ma. Biar badannya cepet fit. Dua hari lagi loh, Ma". Suaranya terdengar sangat memelas. Wajahnya dibuat semenyedihkan mungkin agar Diana dapat iba padanya.
__ADS_1
Tanpa diduga, Diana malah terlihat begitu cemas mendengar penuturan putranya. "Sakit apa mantuku ? Jangan bilang gara - gara kamu ? Dulu kamu pernah ngerjai dia sampek dia gak masuk sekolah dua hari gara - gara demam. Hayo ngaku. Kamu apain dia ?". Cecar Diana sambil memukul - mukul lengan anaknya.
"Aduh sakit, Ma". Ucap Rendy sambil membiarkan Diana memukulinya hingga puas.
Dulu saat masih di SMA, Rendy pernah menjahili Risa saat ada ekskul. Tepatnya di kolam renang. Rendy yang tak percaya pada Risa yang tak bisa berenang, dengan sengaja menceburkan Risa ke kolam renang sedalam dua meter. Jahatnya, dia bahkan menertawakan Risa yang hampir tenggelam terlebih dahulu baru menolongnya. Beruntung saat itu Risa tak sampai pingsan. Dan keberuntungan Risa itu malah menjadi kekecewaannya karena dia tak bisa memberi nafas buatan untuknya.
Akibat kejadian itu, Risa tak masuk sekolah karena terserang demam dan flu. Dan Rendy ? Risa mendiamkannya selama seminggu. Kejadian yang membuat Risa trauma untuk datang ke kolam renang atau bahkan pergi ke tempat berair. Seperti sungai, pantai atau danau.
"Bukan gara - gara aku, Ma. Aku aja terakhir ketemu dia sewaktu mau jemput Mama di bandara. Itu dua hari yang lalu. Bahkan mobilnya belum sempet aku balikkin gara - gara harus nganter Kak Mira belanja printilan itu". Sanggahnya cepat sebelum Diana kembali memukulnya.
"Printilan itu juga kepentingan kamu. Awas ya kalo sampek di hari nanti Risa belum sehat. Gak bakal Mama biarin kamu sama Risa". Ancamnya pada anak laki - laki semata wayangnya.
"Loh loh loh. Maksudnya apa ini, Ma ? Kalo aku gak sama Risa, berarti gagal lagi dong Mama punya mantu kayak Risa. Hayoo". Godanya pada Diana sambil mengambil kain lap untuk mengeringkan tangannya. Wajahnya penuh kemenangan menatap sang Mama.
Dia tersenyum miring menanggapi anaknya. "Ya bakal Mama jodohin lah sama Tio. Kan tetep jadi mantu Mama", Diana tersenyum lebar melihat Rendy hampir meloloskan bola matanya.
Tio adalah sepupu Rendy. Risa pernah terang - terang menyatakan suka pada Tio melalui Mamanya sewaktu tanpa sengaja Risa dan Tio bertemu dirumah Rendy. Risa yang memang mudah berbaur dengan cepat dapat langsung dekat dengan Tio. Hingga Rendy merasa terabaikan oleh Risa karena kehadiran Tio.
"Wah... Teganya Mama sama anak sendiri. Aku jadi ragu, kayaknya aku anak tiri". Ucanya mendramatisir keadaan.
"Kamu tuh bukan anak tiri. Tapi kamu anak pungut". Balas Diana tak kalah mendrama.
Keduanya kemudian melepas tawa. Mencairkan suasana yang mulai memanas. Diana meracik wedang jahe, setelah kegiatannya mencuci piring selesai. Rendy mengawasi gerak gerik Diana. Mengingat bahan - bahan serta memperhatikan cara membuatnya. 'Jahe, Serai, Gula merah, dan Kayu manis. Simpel', ucap Rendy dalam hati. Jika suatu saat dibutuhkan, Rendy sudah dengan mudah membuat minuman hangat tersebut.
Setelah selesai membuat wedang jahe, Diana menempatkannya pada wadah tahan panas. Lalu menyiapkan bubur sumsum yang sebelumnya telah dibuatnya untuk diberikan pada Risa juga. Setelahnya kembali membereskan dapur.
"Ma... Ini yang mau dibawa ?", tanyanya memperhatikan totebag yang berisi dua wadah tersebut.
"Iya. Itu tadi Mama masak bubur sumsum. Risa kan suka banget sama bubur sumsum. Kali aja setelah makan dan minum buatan Mama, Risa bisa langsung segeran". Jelas Diana sambil mengeringkan tangannya dengan kain.
"Calon mertua idaman ini, Mah", goda Rendy pada Diana. "Yaudah, Aku berangkat dulu, Ma. Mama telpon Kak Mira suruh cepetan kesini. Aku mau jemput Safira kemari".
"Heleh. Sekalian bawa kakakmu kesini kenapa ? Toh, jalannya juga satu arah", cebik Diana sambil menjawil pinggang sang anak.
__ADS_1
"Iya deh. Susah berurusan sama Mak emak".
Rendy langsung berlalu tanpa menghiraukan jawaban Diana. Karena waktu pulang Safira sudah begitu mepet. Dia takut Safira akan lama menunggu. Rencana diawal dia akan menemui Risa terlebih dahulu. Namun setelah dipikir, dari pada nanti timbul fitnah baiknya dia menjemput Safira dulu dan membiarkannya mengganti pakaian sebelum dibawa bertemu Kak Mira.