
Rendy membawa Risa kerumahnya karena harus menjemput Safira yang sejak siang tadi ikut dengan orang tuanya pulang. Setelah selesai melaksanakan sholat magrib yang hampir telat, Rendy mengantar Risa dan Safira pulang.
Diperjalanan pulang Safira terus bercerita bagaimana asyiknya dia bermain dengan Sakha dan Lita. Rendy terus menanggapi cerita Safira. Sementara Risa hanya tersenyum mendengar celotehan putrinya. Dia senang karena Safira tak pernah seantusias itu saat menceritakan tentang teman - temannya disekolah.
Setibanya dirumah orang tua Risa, mereka bertiga turun. Safira langsung berlari masuk ke rumah setelah mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Mau langsung pulang ?", tanya Risa berbasa basi.
"Maunya sih nginep. Tapi belum bisa", balas Rendy sambil terkekeh. "Buatin aku kopi, ya. Trus kamu ganti baju. Pasti udah gerah kan ?".
Risa hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu meninggalkan Rendy di teras rumah. Sebelum masuk kamar, Risa berpesan pada Zein yang sedang menggoda Safira untuk menemani Rendy. Lalu dia gegas mengganti pakaiannya dengan gamis rumahan.
Setelahnya, dia menyiapkan kopi pesanan Rendy dan toples berisi nastar buatannya. Dia juga membawa satu botol air mineral kedalam nampannya. Risa selalu menyetok kue - kue kering dirumah sebagai cemilan ataupun hidangan jika ada tamu yang datang.
Risa membawa nampan tersebut ke teras depan. Sesampainya di depan, sudah ada teman Zein yang datang. Mereka tampak akrab. 'Sesama lelaki kenapa kalo ketemu bisa cepet banget akrabnya', gumam Risa dalam hati.
"Mau dibuatin minum juga ?", tanya Risa pada teman Zein.
"Gausah kak", tolaknya cepat. "Ini aku mau ajak Zein keluar. Kuy. Keburu malem", ajaknya pada Zein.
Mereka kemudian pergi setelah berpamitan. Rendy masih sibuk dengan ponselnya. Tangannya sesekali tampak mengelus tempat bekas japitan Risa. Tangan Risa terulur menangkap tangan Rendy. Lalu Risa menyingkap baju Rendy untuk melihat bekas japitannya.
Risa terkesiap melihat warna merah yang menggelap pada bekas japitannya. Seketika senyum Risa berkembang. Lalu ditatapnya Rendy yang heran melihat tingkahnya.
"Sakit, ya ?", tanyanya sambil mengulus senyum.
Alis Rendy terangkat sebelah. "Enggak. Gak sakit. Cuma berasa kena cabe aja", ucap Rendy seolah menahan emosi.
"Mau aku tambahin lagi ?", sambung Risa tanpa rasa bersalah.
Wajah Rendy berubah muram. "Jangan dong, Ri. Kok ya kamu tega banget sama aku sih. Aku ini kan calon suamimu. Harusnya kamu sayangi dong. Masa kamu aniaya gini", ucapnya dengan sangat memelas.
Risa terkikik geli melihat wajah Rendy yang memelas. "Maaf ya, sayang. Gak aku ulangi lagi. Aku gak mau kena pasal tindak kekerasan dan perbuatan tidak menyenangkan".
Rendy terkesiap mendengar panggilan 'sayang' yang diucapkan Risa untuknya. Senyumnya mengembang. Dibawanya tangan Risa lalu dikecupnya telapak tangan yang mungil nan lembut itu.
"Kenapa kamu selalu bisa membuat aku makin sayang sama kamu, Ri. Padahal, kalau dibandingkan dengan wanita - wanita yang pernah ku temui. Mereka yang selalu mengharapkan kasih sayangku".
"Karma kayaknya". Risa tersenyum melihat wajah sendu Rendy.
Dulu saat Rendy masih sibuk berkelana mencari mangsa, Risa selalu menjadi tempat Rendy bercerita. Bagaimana wanita - wanita itu mengejarnya. Apa saja yang diserahkan wanita - wanita itu padanya. Bahkan, Risa pernah mendengar dari Kak Mira sampai ada wanita yang datang melamarnya.
Rendy kembali mengecup telapak tangan Risa. "Kalo karmanya sama kamu, aku rela kok. Aku akan serahin seluruh jiwa ragaku untuk buat kamu bahagia". Satu tangannya terulur membelai pipi Risa.
Risa menangkap tangan Rendy. "Jangan ngegombal. Dah ah. Kamu gak pulang ? Udah malem. Aku gak mau sampek dipaksa warga nikah sama kamu malam ini".
__ADS_1
"Lah. Aku malah mau cepet - cepet nikah sama kamu. Biar bisa tidur sambil meluk kamu", Rendy tersenyum menggodanya.
"Hem. Mulai ya buayanya". Ucap Risa mencebik.
Rendy kemudian masuk ke rumah untuk berpamitan dengan Ibu dan Bapak. Dilihatnya Safira yang tertidur di ruangan tanpa kursi ataupun sofa itu. Lalu dia mengangkat Safira dan memindahkannya ke kamar setelah mendapat izin dari Risa. Dikecupnya pucuk kepala Safira saat dia telah merebahkannya. Risa menunggu sambil memperhatikan Rendy di ambang pintu. Hal yang selalu ingin dilihatnya saat malam tiba. Mungkin juga yang ingin dirasakan putri semata wayangnya saat menjelang tidur.
Setelahnya, Risa mengantar Rendy sampai teras. Dia memandingin mobil Rendy hingga menghilang ditikungan jalan. Barulah dia beranjak masuk sambil membereskan bekas cangkir kopi Rendy.
*****
"Ayo, Fira. Kok tumben jadi molor gini. Nanti kamu telat, loh", teriak Risa sambil memasukkan bekal Safira ke tasnya.
"Bentar Bundaaaa. Fia lagi dikamar mandi", teriaknya nyaring.
"Kak, temeni aku ke pabrik ya ? Aku mau ajuin surat resign". Ucap Manda yang sudah bersiap.
Risa menatap heran pada adiknya. Ditatapnya wajah sang adik yang masih menampakkan sedikit lebam dipipinya. Mungkin ini pilihan yang terbaik. Jika dia kembali bekerja, pasti banyak yang akan bertanya kronologinya. Belum lagi gosip - gosip miring yang harus didengarnya. Risa masih memikirkan kondisi psikis Manda jika masih bekerja disana.
"Yaudah, setelah anter Fira kita langsung ke pabrik".
Risa memasuki mobil, meletakkan tas Safira kedalam dan menyalakan mesin mobil. Dilihatnya beberapa tetangganya yang lewat menatap heran kearahnya. Ada yang heran, dan tentu saja banyak yang mencibir. Risa tak mempedulikan reaksi tetangganya terhadap dirinya.
"Bunda anter Fia pakek mobil ?", tanya Safira dengan mata berbinar. Senyumnya lebar menatap mobil dihadapnnya. "Ini mobil yang dipakek Papa waktu jemput Fia, Tan. Bagus kan ? Kata Papa ini mobil tokonya Bunda".
Safira dengan antusias menceritakannya pada Manda. Risa memberi isyarat agar keduanya segera masuk ke mobil. Dia sudah risih dengan tatapan tetangga julidnya yang super kepo. Lalu Risa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Udah lama", jawab Risa santai. Diliriknya Safira dari kaca spion yang terus tersenyum memperhatikan jalan dari jendela.
Tentu ada kebanggaan bagi Safira diantar dengan menggunakan mobil. Karena hampir seluruh orang tua temannya memiliki mobil. Jikapun ada yang diantar dengan motor, sudah pasti motornya merupakan motor mahal keluaran terbaru. Sedangkan dirinya, selalu dengan motor biasa.
Sesampai disekolah, Risa membukakan pintu untuk Safira dan mengantarkannya sampai ke depan kelas. Tak sengaja ia berpapasan dengan Arya yang saat itu mengantarkan Aqilah. Risa tak menyapanya dan langsung berlalu setelah memastikan Safira duduk dikursinya.
Arya mengikutinya sampai ke parkiran. Dia menghentikan langkah saat Risa mau mendekati mobil sport hitam yang pernah dilihatnya. Matanya membelalak tak percaya. Dikejarnya Risa yang sudah membuka pintu mobilnya.
"Risa..." Panggil Arya sambil tangannya menahan pintu mobil yang akan ditutup Risa. "Kamu bawa mobil ini buat anter Safira ?" Wajahnya penuh tanda tanya menatap Risa yang duduk dikursi kemudi.
"Emang kenapa ? Anakku juga pengen dianter sekolah dengan mobil", ucap Risa datar. "Permisi, Ar. Aku harus anter manda ke tempat kerjanya". Sambung Risa dengan sopan.
"Sa, tunggu. Kamu gak seharusnya nganter Safira pakek mobil kayak gini. Yang ada nanti temen - temennya bakal ngeledek dia kalo tau mobil ini bukan punya orang tuanya. Pikirin dong perasaannya. Dia pasti bakal malu karena diledek temen - temennya". Ucap Arya dengan nada meremehkan.
Risa terkesiap dengan penuturan Arya. Dia tak menyangka kalimat itu yang akan keluar dari mulut mantan suaminya itu.
"Tumben kamu mikiri perasaan Safira ? Dari kemaren kemana aja kamu ?", tanya Risa sengit. "Kamu takut kalo anakku bakal diledek temen - temennya karena dianter pakek mobil pinjeman ? Salah satu temennya adalah anak kamu, Ar. Kalo mereka ngeledekin anakku, aku pastiin itu ulah anakmu. Karena mulut kamu yang ngomong kalo mobil ini mobil pinjeman".
Risa menahan emosinya. Dia berusaha untuk tetap tenang dengan apa yang dikatakan Arya. Dia tak mau membuat masalah disekolah Safira. Hanya akan membuat Safira menjadi bahan olokkan teman - temannya.
__ADS_1
"Aku ngomong ini untuk Safira juga. Kamu harus ajarin dia menerima keadaan. Jangan ajarin dia manja".
"Maksud kamu apa, Ar ? Keadaan dimana dia gak bisa kayak temen - temennya yang dateng ke sekolah dianter pakek mobil ? Gitu ?", kalimat Risa penuh penekanan. Dadanya mulai bergemuruh menahan amarah. "Asal kamu tau ya, Ar. Ini bukan mobil pinjeman. Ini mobil aku". Lanjutnya lagi. Lalu menepis tangan Arya dan menutup pintu mobilnya. Dia melajukan mobilnya meninggalkan Arya dengan ketidak percayaannya.
Arya masih mematung menatap mobil yang dikendarai Risa menghilang dibalik gerbang. Dia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Pikirannya sibuk mengingat ucapan Risa mengenai mobil itu.
'Gak mungkin itu mobilnya Risa. Uang dari mana dia ? Warisan dari orang tuanya ? Udah pasti gak mungkin. Orang tuanya aja cuma punya rumah itu', ucapnya dalam hati. Dia akan mencari tahu dari mana sumber kekayaan yang Risa miliki sekarang.
*****
Mobil yang dikendarai Risa masuk ke parkiran Kafe miliknya. Setelah mengantar Manda ke pabrik untuk menyerahkan surat resign, dia mengajak adiknya untuk mampir ke Kafe menenangkan pikiran.
Selama perjalanan Risa terus diam. Wajahnya kusut dan penuh amarah. Dia tak habis pikir, mantan suaminya harus menasehatinya tentang bagaimana cara mendidik anak. Sementara dirinya tak pernah ada disaat Safira membutuhkannya.
Mereka duduk di sudut Kafe bagian luar. Pelayan menghampiri mereka menanyakan pesanan. Hanya Manda yang memesan sementara Risa sibuk dengan ponselnya. Dia tahu, kakaknya pasti sedang menahan amarah karena ulah mantan kakak iparnya itu. Manda masih memberinya waktu untuk tenang. Tidak mau sampai dia yang menjadi imbas kemarahannya.
Risa menghembuskan nafas perlahan. Lalu dia berpesan pada pelayan yang lewat. "Man... Saya minta lemon tea dingin, ya", ucapnya pada pelayanan pria yang baru lewat.
"Oke, Mbak Risa. Sebentar saya siapkan dulu. Permisi Mbak", ucapnya ramah lalu pamit dengan sopan.
Manda tampak melongo dengan apa yang baru dilihatnya. Kakaknya bisa dengan mudah mengenali dan dikenal orang. Sementara dia, jika ada yang ingin mendekat saja dia malah menjauh.
"Gampang banget akreb sama cowok ?", gumam Manda melihat tingkahnya.
Risa hanya melirik tajam pada Manda. Untung dirinya sedang malas berdebat, sehingga dia tak memperjelas ucapan Manda tentang dirinya.
"Jadi... Setelah ini kamu mau ngapain ? Kerja ? Kuliah ? Atau rebahan ?", tanya Risa mencairkan suasana.
"Kerjala pastinya. Kuliah, otakku kayaknya gak sanggup Kak. Daripada cuma ngabisin uang doang. Bagus aku cari uang", ucapnya sambil menopang dagu. Merenungi nasibnya yang apes akibat sifatnya.
"Kamu mau kerja yang gimana ? Atau ada rencana gitu ?".
Manda tampak berpikir. Lalu mengalirlah cerita. Dia ingin memiliki usaha sendiri. Karena dia takut tak bisa beradaptasi dengan atasan. Manda sendiri sudah menjadi member di salah satu online shop langganannya sejak kelas dua SMA. Dari sana dia memiliki sedikit penghasilan yang ditabungnya.
Mendengar cerita Manda, Risa tersenyum. Dia mencoba menawarkan pinjaman pada adiknya untuk bisa memulai usaha baru. Seperti halnya dengan Zein saat baru tamat sekolah dulu. Risa meminjamkan uang pada Zein untuk usaha bengkelnya. Bahkan sekarang, tempat Zein dan warung milik orang tua Risa sudah menjadi milik pribadi Risa. Zein hanya tinggal membayar uang sewa dengan harga miring pada Risa.
Begitu juga dengan Manda, hal serupa juga ditawarkan pada Risa untuk adik bungsunya itu. Dia sudah memikirkannya sejak jauh hari. Bahkan tempatnya pun sudah dicarikam oleh Risa untuk Manda memulai usaha.
"Gimana ? Kalo emang mau, biar aku kabari pemilik kiosnya. Trus kamu bisa mulai merintis usahamu".
Manda mulai berpikir sejenak. Menimang akan seperti apa usahanya nanti berjalan. "Tapi uang tabungan aku baru dua juta. Ditambah pesangon beberapa kerja dipabrik, masih dua juta enam ratus". Manda mulai pesimis dengan niatnya. Wajahnya tampak memelas.
"Yaudah, gini aja. Kamu buka kios kecantikan dulu. Nanti, pendapatannya kamu cicil sedikit - sedikit untuk nambah modal. Gimana ? Nanti aku bantu tawarin ke karyawan Kafe sama Toko buat beli dikamu deh".
Risa mencoba menyemangati Manda. Dia tak mungkin membantu sepenuhnya pada sang adik. Karena dia takut jika nantinya Manda akan menjadi manja. Sifatnya yang tak pernah hilang sejak kecil dan selalu didukung oleh Bapak.
__ADS_1
Sebenarnya lokasi yang dimaksud Risa juga sudah menjadi hak milik Risa. Rencananya dia yang akan membuka toko pakaian disana. Namun, melihat Manda yang sekarang memilih resign dari pekerjaannya karena kejadian naas tempo hari. Risa memberikan kesempatan pada Manda untuk berusaha.